We Are Monsters!

We Are Monsters!
Vol 1. Chapter 17


__ADS_3

Markas para Lizard-man! Endless Valley, Perfect Lizard, Dan Lizard King!



Dataran tanpa pepohonan membuat angin malam dengan mudah menyentuh kulitmu, atau begitulah yang ku rasakan setelah keluar dari hutan yang kusinggahi sebelumnya.


Sebelumnya diriku yang pergi keluar bersama dengan griffin yang kutunggangi akhirnya sampa di markas para lizard-man, setidaknya itulah yang di katakan oleh griffin yang sedang bersama-ku ini.


"Apakah kau yakin ini tempatnya?"


"Tentu saja, ayo saatnya kau memenuhi janji-mu."


"Baiklah, kau hanya perlu diam dan tidur saja. Biar aku yang membawa kembali sayap-mu itu."


Namun begitu, dengan sekali lihat aku mengetahui satu hal bahwa markas lizard-man ini adalah Endless Valley yang ada di peta, dan sudah seharusnya aku melewati tempat ini jika ingin pergi ke kota Calamont.


Bisa dilihat lembah ini adalah satu-satunya jalan diantara dua tebing besar dan tinggi yang terlihat seperti sebuah tembok raksasa.


Entah apa yang ada diatas sana tapi lembah ini benar-benar seperti parit, walaupun jalan lembah ini sekilas cukup luas namun diriku bisa merasakan bahaya yang ada di dalam sana.


Rasanya jika kau sudah berada di tengah lembah itu, kau hanya memiliki dua pilihan yaitu terus melawan maju, atau mati.


Singkatnya, tidak ada yang bisa selamat jika musuh sudah mengepung dari depan dan belakang mu.


'Selain itu aku bisa mencium bau darah yang cukup kuat dari lembah tersebut.'


Dengan begitu akupun beranjak pergi menuju lembah tersebut dan meninggalkan griffin dibelakangku yang mulai duduk dengan tenang, seakan dirinya mendapatkan pertunjukan yang menarik malam ini.


Semakin dekat diriku dengan tebing tersebut, aku semakin melihat jelas bahwa tebing yang mengapit lembah ini benar-benar seperti tembok raksasa.


Mustahil rasanya memanjat tebing tinggi dan curam ini.


Lalu sebelum diriku melangkah lebih jauh dan diriku terperangkap ditengah-tengah lembah ini, akupun mulai memastikan dimana setiap lizard-man itu berada dengan sihir Sonar yang kubuat untuk mendeteksi makhkuk hidup di sekitar-ku.


Ctik!


Aku menjentikan jariku dan gelombang sonar langsung mencakup area lembah yang luas ini, tapi sayangnya aku tidak mendapatkan hasil sama sekali.


'Ini aneh.'


Mungkinkah ada kesalahan fundamental saat aku membuat sihir ini, tapi dibagian mana?


Ketika aku memikirkan itu, griffin yang telah berada cukup jauh dibelakang-ku mulai berbicara padaku dengan suara yang cukup keras.


Namun karena angin malam disini cukup kencang, itu membuat suaranya terdengar samar dan itu membuat-ku melihat kebelakang untuk memperjelas.


"Mereka datang!"


""YIIIHAA!""


Tepat ketika diriku melihat kebelakang, aku mendengar teriakan yang cukup keras dan melengking dengan keras, itu membuatku dengan cepat langsung mengembalikan pandangan-ku kedepan.


Tapi sayangnya aku tidak cukup cepat sehingga telapak kaki yang datang tepat kearah wajahku benar-benar menghantam-ku dengan keras.


Itu adalah telapak kaki yang cukup besar dengan cakarnya yang terlihat seperti kaki reptil purba, tendangan itu membuatku terpental cukup jauh hingga diriku kembali ketempat dimana griffin sedang duduk dengan santai saat ini.


'Sialan. Mengapa dia bisa secepat itu?!'


Disisi lain griffin yang sedang duduk santai mulai berbicara kepadaku yang sedang tersungkur seakan dia mencemaskan diriku yang mana sejatinya tidak.


"Kau baik-baik saja?"


Agar tidak direndahkan, akupun kembali berdiri dengan cepat dan membersihkan seluruh debu yang menempel di mantelku ini.


"Ini bukan apa-apa."


"Berhati-hatilah karena mereka yang menjaga markas itu jauh lebih kuat."


"Ya, terimakasih atas informasinya."


"Sama-sama."


"Cih, padahal aku sudah mendeteksinya dengan sihir pendeteksi milik-ku! Tapi mereka tidak terdeteksi!"


Aku mulai berbicara sendiri kepada diriku, yang mana seharusnya hanya diriku yang mengerti tentang permasalahan ini tapi...


