
Sesaat setelah aku bertemu dengan Perdana Menteri, kami hanya berbincang sedikit dan mereka meninggalkan kami dan semua pasukan dan senjata yang dia ancam padaku tadi, namun senjata itu hanya sebuah gertakan semata.
"Baiklah kalian bisa pergi sekarang." Ujar diriku dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
"Tapi, bagaimana dengan pengwal Secilia sama." Ujar Luna dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
"Tidak apa-apa, Lina dan Tiane akan ikut bersamaku, jadi itu tidak masalah." Ujar diriku dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
"Baik Secilia sama, mohon maaf saya telah mengkhawatirkan anda berlebihan." Ujar Luna dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
"Tidak masalah jika kau mengkhawatirkan diriku seperti itu, dan kalian juga bersenang-senanglah sebelum aku mulai bergerak melakukan sesuatu yang menarik nanti." Ujar diriku dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
"Tapi..."
"Tidak masalah, kalian anggap saja ini sebagai hari libur kalian dan kalian bebas melakukan yang kalian suka, namun jangan berlebihan." Ujar diriku dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
Setelah aku memerintahkan mereka untuk istirahat, mareka seperti tampak enggan, namun mereka tetap melaksanakannya.
Karena bagi mereka perintahku itu mutlak dan harus dilakukan.
"Baiklah, kalian berdua ikut aku sekarang." Ujar diriku dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
"Baik Secilia sama." Ujar mereka berdua dengan nada bicara yang santai dan dengan suara yang keras.
Sebelum itu, aku akan melakukan perjalanan ke sekitar Kekaisaran dan berbelanja beberapa makanan yang ada di jual di toko-toko.
"Hey kalian berdua, bisakah kalian berdua istirahat saja." Ujar diriku dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
"Aku ingin menikmati waktuku sendiri untuk saat ini saja." Ujar diriku dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
"Kenapa Secilia sama?" Ujar Tiane dengan nada bicara yang santai dan dengan suara yang tegas.
"Tidak, aku sudah lama meninggalkan Kekaisaran, jadi aku ingin menikmati suasana yang sudah lama ingin aku rasakan ini." Ujar diriku dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
"Jika itu perintah Secilia sama, maka kami tidak dapat menentangnya." Ujar Lina dengan nada bicara yang santai dan dengan suara yang tenang.
"Tapi Lina." Ujar Tiane dengan nada bicara yang santai dan dengan suara yang tegas.
"Biarkan saja Secilia sama menikmati suasana yang sudah lama di tinggalkan." Ujar Lina dengan nada bicara yang santai dan dengan suara yang tenang.
"Huh, baiklah." Ujar Tiane dengan nada bicara yang santai dan dengan suara yang tegas.
Sesaat setelah itu Lina dan Tiane pergi meninggalkan diriku sendiri dan setelah kepergian mereka, aku melanjutkan jalan-jalanku sendiri.
Sudah sekitar 216 tahun sejak aku meninggalkan Kekaisaran dan anak angkatku yang mewarisi tahtaku sebagai Kaisar, sepertinya dia melakukannya dengan baik, atau mungkin tidak.
Saat aku berjalan menyusuri pertokoan yang ramai akan kendaraan yang berlalu lalang, di ujung jalan aku menemukan seorang yang meminta-minta.
Dia adalah seorang pria tua yang mengenakan pakaian lusuh dan banyak lubang dibajunya tersebut.
Dia hanya duduk dipinggir jalan sembari menundukan kepalanya sembari menunggu kebaikan orang lain.
Namun beberapa saat kemudian, pria itu ditangkap oleh polisi dengan pakaian lengkap dengan rompi yang menggantikan fungsi armor namun dengan fungsi yang sama membawa orang tua tersebut dengan sebuah bus yang tampilan luarnya serba hitam.
Karena kaca mobil itu sangat gelap, jadi aku tidak dapat melihat apa yang terjadi di bus tersebut.
Dan setelah polisi memasukan pria tua itu kedalam bus, bus tersebut mulai bergerak meninggalkan tepat pria tersebut duduk.
"Hmm sepertinya mereka akan melakukan sesuatu yang menarik." Ujar diriku dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
Karena itu bukan urusanku, jadi aku melanjutkan perjalananku menyusuri kota dengan damai.
Aku berjalan di pinggir jalan dan menemukan sebuah toko kue yang berada tidak jauh dari tempatku melihat pria tua itu, dan aku menuju toko tersebut.
Setelah sampai di toko tersebut, aku masuk kedalam toko tersebut.
