
Anak Lelaki Yang Berkeinginan! Desa Kecil Di Kaki Gunung Neraka! (IV)
♤
Malam yang gelap dan api yang berkobar di pedesaan ini membuat malam menjadi cukup hangat diluar, bersama teriakan para warga yang histeris karena takut atau juga mencari anak-anak mereka.
Diriku yang berjalan berlawanan arah dengan warga yang berlari membuat-ku bisa merasakan ketidakberdayaan mereka, manusia itu sejatinya adalah orang-orang yang lemah.
Tapi terkadang mereka bisa mendobrak batasan mereka sendiri karena suatu dorongan yang tak terlihat, mereka menyebutnya sebagai motivasi.
Kebencian, dendam, rasa lapar, cinta, atau bahkan rasa takut itu sendiri.
Terdengar tidak menyenangkan tapi manusia yang lemah itu terkadang mampu menjadi sangat kuat.
Walaupun akhirnya mereka bisa mati saat itu juga.
"Edward! Dimana kamu nak?!"
"Sudahlah! Tidak ada waktu lagi, sekarang lebih baik kau menyelamatkan dirimu bersama yang lain!"
"Tidak! Aku tidak akan pergi bersama anak-ku!"
Disamping semua itu, ada beberapa pria yang mencoba mengulur waktu agar warga yang lain bisa melarikan diri.
Tapi mereka mendapati seorang ibu yang keras kepala, dan tidak mau pergi sebelum dia menemukan anaknya. Itu adalah ibunya Edward.
Kebetulan aku yang sedang berjalan menuju tujuan-ku sekarang harus melewati mereka terlebih dahulu, hingga aku semakin dekat dengan mereka dan mata mereka tertuju padaku.
'Yap, hiraukan saja seakan mereka tidak ada disana.'
Setidaknya itulah yang kupikirkan sampai saat ibu Edward mulai berlari ke arahku dengan tertatih. Itu membuatku sedikit bingung dan terkejut karena setelah itu dia memohon kepadaku, atau halusnya dia meminta pertolongan-ku.
Aku tidak tahu apakah ini karena menurutnya ini darurat, atau suatu hal telah berubah selama diriku berdiam diri didalam kamar.
Tapi saat ini ibu Edward mulai memegang kedua kaki-ku dengan cukup erat dan dia menangis dengan histeris.
"Suji! ...Aku mohon ...selamatkan putraku!"
'Aduh, tunggu! Aku jadi tidak bisa jalan nih! Dan lagi aku ini juga monster loh! Monster!'
"Sayang sekali, aku sama sekali tidak ada minat untuk memenuhi keinginan-mu itu. Lalu jangan lupa bahwa aku ini juga monster."
Mendengar jawaban-ku tersebut, ibu Edward yang sebelumnya memandang-ku dengan penuh harap akhirnya langsung tertunduk lemas.
Itu diiringi dengan genggaman-nya yang mulai lepas secara perlahan.
Setelah benar-benar terlepas, aku-pun kembali berjalan dan melewatinya. Para pria yang sebelumnya meminta ibu Edward untuk pergi juga terkejut dengan jawaban-ku itu.
Aku bisa melihat dan merasakan bahwa mereka kembali ingat dengan fakta bahwa diriku ini adalah monster yang juga sama seperti para goblin tersebut.
Ketika aku telah melewati mereka semua, salah seorang dari pria sebelumnya-pun berteriak ke arah-ku dengan suaranya yang gemetar.
"...L-lalu... Mengapa kau pergi ke arah para goblin itu berada sialan?!"
Mendengar itu, aku-pun menjawab tanpa melihat ke arah belakang sedikit-pun.
"Bukankah sudah kubilang bahwa desa ini sekarang milik-ku, kau mengerti maksudku kan?"
Dengan begitu aku-pun benar-benar menjauh dari mereka, dan mulai mendekat ke arah para kumpulan goblin itu berada.
Semakin dekat diriku dengan para goblin itu, aku bisa melihat bahwa terdapat beberapa orang dan goblin yang tewas secara mengenaskan di jalan.
Terus melanjutkan langkah-ku, aku bisa mendengar suara warga-warga lain yang masih melakukan perlawanan terhadap para goblin tersebut.
TRANG! TRANG! ZHING!
Suara pedang dan juga berbagai persenjataan yang berbenturan satu sama lain semakin jelas terdengar, sampai akhirnya aku benar-benar sampai di medan pertempuran tersebut.
