We Are Monsters!

We Are Monsters!
Vol 1. Chapter 18


__ADS_3

Markas para Lizard-man! Endless Valley, Perfect Lizard, Dan Lizard King! (II)



Bergetar, takut, dan keringat dingin yang mengucur deras adalah apa yang terjadi pada para lizard-man yang telah mengepung-ku sekarang ini.


Terutama dengan kedua perfect lizard yang saat ini tengah berada sangat dengan-ku, aku bisa melihat dan merasakan ketakutan mereka yang begitu dalam.


Perfect lizard pria yang berada di depan-ku sendiri seketika bergetar dengan hebat, bahkan dia tidak sanggup untuk menusuk-ku dengan pisaunya yang sudah bersentuhan dengan kulit leher-ku.


Lalu untuk perfect lizard wanita yang berada dibelakang-ku, aku bisa merasakan tangannya yang gemetar sementara cengkreman-nya yang begitu kuat itu hilang entah kemana.


"Aku terkejut bahwa kalian berdua masih sanggup berdiri, seperti yang diharapkan dari perfect monster."


Mendengar itu kedua perfect lizard ini mulai sadar, namun bukan menyerangku dengan cepat mereka justru langsung mundur dan mengambil jarak yang cukup jauh dengan-ku.


'Benar, tindakan mereka itu didasari oleh insting mereka.'


Berbeda dengan mereka berdua, para lizard-man lain yang mereka pimpin telah terbujur kaku ditanah dimana kondisi mereka saat ini sedang tak sadarkan diri.


"Jadi, akankah kakak-kakak sekalian akan memberikan-ku sayap itu?"


Mendengar itu, dengan napasnya yang sudah tak beraturan sang percect lizard wanita yang ada dibelakang-ku justru memberikan pertanyaan padaku.


Suaranya yang gemetar dan cemas seakan dirinya menguatkan dirinya untuk itu.


"Sebenarnya ...kau itu apa?"


Namun belum aku menjawab itu, saudara laki-lakinya justru menjawab pertanyaan-nya itu.


"...Apakah kau tidak sadar, dia itu perfect monster seperti kita!"


Mendengar itu akupun menyetujui ucapannya tersebut.


"Tepat sekali! Kau dapat poin 100!"


Rasanya sangat aneh ketika kau menjadi satu-satunya orang yang ceria dihadapan mereka yang tengah ketakutan, kira-kira itulah yang kurasakan saat ini.


"Perkenalkan, namaku adalah Suji. Aku adalah perfect monster- Tidak, aku adalah perfect dragon."


Mendengar itu, perfect lizard pria yang ada di hadapan-ku langsung terjatuh lemas dengan lututnya yang menyentuh tanah.


Suasana disini sangatlah sunyi dan aku hanya bisa mendengar suara detak jantung mereka yang cukup keras saat ini.


"Hey, jadi dimana sayap itu? Aku ini sedang kantuk dan butuh tidur. Begini saja, kuberikan kalian waktu 5 menit untuk membawa sayap itu kepadaku.


Namun tidak ada jawaban dari mereka dan hanya kesunyian yang terjadi disini, dan itu benar-benar membuat-ku cukup kesal.


Aku mulai berpikir untuk mengancam kedua perfect lizard ini, tapi baru sampai disitu terdapat suara lain yang memecah pikiranku dan kesunyian malam di lembah ini.


"Segera hentikan ini wahai perfect dragon, aku membawa apa yang kau cari. Atau haruskah aku memanggil-mu Suji?"


Suaranya yang menggema membuat-ku sadar bahwa dia berada dari atas tebing yang tinggi ini, dan saat itu aku bisa melihat bayangan seorang yang bungkuk dimana suaranya itu terdengar seperti pria tua.


Melihat-ku memperhatikannya dari bawah sini, diapun mengangkat sebuah peti persegi panjang yang mana itu lebih besar dari peti mayat manusia.


Tidak hanya itu, sepertinya peti itu dihiasi dengan bebatuan permata yang dimana itu terlihat berkilauan dari bawah sini.


Tak lama berselang setelah dia mengangkat itu, dia-pun kembali berbicara kepadaku.


"Aku akan memberikan peti berisi sayap griffin ini dengan beberapa persyaratan."


"Mengapa aku harus mendengarkan-mu?"


"Itu karena peti ini akan meledak jika aku menginginkan-nya."


"Begitukah? Jadi kau sedang mengancam?"


"Tidak, aku sedang bernegosiasi."


"Cih, jadi apa persyaratan-mu?"


"Pertama, aku ingin kau kembali menutup aura sihir mu itu. Itu dapat membuat anak-anak ku takut atau bahkan trauma."


"Hm, jadi mereka anak-anak mu ya?"


"Ya! Anak-anak kesayangan-ku!"


Mendengar itu akupun perlahan kembali memakai kembali cincin artefak yang diberikan Aoryu ini. Lalu tak lama setelah dia menyadari bahwa aura sihirku telah hilang, dia kembali berbicara kepadaku.


"Kedua, aku ingin kau berhenti membuat suara dengungan yang berisik."


'Dengungan?'


"Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak merasa membuat suara dengungan yang berisik."


"Entah apa yang kau lakukan, tapi kami para lizard-man mendengar itu. Kami tidak tahan dengan suatu gelombang suara dengan frekuensi tertentu itu. Lalu setelah kami telusuri suara itu berasal dari kau. Akuilah!"


'Oh! Apakah dia membicarakan tentang sihir pendeteksi milik-ku?'

__ADS_1


"Apakah maksud-mu ini?"


Ctik!


Aku langsung menjentikan jari-ku dan seketika kedua perfect lizard yang berada tak jauh dari diriku ini langsung menutup telinga mereka, seakan itu sangat bising mereka bahkan sampai meringkuk tak karuan.


"YA ITU YANG KU MAKSUD BOCAH!"


"Kalau begitu apa boleh buat, aku ini tidak tahu apa-apa tentang telinga kalian sih."


'Jadi pendengaran mereka cukup tajam ya? Sehingga ini membuat mereka sangat terganggu.'


"Apakah hanya itu persyaratan darimu?"


"...Adu-duh, Tidak! Masih ada satu!"


"???"


"...Yang ketiga adalah, bertarunglah dengan-ku tanpa menggunakan sihir hingga salah satu dari kita mati."


'Apa yang dia katakan?'


Sepertinya dia menganggap bahwa kekuatan fisik diriku lemah, melihat bagaimana penampilan-ku saat ini.


"Hmmm, baiklah."


"Hiihahaha! Itu bagus!"


Mendengar diriku bersedia, dia pun turun dari atas tebing yang tinggi itu tanpa peralatan apapun sambil membawa peti besar yang ada di pundaknya.


DUAR!


Suara pendaratannya yang sangat keras membuat tanah disekitarnya itu retak dan hancur, dan tepat setelah dia mengangkat wajahnya aku bisa melihat bahwa dia memiliki seringai yang cukup lebar diwajahnya.


Seorang lizard-man yang cukup berbeda dari lizard-man lain-nya, dimana tubuhnya itu sangat kurus dengan alis dan janggutnya yang panjang berwarna putih.


"Apa yang ayah lakukan?!"


"Aku sama sekali tidak menyetujui ini!"


Kedua perfect lizard yang merupakan anaknya itu nampaknya tidak ingin ayahnya berbuat hal yang sangat berbahaya, namun begitu aku bisa melihat semangat bertarung yang sangat besar ada di mata lizard-man tua tersebut.


'Lizard-man tua ini gila bertarung.'


"Jangan halangi aku! Sebaliknya kalian lihat dan perhatikanlah! Apapun yang terjadi jangan beraninya kalian ikut campur dalam pertarungan ini."


Sementara memperingati anaknya itu, akupun ikut menambahkan sebuah peringatan lain kepada kedua perfect lizard yang sedang cemas tersebut.


Sontak mendengar-ku mengatakan itu kedua perfect lizard itu langsung mengambil tindakan, si saudara wanita mengeluarkan sihir tanah dimana itu membuat tanah di sekitar kaki-ku langsung naik dan seakan mencengkram-ku disana dengan erat.


"Earth Bender: Grip!"


'Uwah, apa-apaan nama sihir itu?'


Melihat kaki-ku sudah dicengkram dengan sihir tanah, saudara laki-laki nya mulai datang ke arah ku dengan cepat bersama dengan pisau yang kali ini ada di kedua tangannya. Kedua pisau itu lebih tepatnya terlihat seperti sebuah dagger.


Namun ketika dia ingin sampai dan hampir menebasku dengan pisaunya, sang ayah justru datang dan menepis serangan anaknya itu.


'Sesuai yang diharapkan.'


"Apa kau tidak mendengarku? Hah?!


BUAK!


Tapi sang ayah sayangnya tidak hanya menepis serangan anaknya itu dengan mudah, tapi juga memukul mundur anak laki-lakinya itu dengan cukup keras.


"Aku selalu menantikan pertarungan yang hebat sebelum diriku mati, oleh karena itu biarkan ayahmu ini melakukannya dengan baik."


Mendengar itu aku hanya mengangguk-an kepalaku dengan senyuman yang seakan aku mengerti perasaan lizard-man tua tersebut.


"Benar. Petarung sejati akan menentukan sendiri kematiannya, kalau begitu apakah kau siap cicak tua?"


Lizard-man tua yang saat ini berada sangat dekat dengan-ku langsung mengubah perhatian-nya ke arah ku, itu dengan seringai diwajahnya yang terlihat jelas.


"Kau terlalu percaya diri monster kecil. Aku tidak bilang bahwa aku akan mati disini."


"Ya terserah sih, kalau begitu ayo kita mulai!"


Dengan cepat diriku mengerahkan salah satu kaki-ku yang terperangkap ke arah kepalanya, ngomong-ngomong karena dia bungkuk bisa dibilang bahwa itu membuat tinggi ku dengan-nya hampir sama.


BAM!


Namun dengan cepat dia menahan tendangan-ku itu dengan punggung tangannya.


"Sudah kuduga bahwa sihir penahan seperti itu dapat kau hancurkan dengan mudah."


