
Perjalanan Menuju Kota Para Bandit! (II)
♤
Matahari mulai menurun dikala diriku sudah dekat dengan lembah bernama Endless Valley, tapi walaupun kubilang sudah dekat kenyataannya saat ini diriku masih harus melewati hutan yang cukup luas untuk sampai kesana.
Sungguh, sepertinya untuk sampai ke kota kecil itu butuh waktu yang cukup lama jika berjalan kaki.
Aku mulai berpikir mungkin dengan berlari diriku bisa sampai lebih cepat ke kota bernama Calamont itu, tapi tetap saja itu juga akan menguras tenaga yang kumikiki.
Saat ini aku berharap bisa menggunakan sihir ruang seperti Aoryu, walaupun sepertinya sihir itu bisa kuciptakan. Tapi sayangnya aku tidak memiliki konsep dari sihir ruang itu sendiri.
Maksudku adalah, menciptakan sihir di dunia ini memang mudah tapi tidak semudah membalikan telapak tangan.
Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, dibutuhkan sebuah konsep yang jelas agar sihir itu dapat terwujud dengan baik, sama seperti saat diriku membuat sihir Sun Child saat melawan Aoryu.
'Itupun aku sudah menyiapkan di jauh-jauh hari.'
Saat itu aku harus membayangkan sihir seperti apa yang akan kuciptakan, mulai dari untuk apa sihir tersebut, bagaimana sihir itu akan bekerja, hingga bentuk atau wujud dari sihir itu sendiri.
Singkatnya, aku perlu membayangkan atau berimajanasi dengan tingkat konsentrasi yang tinggi sehingga aku dapat mewujudkannya dengan baik.
'Ya bagaimana lagi, aku ini sangat jarang berimajinasi sih.'
Oleh karena itu, sangat sulit bagiku membayangkan konsep dari sihir ruang seperti milik Aoryu tersebut.
Karena jika aku memaksa untuk menciptakan-nya dan konsepnya itu salah, mungkin saja aku malah berakhir pindah di tempat yang tidak ku ketahui atau mungkin bukan lagi di dunia ini.
'Aku tidak ingin ambil resiko soal itu.'
Tapi berjalan kaki juga tidak terlalu buruk, setidaknya diriku menganggap ini untuk memperkuat tubuh-ku.
Ngomong-ngomong langit yang sudah mulai berwarna oranye ini mengharuskanku untuk segera mencari tempat beristirahat.
Setidaknya aku ingin makan terlebih dahulu saat ini, mungkin aku akan mencari atau berburu sebentar di hutan ini. Dengan begitu aku-pun menjentikan jariku dimana ini juga adalah salah satu sihir yang telah kuciptakan juga sebelumnya.
Setelah menjentikan jariku, aku bisa melepaskan gelombang sinyal yang mampu mendeteksi hawa panas yang dimiliki oleh tubuh makhluk hidup di sekitar tempat-ku berada.
'Uwah, luas juga.'
Aku menyebut sihir ini sebagai Sonar, luas area deteksi yang di cakupnya-pun cukup luas dimana aku sendiri juga terkejut dengan hasil jangkauan-nya.
Dengan begitu aku berhasil mendeteksi seluruh isi hutan ini, dan itu membuatku menemukan satu babi yang ukurannya lumayan untuk perut kecil-ku ini.
♤
Menciptakan api adalah hal yang mudah bagi-ku di dunia ini, itu karena aku saat ini adalah monster naga yang mampu mengeluarkan api dari mulutku.
__ADS_1
Rasanya aku masih tidak terbiasa dengan ini, bagaimana tidak? Aku saat ini sedang membakar kayu-kayu yang aku dapatkan dengan menghembuskan api dari mulut-ku.
Fiush!
'Mau dilihat berapa kali-pun aku masih tidak percaya akan hal ini.'
Seperti meniup lilin ulang tahun yang sering kita didapatkan saat masih anak-anak, tapi hanya saja yang keluar dari mulutku ini tidak sekedar angin saja.
'Yah walaupun aku tidak pernah meniup lilin ulang tahun.'
Berbicara soal api, tempat dimana diriku beristirahat saat ini menjadi cukup hangat berkatnya.
Lalu aku memilih sebuah tempat yang sedikit terbuka dimana ada batu yang cukup besar, dan juga sungai kecil yang tak jauh dari tempat-ku berada.
Setidaknya aku memikirkan tempat untuk diriku jika ingin buang air, benar. Yang kubicarakan adalah soal buang air yang seperti itu.
Lalu diatas api yang telah kubakar itu aku menggantung daging babi hasil buruan-ku, dengan api-ku yang berwarna putih seharusnya itu bisa matang dengan cepat.
Api putih-ku ini sangat lah panas, bisa dilihat bahwa api unggun yang kubuat ini tidaklah normal seperti pada umumnya.
