
Perjalanan Menuju Kota Para Bandit!
♤
Berjalan sendiri dibawah cerahnya mentari sambil membaca buku, membuat-ku terkadang tidak fokus dengan apa yang ada di depanku.
Apalagi jika melihat huruf-huruf asing yang saat ini diriku masih merasa aneh dengan itu.
Benar, beberapa jam berlalu sejak diriku pergi meninggalkan desa dengan para goblin gunung neraka yang saat ini menjadi pengikut-ku.
'Pengikut?'
Yap, untuk saat ini sebut saja seperti itu.
Lalu dengan tujuan-ku yang sekarang ini masih ingin menjadi monster yang jahat, akupun melanjutkan perjalanan-ku berdasarkan peta yang diberikan nenek Bei.
Namun begitu aku masih tidak percaya setelah semua hal yang telah kulakukan kepada desa dan goblin itu, mengapa itu justru menjadi hal yang baik untuk mereka?
Maksudku lihatlah ini, bahkan aku diberikan peta dunia yang bahkan Aoryu sendiri tidak memperkirakan akan hal ini.
Begitupun dengan para goblin, mereka justru terlihat begitu senang setelah diriku mengambil alih posisi raja mereka.
'Padahal aku telah menghabisi beberapa dari mereka loh!'
Tapi rasanya di duniaku yang sebelumnya aku juga mengalami hal-hal ini.
Saat itu entah mengapa yang mengikuti diriku ini menjadi lumayan banyak sehingga aku berpikir untuk membuat kelompok mafia-ku sendiri.
'Apakah yang kulakukan kurang jahat? sejujurnya apa yang mereka lihat setelah aku melakukan semua kekacauan itu?'
Tapi memang benar, aku ini tidak terlalu suka berbuat hal yang terlalu jahat kepada orang yang lemah. Sebaliknya aku merasa lebih bergairah jika melawan orang yang lebih kuat dan dia begitu jahat.
Singkatnya aku lebih suka meruntuhkan kesombongan seseorang, kepercayaan diri mereka yang kuat, ataupun mereka yang merasa berkuasa.
Untuk akhirnya, melihat ekpresi mereka yang benar-benar hancur membuat-ku sangat senang.
Ngomong-ngomong perjalan-ku saat ini adalah pergi menuju kota terdekat dari pegunungan neraka, jika diperhatikan wilayah kota ini lebih kecil daripada kota lain yang ada di peta ini.
Nama kota itu sendiri adalah Calamont, lalu dari wilayah kerajaannya sepertinya dia adalah bagian dari Tronaria Kingdom.
Jaraknya sendiri dari tempatku berada saat ini masih cukup jauh, bahkan diriku sepertinya harus melewati sebuah lembah besar yang disebut sebagai Endless Valley.
'Di peta ini lembah itu sendiri terlihat seperti parit yang sangat panjang.'
Tapi membaca saat melakukan perjalanan itu memang sangat cocok untuk membunuh waktu luang, walaupun rasanya agak aneh jika yang dibaca adalah sebuah buku harian.
Namun begitu, perlu kujelaskan sekali lagi bahwa buku harian Aoryu ini hasilnya mencakup kisah perang besar yang pernah terjadi di dunia ini.
Dan setelah diriku membaca lebih jauh, aku merasa bahwa pemicu perang dahsyat tersebut berasal dari ras demon. Itu karena terdapat beberapa kejanggalan yang tertulis di dalam buku tersebut.
'...Tapi Demon ya.'
Aku mulai membayangkan bagaimana bentuk hingga kekuatan dari ras monster yang satu itu, dan entah mengapa itu membuat jantungku berdegup dengan kencang.
'Ini semakin menarik!'
Bahkan aku merasa saat ini mungkin wajahku sedang tersenyum, dimana itu membuatku menutupi sebagian wajah-ku.
Namun ketika aku sedang membayangkan para demon itu, tanpa sadar aku tersandung oleh sesuatu yang membuat diriku terkejut dan membuatku berhenti.
Melihat kebawah dan memastikan apa yang menghalangi kaki-ku, saat itu aku sadar bahwa diriku telah menginjak mayat monster yang bentuknya kurang lebih seperti reptil.
Bisa dibilang perwujudan-nya itu seperti dino pada zaman purba yang mana tubuhnya juga dilengkapi dengan armor besi, kulitnya yang berwarna coklat gelap dan bersisik sekilas membuatnya terlihat cukup seram.
Lalu tidak jauh dari mayat kadal ini terdapat sebilah pedang yang tertancap ditanah.
Aku mulai merendahkan diriku agar bisa melihat lebih dekat kondisi mayat kadal tersebut, dari situ aku menyadari bahwa sepertinya dia telah mati karena tertusuk oleh benda yang sangat tajam.
Darahnya yang berwarna hijau sama persis seperti darah yang dimiliki oleh para goblin, aku bisa melihatnya karena itu mengalir keluar dari tubuh mereka dan itu meninggalkan sisa noda di tanah.
