We Are Monsters!

We Are Monsters!
Vol 1. Chapter 5


__ADS_3

Anak Lelaki Yang Berkeinginan! Desa Kecil Di Kaki Gunung Neraka!



Berjalan menuruni pegunungan cukup berbahaya dibandingkan saat kau menaikinya, menurutku. Kau bisa saja tergelincir dan terjatuh seperti kelereng yang memantul kesana dan kemari.


Semua itu sudah cukup berbahaya, tapi bagaimana jika kau juga menuruni pegunungan yang di penuhi oleh monster?


Itu adalah hal yang mustahil dilakukan bagi manusia manapun, dan beruntungnya aku terlahir di dunia ini bukan sebagai manusia melainkan sebagai monster.


'Apakah aku ini akan disebut sebagai seorang monster? Atau seekor monster?'


Setidaknya itulah yang kupikirkan saat ini ketika diriku sedang di hadang oleh ribuan goblin.


Walaupun sebelumnya aku sudah membunuh banyak monster yang tingkatnya lebih tinggi daripada goblin, namun mereka tidak pernah menyerang-ku secara bersama-sama seperti para goblin ini.


Jika sudah bertemu banyak goblin seperti ini itu berarti diriku sudah dekat dengan kaki pegunungan, sepertinya peradaban manusia sudah semakin dekat dengan-ku.


Namun diantara ribuan goblin ini terdapat beberapa goblin yang ukurannya lebih besar, menurutku tingginya mungkin bisa sampai tiga meter.


Lalu salah satu dari goblin besar yang ada datang menghampiri-ku, dan entah mengapa aku merasa deja vu. Rasanya aku pernah mengalami situasi ini, bisa dibilang aku seperti anak sekolah yang sedang di rundung.


"Halo anak manusia, apakah kau ingin pulang?"


Salah satu dari goblin besar yang menghampiriku mulai berbicara dengan seringai diwajah-nya.


'...Ah, Rational Monster lagi.'


Jujur saja aku sudah lelah berhadapan dengan para Rational Monster selama menuruni Pegunungan ini. Maksud-ku, mereka semua tetaplah bodoh walaupun diberkahi kemampuan untuk berpikir.


'Apakah mereka tidak merasakan aura sihir-ku?'


Sepertinya ini karena cincin yang Aoryu berikan sebelumnya telah ku-atur hingga poin terkecil, mungkin itu juga membuat aura sihir yang kumiliki jadi ikut mengecil.


Tapi apa boleh buat, aku akan meladeni para goblin ini selagi aku masih berada di pegunungan ini.


'Akan kutunjukan siapa monster terkuat di pegunungan ini selain Aoryu!'


Dan aku-pun mulai bersandiwara seperti bocah yang takut akan mereka.


"Ehem- ...T-tolong jangan sakiti aku! Aku hanya ingin kembali pulang, aku hanya tersesat disini!"


"Jadi begitu! Hehe! Kami bisa menunjukan jalan untuk-mu loh!"


"Begitukah? Kalau begitu apakah kau ingin bertemu dengan keluarga-ku juga?"


"Jadi kau punya keluarga ya?! Tentu saja kami juga ingin bertemu dengan keluarga mu!"


Mendengar jawaban-ku sebelumnya membuat goblin besar ini sangat bersemangat, ditambah dengan air liurnya yang keluar tak karuan.


'Ewh.'


"Tapi aku lupa, kata ibu aku tidak boleh membawa goblin pulang ke rumah."


"A-Apa?! Mengapa begitu?!"


"Itu karena..."


Seluruh goblin itu menanti ucapan apa yang akan keluar dari mulutku selanjutnya, dan ketika aku mengucapkan-nya para goblin ini terkejut, lalu goblin besar yang ada di hadapan-ku berubah menjadi sangat amat marah.


"Bocah manusia..."


"Hm?"


"AKU AKAN MEMBAWA KEPALA-MU ITU KERUMAH-MU DAN SETELAH ITU MENGHANCURKAN KELUARGA-MU!"


BLAR!!!


Dia pun mengepalkan tinjunya yang sangat besar menuju kepala-ku, mungkin jika aku manusia biasa badan-ku juga akan hancur seperti tomat yang tertimpa bola basket.


Hempasan angin yang cukup kuat tercipta saat aku berhasil menahan tinjunya dengan tangan kanan-ku. Itu membuat debu di tanah beterbangan dan goblin-goblin kecil menutupi wajahnya.


