We Are Monsters!

We Are Monsters!
Vol 1. Chapter 12


__ADS_3

Datangnya Monster! Desa Ini Dalam Bahaya?! (III)



Entah apa yang telah dipikirkan oleh nenek Bei dengan keputusannya yang sangat tidak masuk akal, yang mana ketua desa itu memenuhi keinginan monster yang ingin mengambil alih desa ini.


Namun begitu aku juga merasa bahwa sebagian masalah ini karena diriku yang telah membawanya pergi menuju desa.


Suasana tegang terjadi saat ini setelah nenek Bei membuat keputusannya, alhasil tak sedikit dari warga desa ini yang memutuskan untuk pergi meninggalkan desa.


Ya, saat ini bahkan diriku hanya terdiam di sudut keramaian para warga yang sedang memperlihatkan ketidak-setujuannya terhadap nenek Bei.


Dan beberapa dari warga yang pergi itu merupakan keluarga dari teman-teman ku, dan hal itu membuat mereka yang selama ini bermain bersama ku mungkin akan pergi juga.


Beberapa dari warga tersebut merupakan keluarga Rein dan juga Emma, termasuk keluarga temanku yang sebelumnya menjadi pahlawan dan juga warga di permainan sebelumnya.


Saat mata kami saling bertemu aku bisa melihat beberapa teman-ku termasuk Rein memasang wajah yang sangat kesal, walaupun sebelumnya wajah mereka itu cukup sedih.


Mungkin itu adalah hal yang pantas ku terima, namun begitu diantara mereka semua masih ada beberapa teman-ku yang masih tersenyum dan melambaikan tangannya dengan-ku.


Tentu saja aku juga membalas salam perpisahan mereka dengan cara yang sama, dan disaat diriku melakukan itu mataku tertuju pada Emma yang sepertinya sedang kebingungan.


Itu membuat kepergian keluarga Emma menjadi terhambat dan terdiam sejenak, saat itu salah satu kakak perempuan Emma yang sudah lebih tua akhirnya menunjuk ke arah-ku.


Dan saat itulah mata kami benar-benar bertemu hingga akhirnya dia berlari ke arah-ku.


"Edward!"


Dia berlari hingga akhirnya memeluk diriku yang mana itu membuat-ku senang setengah mati, tapi mendengar ucapan setelahnya membuat-ku benar-benar merasa jijik pada diriku sendiri karena telah merasa senang seperti itu.


"Hiks- Maaf... Maafkan aku karena meninggalkan-mu sebelumnya, ...bahkan karena itu kamu jadi dibenci oleh yang lain."


'Tidak, itu bukan salahmu.'


Mendengar itu membuat-ku menjauhkan dirinya yang sedang memeluk-ku, dengan memegang kedua pundaknya dengan tenang.


Aku pun tersenyum dengan lebar dan menatap kedua matanya yang sedang menangis itu.


"Itu bukan karena-mu kok, aku memilih melakukan itu karena aku senang jika kamu selamat. Oleh karena itu, jangan menganggap apa yang sedang terjadi dengan-ku ini karena salahmu."


Mendengar itu dia semakin menangis, dan itu membuat-ku bingung.


'Apa aku sudah mengatakan hal yang salah?'


Namun tepat ketika aku ingin mendengarkan dirinya, ayahnya datang dan menarik dirinya. Dengan ketus dia mengatakan bahwa keluarganya itu harus cepat-cepat pergi.


"Ayo pergi Emma, kita tidak ada waktu untuk berpamitan dengan bocah bermasalah sepertinya."


"Apa yang ayah katakan?! Bukankah aku sudah bila-"


"Ayah-mu benar Emma, tidak ada waktu lagi. Sebelum monster itu berulah lagi kamu harus cepat pergi dari sini."


"T-tapi..."


"Ah! aku juga mau mencari ibuku dulu, sampai bertemu lagi Emma. Semoga kamu selamat sampai tujuan ya!"


Aku pun berlari dengan kencang dikala ayahnya itu menahan dirinya, dengan alasan sederhana itu akupun meninggalkan dirinya dan hilang di keramaian.


'Tapi memangnya kita akan bertemu lagi ya? Kurasa tidak.'


Benar, aku bahkan tidak punya keberanian untuk melihat mata ayahnya itu.



Satu hari berlalu dimana akhirnya diriku menetap di desa ini, itu karena keluarga-ku tidak memiliki kondisi ekonomi yang cukup bagus untuk pergi meninggalkan desa.


Walaupun keluarga-ku itu hanya ibu-ku seorang, dan perlu diketahui dia adalah satu-satunya tempat bagiku pulang.