'Ini sangat kecil.'
Aku sendiri bahkan harus menambahkan kayu baru setiap saat karena api putih-ku ini membakar dengan cepat, dan jika aku membuatnya terlalu besar maka api juga akan menjadi lebih besar lagi.
Dan jika itu terjadi mungkin kebakaran hutan yang sangat hebat akan terjadi malam ini.
Yap, sebisa mungkin aku tidak ingin merusak lingkungan alam di dunia ini.
Namun begitu, aku pikir rasanya lebih enak jika daging ini dibakar dengan api biru milik Aoryu.
Tapi bukan berarti daging buatan-ku ini tidak enak, aku tetap menikmati rasa daging bakar ini dengan perlahan.
Perlahan dan tidak perlu tergesa-gesa, aku selalu menikmati semua yang masuk ke mulutku saat makan.
Ketika aku sedang menikmati setiap gigitan dari daging itu, tanpa kusadari sebuah anak panah dengan cepat melesat menuju ku dan itu tepat mengarah ke wajah-ku.
Dengan tenang dan tak kalah cepat, akupun mengeluarkan sedikit napas apiku dimana itu membuat anak panah tersebut hilang seketika sebelum sampai kewajah-ku.
'Aduh sial, rasa daging dimulutku jadi aneh kan.'
Tapi tak berselang lama setelah serangan itu, muncul anak panah lain dari berbagai arah yang ada.
Jumlahnya yang banyak ini membuatku menyadari mungkin saat ini diriku telah dikepung oleh kelompok yang tidak jelas.
Anak panah yang melesat ke arahku membuat-ku harus melompat di waktu yang tepat dimana akhirnya semua panah itu menjadi sia-sia.
Diriku melayang di udara bersama dengan sepotong daging di salah satu tangan-ku, sambil mengunyah daging dari atas sini akupun kembali menjentikan jari-ku dengan salah tangan-ku yang kosong.
__ADS_1
Saat itu barulah terlihat bahwa mereka yang memanah ku berada di balik semak-semak yang ada di sekitar tempat-ku berada, semak itu bergerak secara bersamaan dan itu terlihat jelas.
'Apakah mereka bodoh? Mereka kan jadi ketahuan.'
Dengan begitu, sebelum diriku kembali mendarat ketanah akupun sekali lagi menjentikan jari-ku dan...
Srash!!!
Mereka yang berada dari balik semak itu mulai keluar dan menunjukan sosoknya, rupanya mereka adalah sekelompok lizard-man.
Tapi kurasa kemunculannya itu sepertinya tidak di sengaja karena mereka terlihat kesulitan dengan merangkak ditanah, sambil menutupi telinga mereka.
""Baj*ngaan!""
""Aduh, telingaku!""
Aku yang melihat itu langsung mendarat, diriku mulai merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi dengan mereka.
'Oleh karena itu, ayo kita tunggu mereka hingga tenang.'
♤
Suara jangkrik bisa terdengar dengan jelas di hutan ini bersamaan dengan suara kayu kering yang terbakar, diriku saat ini mulai menghampiri para lizard-man yang sudah terlihat tak berdaya.
Setelah teriakan mereka mulai mereda, mereka seketika terlihat lemas dan tatapan-nya terlihat kosong.
Bisa dibilang mereka sepertinya merasakan pusing yang sangat hebat dikepalanya, mungkin saat ini mereka sedang melihat burung-burung terbang di atas kepala mereka.
'Yang benar saja, apakah begini cara kalian menyerang manusia?'
"Oy, apa yang kalian lakukan? Apa tujuan kalian?"
""...""
Ini percuma, dengan begitu aku memutuskan untuk mengambil sepotong daging terakhir dan kembali makan.
Tapi dipikir-pikir apa yang membuat para lizard man ini jadi seperti ini, aku sendiri merasa tidak tahu atas dasa apa kekonyolan ini terjadi tapi saat aku memikirkan semua itu, aku merasakan ada sesuatu yang sangat besar dibelakangku saat ini.
Tidak hanya itu, aku bisa merasakan hawa panas tubuhnya dan juga napasnya yang berhembus itu terasa di bagian belakang leher-ku.
Mulai melihat apa yang ada di belakangku, perlahan aku bisa melihat sosok berbulu lebat yang sangat besar berada tepat dibelakang-ku.
"...Kau, bukan manusia ya?"
Mendengar sesuatu yang besar dan berbulu lebat itu berbicara dengan nada berat, aku-pun terkejut dimana itu membuat-ku langsung berpikir bahwa mungkin dia bisa menjadi teman bicara ku malam ini.
"Ngomong-ngomong, apakah aku boleh memakan daging itu? kelihatan-nya sangat lezat?"
__ADS_1
"Eh?"
'Tidak-tidak! Ini adalah potongan terakhir tau!'