Bisa dibilang, zona perlawanan para warga ada di dekat pintu masuk desa. Sebagian tembok desa terlihat hancur dan juga terbakar disana.
'Tak kusangka mereka berhasil memukul mundur ribuan goblin tersebut.'
Tapi setelah aku melihat lebih dekat, rupanya itu tidak seperti yang kubayangkan.
Sangat jelas bahwa para goblin tersebut sedang bermain-main dengan para warga yang sudah sangat kelelahan itu.
'Benar juga. Jika mengingat jumlah goblin tersebut mana mungkin.'
Terlebih, para warga tersebut hanya bertarung dengan para lower goblin saja. Sementara rational-rational goblin yang ada hanya menonton dengan seringai di wajahnya.
Para lower goblin tersebut secara bergantian melawan para warga-warga yang tersisa itu, sekilas menurutku ini seperti penyiksaan.
Melihat itu membuat-ku terdiam dan ingin melihat sampai mana batasan para warga itu, tapi itu semua berubah ketika seorang anak kecil yang cukup familiar muncul entah darimana.
"Hentikaaan!"
""!!!"""
'Oy Edward! Ibu-mu sedang menangis dan mencari-mu tahu!'
Teriakan Edward membuat suasana perang terdiam dan sunyi sejenak, semua mata tertuju padanya sebelum akhirnya salah satu rational goblin yang ada disana itu menghampirinya.
__ADS_1
Melihat Edward itu membuat para warga yang ada terkejut dan karena kesunyian yang mendadak itu, para warga itu sepertinya mulai merasakan rasa sakit yang amat di tubuhnya.
'Apakah aku harus pergi sekarang?'
Ketika aku ingin pergi mengambil alih panggung itu dengan keren, aku melihat Edward yang masih berdiri dihadapan salah satu rational goblin yang datang menghampirinya.
Bocah itu tidak gemetar sama sekali dihadapan monster yang tinggi, dan ukurannya lebih besar darinya dua kali lipat. Itu membuat-ku mengurungkan niat-ku sebelumnya, saat ini aku tertarik dengan apa yang akan dilakukan oleh bocah itu selanjutnya.
"...Edward?! ...Hah, apa yang kau lakukan bocah?!"
"Benar... Kau semestinya sudah lari bersama yang lain!"
Edward bahkan tidak menghiraukan perkataan para warga yang mulai sekarat itu dan hanya menatap goblin besar yang ada di hadapan-nya.
Rational goblin itu perlahan menyeringai ke arah Edward, tapi disana Edward tidak bergeming sedikit-pun.
"Anak manusia, apakah kau mau bermain?"
"Tidak, aku akan menghajarmu."
'Uwah!'
Mendengar itu, rational goblin-pun tertawa dengan keras sebelum akhirnya dia kembali menatap Edward dengan mata besarnya itu.
Tapi ekspresi seringai diwajahnya sejenak berubah menjadi kesal, untuk sesaat goblin itu terlihat memejamkan matanya lalu berkata.
"Kau mirip seperti bocah itu. Baiklah, karena kau sudah mengingatkan-ku dengannya aku akan menerima pukulan-mu sekali."
"Kalau begitu kau pasti menyesali ini."
"Sudah hentikan Edward! Larilah!"
"...Hey! Apakah kau dengar?!"
Rational goblin yang tidak bergerak sedikit-pun seakan menunjukan bahwa dia tidak perlu persiapan apapun untuk pukulan Edward tersebut.
Disisi lain para warga mulai memohon kepada Edward untuk pergi, dan aku sendiri merasa bangga melihat Edward saat ini.
'Sudah kuduga dia punya potensi!'
Bisa dilihat bahwa Edward sedang melakukan kuda-kuda dan akan melakukan jurus tinju sederhana yang pernah kuajarkan sebelumnya.
Semua itu dilakukan-nya dengan baik, lalu saat aku memperhatikan-nya dia berkata kembali pada rational goblin.
"Aku terus melakukan latihan ini selama beberapa minggu yang lalu! Seorang monster yang lebih menakutkan telah mengajariku!"
"HAHAHA! Monster mana yang telah mengajari anak manusia?! Beritahu aku seperti apa dia!"
BUK!
