
Perjalanan Menuju Kota Para Bandit! (III)
♤
"Ngomong-ngomong, apakah aku boleh memakan daging itu? kelihatan-nya sangat lezat?"
"Eh?"
Potongan terakhir atau suapan terakhir dari makanan-mu pasti terasa sangat berarti bagimu, sudah dipastikan bahwa kau tidak akan memberikan itu kepada siapapun.
Meskipun yang meminta itu adalah seekor beruang raksasa dengan bulu yang sangat lebat, bisa dibilang bulunya itu bahkan menutupi seluruh wajahnya.
Ditambah bulunya yang berwarna hitam itu benar-benar menyatu dengan gelapnya malam di hutan ini.
'Tapi apakah dia itu benar-benar beruang?'
Daripada memikirkan itu, ayo kita bicara dengan makhluk berbulu satu ini. Setidaknya sampai para lizard-man yang pingsan ini siuman.
"Tidak bisa begitu, ini adalah potongan terakhir yang sangat berarti."
"Hey bukankah kita ini sama-sama monster? Bagaimana bisa kau membiarkan saudara-mu ini mati kelaparan?"
'Saudara apanya sialan.'
"Dengarkan aku baik-baik makhluk berbulu. Pertama aku ini memanglah monster, tapi lebih tepatnya aku ini adalah perfect monster."
"..."
"Yang kedua, aku ini bukan saudaramu. Lalu yang ketiga, apa peduli-ku dengan mu yang sedang kelaparan?"
Mendengar itu, makhluk berbulu itu langsung menghembuskan napasnya seakan dia sangat kecewa dengan jawaban-ku tersebut.
Tak lama, dia membalas itu dengan nada bicaranya yang memang sudah terdengar lemah sebelumnya.
"Jadi kau tidak bisa diajak bicara baik-baik ya, kalau begitu apa boleh buat."
Makhluk berbulu itu mulai mengangkat salah satu lengan-nya yang mana itu menghasilkan hembusan angin yang cukup kuat, kelihatannya dia ingin menerkam diriku dengan tangannya yang besar itu. Akan tetapi...
Bruak!
'Dia terlalu lemas sampai dia tidak mampu melanjutkan serangan itu.'
Lalu bersamaan dengan dirinya yang terjatuh, suara perutnya yang kelaparan itu terdengar cukup keras dimana itu membuatku yakin bahwa dia benar-benar berada pada batasnya.
"Ya ampun, apakah kau tidak makan sebelum datang kesini?"
"Para lizard-man sialan itu tidak pernah memberiku makan."
"Aduh, kalau begitu mengapa kau mengikutinya?"
"Mereka berjanji akan mengembalikan sayapku jika diriku mengikuti perintah yang diberikan."
"Sayap? Maksudmu kau seharusnya bisa terbang?"
"Tentu saja, aku ini adalah monster terbang yang legendaris. Apakah kau tidak mengenaliku? Aku ini Griffin."
'Griffin?'
"Tidak-tidak, yang kutahu Griffin itu seharusnya memiliki tubuh singa dan berkepala elang!"
"Sudah pasti kau tidak bisa melihatnya karena buluku tidak terawat, dasar ini karena para lizard-man sialan."
'Uwah sepertinya dia telah ditipu dan dimanfaatkan.'
Tapi jika dia memang benar adalah Griffin yang kutahu, maka diriku harus memanfaatkan momen ini.
"Hm, baiklah. Aku akan memberikan-mu potongan daging terakhir ini dan membantumu mendapatkan sayap-mu kembali, tapi dengan persyaratan."
"Nampaknya kau sangat percaya diri monster kecil, kalau begitu aku akan mendengarkan-mu."
"Kecil? Ya terserah sih, tapi setelah aku membantumu kau harus mengantarku ke suatu tempat."
"Kemana itu?"
"Kota Calamont."
"Hmph, apa yang kau cari di kota kumuh itu? Tapi baiklah, aku menyetujui itu."
Jadi Calamont itu kota kumuh ya? Tapi itu bagus karena dia sudah tahu dan aku tidak perlu memberi tahu jalannya lagi.
