
Anak Lelaki Yang Berkeinginan! Desa Kecil Di Kaki Gunung Neraka! (III)
♤
Berjalan tak jauh dari ladang gandum, diriku dan nenek Bei akhirnya sampai di sebuah bangunan yang cukup kecil namun memikiki halaman yang cukup luas.
Dari depan aku bisa melihat bahwa bangunan kecil ini memiliki cerobong asap yang cukup panjang, lalu bangunan ini adalah satu-satunya bangunan yang diplester rapih dengan mortar.
Sayangnya bangunan ini tidak terawat sehingga membuatnya terlihat tidak nyaman untuk digunakan.
"Sepertinya bangunan ini dibuat cukup rapih."
"Ya. Dulu berkat suami-ku yang sempat bekerja di ibukota kerajaan, dia bisa mendapatkan beberapa bahan bangunan yang bagus."
"Tapi ini memang sudah lama tak digunakan ya."
"Begitulah."
Ngomong-ngomong jika memperhatikan pandangan nenek Bei, matanya itu kelihatannya selalu tertutup.
'Apakah karena dia sudah terlalu tua? Atau mungkin perasaan-ku saja.'
"Ayo, biar kutunjukan seperti apa mesin pengolah itu."
Dengan begitu akupun mengikuti nenek Bei masuk kedalam bangunan kecil tersebut, begitu masuk aku di sambut dengan debu-debu dan juga jaring laba-laba yang cukup besar.
'Bangunan yang malang.'
Tak berjalan jauh dari pintu masuk akhirnya kami sampai di sebuah ruangan yang lebih kotor, disini aku akhirnya bisa melihat mesin pengolah gandum tersebut.
'Ini...'
"Beginilah bentuk mesin-nya, walaupun sepertinya mesin seperti ini sudah tak lagi di gunakan di kota-kota yang maju."
"Apakah berarti ada mesin yang lebih canggih dari ini?"
"Seharusnya begitu, perkembangan teknologi di kota-kota kerajaan itu sangat pesat."
"Uwah..."
Melihat mesin seperti ini aku mulai berpikir bahwa sepertinya teknologi yang ada di dunia ini sudah cukup maju, ditambah nenek Bei bilang seharusnya perkembangan teknologi juga sangat pesat.
Mesin ini sendiri fisiknya seperti sebuah mesin steam-punk yang ada di film-film fiksi di dunia-ku dulu, lalu tidak lupa dengan beragam gearnya yang cukup kompleks.
'Seperti yang diharapkan dari manusia.'
"Lalu jika kamu membuka bagian ini, kamu akan menemukan sumber daya dari mesin besar ini."
"Hoo... inikah yang disebut sebagai batu mana."
"Ya, kurang lebih begitu."
'Sudah kuduga ini seperti baterai di dunia-ku sebelumnya.'
Sebuah bola berwarna biru yang redup, mungkin jika masih memiliki tenaga kurasa itu akan bersinar dengan terang. Tidak lupa dia dicengkram oleh sebuah benda berbentuk tangan di kedua sisi-nya.
Tanpa sadar aku-pun mengulurkan tangan-ku dan mencoba mengeluarkan sedikit aura sihir yang kumiliki.
Cahaya berwarna putih keluar di sekitar tangan-ku, lalu secara mengejutkan bola mana tersebut seakan menghisap cahaya yang ada.
Melihat itu aku-pun tersenyum bangga, aku merasa seperti seorang penjelah waktu dari puncak era modern.
'Hehe!'
"...B-bagaimana bisa?"
Aku yang tidak memperhatikan nenek Bei sedari tadi, saat aku melihatnya kembali dia sangat terkejut dan dari sana aku bisa melihat matanya yang kali ini benar-benar terbuka.
Walaupun masih sedikit tertutup kelopak matanya yang sudah keriput, aku bisa melihat bahwa dia memiliki warna mata yang bagus.
Warnanya hijau seperti batu emerald.
'Aku yakin nenek ini cukup cantik saat muda.'