Bahkan meskipun dia itu orangnya cukup menyebalkan dan cerewet, dia tetap ibuku.


"Edward! Setelah makan cucikan piringnya ya, ibu mau pergi ladang! Jaga rumahlah dulu!"


"Yaa~"


Ibuku sehari-harinya pergi ke ladang gandum yang ada di bagian belakang desa ini, ladang tersebut bisa dibilang merupakan satu-satunya sumber kehidupan kami.


Biarpun sepertinya uang hasil dari ladang itu cukup sedikit, tapi ibuku tetap mengerjakan-nya dengan giat.

__ADS_1


Tapi sebenarnya hasil dari ladang itu cukup besar jika kami menjualnya dalam kondisi yang sudah diolah, sayangnya mesin pengolah gandum di desa ini sudah lama berhenti karena daya mesinnya yang sudah habis.


Setidaknya dulu ibuku bisa memasak daging satu kali dalam seminggu, dan untuk mengganti dayanya sendiri diperlukan kepingan emas yang cukup banyak.


Mungkin para warga desa yang bekerja di ladang mampu untuk menabung emas tersebut, tapi hasilnya mungkin keluarga mereka jadi kelaparan.


Ngomong-ngomong, saat ini diriku sedang berjalan menuju meja makan dimana ibuku sudah menyiapkan makanan untuk-ku sebelum dirinya pergi.


'Oke, ayo kita lihat apa yang ada didalam mangkuk itu.'


"Lagi-lagi sup kentang dan jamur."


Tapi setelah dipikir-pikir mungkin ini lebih baik daripada tidak makan sama sekali, lalu setelah selesai makan aku hari ini berniat melakukan serangan balasan.


Benar. Perlu diketahui bahwa tujuan-ku sekarang adalah melawan monster yang ada di desa ku saat ini, dan dengan tekad yang sudah bulat itu aku-pun beranjak dari meja makan-ku dan pergi mencuci piring.


'Bagaimanapun aku harus melaksanan perintah ibu-ku dulu kan?'



Mencari Suji kesana dan kemari membuat-ku lelah, walaupun diriku tahu bahwa dirinya mungkin saat ini sedang tinggal di rumah nenek Bei.


Namun sejauh yang kulihat di rumah nenek Bei itu sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Ditambah aku sudah menunggu di depan rumahnya dari kejauahan selama dua jam lamanya, sial aku sangat bosan dan beberapa teman ku sudah pergi semua.


'Tidak-tidak, aku tidak boleh main-main lagi setelah ini.'


Namun ketika aku mencoba melihat rumahnya dengan seksama, aku dihampiri oleh seorang anak laki-laki yang tidak kuketahui namanya, bahkan wajahnya sekalipun.


Dan tentu saja itu membuat-ku terkejut.


"Ada apa? Dan siapa kamu?"


Mendengar itu dia tersenyum dengan lebar bahkan senyumannya itu cukup mengerikan, dan saat itu dengan melepaskan topi kulit secara perlahan dia memperkenalkan dirinya.


"Sudah kuduga bahwa kau tidak mengenali-ku, namaku adalah Dean."


"Dean..."


'Rasanya aku pernah mendengar nama itu...'


Dengan meletekan kedua tangannya di pinggang, dengan percaya diri dia terlihat sangat bangga menyebutkan namanya itu.


Namun seketika diriku ingat dengan dirinya, dia adalah...


"Oh! Aku ingat sekarang! Kau adalah anak aneh yang selalu ikut mengantar hasil gandum bersama paman Suli!"


"Cih! Jadi kau tau ya, tapi aku ini bukan anak aneh sialan!"


"Hahaha! Akui saja bahwa kau itu aneh, kau bahkan tidak mau diajak berteman dengan yang lain saat itu."


Mendengar itu dia terlihat menghela napasnya dengan berat, seakan dia mempunyai alasan lain untuk itu.


"Dengar ya, aku ini bukannya tidak mau diajak berteman. Tapi aku ini adalah anak yang super sibuk, jadi maaf saja aku tidak bisa bermain bersama anak-anak manja seperti kalian."


"Hmmm, jadi begitu ya.. H-Hei! Siapa yang kau sebut manja?!"


"Hahaha! Sudahlah, tapi kudengar katanya teman-teman mu itu sudah pergi dari desa ya? Lalu katanya itu karena... apa ya, kau membawa monster?"


"Ya itu benar."


"Yang benar saja?! Jadi apakah itu semua benar?!"


"Ya-ya itu benar, jika kau ingin menyalahkan ku juga itu tak apa kok."


