
Ibu yang baru pulang dari pasar, menjelaskan semuanya pada Mas Agus. Sementara aku mengunci diri di kamar dan menolak menemuinya. Aku tak mengharapkan apapun lagi darinya. Meski beberapa kali dia mengetuk pintu kamar dan memanggil, aku bergeming.
Kehamilan itu sudah kuusahakan untuk musnah. Kubuat bermacam jamu dari bumbu yang ada di dapur. Namun sepertinya, Tuhan berkehendak lain. Perutku yang semula rata, kini sudah mulai berubah.
Gunjingan tetangga makin menjadi. Tetangga tetap menuduhku sebagai perempuan gatal dan pendosa. Bahkan meskipun pengadilan telah memutuskan monster itu bersalah, hinaan yang kami terima tidak berkurang sama sekali.
Sedikit demi sedikit aku merasa gamang dan menyalahkan diriku sendiri. Menyalahkan kebodohanku malam itu.
“Itu memang salahku ….” Menyadari kenyataan itu, membuatku putus asa.
Hari ini rumah kosong. Aku sudah mencuci sejak pagi saat ibu pergi ke pasar bersamaan adikku berangkat kerja. Tapi sejak tadi kain basah itu tetap di ember. Aku tak berani lagi keluar. Tanganku rasanya gemetar setiap mendekati pintu rumah. Rasanya ingin sekali memukuli orang-orang yang suka berkumpul dan menggosip di sebelah. Semua orang di kampung mereka bahas, seperti acara artis di tivi.
Aku sudah pula menyiapkan sarapan di meja. Tapi tidak tertarik untuk mencicipi. Aku sudah tak ingin apa-apa lagi. Rasanya sudah tak ada tujuan dan keinginan hidup lagi. Hampa!
“Aku harus apa Tuhan?” Pertanyaanku yang tak juga menemukan jawaban.
Mataku tertumbuk pada gulungan tali rafia bekas, yang aku tidak ingat itu untuk apa sebelumnya. Tanganku mengambil dan mengamatinya. Satu persatu tali yang tidak cukup panjang itu kusambung dan ikat. Tanpa sadar melemparnya ke bentangan kayu yang melintang di bawah atap dapur.
Sebuah kursi sudah siap di bawah tali plastik yang bersambung-sambung itu. Aku mengikat simpulnya begitu saja tanpa berpikir lagi. Kemudian melilitkannya ke leherku.
“Maafin Rika, Bu,” lirihku memejamkan mata. Kakiku mendorong kursi kayu ke belakang dan aku jadi bergelantungan, bergerak-gerak karena rasa tercekik.
***
Satria dan ibunya pulang ke rumah dari pasar. Hari ini dia masuk shif siang, jadi bisa membantu membawakan belanjaan dari pasar. Mereka sudah membelikan kue kesukaan Rika dan berharap gadis itu bisa tersenyum lagi.
Pintu baru dibuka dan plastik-plastik kresek diletakkan di dalam rumah.
“Biar ibu lihat embakmu lagi ngapain,” ujar wanita itu.
Brukk!
Suara jatuh bergedebuk yang keras di dapur, terdengar hingga ke pintu depan. Keduanya saling pandang khawatir. Lalu tanpa dikomando langsung lari menyerbu ke belakang.
“Mbaak …!” panggil pria muda itu khawatir.
Keduanya makin terkejut saat tirai dapur dibuka.
“Rika!” teriak wanita tua itu histeris. Dia jatuh terduduk di lantai semen. Bagaimana tidak, dia anak beranak menyaksikan putrinya menggeliat-geliat di lantai dengan leher tercekik tali rafia.
Satria yang lebih dulu menyadari keadaan, langsung membantu kakaknya. Mengendurkan dan melepaskan tali yang membelit leher.
“Embak gapapa? Siapa yang melakukan ini? Apa keluarga bangsat itu mengirim orang untuk membunuh Embak?” tanyanya marah.
Napasku tersengal-sengal. Beberapa kali kutarik napas panjang untuk memasukkan sebanyak mungkin udara ke dalam dada. Kupegang leherku. “Talinya mana?”