Selagi aku masih memperhatikan matanya yang tertuju pada batu mana, dia pun segera menarik tangan-ku dan itu membuat ku berhenti melakukan pengisian batu mana itu.
"Sudah cukup, ini sudah bagus."
"O-oh..."
"Jika lebih dari ini maka itu akan meledak."
'Uwah, padahal aku merasa itu masih kurang.'
Dengan begitu aku mulai mendengar suara mesin tersebut yang mulai hidup kembali, dan itu mengeluarkan banyak sekali asap.
"Apakah ini baik-baik saja?"
"Ya, mungkin karena sudah terlalu lama jadi seperti ini. Ini tinggal dibersihkan saja."
"Jadi begitu."
"Selama ini tidak ada yang tahu bahwa batu mana bisa diisi ulang."
"Lalu biasanya bagaimana jika sebuah batu mana sudah habis?"
"Orang-orang teknisi kerajaan akan menawarkan penggantian batu mana yang baru."
__ADS_1
"Lalu apa yang terjadi dengan batu yang lama?"
"Mereka membawanya dan tidak tahu apa yang dilakukan- ...Oh berarti..."
'Mereka mengisi ulang batu tersebut ya, kedengarannya itu bisnis yang bagus.'
Aku pun mengganggu nenek Bei yang nampaknya juga sudah memikirkan apa yang kupikiran saat ini.
"Ya, walaupun kelihatannya begitu. Tapi syukurlah jika mesin ini sekarang bisa digunakan kembali."
Aku membalikan badan-ku dan beranjak pergi dari bangunan ini meninggalkan nenek Bei.
Saat aku sampai di pintu keluar, aku bertemu dengan warga-warga yang sepertinya juga baru sampai. Mereka sangat terkejut melihat-ku dengan postur tubuhnya yang waspada.
Tanpa peduli aku berjalan melewati mereka dan kembali berjalan-jalan di desa ini, setelah berjalan tak jauh dari sana aku mengerti kenapa para warga itu bisa mendatangi bangunan tua.
Benar, cerobong asap itu mengeluarkan asap-nya kembali.
'Tsk, polusi.'
Kembali berjalan, aku mulai memikirkan bahwa manusia di dunia ini sepertinya cukup licik dalam berbisnis.
Itu membuat-ku teringat bahwa sebelumnya aku ini adalah seorang mafia yang melukan bisnis-bisnis tipu daya seperti itu.
'Menarik... Ini menarik!'
Dikala aku memikirkan hal tersebut, aku kembali bertemu dengan Edward yang sedang melakukan hal tidak jelas di halaman rumahnya.
♤
"Erghhh!~ H-harus bisa!"
Dari kejauhan mataku bisa melihat Edward sedang melakukan sesuatu, diriku sendiri tak bisa menjelaskan-nya dia sedang apa.
'Apakah itu kuda-kuda, gerakan... yoga? Tidak-tidak!'
Aku-pun menghampirinya yang kelihatannya sedang melakukan semua itu dengan serius, itu membuat-nya tak menyadari kedatangan-ku.
"Oy Edward, apa-apaan yang kau lakukan itu?"
Mendengar suaraku, dia-pun terkejut sehingga itu membuatnya mundur beberapa langka dan akhirnya terjatuh.
'Payah sekali dia.'
Tapi mengingat nyali yang dimilikinya cukup besar, seharusnya setelah ini dia bangkit dan akan berjalan menghampiri-ku.
Namun tak sesuai perkiraan-ku, dia bangkit dan kembali melakukan gerakan-gerakan anehnya lagi.
"Untuk saat ini aku akan melepaskan-mu monster, suatu hari aku akan menjadi kuat dan mengalahkan-mu!"
"Apakah dengan gerakan-gerakan itu kau akan menjadi kuat?"
"Hmph! Jangan meremehkan pelajaran yang sudah diajarkan oleh ayah-ku dulu!"
"Tidak-tidak. Maksudku, apakah kau yakin bahwa itu adalah gerakan yang benar?"