Sepertinya monster ini telah mati cukup lama jika dilihat dari darahnya yang sudah mengering, tidak lupa tubuhnya juga sepertinya sudah memasuki fase pembusukan.
'Ini menjijikan.'
Diriku menganggap bahwa monster ini kalah di sebuah pertarungan yang mana itu membuatnya tewas, tapi apakah mungkin monster jenis reptil ini bergerak secara sendirian?
__ADS_1
Akupun melanjutkan langkah kaki-ku meninggalkan mayat monster tersebut hingga akhirnya aku mengetahui, bahwa memang benar rute perjalanan-ku saat ini adalah bekas medan pertarungan.
'Tidak, itu pertempuran.'
Bisa dilihat tak lama setelah diriku beranjak, saat ini aku menemukan lebih banyak lagi mayat monster reptil yang terkulai ditanah.
Tapi tidak hanya itu, terdapat mayat manusia dan mayat dari kereta kuda. Lalu terdapat barang-barang bawaan yang berserakan, sepertinya itu adalah barang yang dibawa manusia-manusia ini.
Aku mulai memastikan satu persatu mayat yang ada baik itu manusia ataupun monster, setidaknya aku berharap masih ada yang bertahan karena aku menginginkan informasi darinya.
Yap, informasi itu adalah hal yang terpenting.
Setelah aku memastikan semua mayat tersebut, aku akhirnya sampai di tubuh terakhir yang mana itu berbeda dari mayat yang lain.
Itu adalah tubuh manusia dengan jenis kelamin pria, dari wajahnya dia bisa dibilang cukup untuk disebut sebagai manusia dewasa.
Tubuhnya sendiri tidak terkulai ditanah seperti yang lain namun tersandar di salah satu batu besar yang ada di tempat ini, dengan begitu akupun menggunakan tangan-ku untuk merasakan urat nadinya tersebut.
'Ah! Dia masih hidup!'
Walaupun lemah tapi aku bisa merasakan-nya bahwa manusia ini masih hidup, dan dengan begitu akupun mulai membuka mulut-ku untuk menggali informasi darinya.
"Kau masih hidup bukan? Beritahu aku apa yang sudah terjadi."
Matanya yang tertutup mulai terbuka secara perlahan lalu saat bola matanya mulai melihat-ku, dia pun tersenyum tipis seakan dia mengenali diriku.
"Kau... perfect monster yang mengacau di desa kami kan?"
Mendengar itu aku terkejut dan dari sana aku menyadari, bahwa mayat manusia yang ada disini adalah para warga desa yang memilih untuk pergi sebelumnya.
Lalu saat itu aku mulai menganggap bahwa aku bisa mendapatkan informasi dengan mudah tapi...
Cuih!
Dia meludahi wajah-ku yang saat ini tengah berhadapan dengan-nya, dimana ekspresinya juga terlihat sangat puas akan itu.
'Sial. Aku lupa bahwa mereka yang pergi dari desa sangat membenciku.'
Tentunya karena aku seorang yang berpengalaman dalam hal menggali informasi, akupun membiarkan-nya dan justru tersenyum. Tapi bukan berarti diriku tidak kesal, tidak. Sejujurnya aku sangat marah.
Sambil menyeka wajah-ku yang kotor karena dirinya, aku pun mulai berbicara.
"Aduh, bukankah tidak baik jika kau melakukan itu pada seseorang yang pernah kau temui?"
"...Kau bukan manusia.. sialan.."
"Iya juga. Tapi daripada membicarakan diriku, aku lebih ingin kau memberitahuku apa yang telah terjadi disini."
Karena aku mengajak dia berbicara, dia pun terlihat mulai merasakan kesakitan. Namun dia masih berusaha menguatkan tubuhnya entah apa motivasinya, aku sendiri bisa mendengar suaranya yang mulai kesulitan itu.
"...Kuhh.. tapi setelah itu kau juga harus memberi tahu-ku bagaimana kau menghabisi warga desa yang tinggal disana."
'Hah? Apakah dia berpikir diriku yang disini itu telah membunuh mereka?'
"Baiklah akan kuberitahu padamu."
"...Hmph, setidaknya aku bisa mati dengan tenang...
'Apakah dia bodoh?'
Setelah itu pria tersebut mulai memberitahu-ku apa yang telah terjadi, lebih tepatnya apa yang telah terjadi kepada para warga desa yang memilih pergi ke ibu kota kerajaan.
Dari yang dibicirakan oleh pria ini, sepertinya para warga desa yang tengah berjalan tiba-tiba diserang oleh sekelompok monster reptil. Pria ini sendiri menyebutkan bahwa monster reptil tersebut adalah lizard-man.
Para lizard-man itu sepertinya ingin menjarah barang bawaan yang dibawa oleh mereka, yang mana pada akhirnya itu membuat para warga desa harus melawan mereka.
"...Tapi pada akhirnya ...kami kalah karena jumlah, ...apakah itu cuku-hukk!"