__ADS_1
Lalu mataku tertumbuk pada tangan adikku. Dia memegang tali yang putus itu di tangannya. “Kenapa bisa putus? Kenapa tidak membiarkanku mati saja!” teriakku marah sambil mengguncang bahu Satria.
Aku bisa lihat wajahnya dan juga ibu yang terkejut. Tapi aku tak peduli. Kusambung lagi tali rapuh itu dan mengikatnya berlapis-lapis. Menariknya kencang, untuk meyakinkanku bahwa itu sudah cukup kuat sekarang.
“Rika ….”
Panggilan ibu sudah tak dapat mempengaruhi keputusanku. Aku posisikan lagi kursi di tempatnya. Lalu berulang kali melempar tali ke kayu besar di bawah atap itu.
Kali ini, letak kayu itu seperti makin jauh. Lemparanku tak pernah bisa mencapainya. “Ini terlalu pendek. Apa ada tali lagi?” tanyaku pada Satria yang sudah berdiri di depanku.
Plakk!
Aku merasa pipiku panas dan perih. Kutatap adikku dengan mata menggenang. “Kenapa pukul embak?” tanyaku bingung dan sedih.
Ibu datang dan memelukku yang menangis sedih. “Apa Satria udah gak sayang embak …?” Itu yang terus kutanyakan saat ibu membimbingku ke kamar.
“Istirahat di sini.” Ibu memberiku air di gelas. “Minum dulu, biar hatimu tenang.”
Aku menuruti dan meneguk habis air di gelas.
“Adik marah sama Rika …,” aduku sedih.
Seperti biasa, pelukan dan usapan tangan ibu, berhasil menenangkanku.
Di luar kamar, pria muda itu menitikkan air mata mendengar kata-kata ibunya di dalam kamar. Matanya nanar melihat telapak tangannya yang masih terasa panas akibat menampar kakaknya sendiri.
“Maafkan Satria, Mbak,” ujarnya dengan hati yang hancur.
Dengan kesal dia kembali ke dapur dan mencari kumpulan tali-tali rafia bekas yang biasanya memang dikumpulkan ibu dari ikatan belanja di pasar.
Semua yang menurutnya bahaya, disimpannya rapi, termasuk pisau dapur. Lalu semua tali bekas yang sudah rapuh di mana-mana itu, dibawa keluar dan dibakar di halaman depan.
Hari berganti bulan. Perutku makin besar. Aku sudah tak keluar rumah sama sekali. Ibu dan Satria memintaku tetap di dalam rumah saja. Meskipun begitu, aku bisa dengar omongan mereka bukan lagi sekedar menggunjing diam-diam. Beberapa dari mereka terang-terangan berkata jahat di depan meja jualan ibu.
“Kenapa dia masih disini? Dia hanya merusak nama baik kampung ini. Apa kalian mau biarkan anak haram itu lahir di kampung ini!”
“Itu bisa bikin sial seluruh kampung!” timpal yang lain.
“Kalau memang mau pelihara anak itu, kalian sekeluarga pindah saja dari sini!” Yang lain makin berani.
Tubuhku gemetar di dalam rumah. Rasanya ingin sekali menyobek mulut-mulut pedas yang menyakiti hati ibuku. Tapi ibu dan Satria melarangku keluar. Aku masuk ke kamar, agar tidak mendengar apa-apa.
“Apa yang harus kulakukan?” pikirku sambil meringkuk di sudut tempat tidur.
Aku tak bisa terus egois. Membiarkan ibu serta Satria menghadapi cemoohan tetangga dan hidup kesulitan karenaku. Satria harus punya masa depan.
__ADS_1
“Bagaimana caranya ….”
Hari itu Bu Rt datang dan membubarkan orang-orang yang ribut di depan rumah. Dia masuk ke dalam kamar dan memeriksa keadaanku.
Aku menatapnya tajam dan tak suka. Aku tak akan lupa gosip tetangga sebelah yang dengan jelas mengatakan bahwa dia mendapat info dari perempuan yang sekarang berdiri di depanku.