"Terima kasih atas perhatiannya."


"Ya! Dengan begitu maka aku bisa lebih serius! HAHAHA!"

__ADS_1


Perlahan aku bisa melihat bahwa dirinya pmenjadi tegak, otot dan tubuhnya yang kurus pun juga ikut mulai membesar. Hingga akhirnya,


'Apa-apaan lizard tua ini?!'


Tubuhnya seketika menjadi sangat besar, bahkan begitu besarnya hingga dia setidaknya memiliki ukuran, dan tinggi yang sama seperti goblin-king yang pernah ku habisi dalam sekejap waktu itu.


Tapi karena ini adalah pertarungan terakhirnya maka ayo kita berdansa dengan-nya sebentar, setidaknya aku tidak akan mengakhiri ini dengan satu pukulan.


"Nah! Sekarang bagaimana kau akan menghadapi lizard-king, bocah?!"


'Tapi kok dia terlihat sangat sombong sih?'


Itu benar-benar membuatku jengkel.



Malam di lembah ini menjadi cukup menegangkan karena adanya sebuah pertarungan yang sangat hebat, para lizard-man yang bahkan sebelumnya tak sadarkan diri mungkin saat ini menjadi tersadar karena guncangan yang ada ditempat ini.


Berbagai serangan brutal dari lizard king tua di arahkan padaku, mulai dari pukulan hingga tendangan yang sangat dahsyat.


Sejujurnya aku bisa saja mengakhiri ini dengan cepat, karena faktanya selama pertarungan ini berjalan aku hanya menghindar dan menerima serangan-nya saja.


Ya walaupun itu cukup sakit, namun itu tidak ada apa-apanya jika dibandikang dengan serangan Aoryu.


'Benar. Yang namanya terkena damage itu, walaupun sekecil apapun pasti akan terasa sakit.'


"Ada apa bocah?! Lawan aku dengan sungguh-sungguh!"


Lizard-man tua itu berbicara dengan napasnya yang sudah terengah, jelas jika kita melihat bagaimana cara bertarungnya yang membabi-buta.


"Ya, kuakui kau mungkin sangat mematikan untuk mereka yang tidak terlalu kuat."


"Apa maksudmu?"


"Bagaimanapun pukulan-mu sangatlah kuat, tapi sayangnya kau salah dalam menantang lawan-mu."


"?"


"Apakah kau tahu bahwa manusia menentukan level dan tipe para monster?"


"Ya, lalu apa? Aku adalah raja dari suatu ras monster. Tentunya aku diklasifikasikan memiliki level 4."


"Benar, itu sudah pasti. Tapi apakah kau pernah membayangkan bagaimana kekuatan monster berlevel 5?"


"...Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"


"Yang ingin kukatakan adalah, aku pernah bertanding melawan monster berlevel 5."


Mendengar itu lizard-king dihadapan-ku ini mulai terdiam dimana wajahnya seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"...J-jangan bercanda, bocah.."


"Itu benar. Apakah kalian tahu tentang naga biru bernama Aoryu?"


Bergetar dengan hebat, lizard-king dihadapan-ku seakan sangat terpukul mendengar nama Aoryu. Dari situ aku berpikir bahwa mungkin dia tahu tentang Aoryu tapi...


"BWAHAHAHA! KAU BENAR-BENAR BERCANDA BOCAH! BAGAIMANA BISA KAU BERTANDING DENGAN NAGA LEGENDARIS YANG TELAH MATI 500 TAHUN LALU?!"


'...Apa?'


Mendengar itu sontak membuatku sangat panas, dadaku seakan terasa sangat sesak bahkan sakit. Apa yang dikatakannya justru membuatku sangat marah.


Dengan cepat aku-pun melesat dan langsung memukul bagian lehernya yang besar itu hinggan dia terjatuh.


BOOM!


"Uhuk! Uhuk! ...A-ada apa bocah? ...Kau terlihat sangat serius sekarang..."


"Katakan bahwa kau bercanda."


"Hihaha! Aku tidak sepertimu yang selalu merendahkan musuh-mu, dan sayangnya yang kukatakan itu benar ada-"


Aku-pun loncat ke atas tubuhnya yang sedang terkapar, dan mulai mencekik dirinya.


"Kau tidak seharusnya berbohong."


"Ughhh! ...Apa-apaan, ...kau bisa tanya itu kesemua orang ...atau bahkan monster lain ...di dunia ini. Kekeke!"


Tanpa sadar diriku telah mecekiknya terlalu keras yang mana itu tidak dapat kuhentikan, dan di saat itu dia memberikan pertanyaan terakhir padaku.


"Aghh! Ehgg! ...Kalau begitu, apakah kau menang ...atau ...kalah?"


"Tentu saja aku menang."


"....Begitu kah.."


Kala itu, lizard king yang mendengar jawaban-ku justru mati dengan senyuman yang sangat puas diwajahnya.


Dan untuk pertama kalinya dalam hidup-ku, aku menang dalam sebuah pertandingan namun diriku justru merasa kalah telak.

__ADS_1


'Keparat, apa-apaan yang dikatakan-nya itu.'


__ADS_2