Ketika debu menghilang dari pandangan mereka, aku pun menyeringai ke arah goblin besar yang ada di hadapan-ku ini.


"Sudah kubilang aku tidak boleh membawa monster lemah ke rumah-kan?"


Sepertinya serangan dan seringai di wajah-ku sudah cukup mengintimidasi sehingga mereka terlihat mundur beberapa langkah, itu membuat mereka terlihat sangat berdesak-desakan.


Begitupun dengan goblin besar yang ada di hadapan-ku seakan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.


Benar, insting monster sangatlah tajam. Insting tersebut dapat memberi informasi ketika lawan-mu jauh lebih kuat, atau berpotensi membuat-mu mati.


Sayangnya, terkadang insting tersebut datang terlambat sehingga itu membuat-mu benar-benar berada di ambang kematian.


"M-manusia! Beraninya kau menggertak!"


"Menggertak? Itu bukan menggertak namanya. Akan ku beritahu seperti apa itu menggertak."


Aku-pun melepas cincin pemberian yang diberikan oleh Aoryu dan saat itu juga aku mengeluarkan seluruh aura sihir yang kumiliki.


Hentakan rasa takut yang dahsyat terlihat dari ekspresi mereka. Seluruh goblin kecil-pun terlihat pingsan seketika, dan beberapa Rational Goblin yang ada bertekuk lutut dengan lemas bersama dengan goblin besar yang ada dihadapan-ku.


"K-kau... ternyata...monster..."


"Haha! Bukankah kita sama?"


"Percect.. Monster, huh..."


Aku-pun tersenyum untuk menjawab pernyataan itu sebelum akhirnya para Rational Goblin itu juga pingsan dan menindih goblin-goblin kecil yang ada dibawah-nya.


Aku-pun kembali menggunakan cincin yang sebelumnya kulepaskan dan kembali berjalan menuruni pegunungan ini.

__ADS_1


Setelah dipikir-pikir,


'Wow! Sepertinya aku sudah menjadi monster paling jahat sekarang! Keren!'


Aku merasa sangat bangga layaknya seorang anak kecil yang baru saja bertingkah dan berlagak seperti seorang pahlawan dalam komik.


Tapi...


'Tidak-tidak! Itu sangat memalukan!'


Terkadang aku merasa sangat malu ketika sudah bertingkah aneh seperti itu, bagaimanapun aku ini pria yang sudah berumur.



Aku berjalan diatas sebuah jalan yang sederhana dimana tanah kering yang membentuk jalurnya sendiri membelah padang rumput yang ada di kaki gunung.


Secara singkat saat ini aku benar-benar telah turun dari Pegunungan Neraka, sebelum sampai di jalan ini aku harus melewati Huta dan juga rawa yang ada di kaki gunung.


Jika melihat kebelakang, gunung yang menjadi tempat tinggal-ku sebelumnya itu ternyata lebih besar dari bayangan-ku.


Bahkan bisa dibilang pegunungan ini seperti sebuah tembok panjang yang sangat besar.


'Apakah aku benar-benar sudah menjelajahi pegunungan ini?'


Ketika aku kembali memalingkan wajah-ku dan melihat sekeliling, aku mulai bisa melihat sebuah pedesaan kecil di depan-ku.


Entah mengapa aku sangat berdebar-debar, aku segera berlari menuju desa tersebut. Tak lama setelah diriku mulai berlari aku juga bisa melihat adanya anak-anak kecil yang sedang bermain di padang rumput.


Diriku yang berlari membuat anak-anak tersebut menghentikan kegiatannya itu, dan setelah diriku semakin dekat mereka-pun ikut berlari ke arah desa tersebut.


'Apakah mereka ingin adu cepat dengan-ku?'


Aku-pun mengejar mereka, aku bermaksud mendekati mereka untuk sedikit menyombongkan diri.


Ketika aku hampir mendekat, salah satu dari mereka terjatuh, dan anehnya tidak satu-pun dari teman-temannya itu ada yang berhenti untuk menolongnya.


Tentu saja itu membuat-ku bergerak untuk melihat keadaannya, bagaimana bisa mereka bersenang-senang bersama tapi meninggalkan salah satu temannya saat terjatuh?


Aku mulai berjalan menuju bocah tersebut, dan saat itu aku menyadari bahwa bocah ini sedang menahan rasa sakitnya.


