
Datangnya Monster! Desa Ini Dalam Bahaya?!
♤
Aku tinggal di sebuah desa kecil yang sangat jauh dari kota atau desa-desa yang lain, bahkan bisa dibilang desa ku ini merupakan desa yang sangat rentan dengan serangan monster.
Namun begitu, orang-orang dewasa disini mampu melawan beberapa monster yang datang dan mencoba untuk menyerang desa.
Selain itu namaku adalah Edward Stielbert, dan aku adalah salah satu anak yang tinggal di desa terpencil ini.
Selain membantu ibu, keseharian yang kujalani tak lain adalah bermain bersama teman-teman ku.
Seperti saat ini, dibawah langit yang cerah aku sedang menghabiskan waktu bersama teman-teman ku yang lain. Tapi kali ini sedikit berbeda karena kami memilih bermain di luar desa, lebih tepatnya di padang rumput yang mengelilingi desa kami.
Kami bermain tidak begitu jauh, tapi orang tua kami bisa dipastikan selalu khawatir jika kami bermain di luar area desa seperti ini.
Tapi mau bagaimana lagi, kami berencana bermain peran pahlawan dan monster kali ini. Hanya sesekali saja tidak apa kan untuk bermain diluar?
'Akan tetapi...'
"Edward! Seharus-nya aku yang menyelamatkan para warga desa, dan lagipula kamu itukan monster!"
Ini adalah teman-ku yang bernama Rein, di permainan kali ini dia sangat antusias sekali. Sepertinya dia sangat tertarik dengan pahlawan, walaupun aku juga merasakan hal yang sama dengan-nya.
Tapi entah mengapa, aku mendapatkan peran sebagai monster. Sejujurnya aku tidak begitu peduli akan menjadi apa, namun Rein sepertinya terlalu antusias dan itu sedikit membuat-ku kesal.
"Benar! Seharusnya-kan kami yang menyelamatkan para warga!"
Selain itu beberapa teman-ku juga bersama Rein menjadi pahlawan dan aku seorang diri menjadi monster, walaupun katanya aku ini kuat tapi tetap saja pasti di akhir cerita aku ini akan kalah.
Lalu beberapa teman-ku yang lain juga berperan sebagai warga kota, dan menurutku lebih baik menjadi warga kota deh.
Tapi aku sedikit paham mengapa Rein sangat antusias menjadi pahlawan, itu tidak lain agar dia terlihat keren di depan Emma. Kebetulan dia itu adalah salah satu wanita seumuran-ku yang banyak disukai oleh teman-teman ku.
'Aku juga suka sih.'
Emma Fletcher, wajahnya yang cantik dan imut itu membuat-nya benar-benar di sukai oleh siapapun. Berbanding dengan-ku yang memilili wajah pas-pasan, Emma selalu dikatakan sangat cocok dengan Rein yang memiliki wajah cukup tampan.
'Cih.'
Itulah sebabnya aku melakukan hal yang berlawanan dengan monster yang ada agar Emma juga melihat-ku sebagai anak yang baik, tapi apalah hasilnya justru sekarang teman-teman ku malah memarahiku karena aku tidak becus menjadi monster.
'Apanya yang monster? Aku hanya kambing hitam disini.'
"Begini ya Edward, seharusnya kamu mencoba membunuh para warga dengan sadis. Lalu saat itulah kami datang sebagai pahlawan yang menyelamatkan mereka."
"Yang benar saja, bukankah ceritanya saat ini sedang ada bencana? Apa salahnya jika aku menyelamatkan mereka? Lagipula mengapa mereka juga harus diserang oleh monster saat terkena bencana?"
"Kau harusnya mengikuti saja Edward!"
"Apa?!"
Beberapa teman-ku yang berperan sebagai warga mencoba melerai kami yang hampir berkelahi, begitupula dengan Emma...
"Kalian mengapa jadi begini? Lagipula apa salahnya jika ada monster yang baik?"
'Yosh! Emma membela-ku!'
Namun seketika dengan emosinya yang tiba-tiba mereda Rein menjawab pertanyaan Emma.
"M-maksudku bukan begitu Emma, bagaimana permainan ini akan berjalan jika monsternya itu baik hati?"
'Ya, itu masuk akal juga sih.'
Disaat kami sedang membicarakan skema permainan ini, aku menyadari ada salah satu teman kami yang terlihat panik dan gemetar.
Dari situ kami-pun bertanya apa yang terjadi dengannya, dan saat itu dia mengatakan bahwa ada monster yang sedang berjalan ke arah sini.
Melihat arah pandangan-nya membuat-ku melihat kebelakang, kebetulan diriku saat ini sedang berhadapan dengan-nya.
Saat aku melihat kebelakang dari kejauhan aku melihat sesuatu yang berbulu tebal berjalan ke arah kami, semuanya mulai terdiam saat mulai menyadari keberadaan aneh itu.
Dan kepanikan kami berada di puncaknya ketika sesuatu itu mulai berlari dengan cepat ke arah kami, saat itu kami-pun langsung berlari tanpa sepatah kata-pun.
