
Perpisahan Yang Menjadi Awal Dari Perkenalan!
♤
Salah satu kata yang menarik bagiku adalah lupa.
Sebuah kata yang menurutku sangat aneh, itu karena hal yang paling ingin kau lupakan akan terus tinggal di dalam pikiran-mu.
Dan konyol-nya hal yang justru sangat penting itu terkadang kau lupakan.
Benar. Selama aku hidup di dunia ini dan tinggal bersama Aoryu aku merasa ada satu hal penting yang kulupakan.
'Sial, apa itu ya...'
Saat ini aku sedang duduk disamping sisa-sisa tumpukan api unggun yang masih terasa cukup hangat, sementara Aoryu sendiri sudah memejamkan matanya dan bersiap untuk tidur.
'Jika dilihat-lihat posisi tidurnya itu memang tidak jauh beda dengan kucing.'
Ketika aku memperhatikan-nya dia kembali membuka matanya dan melihat ke arah-ku.
"...?"
"Bocah, sebaiknya kau segera tidur. Matahari tetap akan terbit dan tidak akan menunggumu loh."
"Ya, sebentar lagi aku akan tidur."
"Memang apa yang kau pikirkan? ...Hoo~ Apa jangan-jangan kau tidak berani untuk pergi ya?"
"Mana ada begitu, aku pasti tetap akan pergi kok."
"Itu bagus. Tapi asal kau tahu ya, saat ini wajah-mu itu sangat mengganggu."
"Wajah ku? Ada apa?"
"Siapapun yang melihat-mu saat ini pasti tahu, bahwa ada sesuatu yang menggangu pikiran-mu."
"Kalau begitu jangan lihat wajah-ku."
'Ew, apakah tampang-ku ini sangat mudah dibaca?'
"Pokoknya cepatlah tidur, kau harus dalam kondisi prima untuk memulai perjalanan-mu kan?"
"Iya-iya, aku akan tidur."
Dengan begitu, aku-pun beranjak pergi ke tempat tidurku berada selama ini. Itu adalah sebuah tumpukan dedaunan kering yang cukup halus jika kau menumpuk-nya dengan rapih.
Jika dipikir-pikir selama ini aku tidur sambil menatap bintang di langit, dan alarm-ku adalah cahaya matahari yang perlahan menyilaukan.
'Walaupun terkadang aku juga terbangun karena hujan sih.'
Setelah beberapa waktu aku memejamkan mataku, aku menyadari bahwa aku tidak bisa tidur. Otak-ku memikirkan hal-hal yang sesungguhnya tidaklah penting.
'Apakah salah satu bintang yang selalu kulihat ini adalah bumi tempat-ku tinggal sebelumnya?'
Otak-ku memikirkan semuanya dan aku kembali pada satu pertanyaan, apa yang belum ku lakukan selama aku hidup bersama Aoryu?
'...Atau saat aku bertemu?...'
Saat aku hampir sampai pada sebuah jawaban, aku justru mulai tertidur dengan perlahan.
♤
Aroma yang tidak asing bagiku membuatku terbangun dari tidurku, dimana aku tahu betul bahwa ini adalah aroma khas dari babi bakar yang di buat oleh Aoryu.
'Rasanya sangat nostalgia.'
Pembakaran yang sempurna menggunakan api birunya itu membuat babi raksasa di pegunungan ini menjadi makanan favorit-ku.
Perlu diketahui, hidangan babi bakar yang dibuat olehnya sudah cukup lama tidak kurasakan. Itu karena selama ini diriku mengambil alih bagian memasak.
"Oh! Kau pasti terbangun karena aroma ini ya? Bwahahaha!"
"...Ya. Babi panggang-mu itu, ...rasanya sudah lama sekali."
'Dan lagi, itu pasti lebih enak jika di santap bersama alkohol.'
Dengan begitu akupun beranjak dari tempat-ku berada dan pergi mendekati Aoryu.
"Hati-hati, itu masih panas loh."
Aku merobek salah satu bagian daging yang masih berasap dengan tangan-ku, warna merah muda dari daging dan juga minyak yang keluar membuatnya terlihat begitu lezat.
Aku pun tanpa sadar melahap sebagian daging yang ada di tangan-ku tersebut, bagaimana-pun itu memang menggoda selera.
'PANAS!'
"WHUOH!"
"Sudah kubilang itu masih panas, apakah kau tidak mendengarkan-ku?"
Aku-pun membuka mulut-ku yang berisi daging panas ini dengan harapan agar bisa cepat dingin.
'Sial.'
"Bwahahaha! Lihat dirimu sekarang!"
__ADS_1
"Bhwrisikh!"
"Terkadang aku berpikir, mengapa kita bisa merasakan panas, padahal kita bisa menyemburkan api dari mulut kita."
