WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN

WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN
#SP-5


__ADS_3

Malam ini, rumah kepala dusun sangat ramai. Semua warga kampung dipanggil untuk hadir. Karena tak muat di dalam rumah, maka pertemuan diakukan di kolong rumah kepala dusun yang siang tadi jadi tempat memandikan jenazah amak.


Beberapa tikar pandan lagi digelar memenuhi tempat itu. Lalu obor-obor penerang dipasang di sekeliling rumah. Rumah itu terang benderang seperti saat ada yang sedang baralek gadang (pesta besar).


Selesai sholat isya, adikku datang memanggil untuk bergabung dalam pertemuan.


“Bukankah ada Uda Asrul yang bisa mewakili keluarga kita?” tanyaku heran.


“Kata Datuk Soleh, ini ada hubungannya dengan Uni!” adikku memaksa.


Aku mengangguk dan berjalan ke rumah kepala dusun yang sudah ramai.  Para mahasiswa yang jadi terusir,  sejak aku dan adikku diputuskan kepala dusun tinggal di surau sementara, juga melangkah berduyun-duyun ke rumah kepala dusun.


Pertemuan dibuka oleh kepala dusun. Tujuan utamanya adalah membahas fitnah yang tersebar, hingga membuat Amak tewas. Kepala dusun dan Datuk Soleh menanyai siapa saja yang bergosip di lapau hari itu.


“Bagaimana kamu mendengar cerita itu?” tanya Datuk Soleh pada seorang pria.


“Mereka bilang, Reno jo anak kota tu sadang basuko-sukoan di parak urang!” jawab pria itu.


“Mereka itu siapa?” kejar Datuk Soleh.


Pria itu bingung mesti menjawab apa. Dia melihat berkeliling. Kemudian menunjuk delapan orang yang malam itu ada di lapau dan bergosip.


Kedelapan orang itu disuruh maju dan duduk di depan Datuk Soleh dan Kepala Dusun.


“Dari mana kalian dapat cerita itu? Apa ada salah seorang dari kalian yang melihat dengan mata kepala sendiri Reno sedang bersuka-sukaan?” tanya Kepala Dusun tajam.


Orang-orang itu tak bisa menjawab. Mereka hanya menunduk. Entah menyesal, atau tidak peduli.


“Apa kalian tahu siapa orang kota yang kalian tuduhkan itu?” desak Datuk Soleh tak puas melihat diamnya orang-orang tak bertanggung jawab itu.


Kesembilan orang itu menggeleng sebagai jawaban.


“Kalau kalian saja tak tahu siapa lelaki yang bersama Reno, bagaimana kalian bisa menebar fitnah? Membuat malu bapaknya sampai mau membunuh putrinya sendiri dan malah membuat amaknya mati!”


Orang-orang itu kembali menunduk dalam. Datuk Soleh masih tidak puas. Aku juga tidak puas. Aku benar-benar ingin tahu, siapa yang yang menebar fitnah.


“Kalau kalian tak bicara, aku akan laporkan polisi. Fitnah kalian itu sudah membuat amakku tewas! Ini kejahatan pembunuhan!” ancam Uda Asrul berani.


Orang-orang kampung yang hanya petani itu terkejut bahwa hal baota (bicara ngalor ngidul tak jelas) di lapau kopi itu bisa berujung pada pelaporan polisi dan pembunuhan. Mereka saling pandang dan sekarang sibuk kasak-kusuk.

__ADS_1


“Kami mendengarnya dari Fendi!” kata mereka serempak.


“Fendi mana?” tanya Kepala Dusun.


“Fendi pemilik lapau! Fendi yang mana lagi!” seseorang menjawab jengkel. Sekarang mata orang mengarah pada Fendi yang duduk di tenga-tengah kerumunan penonton.


“Bukan saya yang mulai!” jawabnya cepat akibat sangat terkejut dan juga takut. Siapa yang tak takut berurusan dengan polisi.


“Maju dulu ke sini!” seru Kepala Dusun dengan suara menggelegar.


Fendi maju dengan ketakutan. Tak menyangka informasi yang biasanya dia bagikan untuk meramaikan diskusi lapau dan membuat orang berlama-lama di sana, jadi memakan korban jiwa. Alangkah berbahaya.


“Katakan! Apa kau melihat sendiri Reno dan dan lelaki yang kau tuduhkan itu di parak urang?”


Kali ini emosi Uda Asrul sudah meninggi. Dia maju dan mendorong punggung orang itu hingga jatuh telungkup di dekat kaki Datuk Soleh.


“Tenang ... kalau tidak tenang, tak bisa kita bereskan,” tegur Datuk Soleh. Uda Asrul kembali ke tempat duduknya dengan bersungut-sungut.


“Apakah pertemuannya sudah selesai?”


Angku Leman dan Angku Amran datang berbarengan. Rumah mereka memang yang terjauh dari kediaman Kepala Dusun. Namun, yang mengherankan adalah, keduanya menyeret seorang pria yang menunduk takut.


“Dia mengendap-endap keluar dari pertemuan! Orang itu didorong ke tengah ruangan, dimana beberapa orang tengah diperiksa.