__ADS_1
"Yosh! Kalau begitu, Bon Appétit"
Dengan begitu aku pun mulai meraba tubuhnya itu dan mencari dimana letak wajahnya itu berada.
"Aw-Oy! Apa- yang sedang kau lakukan sialan?!"
Dengan cepat aku menemukan mulutnya, aku pun langsung memasukan sepotong daging kedalam mulutnya itu.
Namun begitu...
"ARGH! -ITU ADALAH MATAKU SIALAN!"
"Oh maaf."
♤
Sudah kukatan sebelumnya bahwa aku ini adalah orang yang cukup mahir dalam menggali informasi.
Malam nampaknya masih berlangsung lama, dan sialnya para lizard-man yang sebelumnya tak sadar itu mulai siuman dikala diriku mulai mengantuk.
'Ngantuk banget sialan.'
Disisi lain Griffin yang sudah kuberi potongan daging terakhir-ku itu langsung tertidur pulas, sepertinya porsi itu cukup menahan rasa laparnya untuk sementara.
Melihat para lizard-man yang sudah mulai sadar, aku sendiri berusaha untuk tetap terjaga dan mengawasi mereka.
Mereka terlihat belum sadar sepenuhnya sebelum diriku membuka mulutku, saat mendengar suaraku mereka mulai sigap dan langsung mencari senjata mereka.
Yang mana sayangnya senjata mereka itu sudah kubakar habis.
"Jadi, mengapa kalian menyerangku? Para cicak sialan."
'Uwah, sepertinya itu cukup kasar.'
Tapi mau bagaimana lagi, aku ini sudah sangat kantuk dan sepertinya aku tidak bisa berlama-lama mengintrogasi mereka.
"Apa yang kau katakan bocah brengsek?!"
Akan tetapi sepertinya sebutan itu tidak bisa diterima oleh mereka yang mana itu membuat mereka terlihat sangat marah, hingga akhirnya salah satu dari mereka mencoba berteriak memanggil Griffin yang telah tertidur pulas.
"Hoy Griffin cepat habisi dia!"
"..."
"..."
Salah satu dari mereka mulai terlihat cemas sebelum akhirnya rasa cemas itu mulai menyelimuti mereka semua.
"Griffin? Maksudmu hewan- tidak, maksudmu monster berbulu tebal itu?"
"Dia itu bukan monster! Dia hanya hewan yang bekerja untuk kebutuhan kami para lizard-man!"
"Hoo~ Kalau begitu beri tahu aku tentang kalian para cicak."
"Cicak-cicak-cicak! Sudah kubilang jaga mulutmu bocah breng-"
Cratz!
Belum menghabiskan seluruh perkataanya, salah satu dari lizard-man itu terpaksa kuhabisi karena dia terlalu berisik.
Dengan mengambil salah satu dari sisa-sisa anak panah yang ada ditanah, akupun melempar anak panah itu layaknya bermain Dart ke area jantungnya.
Tapi tak kusangka bahwa itu benar-benar akan membuatnya tewas. Disisi lain, para lizard-man yang melihat salah satu dari mereka itu tewas langsung terdiam seakan membeku.
"Begini loh, aku ini sedang mengantuk dan aku ingin segera tidur."
Para lizard-man yang diam membeku perlahan melihat-ku, matanya yang kosong seakan menunjukan bahwa mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Jangan terus melihat-ku. Jadi cepat jawab pertanyaan-ku itu atau satu persatu dari kalian akan mati setiap menitnya."
Namun tatapan mereka yang kosong dengan cepat berubah menjadi sebuah ledakan amarah yang sangat besar, dimana itu membuat mereka langsung berdiri dan menyerang-ku yang sedang duduk ini secara bersamaan.
""AAARGHH!""
"Cicak bodoh."
FHUSH!
Tak kalah cepat dengan mereka, diriku langsung mengeluarkan napas api miliku dimana itu langsung membuat mereka lenyap tak tersisa.
__ADS_1
Walaupun diriku tidak mengeluarkan aura sihir milik-ku, mengapa mereka tidak bisa melihat perbedaan kekuatan diantara kita.