'Benar juga.'
"Itu adalah salah satu ironi yang dimiliki oleh naga bukan? Tapi bagaimanapun itu adalah ketentuan yang sudah diatur."
Mendengar itu membuatku percaya bahwa makhluk yang sudah hidup selama berabad-abad pasti sangatlah bijaksana.
Namun menurutku tidak perlu hidup selama berabad-abad agar kau bisa menjadi bijaksana.
"Yosh! Sepertinya ini sudah hangat, ayo sekarang kita makan!"
"Ya!"
Kami pun menyantap daging yang sudah hangat bersama matahari yang dengan perlahan mulai naik ke atas.
"Hey bocah, apakah kau akan pergi dengan penampilan seperti itu?"
"Iya, apakah ini terlalu sederhana?"
"Apakah kau ini bodoh? Itu bahkan tidak bisa dibilang sederhana! Kau ini seperti anak yang tidak ter-urus tahu!"
"Hahaha! Padahal kupikir ini sudah layak loh."
"...Hah, sehabis ini kau pergi mandi saja. Selagi kau mandi aku akan mempersiapkan perbekelan untuk-mu."
"Tch, padahal tidak perlu repot-repot seperti itu."
"Jangan membuatku terlihat seperti seorang guru yang tidak mengajarkan anak muridnya soal berpakaian."
"Yasudah, terserah kau saja."
Aku-pun beranjak pergi menuju tempat pemandian yang biasa kugunakan di sekitar sini. Walaupun aku menyebutnya sebagai pemandian, namun sebenarnya itu hanyalah sebuah mata air panas liar yang ada di pegunungan ini.
Saat aku membuka pakaian-ku, aku baru menyadari bahwa mereka sepertinya sudah terlalu kecil untuk-ku.
Lalu melihat bayangan diriku di air, aku bisa melihat bahwa rambut yang kumiliki saat ini sudah cukup panjang.
'Tapi wajah-ku sepertinya sangat awet muda, padahal ini sudah lebih dari dua tahun.'
Saat berendam aku memikirkan petualangan seperti apa yang akan menanti-ku kedepannya, dan disisi lain sesungguhnya aku hanya ingin hidup dengan damai.
Tapi menjadi monster yang paling kuat dan jahat juga kedengarannya sangat seru.
'Walaupun itu sangat kekanak-kanakan sih.'
Tidak, itu bukanlah impian yang dimiliki oleh anak normal di dunia manapun.
'Suji... Eh?!'
Saat itu aku mulai ingat dengan hal penting yang sudah kulupakan, itu adalah nama-ku.
♤
Matahari pagi yang hangat dan juga udara yang segar membuat pegunungan ini memiliki rasa kenyamanan-nya tersendiri bagiku.
Diriku yang sebelumnya telah selesai mandi akhirnya kembali menuju tempat tinggal-ku saat ini, disana aku melihat berbagai macam barang yang sudah tergeletak di tanah.
Disana aku juga melihat Aoryu yang tampaknya sedang kebingungan, melihat itu semua membuat-ku bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang dia lakukan.
"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Dan darimana barang-barang ini?"
"Sebelumnya sudah kubilang bahwa aku akan menyiapkan perbekalan untuk-mu kan? Kau bisa mengambil barang-barang yang kau kira akan berguna."
"Jadi begitu, tapi kelihatannya mereka semua kelihatannya tidak meyakinkan."
'Benar, barang-barang ini terlihat sudah sangat tua.'
"Kau jangan melihat dari penampilan-nya bocah! Ini semua adalah barang Artefak tahu!"
"Woah, apakah benar?"
Akupun mengambil salah satu benda yang menarik perhatian-ku, itu adalah sebuah kantung kulit yang kelihatan-nya berisi air.
'Apakah ini adalah barang Artefak?'
"Matamu sangat payah bocah, itu hanyalah kantung air minum yang takan pernah habis."
"Hey, bukannya ini sangat bagus?"
"Jika menurutmu begitu bawa saja, aku sendiri lebih menyarankan-mu ini."
Aoryu membuat sebuah benda yang dipilihnya itu melayang dan itu adalah sebuah pedang yang sangat besar.
'Dia seperti seorang pekerja sales.'
"Ini adalah salah satu dari 10 Ego Weapon yang ada di dunia ini, namanya adalah Dainsleif."
'Tidak-tidak, kurasa aku tidak bisa menggunakan pedang itu!'
"Tidak, itu terlalu mencolok."
"Bocah ini, padahal ini cukup bagus! Dia juga pasti sangat kesepian."
__ADS_1
'Senjata kesepian? Apakah dia gila?'
Dengan begitu, aku pun menghabiskan cukup banyak waktu karena memperdebatkan barang mana yang akan kubawa setelah ini.