Karena Edward sangat kecil, pukulannya itu hanya mencapai lutut dari rational goblin saja. Lalu keheningan-pun kembali setelah Edward melakukan itu semua, dan rational goblin itu tetap terlihat baik-baik saja.
"HAHAHAHA! Sudah kuduga itu tidak ada apa-apanya! Kalau begitu giliran-ku bocah!"
"Itu sudah cukup Edward! Larilah!"
Rational goblin itu mulai mengangkat tinjunya dan Edward yang terlihat panik mulai terlihat gemetar dan tak mampu untuk berlari.
Para warga yang cemas berusaha untuk berlari ke arah Edward, tapi rasa sakit yang menyelimuti tubuh mereka membuat mereka tidak bisa bergerak.
Ketika Pukulan itu ingin mendarat, rational goblin tersebut tiba-tiba terjatuh dan berlutut karena salah satu kaki-nya patah. Benar, itu akibat pukulan Edward sebelumnya.
Edward seakan tidak percaya bahwa serangannya itu benar-benar berhasil, dan itu rational goblin itu berteriak dengan keras.
"Arghhh! Sialan! Cepat habisi anak manusia ini!"
Mendengar itu, para lower goblin mulai berlari ke arah Edward dengan berbagai senjata ditangan-nya.
Dengan cepat aku-pun melesat untuk menghalau semua serangan itu, bagaimana-pun aku tidak akan membiarkan anak kuat sepertinya mati secepat ini.
'Ya, walaupun aku juga masih anak-anak sih.'
BLAR!
Lesatan-ku menghasilkan dentuman yang sangat keras, puing tanah dan debu yang beterbangan membuat mereka semua menutupi wajahnya.
Ketika para goblin masih terkejut dan sedang berpikir apa yang sedang terjadi, aku-pun dengan cepat menghabisi beberapa lower goblin yang ada disekitar-ku dan juga para warga desa ini.
Suara cipratan darah dan teriakan goblin bisa terdengar disaat itu semua tidak terlihat karena debu asap yang menyelimuti area ini.
Saat debu sudah kembali turun, beberapa goblin mulai panik dan seketika bersiap melakukan penyerangan balik.
Namun itu semua berubah ketika mereka melihat-ku yang sudah memegang salah satu kepala lower goblin yang baru saja kuhabisi.
Sedari tadi aku sedang berpikir bagaimana cara masuk ke arena pertempuran ini dengan epik dan juga keren, tapi sepertinya ini justru mengerikan.
Aku-pun akhirnya melempar kepala goblin ini ke hadapan rational goblin yang kaki-nya sedang patah sebelumnya.
"Jika kamu bertanya siapa monster yang mengajarinya, itu adalah aku."
"...Khuh!!! Bagaimana bisa kau ada disini?!"
__ADS_1
"Anggap saja ini sebagai takdir yang terjadi diantara kita, tapi perlu kau ketahui bahwa desa ini sekarang adalah wilayah-ku. Dengan kata lain adalah milik-ku."
"...S-sialan! T-tapi kau juga harus tahu bahwa kali ini ...aku datang bersama raja!"
"Raja?"
Ketika aku bertanya-tanya apa yang sedang dikatakan-nya, aku bisa mendengar bahwa ada suara dan guncangan yang semakin besar datang, lalu itu semakin dekat.
Para lower goblin yang berkerumun dihadapan-ku mulai membuka jalan dengan sangat lebar, disana akhirnya aku bisa melihat apa yang dimaksud oleh rational goblin ini.
"Nah! Sekarang apa yang akan kau lakukan?! Kami tidak akan takut dan pingsan seperti saat itu lagi! HAHAHA!"
Sesosok goblin yang tingginya kali ini lebih besar dari rational monster sendiri, dia memiliki tubuh warna merah pekat yang berbeda dari goblin lain yang memiliki warna merah pucat.
Tidak lupa dengan kedua tanduknya yang besar, tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan tanduk Aoryu.
"HAHAHA! Apakah kau takut-"
Cratz!
Tidak menunggu perkataan rational goblin itu, aku-pun melesat ke wajah goblin besar ini bersama tinju-ku, dan saat itu kepalanya benar-benar hancur dan kedua tanduknya itu terjatuh ke tanah bersama dengan tubuhnya yang besar.
"Ku kira dia bisa tahan dengan tinjuku, tapi seperti yang kuduga itu terlalu lemah. Bahkan walaupun tubuhnya besar dia itu lower monster kan? Apakah dia pantas kau sebut raja?"