'Padahal aku sudah menghabisi salah satu dari mereka dengan mudah.'
Dan akibat dari semburan api-ku, bagian hutan yang kusinggahi ini mulai terbakar dimana itu membuat-ku sedikit menyesal.
Jika dipikir-pikir aku jadi tidak dapat apa-apa selain rasa kantuk ini.
'Menyebalkan.'
Griffin sendiri yang sebelumnya tertidur pulas tanpa kusadari telah terbangun entah sejak kapan, dirinya hanya terdiam melihat bagian hutan ini yang mulai terbakar.
"Oy Griffin, beritahu aku apakah ada lizard-man lain yang ada selain ini?"
"...Tentu, mereka bergerak secara berkoloni dan mereka juga memiliki pemimpin."
"Begitu, berarti mereka memiliki markas bukan? Apakah kau tahu tempatnya?"
"Ya, tentu saja. Sayapku juga disimpan oleh mereka disana."
"Bagus, kita akan berangkat kesana sekarang."
"...Eh? Sekarang?"
"Ya, kita selesaikan ini dengan cepat. Karena aku sangat kantuk saat ini."
"Tapi apakah kita akan membiarkan hutan ini?"
'Benar juga.'
Lalu sebelum meninggalkan tempat ini, diriku terpaksa harus memadamkan api yang ada dengan artefak kantung air tak terbatas yang selalu kubawa.
Caranya cukup sederhana, aku hanya perlu meloncat dengan tinggi dan memutar kantung air yang sudah terbuka ini kesegala arah yang terdapat apinya.
'Entah mengapa aku terlihat sangat primitif.'
Saat itu aku berpikir, jika ada kesempatan aku akan membuat sihir baru dimana itu dapat merubah cuaca menjadi hujan.
♤
Sudah beberapa saat semenjak diriku pergi dari hutan yang tengah terbakar akibat semburan napas apiku, dan saat ini diriku telah pergi keluar dari hutan tersebut.
Diriku belum pernah menunggangi seekor hewan sebelumnya, baik itu kuda, kerbau, maupun keledai atau bahkan unta sekalipun.
Setidaknya itulah yang terjadi di dunia-ku sebelumnya, namun di dunia yang baru ini untuk pertama kalinya diriku menunggangi seekor hewan.
'Tidak, aku pernah menaiki naga sih.'
Tapi tidak hanya itu, yang ku tunggangi saat ini adalah hewan yang cukup besar.
'Walaupun naga itu lebih besar sih.'
Drap! Drap! Drap!
'Tak kusangka ini sangat menyeramkan, daripada menunggangi naga.''
Rasanya seperti kau menaiki sebuah kendaraan bermotor roda dua yang mana kendalinya itu sangat berat dan sulit. Singkatnya, kau tidak bisa mengendalikan ini.
"Oy! Apakah kau tidak bisa pelan sedikit?!"
"Menurutku lariku ini sudah pelan, tapi sepertinya berkat daging yang kau berikan itu aku jadi sedikit bertenaga."
'Pantas saja para cicak itu tidak memberinya makan dan membuatnya lemah!'
Sekarang aku mengerti mengapa para cicak itu tidak memberinya makan, itu karena dia terlalu cepat dan sulit ditunggangi.
Aku berpikir bagaimana jika dia memakai kekuatan penuh dalam keadaan tidak lapar, ini benar-benar gila.
Sepertinya ini bisa memicu diriku menjadi orang yang mabuk akan perjalanan, tapi setelah melewati semua itu hasilnya diriku saat ini tiba di markas para lizard-man itu.
"Baiklah kita sampai."
'Bukankah ini...'
"Apakah kau yakin ini tempatnya?"
"Tentu saja, ayo saatnya kau memenuhi janji-mu."
"Baiklah, kau hanya perlu diam dan tidur saja. Biar aku yang membawa kembali sayap-mu itu."
__ADS_1
Dengan begitu, akupun sampai di markas para lizard-man yang mana itu sepertinya juga sekaligus disebut sebagai,
'Endless Valley.'