'Sepertinya dia sudah pada batasnya ya?
"Ya itu cukup."
"...Lalu bagaimana dengan-hukk!"
"Tenang-tenang, aku masih ingat janji-ku kok."
__ADS_1
"...Hmph, ...aku bersyukur membawa Rein pergi..."
Pria ini terlihat cukup tenang setelah mengatakan itu, seakan dia bersyukur karena telah membawa manusia bernama Rein ini pergi.
"Rein?"
"...Ya, dia anak-ku... ku harap dia bersama yang lain sampai di kerajaan ...dengan selamat..."
'Hoo~'
"Kalau begitu sesuai janjiku, akan kuberitahu bagaimana aku menghabisi para warga desa yang tinggal. Ehem! Sebenarnya aku tidak membunuh mereka."
Mendengar itu, wajahnya yang sudah tenang sebelumnya mulai menatapku dengan kosong. Hingga beberapa saat dia mulai mencengkram kerah mantel-ku dan mulai berbicara dengan nada keras.
'Oy-oy, bukankah dia seharusnya sudah tidak punya tenaga?'
"JANGAN BERCANDA! KATAKAN YANG SEBENARNYA MONSTER SIALAN!"
Aku-pun kembali menjelaskan kembali padanya sambil melepaskan tangannya dari mantelku dengan lembut.
"Benar kok, kalau tidak percaya kau bisa kembali ke desa dan melihatnya sendiri."
"...Tidak... TIDAK MUNGKIN!"
Karena dia masih terlihat tidak percaya, aku-pun mengeluarkan peta yang diberikan nenek Bei kepadaku. Entah apakah ini bisa membuatnya percaya apa tidak.
"Lihat, bahkan nenek Bei memberiku ini. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin ini imbalanku karena aku sudah menghidupkan kembali mesin gandum?"
'Begitu, benar juga! Jadi karena aku telah melakukan hal baik itu ya?!'
Saat ini aku mulai menyadari mengapa mereka semua mulai memperlakukan-ku dengan baik, disisi lain pria dihadapan-ku ini kelihatannya sangat terguncang.
"...A-apa yang kau bicarakan, ...Sialan..."
"..."
"CEPAT BUNUH AKU SEPERTI KAU MEMBUNUH MEREKA, TUNJUKAN PADAKU!"
Pria ini mulai terlihat berbicara sendiri dikala diriku kembali memperhatikan-nya, rasanya aku seperti melihat orang yang mulai gila.
"...Tidak-tidak tapi dia membawa peta yang hanya disimpan oleh nenek, tidak mungkin dia dapat menemukan itu. Pasti-pasti! nenek memberinya, itu berarti dia masih hidup-hidup? Semua masih hidup?! Tidak-tidak! Tidak mungkin! Lalu apa yang sedang kami lakukan?!"
"Entahlah, tapi terima kasih karena telah memberitahu-ku bahwa kau memiliki anak. Dan lagi siapa namanya? Rein?"
"?!"
"Kau harus membayar perbuatan-mu karena telah meludahi-ku sebelumnya, tapi karena kau memang sudah akan segera mati maka anak-mu yang akan menanggung perbuatan-mu itu."
Melihat diriku tersenyum dan mengatakan hal tersebut, puncak kegilaan pria ini mulai sampai atau bahkan melebihi batasnya.
"SIALAN! KUH! TIDAK-TIDAK! TOLONG AMPUNI AKU! AKU MOHON! JANGAN GANGGU ANAK DAN ISTRIKU!"
"Jadi anak-mu itu masih bersama istri-mu ya?"
"AH! SIALAN! SIALAN! ...BUNUH! BUNUH AKU! LAKUKAN APA SAJA PADAKU SELAIN MEREKA!"
Diriku yang telah berdiri sedari tadi mulai melangkahkan kaki-ku dan bermaksud untuk meninggalkan tempat ini. Tapi sayangnya kali ini kaki-ku bukan tersandung mayat melainkan kedua tangan pria tersebut yang sedang menahan kaki-ku.
"KUH! ...AKU... Mohon..."
Namun dengan sedikit tenaga, kaki-ku berhasil terlepas dari tangan-nya tersebut.
"Seandainya kau diawal tidak melakukan itu, mungkin kau tidak akan mendengar ini."
"?!"
"Akan kupastikan keluargamu itu hancur perlahan."
Dengan seringai diwajahku, akupun mengirimkan terror terhebat dalam hidupnya sebelum dia mati. Tentunya dia membeku seketika mendengar hal tersebut.
'Uwah, bukankah aku benar-benar seperti seorang yang sangat jahat sekarang?'
Tapi perlu diketahui bahwa aku tidak akan melakukan apapun kepada keluarganya itu, bagaimanapun mereka tidak punya urusan dengan-ku.
Hanya saja, aku berpikir bahwa ancaman dan juga teror mungkin adalah balasan terbaik yang dapat kulakukan pada pria tersebut dalam kondisinya saat ini.
__ADS_1