'Sial, apa-apaan itu?!'
Perlu di ketahui mengapa desa kami sangat rentan diserang monster, adalah karena desa kami sangat dekat dengan Pegunungan Neraka.
Bisa dibilang itu adalah pegunungan paling berbahaya di dunia ini, setidaknya itu adalah pengetahuan umum.
Dan beberapa tahun lalu, sebuah keanehan terjadi di pegunungan itu. Itu adalah saat ada sesuatu yang menyilaukan dan begitu panas muncul di atas gunung.
Itu membuat beberapa sumber mata air kami sempat kering untuk beberapa saat.
Hanya para pahlawan saja yang pernah masuk ke pegunungan Neraka, dan sialnya sesuatu yang berbulu itu datang dari arah Pegungungan.
__ADS_1
'Tapi apapun itu aku harus cepat berlari!'
Lariku tidak terlalu cepat, tapi saat aku sedang berlari sambil memejamkan mata. Aku menyadari bahwa diriku telah melewati salah satu teman-ku dengan nafasnya yang terengah-engah.
'...Emma?!'
Seketika itu membuat-ku melihat kebelakang, dan sesuai dugaan-ku itu adalah Emma yang sedang susah payah berlari.
Tapi berlari sambil melihat kebelakang membuat-ku terjatuh dengan sangat hebat, Emma yang mulai melewati-ku mulai menghentikan kakinya dan mencoba kembali untuk menolong-ku.
'Sakit!!'
"Edward!"
Namun sebelum dia kembali ke arah-ku aku pun berteriak kepadanya,
"...Pergilah!"
Itu membuatnya terdiam dan ragu sejenak, tapi aku berusaha meyakinkan-nya.
"Tidak apa! Pergilah!"
Mendengar itu, dia pun segera berlari dan aku bisa melihat bahwa matanya seakan menahan tangis.
Setidaknya jika aku mati, aku akan mati seperti seorang ksatria hari ini.
'...Tapi kaki-ku sakit sekali sialan!'
Walaupun aku meringkuk karena kesakitan sambil memejamkan mata, aku bisa merasakan bahwa monster itu sekarang sudah ada dihadapan-ku.
'Sial matilah aku! Mati! Mati!
"Apakah kau baik-baik saja?"
"Huaaa! Monster!! Tolong lepaskan aku! Aku mohon!"
'...'
'...Eh? Eh?! Dia berbicara?!'
Benar, setidaknya aku juga mengetahui pengetahuan umum tentang monster di dunia ini.
"A-apa yang kau bicarakan?"
Monster yang dapat berbicara dan memiliki fisik seperti manusia sudah tak ada lagi di zaman ini, bahkan beberapa orang menganggapnya itu hanyalah cerita legenda saja.
Benar. Sesuatu yang dihadapan-ku ini ternyata adalah seorang anak lelaki yang mengenakan jubah berbulu, nampaknya dia juga sedikit lebih tua dariku.
♤
"Maaf, kupikir sebelumnya kamu adalah monster."
"Jadi itu alasan-nya kalian berlari ya?"
"Haha, kurang lebih begitu. Jubah bulu-mu ini membuat-mu terlihat sangat berbahaya dari kejauhan."
Tidak seperti yang kupikirkan, rupanya dia orang yang cukup baik. Dirinya bahkan menolong-ku pulang ke desa di saat kaki-ku terkilir, aku yakin teman-teman ku pasti menyukainya.
"Hahaha! Begitu ya, kupikir kalian ingin lomba lari."
"Oh! Ngomong-ngomong ternyata lari-mu cepat juga ya."
"Tentu saja!"
"Kalau begitu siapa nama-mu? Dan siapa kau?"
"Namaku Suji, dan aku adalah seorang petualang."
'Seorang petualang? Bahkan di umur yang tidak jauh dengan-ku?!'
"Kamu adalah petualang?! Hebat! Padahal sepertinya kita seumuran, jadi itu sebabnya kau berjalan dari arah Gunung Neraka."
"Ya, begitulah. Lagipula itu bukan apa-apa."
"Tapi ini pertama kalinya aku melihat seorang petualang pergi ke Gunung Neraka, bahkan kata ibuku hanya para pahlawan yang pernah kesana."
"E-eh.. Apakah kau tidak salah dengar?"
Benar, hanya para pahlawan yang pernah pergi ke pegunungan itu. Alasan diriku mengetahuinya adalah karena desa kami pernah menjadi tempat persinggahan mereka, saat itu adalah pertama kalinya aku melihat orang yang sangat hebat.
'Wah! Berarti dia setingkat dengan para pahlawan ya?!'
"Itu benar! Tapi kamu hebat juga untuk seorang petualang yang masih sangat kecil!"
"Y-ya, aku hanya pergi ke kaki gunungnya saja kok. Daripada itu, mengapa teman-teman mu itu tidak ada yang berhenti untuk menolong-mu?"
__ADS_1
'Dia pasti bohong!'
Kami pun berjalan menuju desa dan berbicara satu sama lain, dari sana aku mengetahui bahwa namanya adalah Suji.
Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami sampai di pintu masuk desa, tapi aku bisa melihat para warga sudah melengkapi dirinya dengan berbagai senjata yang ada.
Dan ketika kami semakin dekat salah satu paman yang ada mulai berteriak kepada Suji.
"Berhenti disana dan jangan mendekat!"
'Apakah dia tidak bisa melihat bahwa aku sudah ditolong olehnya? Aku harus menjelaskan kepada mereka secepat mungkin!'
Tapi selain paman itu aku juga melihat ada sosok yang lebih familiar, itu tidak lain adalah ibu-ku yang kelihatannya sangat panik dan juga khawatir.
"Edward! Cepatlah lari kemari nak! Hey Monster! Cepat lepaskan anak-ku!"
'Dia ini bukan monster ibu!'
Mendengar ibuku, Suji mulai bertanya kepadaku dengan pelan. Mungkin saat ini dirinya sedang berpikir mengapa semuanya melakukan hal ini kepadanya.
"Hey, apakah dia ibu-mu?"
"Y-ya, tapi mengapa semuanya melakukan ini?"
Itu pasti karena teman-teman ku yang panik dan memberitahu warga desa bahwa ada monster yang datang menyerang, aku harus menjelaskan kepada mereka bahwa itu adalah salah.
Namun tanpa diduga justru Suji terlihat sangat tenang, dirinya bahkan menyuruhku pergi setelah melihat ibuku yang khawatir.
"Kalau begitu pergilah menuju ibu-mu, dia sepertinya sangat cemas dengan keadaan-mu."
"Eh? Tapi bagaimana dengan-mu? Oh- aku akan menjelaskan kepada mereka bahwa kamu bukan monster!"
Setelah mengatakan itu, Aku pun mulai berlari dengan sigap sambil menahan rasa sakit di kaki-ku. Aku harus mengakhiri kesalahan ini, dan mengatakan yang sebenarnya.
Walaupun belum sampai aku sudah membuka mulutku duluan untuk menjelaskan semua ini, tapi dari arah belakang aku mendengar suara Suji dan itu membuat suara-ku berhenti hanya sampai di kerongkongan saja.
"Perkenalkan namaku adalah Suji, aku adalah perfect monster. Tidak- maksudku perfect dragon!"
Suasana yang cukup hening membuat itu bisa di dengar oleh siapapun, terlebih diriku. Mendengar itu membuat-ku terhenti dan tubuhku gemetar bukan main.
'A-apa yang dia katakan?!'
Aku bisa melihat ekspresi tidak senang dari warga yang ada mulai bercampur dengan rasa takut, walaupun begitu mereka kelihatannya masih berusaha berdiri di tempatnya.
Ini tidak mungkin, perfect monster itu seharusnya sudah tidak ada lagi di zaman ini.
'Dan lagi jika dia benar-benar montser...'
Aku pun berusaha membalikan badan-ku untuk menanyakan suatu hal kepada Suji, meski saat ini aku juga merasa takut bahkan sampai rasa sakit di kaki-ku hilang entah kemana.
"J-jika kamu benar-benar monster lantas mengapa kamu menolong-ku?"
'Katakanlah bahwa kamu bercanda!'
"Tentu saja agar aku bisa masuk ke desa dengan lebih mudah, tapi sepertinya akan sangat membosankan jika aku berpura-pura jadi manusia kan?"
"...Jadi kau membohongi-ku?"
"Singkatnya begitu, pelajaran pertama untukmu adalah jangan pernah percaya pada siapapun."
'Begitu ya...'
Sangat sial, jika memang begitu berarti apa yang di katakannya adalah benar.
Perasaan-ku mulai berubah dari takut menjadi sangat marah, bukan karena Suji tapi karena diriku yang terlalu bodoh untuk mempercayainya.
Walaupun begitu, terdapat perasaan kecil di hatiku yang merasa bahwa dirinya sedang bersandiwara saja.
Perasaan-ku mulai bercampur aduk dan ini membuat dadaku terasa,
'Panas!'
Tanpa kusadari kaki-ku justru berjalan dengan sendirinya, aku tidak dapat menghentikan kaki-ku yang sedang dikendalikan oleh perasaan-ku saat ini.
Aku perlahan mulai berjalan mendekati Suji, dan saat itu aku merasa dirinya itu mungkin memang benar-benar monster. Bagaimana-pun di jarak sedekat ini aku bisa melihat seringai jahat yang ada di wajahnya, itu berbanding terbalik dengan ekspresi-nya ketika berdua saja dengan-ku.
Lalu yang selanjutnya terjadi mungkin aku akan benar-benar mati.
"K-kalau begitu aku tidak akan membiarkan-mu masuk dengan mudah!"
Dengan suara yang gemetar namun keras, aku berusaha menghalangi Suji untuk berbagai hal.
_________________
□Note Author□
__ADS_1
Maaf ya kalo gua jarang update, soalnya sibuk banget sama kerjaan yang lain! Diusahakan agar bisa update setiap hari, dan terima kasih buat yang udah baca sampai sini!