"...T-tidak mungkin.."
Melihat itu membuat beberapa goblin panik seketika dan ribuan goblin ini menjadi kacau, beberapa diantaranya ada yang berlari kembali ke arah gunung, adapula yang marah besar lalu maju untuk melawan-ku.
Sementara rational goblin yang kakinya patah seketika membisu dan ekspresinya sangat terguncang.
Tapi sebelum para goblin yang berlari menerang-ku sampai, rational goblin yang kaki-nya patah ini berteriak dengan keras.
"HENTIKAN! HENTIKAN! HENTIKAN!"
Sayangnya beberapa rational goblin selain dirinya ada yang tetap berlari ke arah-ku dan tetap ingin menyerang-ku.
'Apakah dia tidak mendengarkan temannya?'
Aku yakin sekarang rational goblin yang kakinya patah ini sudah tahu batasan-nya. Dirinya yang mengetahui itu seakan ingin memberi tahu para goblin yang lain bahwa mereka tidak bisa menang, tapi sayang itu terlambat.
Aku mulai menghabisi para goblin keras kepala yang datang menyerang-ku dengan bersamaan.
"Ini menarik, tapi kali ini aku tidak akan mengeluarkan aura sihir-ku agar kalian tidak pingsan lagi."
Tanpa sadar aku telah memukul mundur ribuan goblin ini cukup jauh hingga keluar desa, di padang rumput ini aku terus berdansa bersama para goblin lemah di bawah sinar rembulan.
Cipratan darah dan bagian tubuh goblin yang beterbangan juga ikut menghiasi langit malam ini selain para bintang.
'Tapi sepertinya mereka tidak ada habisnya deh.'
Ya, ini membuat-ku sedikit jengkel. Wajar saja karena jumlah mereka itu tak bisa dihitung dengan mudah, oleh karena itu aku-pun berniat mengakhiri semua ini dengan napas naga yang kumiliki.
FHUSH!!!
Tak lama aku membuka mulutku, semburan api berwarna putih yang sangat terang membuat area disekitar menjadi sangat terang, dan tanpa sadar aku telah membakar hampir seluruh bagian dari padang rumput yang luas ini.
Ada sebagian besar goblin yang kelihatannya masih selamat karena mereka berhasil masuk ke hutan di kaki Pegunungan Neraka, sementara disini hanya menyisakan satu nyawa goblin yaitu si rational goblin yang kakinya patah.
Aku-pun berjalan menghampirinya, dan dia langsung menundukan kepalanya dengam tubuhnya yang gemetar dengan hebat.
"...M-maafkan aku! ...K-kami tidak tahu bahwa ini pedesaan ini adalah milik-mu!"
Mendengar itu membuat-ku tersenyum dan memiliki ide yang lebih bagus.
"Aku akan memaafkan-mu dengan beberapa syarat."
"...Apapun itu! Apapun itu akan kulakukan!"
"Bagus. Setelah kau kembali bersama goblin yang lain, sampaikan-lah bahwa aku yang akan menjadi raja kalian sekarang."
"Ya! T-tentu saja tuan!"
"Itu bagus, lalu besok pagi kalian harus kembali untuk membereskan semua kekacauan yang sudah kalian perbuat."
"B-Baik! Baik tuan!"
"Aku ingin desa ini menjadi lebih kokoh, dan hancurkan siapa-pun yang berani menyentuh desa ini!"
"D-Dimengerti!"
"Itu bagus, sekarang pergilah. Tapi sebelum itu..."
Aku-pun menyembuhkan kaki rational goblin ini dengan salah satu sihir yang sudah kuciptakan baru-baru ini, ini adalah sihir yang sebelumnya kubilang cukup mengerikan.
Perlahan aku mengulurkan tangan-ku lalu dari sana muncul sebuah lingkaran sihir dengan sinar berwarna putih.
'Aku menyebutnya sebagai Rewind.'
Ini adalah sihir yang mampu mengembalikan kondisi tubuh penggunanya atau yang ditargetkan waktu sebelumnya, tapi saat ini aku masih tidak tahu berapa lama batasan waktunya itu.
Setelah itu rational goblin tersebut-pun berlari dengan kencang dan sekarang hanya menyisakan-ku dengan warga yang sekarat beserta dengan Edward.
__ADS_1
'Sepertinya aku harus me-rewind mereka juga.'