Sepertinya bocah itu adalah laki-laki jika dilihat dari penampilannya, dia tidak menangis sama sekali. Benar, di dunia manapun anak laki-laki itu harus kuat.


'Apakah dia terkilir? Jatuhnya cukup parah sih.'


"Apakah kau baik-baik saja?"


"Huaaa! Monster!! Tolong lepaskan aku! Aku mohon!"


'Eh?! Apakah dia tahu bahwa aku ini adalah monster?!'


"A-apa yang kau bicarakan?"


'Tidak mungkinlah!'


Sepertinya dia mengira bahwa diriku ini adalah monster, walaupun itu tidak salah sih.


"Eh? B-bukan monster toh..."


"Tentu saja bukan, apakah kau bisa berdiri?"


"T-tidak, sepertinya kaki-ku terkilir."


"Kalau begitu biar aku membantu-mu pulang."


"Ya, tolong ya."


Bocah laki-laki itu mengulurkan tangannya begitupun dengan tanganku yang ikut menyambutnya.


'Tunggu, mengapa sekarang aku merasa menjadi seperti goblin yang sebelumnya ku temui?'


"Maaf, kupikir sebelumnya kamu adalah monster."


"Jadi itu alasan-nya kalian berlari ya?"


"Haha, kurang lebih begitu. Jubah bulu-mu ini membuat-mu terlihat sangat berbahaya dari kejauhan."


"Hahaha! Begitu ya, kupikir kalian ingin lomba lari."


"Oh! Ngomong-ngomong ternyata lari-mu cepat juga ya."


"Tentu saja!"


"Kalau begitu siapa nama-mu? Dan siapa kau?"


"Namaku Suji, dan aku adalah seorang petualang."


"Kamu adalah petualang?! Hebat! Padahal sepertinya kita seumuran, jadi itu sebabnya kau berjalan dari arah Gunung Neraka."


"Ya, begitulah. Lagipula itu bukan apa-apa."


"Tapi ini pertama kalinya aku melihat seorang petualang pergi ke Gunung Neraka, bahkan kata ibuku hanya para pahlawan yang pernah kesana."


"E-eh.. Apakah kau tidak salah dengar?"


'Pahlawan katanya?'


"Itu benar! Tapi kamu hebat juga untuk seorang petualang yang masih sangat kecil!"


"Y-ya, aku hanya pergi ke kaki gunungnya saja kok. Daripada itu, mengapa teman-teman mu itu tidak ada yang berhenti untuk menolong-mu?"


"Mungkin mereka takut dan juga panik. Tapi syukurlah kamu bukan monster."

__ADS_1


Kami-pun berbicara sampai akhirnya kami sampai di depan pedesaan tersebut. Disana sudah banyak sekali warga pedesaan yang membawa senjata, beberapanya adalah tombak, panah dan juga pedang.


'Tunggu, mereka juga membawa alat pertanian?'


Ngomong-ngomong desa ini sepertinya dikelilingi oleh sebuah tembok yang terbuat dari bebatuan yang disusun seadanya, tingginya mungkin hanya seukuran tinggi orang dewasa saja.


"Berhenti disana dan jangan mendekat!"


Salah satu pria dari pedesaan yang ada berteriak kepadaku sebelum kaki-ku melangkah lebih dekat lagi, dan ada satu lagi wanita yang berteriak cemas ke arah bocah laki-laki yang saat ini bersama-ku.


"Edward! Cepatlah lari kemari nak! Hey Monster! Cepat lepaskan anak-ku!"


'Jadi namanya adalah Edward? Dan lagi mengapa dia tahu aku ini monster?'


Mendengar wanita tersebut berbicara aku-pun berbisik sambil bertanya kepada Edward, bocah ini sendiri terlihat sangat bingung dengan apa yang sedang terjadi.


"Hey, apakah dia ibu-mu?"


"Y-ya, tapi mengapa semuanya melakukan ini?"


Aku-pun memiliki sebuah ide untuk memulai debut pertama ku dalam bertemu manusia, walaupun aku agak khawatir dengan apa yang akan terjadi kedepannya.


"Kalau begitu pergilah menuju ibu-mu, dia sepertinya sangat cemas dengan keadaan-mu."


"Eh? Tapi bagaimana dengan-mu? Oh- aku akan menjelaskan kepada mereka bahwa kamu bukan monster!"