Perdebatan tersebut berakhir hanya dengan 3 barang Artefak saja yang akan kubawa, dan Aoryu seakan tidak terima dengan berbagai pilihan-nya yang sudah kutolak.
"Bocah! Bagaimana bisa kau memilih barang-barang jelek begini!"
"Sudah kubilang bahwa aku tidak perlu barang-barang yang tidak penting!"
"...Terserah deh, Kalau begitu pakailah pakaian-pakaian ini."
Aoryu memberikan-ku sebuah jubah berbulu dan juga satu set pakaian yang berwarna serba hitam.
'Uwah, ini sih kayaknya cukup keren. Walaupun kelihatannya sangat tua sih.'
"Itu adalah jubah bulu yang berguna untuk menstabilkan suhu tubuh-mu."
"Nah, ini baru berguna."
"Cih, lalu pakaian itu membuatmu tubuh-mu menjadi lebih kuat."
"Oke, aku mengerti."
Aku pun mulai membereskan barang perlengkapan-ku itu dan mengenakan pakaian baru yang diberikan oleh Aoryu.
'Astaga, semua yang kukenakan ini terasa berat.'
Benar, entah mengapa semua pakaian yang kukenakan saat ini terasa cukup berat.
"Apakah kau yakin tidak ingin membawa satu senjata pun?"
"Tidak. Kalau kau memiliki Artefak lain yang ukurannya sangat kecil tapi sangat berguna aku akan mengambilnya."
"...Hmmm, Oh! Masih ada satu!"
"?"
Aoryu melayangkan sebuah benda kecil dan ketika kuperhatikan rupanya itu adalah sebuah cincin. Itu adalah cincin berwarna perak putih yang sangat berkilau.
"Ini adalah cincin pengatur sihir, jika kau menggunakan-nya kau bisa mengatur skala kekuatan sihir yang akan kau keluarkan."
"Hoo! Itu bagus!"
Aku pun bergegas untuk segera mengambil-nya, tetapi Aoryu menahan dan memberikan-ku sebuah peringatan yang kurasa seharusnya itu cukup penting.
"Benda ini memang sangat praktis, tapi kau jangan bergantung pada ini. Kau harus terus berlatih mengatur skala kekuatan sihir-mu, mengerti?"
"Iya! Aku mengerti kok!"
Dia pun memberikan-ku cincin tersebut dan itu mengakhiri sesi perbekalan dari Aoryu yang ternyata memakan waktu cukup lama.
Setelah itu sebuah portal muncul dari bawah masing-masing benda yang tergeletak di tanah sebelum akhirnya mereka tenggelam, sepertinya semua barang artefak ini semuanya berasal dari sihir ruang milik Aoryu.
Mau dilihat berapa kali-pun sihir ruang-nya itu memang menakjubkan.
♤
Matahari sudah mulai meninggi, akhirnya waktu dimana aku pergi meninggalkan Aoryu dan pegunungan ini telah tiba.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya."
"Ya! Pergilah bocah, aku akan menunggu kabar yang akan datang tentang-mu dari dunia ini!"
Aku-pun mulai berjalan pergi membelakangi Aoryu, saat itu aku berhenti karena teringat akan satu hal penting.
"Ada apa bocah?"
"A-aku harus pergi ke arah mana ya?"
'Sial, ini membuatku malu!'
"Bwahahaha! Aku pikir perbekalan-mu kurang, kau cukup lurus saja dan kau akan melihat sebuah hutan yang berisi beberapa pedesaan kecil disana!"
"Oke!"
Aku-pun mulai berlari dengan penuh semangat...
'Akhirnya! Peradaban, aku akan datang!'
"Berhati-hatilah bocah!"
Aku bisa tahu bahwa saat ini dia sedang tersenyum walaupun wajah naganya itu tidak bisa berekspresi, jika dia memiliki tangan mungkin saat ini dia sedang melambaikan tangannya padaku.
...Akan tetapi...
Aku membalikan badan-ku dan berteriak kepada Aoryu dan membuat ekspresinya kembali kebingungan.
"Jangan sebut aku sebagai bocah! Namaku Suji! Terima kasih untuk semuanya Aoryu, suatu saat aku pasti akan kembali!"
Aku-pun kembali berlari sekuat tenaga agar aku tidak kembali lagi ke arah Aoryu, karena bagaimanapun dia adalah satu-satunya keluarga-ku di dunia ini.
Tapi aku bersyukur karena aku ingat bahwa aku belum pernah memperkenalkan namaku kepadanya sebelum aku pergi.
'Apakah ini sebuah ironi? Kurasa tidak, bukan begitu Aoryu?!'
__ADS_1
Berlari sekencang-kencangnya, membuat Aoryu sudah tak terlihat lagi di belakang-ku.