"Oh, jadi itu sebabnya dia mau kabur. Dia yang membuat fitnah pertama kali dan mau berlepas diri!" kata para penonton riuh.


Orang itu tak bisa mengelak lagi. Semua mata sudah tertuju padanya. Dia Sutan Mudo Malin dari kampung lain. Dia belum lama mengambil istri ketiga dari dusun itu dan sesekali tinggal di dusun untuk mendatangi istrinya.


Reno terbelalak. Bukankah pagi itu dia berpapasan dengan suami istri itu saat pergi ke sawah Angku Amran?”


Pria itu didorong maju ke depan. Pesakitan yang lain, mundur dengan sukarela, memberi dia tempat untuk biang keladi itu menerima hukuman terberat.


“Gara-gara Kau ini!” tuduh mereka kesal.


Tangan Ke[ala Dusun ternagkat ke atas, meminta semua orang diam. “Sekarang katakan, apa yang kau lihat di parak itu!” Kepala Dusun langsung menanyakan pokok masalahnya.


“Aku melihat mereka keluar dari parak tak terurus, naik ke pematang. Beriringan, pula!” jawabnya dengan percaya diri.


“Siapa lelaki yang kau maksud?” tanya Kepala Dusun tanpa mengurangi nada suaranya yang tinggi.

__ADS_1


Pria itu melihat ke semua penonton yang ada. Kemudian matanya tertumbuk pada sosok yang diingatnya di pelupuk mata, dan entah kenapa membuat dia kesal siang itu.


“Dia!” Tunjuknya dengan mata penuh kebencian pada salah seorang mahasiswa kota.


Para mahasiswa itu terkejut. Saling menunjuk diri sendiri dengan bingung,. Menanyakan apakah dirinya yang dimaksud Sutan Mudo Malin. Hingga pada mahasiswa terakhir.


“Maju ke sini!” panggil Kepala Dusun sama kerasnya. Dia tak mau berlembut-lembut dalam urusan seperti ini. Terutama karena ota (cerita) di lapau itu berakhir dengan jatuhnya korban jiwa. Semua harus dijernihkan, agar tidak ada korban lain yang jatuh.


Mahasiswa itu duduk di depan Datuk Soleh, dengan bingung. Berulang kali dia menggeleng dan menggumam. “Saya tidak melakukan apapun!”


“Reno, kemari!”


Aku terkejut karena namaku juga akhirnya dipanggil.


“Pergi saja. Kalau kita tidak salah, jangan takut,” kata Uda Asrul mendukungku. Aku maju ke depan, duduk agak jauh dari keduanya. Lebih ke samping Datuk Soleh.


“Siapa namamu?” tanya Kepala Dusun para mahasiswa itu. Aku ingat, dia adalah pria yang membantuku di baris terakhir sawah Angku Amran.


Tiba-tiba ingatanku kembali tercerahkan. Pria itu juga mengikutiku ke parak saat mencari pakis. “Apakah kejadian itu yang dilihat Sutan Muda Malin?” batinku.


“Saya Farhan,” jawabnya tenang. Dia berhasil menguasai dirinya dari rasa takut yang tadi sempat hinggap.


Tak ada jejak gentar dan takut dari sikapnya itu. Pria itu sangat tenang dan yakin, karena dirinya memang tidak bersalah. Sikap itu menginspirasiku. Kami  tidak melakukan hal yang digosipkan orang sekampung. Jadi aku juga harus tenang dan tak perlu takut.


“Malin, katakan sekali lagi apa yang kau lihat waktu itu.!” Perintah Kepala Dusun.


Malin mengulangi penyataannya. Matanya bersinar karena mengira dirinya sudah benar.


“Kau hanya melihat mereka naik pematang?” tanya Datuk Soleh.


“Ya!” jawab Malin cepat. Senyum percaya diri menghiasi wajahnya.


“Tapi kau bilang padaku mereka bersuka-sukaan di parak. Kenapa sekarang kau bilang hanya melihat mereka naik pematang!” Fendi pemilik lapau, mengamuk marah. Didorongnnya tubuh Malin dengan keras hingga terjerembab di tikar. Adalah berbahaya jika dia dianggap menambah-nambahi cerita.


Senyum Malin seketika menghilang. Dia baru menyadari perbedaan informasi yang tersebar. Setelah kembali duduk, dia membela diri. “Aku hanya bilang mereka keluar dari parak bersama. Aku tidak tahu siapa yang menambahi informasi jadi bersuka-sukaan!” ujarnya membuang muka.


“Aku punya saksi kau berkata demikian!” kata Fendi ngotot. “Kita duduk bertiga dengan Datuk Ramli petang kemarin!”


Malin tak berkutik. Datuk Ramli maju dan bersaksi tanpa diminta. “Ya! Malin bilang Reno dan anak lelaki dari kota bersuka-sukaan di parak tak terurus!”

__ADS_1


“Kau dengar itu? Kau pembohong!” tuduh Fendi puas. Sekarang semua dosa sudah berpindah dari pundaknya ke punggung Malin. Biarkan saja pembohong itu menanggungnya sendiri.


-Bersambung ...


__ADS_2