Perkataan-ku itu membuatnya berhenti melakukan semua itu dan menatap ke arah-ku.
"Sebenarnya... aku merasa tidak."
"Nah! Itu baru lelaki, mengakui kesalahan bodohnya adalah sifat pria sejati."
"H-huhh?!!"
"Kesalahan-mu adalah kau kurang membuka pergelangan kakimu, lalu kau harus membungkuk sedikit."
"S-siapa yang meminta pendapat-mu?!"
Tanpa menghiraukan keras kepalanya, aku terus meng-instruksikannya dan mengoreksi semua kesalahan-nya. Disitu aku bisa melihat bahwa dia perlahan mulai mengikuti semua perkataan-ku.
"Setelah kau merasa kuda-kuda mu cukup kuat, kau bisa memutar kaki kanan-mu kebelakang. Lalu setelah-nya badan-mu akan mengikuti pergerakan kaki-mu itu."
"B-begini?"
"Ya, Setelah itu barulah kau bisa sambil menyiapkan serangan tinju dengan tangan kanan-mu. Kau bisa menghempaskan tinju yang kuat jika kau memutar kembali badan dan kaki kanan-mu itu "
'Ya, melihatnya melakukan latihan yang asal-asalan itu membuatku jengkel sih.'
Dengan begitu dia melakukan pola yang sudah ku ajarkan iti berulang kali hingga...
"Edward! Apa yang kau lakukan dengan monster itu?!"
""!!!""
Entah darimana ibunya itu datang, sepertinya dia baru saja pergi dari suatu tempat.
Melihat ibunya yang cemas itu akhirnya aku-pun memutuskan untuk beranjak pergi dari sekitar rumahnya, bagaimanapun aku ini tidak suka membuat seorang ibu-ibu cemas terhadap anaknya.
Kejahatan sejati tidak meresahkan orang-orang yang lemah dan tidak berdaya seperti mereka, apalagi itu sama sekali tidak ada untung-nya.
Mau dilihat dari sisi manapun, kejahatan yang meresahkan golongan orang-orang seperti mereka sama sekali tidak keren.
Dan dengan begitu, aku pun berjalan menjauh dari Edward tanpa mengatakan sepatah kata-pun.
Walaupun saat berjalan aku bisa mendengar ibunya yang bercerita, bahwa dia melihat cerobong mesin pengolah gandum yang sudah hidup kembali.
'Astaga, seandainya dia tahu siapa yang menghidupkannya kembali.'
__ADS_1
Aku ingin melihat ekspresinta dan dia berbicara apa, itu membuat-ku penasaran sih.
Karena pemikiran manusia itu kelihatannya cukup kompleks, namun jika kau mengetahui dasarnya itu sangatlah sederhana.
♤
Beberapa minggu telah berlalu, dan selama ini aku hanya berdiam diri di rumah nenek Bei. Walaupun kedengarannya seperti pemuda pengangguran yang hanya tidur dan makan di rumah nenek-nya saja.
Tapi perlu di ketahui bahwa beberapa hari ini sebenarnya aku menghabiskan waktu dengan membaca buku harian milik Aoryu.
Melihat buku harian setebal ini memang membuat-ku sedikit mual awalnya, namun cerita sejarah yang tertulis di buku ini sangat seru sehingga tanpa sadar aku terhanyut kedalamnya.
Dari sana juga aku berpikir dan memutuskan untuk membuat sebuah buku harian juga, walaupun aku tidak akan memberikan-nya pada siapa-pun seperti Aoryu.
'Ini seperti membuat biografi untuk diri sendiri.'
Dari buku harian Aoryu aku mengetahui bahwa ratusan abad lalu terdapat sebuah perang dahsyat yang disebut sebagai Ragnarok.
Cerita dimulai ketika Aoryu masih cukup muda dan kehidupan dunia yang damai berlangsung diantara para monster dan juga manusia.
Singkat cerita, perang tersebut terjadi karena masalah internal yang terjadi diantara para ras monster.