Edward berlari ke arah para penduduk desa tersebut dan sebelum dia menjelaskan hal lebih lanjut, aku menarik nafas ku lalu mulai membuka suara yang membuat suasana di pedesaan ini semakin tak terkendali.


"Perkenalkan namaku adalah Suji, aku adalah perfect monster. Tidak- maksudku perfect dragon!"


Suasana menjadi hening seketika sebelum akhirnya mereka menjadi panik bahkan takut, walaupun masih dalam keheningan aku bisa mengetahuinya karena tubuh mereka mulai bergetar hebat.


Keheningan itu benar-benar berhenti ketika Edward yang terkejut seakan tidak percaya mulai bertanya dengan keras.


"J-jika kamu benar-benar monster lantas mengapa kamu menolong-ku?"


"Tentu saja agar aku bisa masuk ke desa dengan lebih mudah, tapi sepertinya akan sangat membosankan jika aku berpura-pura jadi manusia kan?"


"...Jadi kau membohongi-ku?"


"Singkatnya begitu, pelajaran pertama untukmu adalah jangan pernah percaya pada siapapun."


Mendengar jawaban-ku itu, Edward kembali maju ke arahku. Dengan tubuhnya yang gemetar, dia pun mulai berbicara dengan-ku walaupun dia sedang sangat ketakutan.


"K-kalau begitu aku tidak akan membiarkan-mu masuk dengan mudah!"


"Edward! Apa yang kau lakukan?!"


Ibunya yang melihat anaknya menghadapi monster mulai panik dan menangis, sambil berusaha meminta agar warga lain menyelamatkan anaknya. Sayangnya, warga yang memegang senjata-pun masih gemetar seakan tidak bisa melakukan apapun.


"Apakah kau yakin Edward?"


"Y-Ya!"


'Wah, dia cukup berani. Dia pasti bisa jadi pahlawan saat besar nanti.'


Namun di tengah ketegangan yang terjadi seorang nenek muncul dari balik warga yang berkerumun, nenek tersebut membuat seluruh ketegangan yang terjadi hilang entah kemana.


Nenek yang kelihatannya sudah sangat tua tersebut perlahan mulai berbicara dengan suaranya yang cukup pelan, tapi itu bisa terdengar karena keheningan yang ada.


"Apa yang kamu inginkan nak Suji?"


Mendengar itu aku-pun tersenyum.


"Singkat saja nenek, aku hanya ingin singgah di desa ini dan juga makanan. Oh! Dan tidak lupa, aku ingin desa ini menjadi milik-ku."


Langit yang perlahan mulai menjadi orannye menjadi sangat panas ketika aku mengucapkan apa yang kuinginkan.


"Jadi begitu, kalau begitu ambilah dan singgahlah."


Mendengar ucapan yang diucapkan oleh nenek tersebut membuat warga yang tadinya panik mulai berbicara kembali, kali ini mereka menyatakan ketidak-setujuan-nya kepada nenek tersebut.


"Apa yang kamu pikirkan kepala desa?!"


"Kepala desa, apakah kamu yakin?!"


'Jadi dia kepala desa?'


Namun dengan santai nenek tua tersebut membalikan badannya dan dia perlahan pergi sambil berbicara.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan, kalian pasti akan mati jika melawannya."


'Uwah, nenek itu sangat tajam.'


"Ikutlah dengan-ku nak Suji, kamu bisa tinggal di rumah-ku."


Mendengar itu aku-pun beranjak mengikuti nenek tersebut dengan segera, tidak lupa mereka melihat-ku seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Aku juga bisa mendengar mereka yang panik dan berkata yang tidak-tidak.


"Apakah kepala desa akan menjadikan kita makanan monster?!"


"Astaga aku akan pergi selagi masih ada waktu!"


'Hah? Memakan mereka?'


Mendengar mereka berbicara seperti itu nenek tua kembali berbicara, namun kali ini cukup keras.


"Dasar bodoh! Perfect monster sepertinya tidak memakan manusia!"


'Itu benar nenek! Kau dapat nilai 100!'

__ADS_1


Setelah itu aku-pun berhasil masuk ke desa dan mengikuti kepala desa ini menuju rumahnya.


Aku-pun tidak tahu apa yang terjadi terhadap warga yang ada, tapi aku merasa bahwa nenek ini tahu banyak hal tentang monster.


__ADS_2