“Apa sekarang ibu ingin mengkonfirmasi apakah aku beneran hamil atau tidak?” tanyaku kasar. Perempuan itu terkejut sebentar, lalu melengos dan keluar dari kamar.
Aku tak tahu apa yang dibicarakannya dengan ibu di ruang tamu. Sepertinya mereka bicara dengan suara rendah. Bagiku itu terasa seperti bisik-bisik pencuri yang tak ingin ketahuan saat membuat rencana jahat.
Beberapa hari kemudian, Satria pulang lewat dari jam biasanya. Ibu duduk gelisah di ruang tamu. Saat kutanya ibu, kenapa adikku pulang terlambat, ibu menunjukkan sms di ponselnya.
“Masih di jalan, sore tadi antar barang ke luar kota. Nanti langsung diantar supir ke rumah.” Itulah informasi yang dikirim adikku.
‘Ibu masuk saja. Biar Rika yang tunggu adik,” kataku. Mata ibu terlihat sangat mengantuk. Dia pasti lelah setelah bekerja keras sejak pagi subuh.
“Ibu menulis sesuatu di kertas. “Duduk sini aja. Jangan buka pintunya!”
Aku membaca pesan itu dan mengangguk.
Entah berapa lama aku menunggu dengan duduk bersandar di ruang tamu. Mataku sesekali ikut terpejam. Kulihat jam sudah menunjukkan angka sepuluh. Gorden jendela kusibakkan sedikit untuk mengetahui keadaan di luar. Gelap! Kulihat kamarnya di depan, masih kosong.
Kuambil ponsel ibu dan mengirim pesan menanyakannya. “Udah di mana?”
Jawabannya masuk tak lama kemudian. “Ban pick up bocor. Ini lagi ganti ban dulu.”
Aku merasa lesu dan sedih membaca pesan itu. Sekarang adikku harus bekerja begitu keras untuk kami semua. Aku membuka pintu yang sengaja tidak dikunci ibu, agar adikku tidak kesulitan memanggil untuk membukakan pintu. Ibu dan Satria masih mengira aku tidak bisa mendengar sama sekali.
Pintu kututup lagi agar tidak ada nyamuk yang masuk. Aku berdiri di teras kecil kami yang dulu rajin kuhias dengan bunga krokot warna-warni.
“Apa sekarang aku hanya bisa keluar saat malam tiba? Bukankah ini rumahku? Rumah yang dibeli bapak dengan susah payah!” Batinku berontak dengan semua yang menimpa keluargaku.
Tetangga tidak membenci ibu dan Satria. Mereka cuma tidak mau aku tetap tinggal di sini. Kakiku melangkah ke pintu pagar. Membuka dan menutupnya hati-hati. Lalu melangkah menyusuri jalan sunyi kampungku.
Entah berapa lama aku berjalan. Sekarang kakiku mulai lelah. Kiri dan kanan jalan sangat lengang, gelap, dengan kelip lampu di kejauhan.
Aku turun dari jalan dan menyusuri pematang, berkelok-kelok. Aku tidak tahu itu mengarah ke kampung yang mana. Aku hanya ingin menyusurinya. Berjalan terus hingga kakiku benar-benar tak sanggup lagi melangkah. Aku duduk di depan sebuah rumah ayaman bambu kecil, kusam dan gelap. Jangan tanya baunya, karena aku sama sekali tidak peduli. Aku hanya ingin memejamkan mataku sejenak.
Panas matahari membangunkanku. Cahayanya begitu menyilaukan. Dan aku tersenyum bahagia, bisa melihatnya lagi, setelah sekian lama. Tanganku menjangkau ke atas dan tersenyum senang.
Aku merindukan cahaya hangatnya. Sinarnya yang cerah, tidak memilih siapapun. Entah pendosa ataupun bukan, tetap bisa merasakan kehangatan belaiannya.
Rasa sakit hilang bersama usapan lembut cahaya di wajahku. Kuangkat lagi tangan untuk menjangkaunya. “Aku ingin bersamamu ….”
-Bersambung ...
__ADS_1