Suasana didalam toko tersebut terasa seperti suasana gadis-gadis sma, dan memang sebagian pengunjung toko ini adalah anak sma.
Banyak anak sma yang mengobrol dan berbincang dengan teman-temannya, tampak suara kecerian yang mereka pancarkan dan mereka sepertinya menikmati masa muda mereka dengan baik.
Setelah melihat-lihat sebentar, seorang maid menyambutku dengan membawa sebuah kertas yang berisikan menu makanan dan minuman yang ada ditoko ini.
"Selamat datang nona, ada yang bisa saya bantu." Ujar Maid dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
Dia adalah seorang gadis muda yang berusia 15 tahunan dengan wajah yang tidak terlalu cantik baguku, namun sudah cantik bila mengikuti standar kecantikan gadis pada umumnya.
Dia tampak sedikit tersipu malu dan wajahnya memerah, aku sama sekali tidak tau apa yang sedang gadis ini pikirkan.
Setelah aku menyadarinya bahwa gadis lain menatapku sama seperti maid ini, mereka semua tersipu dan ada sebagian dari mereka yang berteriak senang.
Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang mereka alami, namun untuk memastikan hal apa yang membuat mereka tersipu, aku menanyakan kepada maid yang sedang melayaniku.
"Umm, maid san." Ujar diriku dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
"Ada apa dengan pengunjung lain, kenapa mereka semua tampak tersipu saat melihatku." Ujar diriku dengan nada bicara yang tenang dan dengan suara yang santai.
"Uwa." Teriak maid tersebut dengan suara yang lumayan keras.
"Umm, maafkan saya." Ujar maid tersebut meminta maaf dan terus menganggukan kepalanya.
"Umm, sepertinya saya terpesona dengan pesona yang nona pancarkan." Ujar maid tersebut dengan nada bicara yang senang dan dengan suara yang pelan.
__ADS_1
"Benarkah?" Ujar diriku dengan nada bicara yang binggung sembari memiringkan kepalaku dan meletakan jari telunjukku ke pipi.
"Kyaa..."
"Dia sangat cantik dan mempesona."
"Apakah dia seorang model atau artis."
Teriakan para gadis itu semakin keras saat aku melakukan hal yang biasa aku lakukan tersebut, namun reaksi mereka terlalu berlebihan.
Mereka mulai mengeluarkan ponsel mereka dan bertanya padaku.
"Apakah kami bisa berfoto denganmu?"
"Tolong biarkan kami mengambil fotomu."
Mereka terlebih dahulu meminta izin kepadaku agar aku mau berfoto dengan mereka, namun aku hanya memberikan tanggapan berupa senyuman dan teriakan mereka semakin keras dan suasana toko semakin heboh dan ramai.
"Cih, mereka sama sekali tidak memahami standar kecantikan yang sebenarnya." Ujar seorang gadis dengn nada bicara yang sinis dan dengan suara yang keras.
Saat aku mendengar ujaran dari gadis itu, aku yang sedang dikelilingi oleh banyak gadis-gadis meminta mereka untuk membuka jalan dan pergi menghampiri gadis itu.
Saat aku menghampiri gadis itu, tatapannya sangat sinis dan jijik saat melihatku.
Penampilannya sama seperti gadis pada umumnya, namun gaya berpakaiannya agak tidak teratur dan sedikit berantakan.
Itu membuat kesan seperti kebebasan.
"Hah, kenapa kau menghampiriku!"
Gadis itu menanggapi kehadiranku dengan perasaan tidak senang dan tatapannya menunjukan iri pada diriku.
"Ara, aku hanya ingin menemui orang yang tidak senang dengan kehadiranku." Ujar Secilia dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
Aku hanya menanggapinya dengan suara yang dingin dan aku menatapnya sangat dingin dan itu membuatnya tidak nyaman.
"Apa-apaan kau ini!"
"Secara tiba-tiba menghampiriku dan menatapku dengan tatapan seperti itu, itu sangat mengganggu kau tau."
Gadis itu tampak menjadi lebih marah lagi dan semakin kesal karena tatapan yang aku berikan.
"Ara, kenapa kau marah-marah begitu, aku hanya ingin melihat dirimu saja." Ujar Secilia dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
"Apa-apaan dengan kau ini."
"Clank."
"Sia-sia saja kau melakukan itu, hal yang kau lakukan itu sama sekali tidak berpengaruh padaku." Ujar Secilia dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
Gadis itu melemparkan gelas itu dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat mata orang biasa, dan aku menangkap gelas tersebut dengan kedua jariku.
"Cih, gagal rupanya."