"Oy jangan begitu dong, aku-kan hanya bertanya. Lagian jika infomarsi tentang monster itu benar maka kita juga tidak bisa berbuat apa-apa kan?"


Mendengar itu membuatku benar-benar terkejut, dia kedengarannya seperti orang dewasa saja.


"Mereka bilangnya apa ya.. ummm.. Perfect monster ya? Tapi yang lebih penting kabarnya dia itu memiliki level diatas 5!"


"Hey kenapa kau kelihatannya sangat kagum begitu?"


"Memangnya tidak boleh ya mengagumi monster? Menurutku monster-monster itu juga keren loh! Bahkan katanya monster di desa kita ini adalah monster yang hanya muncul di dalam dongeng saja!"


'Sial, aku tarik ucapan dewasanya. Dia benar-benar anak yang aneh.'

__ADS_1


Setelah itu dia terus mengoceh tentang kekagumannya itu terhadap monster sempurna tersebut, dan itu membuatku sedikit-sedikit jadi memperhatikan ocehan anehnya itu.


"Ya terserahlah, dan kalau sudah puas pergi sana aku sedang sibuk nih.'


"Memangnya kau sedang apa?"


"Aku sedang memantau Suji!"


"Suji?"


"Itu adalah nama monster yang sedang kau bicarakan tadi tahu!"


"Hmmm... Apakah dia tinggal di rumah nenek Bei?"


"Ya."


"Apakah dia terlihat seperti seumuran kita?"


"Ya... Tidak-tidak, bagaimana kau bisa tahu banyak tentangnya?"


"Apakah kau buta? Dia baru saja keluar bersama nenek Bei."


"Apa?! Kenapa kau tidak memberitahunya dari tadi?! Kearah mana dia?!


"Dia ke arah sana."


Dengan begitu aku-pun berlari dengan cepat menuju arahannya itu tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi setelahnya.


"Oy! Apa yang akan kau lakukan?! Kau bisa mati loh!"


'Aku juga tahu sialan!'


Tapi setelah berlari cukup jauh diriku masih belum bisa melihat adanya Suji dan juga nenek Bei, sial aku merasa telah ditipu oleh Dean.


Dan ketika aku memikirkan itu akhirnya aku berakhir berpapasan dengan nenek Bei dan juga suji, mereka yang belum menyadari diriku dari kejauhan datang membuatku berlari semakin cepat.


'Bukannya datang dari belakang, aku malah datang dari depan begini. Dean sialan!'


Akhirnya diriku pun berhenti tepat dihadapan nenek Bei dan juga Suji, saat itu diriku benar-benar tidak merasa takut sedikitpun.


Namun kali ini dia menyapa ku lebih dulu dengan senyumannya yang persis saat pertama kali kita bertemu.


"Yo! Edward!"


'Apa-apaan tingkahnya itu?!'


"Cih! Karena kau, banyak dari teman-teman ku yang pergi bersama keluarga-nya meninggalkan desa ini!"


Nenek Bei sendiri terlihat tidak habis pikir dengan apa yang kulakukan saat ini, tapi aku sendiri terkejut rupanya nenek Bei nampak baik-baik saja setelah membiarkan monster ini tinggal bersamanya.


Tapi dibanding itu Suji justru terlihat sangat senang berbicara dengan-ku.


"Ehh? Mengapa kau menyalahkan-ku?"


"Memang siapa lagi yang harus di salahkan?!"


'Aku malah merasa seperti orang bodoh disini.'


"Haha! Tentu saja kau. karena kau, aku lebih mudah menguasai desa ini. Blwe!"


'M-menyebalkan!'


Mendengar itu membuatku benar-benar menjadi marah terlepas dari tingkahnya yang menyebalkan itu, akupun maju sambil melayangkan tinjuku ke arahnya.


Dan tentu saja itu ditahan olehnya dengan mudah, sambil menahan serangan-ku dia menasehati-ku layaknya orang dewasa.


"Itu adalah semangat yang bagus, tapi jika hanya semangat yang kau punya maka kau akan lebih cepat mati ditangan-ku."


Lalu dengan cepat tangan-nya yang lain mendekati kening-ku dan dari sana dia menyentil bagian itu dengan pelan.


Namun betapa terkejutnya diriku ketika sentilan yang pelan itu berhasil membuatku terhempas dan terjatuh.


"G-hakh!"


'Apa-apaan kekuatan-nya itu?!'


Benar apa yang dikatakannya, aku mungkin bisa mati lebih cepat jika seperti ini.

__ADS_1


Oleh karena itu setelah menerima serangan-nya dan hanya bisa terbaring ditanah saat ini, akupun memutuskan untuk melatih diriku sendiri mulai saat ini.


__ADS_2