"Apakah kau bodoh? Mereka itu kadal yang mana makhluk berdarah dingin, kau tidak akan mudah mendeteksinya dengan sihir yang mendeteksi hawa panas makhluk hidup."

__ADS_1


"...Eh?"


'Jadi begitu ya!'


Sekarang aku mengerti kesalahan ku, dan itu membuat ku benar-benar merasa bodoh.


"Apakah aku perlu membantu-mu? Ya, walaupun tenaga-ku tidak banyak sih."


"Tidak, sudah kubilang kau diam saja."


'Aku merasa bodoh, dan ini membuat-ku kesal.'


Benar, mengapa sekarang aku malah terlalu peduli dengan jumlah musuh yang ada di depan-ku?


"Kau yakin? Mereka berjumlah tak sedikit loh."


Apapun itu dan sebanyak apapun mereka yang ada di hadapan-ku aku tidak akan peduli, selama mereka memang musuh yang harus kuhadapi aku tidak akan pernah membelakangi mereka.


'Yap, hajar saja lah.'


Tanpa meninggalkan sepatah katapun kepada griffin yang saat ini mulai meragukan-ku, akupun melesat dengan cepat ke arah lizard-man yang telah menendang wajahku dengan kaki kotornya.


Melihat-ku melesat dengan cepat, lizard-man yang berhasil menendangku mulai tersenyum seakan dia melihat diriku sebagai makhluk yang bodoh.


"Apa yang kau harapkan dari bergerak maju seperti itu?! Hah?!"


Darah-ku seakan mendidih dan dalam sekejap aku berhenti di hadapannya, dirinya yang juga tak kalah cepat juga mulai menyerangku dengan tinjunya.


Namun begitu kali ini aku hanya akan membayar apa yang telah dilakukan olehnya, lebih cepat dari kedipan mata diriku menghindari tinjunya itu dan sudah berpindah dibelakangnya.


Aku tidak mengetahui ekspresi apa yang ada diwajahnya saat ini ketika diriku dalam sekejap menghilang dari hadapan-nya, tapi aku akan menyelesaikan ini sebelum dia menyadari apa yang telah terjadi padanya.


Dengan cepat aku merendahkan tubuhku sedikit dan mengincar salah satu kakinya yang telah menedangku, bersamaan dengan itu sebuah pukulan yang sangat kuat ku arahkan kesana.


Cratz!


"Sepertinya itu cukup."


"...Hah? Kau pikir apa yang kau lakukan?"


"Hoy! Mau kemana kau?! Kau masih harus melawan-?!!!@"


Bruk!


Aku terus berjalan meninggalkan lizard-man di belakangku yang mulai terdiam tanpa sepatah katapun, sampai akhirnya...


"...A-apa yang kau lakukan? ...Kaki-ku yang cepat... ARGHHH!!!"


'Ku kira dia akan sedikit tenang.'



Angin malam yang terasa menusuk wajahku ini semakin terasa ketika diriku melagkah lebih dalam ke lembah ini, tidak ada apapun selain tebing besar di kedua sisi-ku ini.


Tanah yang cukup kering membuat debu di tempat ini beterbangan dimana kau bisa merasakannya jika itu menyentuh kukitmu.


Namun begitu, ketika diriku masuk lebih dalam aku justru menemukan beberapa kereta kuda yang sudah hancur beserta dengan kudanya yang telah menjadi bangkai.


Tidak hanya itu aku juga menemukan kain pakaian yang rusak, beberapa barang-barang yang dipakai manusia, dan juga bahan pangan tak layak yang sudah berserakan di tanah.


Instingku berkata bahwa mereka mungkin adalah warga desa yang telah pergi sebelumnya, mengingat diriku pernah mengalami keadaan ini sebelumnya.


Melihat ini semua membuat-ku yakin bahwa diriku telah berjalan di lembah ini cukup jauh, tapi pertanyaannya dimana para lizard-man itu berada?


'Seharusnya sudah saatnya bukan?'


"Ini pertama kalinya ada manusia pergi ke lembah ini sendirian, bahkan para pahlawan-pun pasti akan pergi secara berkelompok."


Suara wanita yang kedengarannya cukup dewasa terdengar dibelakang-ku, dan itu membuat-ku ingin memastikan sumber suara tersebut.


Melihat dari sumbernya, dibelangkang-ku sekarang ini sudah ada beberapa kompi lizard-man beserta salah satu dari mereka yang paling menonjol terlihat memimpin mereka.


'Manusia? ...Tidak, dia perfect monster!'


Ini membuatku terkejut, dan untuk pertama kalinya aku bertemu perfect monster lain selain diriku. Dan yang jelas dia adalah wanita yang terlihat cukup dewasa, terutama pakaian yang di kenakannya itu...


'Uwah, apakah dia tidak kedinginan dengan pakaian seperti itu?'