"Aku akan kembali dan aku akan pastikan kau terluka."
Gadis itu berjalan dengan cepat dan ingin meninggalkan diriku disini, namun aku langsung menghentikannya sebelum dia keluar.
"Kenapa kau menghalangi jalanku."
"Minggir sana!"
Gadis itu dengan nada bicara yang kesal hendak mendorongku agar dia bisa keluar, namun aku segera menggenggam kepalanya.
"Kau tidak akan bisa lari dariku." Ujar Secilia dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
Aku mengucapkan itu dengan sedikit senyuman ganas diwajahku dan dengan nada bicara yang sangat dingin.
Para gadis yang melihatku memegang kepala gadis itu, mulai berteriak ketakutan dan dengan cepat meninggalkan kami didalam toko kue tersebut.
"Cepat lepaskan aku, atau aku tidak akan dengan segan-segan akan membunuhmu!" Ujar gadis itu dengan nada bicara yang kesal dan demgan suara yang keras.
"Coba saja kalau kau bisa." Ujar diriku dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
Aku menatap gadis tersebut dengan tatapan sinis dan sangat dingin.
Gadis itu mulai merapalkan sebuah sihir yang dia gunakan untuk melawanku.
Lingkaran sihir perlahan perlahan mulai terbentuk dan sebuah serangan petir menyerangku.
Karena jarak antara gadis itu denganku sangat dekat, aku meminimalisiir dampak serangannya dengan menggenggam petir tersebut agar itu tidak mengenaiku.
Dan aku dengan mudah menghancurkan petir tersebut digenggamanku.
"Tidak mungkin seorang manusia biasa dapat menghancurkan sihir tingkat menengah dengan sangat mudah." Ujar gadis tersebut dengan nada bicara yang terkejut dan dengan suara yang keras.
Saat ini gadis itu masih berada digenggamanku, aku menggenggam kepalanya sehingga dia tidak bisa bergerak menjauh dariku.
Gadis ini terus memberontak agar dapat melepaskan diri dari cengkraman tanganku, namun usahanya sia-sia.
"Hey, lepaskan aku sekarang juga, atau aku akan membunuhmu!" Ujar gadis itu dengab nada bicara yang kesal dan dengan suara yang keras.
__ADS_1
"Coba saja kau bunuh aku." Ujar diriku dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
Setelah aku memberinya tanggapan yang dingin, dia menjadi semakin kesal dan dia terus menembakan sihir terus menerus kearahku, namun itu tidak memberikan dampak apapun.
Sampai pada akhirnya dia menyelesaikan perlawanannya dengan sangat terpaksa.
Gadis itu yang sedang berada di genggamanku, dengan perlahan mulai lemas dan tampak seperti pingsan, dia tidak memberikan perlwanan seperti yang dia lakukan barusan, namun saat ini dia hanya pasrah dengan keadaannya.
Aku hanya melihatnya dan menunggu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Hey, bangun kau." Ujar diriku dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
"Jangan kau pikir aku akan lengah saat kau pura-pura pingsan, dan waktu aku lengah, kau akan menusukku dengan senjata terkutuk kan!" Ujar diriku dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
"Hahaha, menarik." Ujar gadis dengan nada bicara yang santai dan dengan suara yang keras.
"Kau rupanya bukan orang biasa, dan kau tau sampai sejauh ini." Ujar gadis dengan nada bicara yang santai dan dengan suara yang keras.
"Slash."
Gadis itu dengan cepat menebas sebuah pisau yang terdapat kutukan didalamnya, bila pisau itu mengenai sedikit targetnya, maka targetnya akan mati terkena kutukan.
"Kau memiliki senjata yang menarik, namun itu hanya sebuah sampel dari senjata aslinya." Ujar diriku dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
"Clank."
Aku menjentikan jari dan pisau tersebut hancur berkeping-keping karena getaran jentikan jari yang aku lakukan tadi.
"Tidak mungkin." Ujar gadis dengan nada bicara yang terkejut dan dengan suara yang keras.
"Menghancurkan Muramasa dengan semudah itu." Ujar gadis dengan nada bicara yang terkejut dan dengan suara yang keras.
"Hah, kau jangan menggunakan nama pedangku untuk benda rendahan seperti itu." Ujar diriku dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
Gadis itu hanya terdiam tanpa memberikan tanggapan apapun.
Sepertinya dia masih sangat terkejut karena senjata andalannya hancur berkeping-keping didepan matanya.