Saat itu tidak diketahui secara pasti siapa yang memicu peperangan besar itu terjadi, tapi yang kubaca saat itu ras monster lain bersatu membuat aliansi untuk melawan ras naga.
Tapi disana dijelaskan ada hari dimana bahwa ada pertandingan untuk menentukan salah satu ras terkuat diantara kedua ras monster yang kuat. Kedua ras itu adalah dragon dan demon.
Dan setelahnya aku tidak tahu karena aku belum membacanya, saat itu aku merasa bahwa mataku akan berputar keluar dari kantung mataku karena tulisan Aoryu ini sangat jelek.
'Tunggu, bagaimana dia bisa menulis?'
Itu adalah misteri paling besar yang saat ini aku ingin ketahui dibanding sejarah dunia ini.
Tidak hanya membaca, di waktu sebelum tidur terkadang aku menciptakan beberapa sihir baru yang mungkin kuperlukan.
Tapi dari berbagai sihir itu aku merasa bahwa aku telah menciptakan satu sihir yang sangat berbahaya, bahkan belum dicoba-pun aku bisa membayangkan bahwa ini adalah sihir yang mengerikan.
'Tapi ini harusnya cukup berguna untuk keadaan yang darurat.'
Knock! Knock!
"Nak Suji, bolehkah nenek membuka pintunya?"
"Ya."
Nenek Bei membuka pintu kamar-ku dan dia nampak panik bukan main, bahkan wajahnya tidak sepanik ini saat bertemu-ku.
"Ada apa siang-siang begini nek?"
Aku bisa melihat bahwa nenek Bei sepertinya sedang terburu-buru, bisa dibilang seperti dia baru saja melakukan lomba lari di usianya yang sekarang ini.
"Siang?... Tidak, ini sudah malam loh."
'Hee?!! Malam?!'
Aku bahkan tidak tahu apakah ini siang atau malam diluar sana, apakah ini yang dirasakan oleh seorang pemuda yang mengurung dirinya dikamar?
"...Daripada itu nak, ...cepatlah melarikan diri! Desa ini akan hancur!"
"Hancur? Tunggu ada apa tiba-tiba begini?! Siapa yang menyerang?"
'Lebih tepatnya, siapa yang menyerang desa miskin ini?!'
"Ribuan goblin ...Gunung Neraka sedang berjalan ke arah sini!"
'Eh? Goblin?'
Itu mengingatkan-ku dengan goblin yang ku buat pingsan saat berjalan menuruni pegunungan ini.
Melihat nenek Bei yang nafasnya terengah-engah begitu membuat-ku sedikit iba, tapi goblin-goblin rupanya ya.
Aku-pun tersenyum dan berdiri dihadapan nenek Bei seakan itu bukan masalah besar.
"Cepatlah pergi nak-"
"Hahahaha!"
"N-nak suji?"
"...Lari? Apakah nenek lupa aku ini siapa?"
"Eh?"
Aku-pun berjalan menghampiri nenek Bei dan berkata kepadanya sebelum aku kembali berjalan melewatinya, dan pergi keluar rumah menemui kumpulan goblin itu.
"Aku ini adalah perfect dragon, dan jangan lupa bahwa aku ini adalah monster jahat yang paling kuat!"
Nenek Bei yang terkejut mundur beberapa langkah, hingga akhirnya dia tersandar di salah satu dinding dekat pintu kamar.
Tubuhnya lemas dan dia kali ini menatap-ku bukan karena panik, tapi dia takut dan gemetar.
'Apakah aku berlebihan mengeluarkan aura sihir-ku?'
"Maaf nenek Bei, tapi aku akan pergi menghadapi mereka. Ini bukan karena aku baik terhadap kalian para manusia, hanya saja aku tidak suka jika segala sesuatu yang kumiliki itu dihancurkan."
'Ya! Desa ini sudah jadi milik-ku!'
Dengan begitu, aku berjalan keluar dan menutup pintu rumah. Terlihat bahwa bagian luar desa ada yang sudah terbakar dengan asap hitam yang membumbung tinggi ke langit.
__ADS_1