__ADS_1


Ketika aku sedang memperhatikan apa yang ada di belakang-ku, suara lain terdengar di hadapan-ku sekarang dan itu adalah suara pria yang cukup dewasa juga.


"Tidak, dia bukan manusia. Aku tidak mencium adanya bau manusia dari dirinya."


Tak jauh berbeda dari apa yang ada dibelakangku, mereka terdiri dari beberapa kompi lizard-man.


Tapi yang membuatnya berbeda dan membuatku merasa ini semakin menarik adalah yang memimpin mereka di depan-ku ini adalah perfect monster juga, hanya saja dia itu adalah laki-laki.


'Mereka Perfect Lizard-Man!'


Diriku mulai merasakan adrenaline yang luar biasa, dan saat ini aku tidak bisa menahan seringai yang ada di wajahku ketika diriku merasakan hal yang sangat menarik.


"Kakak! Dia tersenyum loh!"


'Apakah pria ini adalah adik dari perempuan lizard dibelakang-ku?'


"Sepertinya dia gugup?"


"Gugup? Hahaha! Begitu ya?! ...Dia gugup setelah mengetahui bahwa dirinya akan mati."


Mendengar percakapan diantara kedua bersaudara ini membuat para lizard-man lainnya tertawa, suaranya yang melengking membuat malam di lembah ini menjadi cukup ramai.


Dengan begitu akupun akan ikut meramaikan suasana malam ini.


"Sebenarnya aku hanya ingin mencari sayap milik seekor griffin yang katanya di simpan oleh kalian."


Suara yang ramai menjadi sunyi seketika ketika diriku berkata seperti itu, dan wajah perfect lizard yang ada di depan-ku perlahan berubah menjadi tidak menyenangkan.


"Bagaimana kau tahu tentang itu?" Ujar perfect lizard yang ada di depan-ku.


"Ketika aku sedang beristirahat di hutan, tiba-tiba ada beberapa dari kalian yang menyerangku dan-"


Belum sempat aku menghabiskan kata-kata ku, kedua perfect lizard itu langsung mendekati-ku dengan cepat.


Perfect lizard wanita dibelakang-ku mulai berbicara pelan kepada-ku dan langsung memegang bagian atas kepalaku dengan mudah karena dia lebih tinggi dariku.


"Jawab pertanyan-ku, apa yang kau lakukan kepada mereka?"


"Hey-hey, biarkan aku selesai berbicara dulu dong."


Lalu dihadapan-ku sendiri, perfect lizard pria itu mulai jongkok dan mulai mendekati wajahnya kearah-ku, dengan ekpresi-nya yang menjengkelkan dia pun ikut berbicara.


"Bukankah dia menyuruhmu untuk menjawab, bocah?"


"Ya jika kalian benar-benar ingin mendengar apa yang telah terjadi pada mereka, maka jawabannya adalah..."


""...""


"Mereka telah mati."


Seketika, aku bisa merasakan guncangan hebat terjadi pada mereka berdua.


"Ya bagaimana ya, mereka sangat lemah sih. Begitupun dengan dia yang menghadang saat aku ingin masuk kesini. Ah! Tapi tenang, yang satu itu tidak mati kok."


Mendengar ucapan-ku, pria perfect lizard yang ada didepan-ku mulai mengeluarkan sebilah pisau dengan cepat.


Begitupun dengan saudara wanitanya yang sedang memegang kepalaku, saat ini aku dapat merasakan bahwa dia sedang mencengkram kepalaku dengan kuat. Walaupun itu tidak terasa sih.


Bilah pisau yang dikeluarkan oleh pria perfect lizard di depan-ku sekarang sangat dekat dengan leher-ku, dan saat ini dia kembali berbicara kepadaku.


"Kau tidak boleh berkata sembarangan bocah, nyawamu bisa mati kapan saja loh."


"Padahal suaramu cukup imut untuk anak kecil, tapi sayangnya aku ini tidak pandang bulu bahkan walaupun suaramu imut."


Kedua perfect lizard ini nampaknya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, kalau begitu aku harus membuktikannya.


Akupun mencoba meraih salah satu tangan-ku dan mencari cincin artefak yang menahan aura sihir-ku.


"Apa yang kau lakukan?! Kau bisa mati kapan saja ingat!"


"Ya, tentu saja aku tahu itu."


Perlahan aku menemukan jariku dimana cincin itu terpasang, dan akupun mulai membuka cincin tersebut.


Ketika cincin itu benar-benar sudah terlepas, sebuah hempasan aura sihir yang sangat kuat pun menerpa mereka. Walaupun mereka tidak bisa melihatnya, tapi seharusnya mereka bisa merasakannya sekarang.


"Jadi, apakah suaraku masih terdengar seperti anak kecil?"

__ADS_1


__ADS_2