Sesaat setelahnya, dia mulai berteriak dengan keras dan itu menyebabkan sebagian kaca kafe tersebut pecah dan aku dengan cepat menutup mulut gadis itu karena akan berbahaya bagi orang biasa.
Tergengar sebuah sirine dan suara kendaraan seperti bus besar mendekat kearah kami, namun aku sama sekali tidak mengetahui siapa yang akan datang tersebut.
Disekitar kafe ini sudah dikosongkan dari para warga sipil dan manager kafe dan para pegawainya sudah meninggalkan kami bersamaan dengan para gadis lainnya.
Setelah suara sirine dan suara bus tersebut semakin mendekat, suara sebuah pesawat tempur dan helikopter terdengar sangat keras.
Suara keras tersebut berasal dari kendaraan itu yang terbang tepat diatas kami.
Sesaat setelah suara gemuruh helikopter, pasukan pengamanan yang terdiri atas polisi mulai mendekati kami.
Helikopter dengan sigap mengarahkan senjatanya kearah kami dan rudal nuklir yang siap ditembak kapan saja.
Dan pesawat tempur yang menembak rudal bersiap dengan terbang di area kafe dan sekitarnya.
Saat para pasukan mulai mendekat, sebuah pelindung dari sihir tingkat lanjut dirapalkan dan itu melindungi bangunan sekitar dari dampak kerusakan yang akan ditimbulkan.
Para pasukan polisi tersebut membawa senjata api yang bentuknya tidak beda jauh dengan senjata moderen saat ini dan itu ditambahkan oleh akselerasi peluru dan beberapa modifikasi pada peluru yang ditembakan.
"Jangan bergerak." Ujar komandan pasukan tersebut dengan nada bicara yang tegas dan dengan suara yang keras.
"Cepat serahkan sandera atau kau akan kami tembak mati." Ujar komandan pasukan tersebut dengan nada bicara yang tegas dan dengan suara yang keras.
"Ehh, benarkah." Ujar diriku dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
Aku dengan santai duduk dan melepaskan gadis itu kepada para polisi yang bersenjata lengkap.
"Komandan, pelaku sandera akan menyerahkan sandera, apa yang selanjutnya kita lakukan komandan." Ujar salah satu prajurit dengan nada bicara yang tegas dan dengan suara yang keras.
"Utamakan keselamatan sandera, karena dia adalah anak menteri pertahanan." Ujar komandan pasukan tersebut dengan nada bicara yang tegas dan dengan suara yang keras.
Setelah percakapan singkat komandan dengan pasukannya, aku menyerahkan gadis yang aku genggam kepalanya dan memberikannya kepada salah satu polisi agar dia menyelamatkannya.
"Baiklah, sandera sudah berhasil diamankan, komandan menunggu perintah selanjutnya." Ujar salah satu prajurit dengan nada bicara yang tegas dan dengan suara yang keras.
"Baiklah." Ujar komandan pasukan tersebut dengan nada bicara yang tegas dan dengan suara yang keras.
"*******, apa yang kau inginkan dari sandera." Ujar komandan pasukan tersebut dengan nada bicara yang tegas dan dengan suara yang keras.
"Tidak ada, aku sama sekali tidak tertarik dengan kalian, apa lagi dengan gadis itu." Ujar diriku dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
"Karena gadis itu membuatku kesal, jadi aku memberinya sedikit pelajaran." Ujar diriku dengan nada bicara yang dingin dan dengan suara yang santai.
"Benar-benar motif yang tidak masuk akal." Ujar komandan pasukan tersebut dengan nada bicara yang tegas dan dengan suara yang keras.
Sementara komandan pasukan mengalihkan pembicaraan, para pasukanya mulai mengepung Seciia dengan perlahan, namun pasti pasukan itu sudah berada diposisi mereka masing-masing dan bersiap menembak Secilia.
"Sekarang!" Ujar komandan pasukan tersebut dengan nada bicara yang tegas dan dengan suara yang keras.
Peluru daei senjata polisi tersebut dengan kecepatan petir menembak dari segala arah menuju Secilia.
Para pasukan itu menembakan peluru yang sudah dimodifikasi dengan formula sihir dan teknologi yang membuat peluru itu dapat menimbukan kerusakan yang lebih besar dan peluru itu berisi anti sihir yang dapat menentralkan sihir perlindungan maupun serangan.
__ADS_1
Jutaan tembakan dari segala arah menghujani Secilia dan tembakan tersebut terus menerus ditembakan kearah Secilia sampai pada akhirnya tembakan tersebut mereda karena komandan menggangap bahwa Secilia sudah tewas dalam tembakan yang sangat brutal tersebut.