We Are Monsters!

We Are Monsters!
Vol 1. Chapter 3


__ADS_3

Aoryu! Ras Naga Terakhir Di Dunia!



Sudah sepuluh abad berlalu semenjak Ragnarok terjadi.


Perkenalkan aku adalah Aoryu, satu-satunya naga yang masih hidup hingga saat ini.


Tidak ada hal yang lebih menyeramkan dibandingkan memiliki umur yang sangat panjang, dan itu akan jauh lebih menyeramkan jika kau adalah satu-satunya yang masih hidup diantara kerabat-mu.


Jika kalian bertanya-tanya apa yang kulakukan selama ini, aku menghabiskan waktu-ku dengan menjelajahi dungeon yang muncul di dunia ini.


Suatu hari aku menemukan sebuah dungeon yang tidak biasa. Sebuah dungeon dengan aura sihir yang sangat dahsyat dan juga aroma yang sangat manis.


Dungeon sendiri sejatinya adalah sebuah portal yang digunakan oleh para demon untuk kembali masuk ke dunia ini, dan biasanya dungeon itu memiliki bau yang tidak sedap.


Akan tetapi dungeon kali ini sangat berbeda, bahkan ketika diriku masuk aku menjadi tidak yakin untuk menyebutnya sebagai dungeon.


Dungeon itu tidak seperti sebuah labirin ataupun gua yang sangat gelap, melainkan seperti dunia yang sangat luas dengan hamparan rumput hijau yang sangat nyaman.


Tidak ada tanda-tanda pasukan demon di dalamnya hingga aku menemukan sebuah kotak atau peti yang tersegel, saat itu aku sadar bahwa peti itu adalah sumber dari aroma manis yang ada di dungeon ini.


Aku sempat curiga bahwa peti tersebut berisi jebakan atau semacamnya, namun saat itu aku mencoba untuk membuka peti yang tersegel itu.


Segel sihir yang belum pernah kulihat itu terlihat cukup rumit, itu memakan banyak waktu hingga diriku bisa membukanya.


Saat itu isi dari peti tersebut membuatku terkejut, itu karena ada seorang bocah laki-laki yang sedang tertidur di dalamnya.


Rambutnya yang hitam, serta pakaian yang di kenakannya. Aku belum pernah melihat manusia memakai pakaian seperti itu sebelumnya.


Namun aku lebih terkejut ketika menyadari bahwa bocah itu bukanlah manusia melainkan monster, atau lebih tepatnya perfect monster.


Dan bahkan dia memiliki ras monster yang sama denganku, bocah laki-laki itu bisa disebut sebagai perfect dragon karena ras naga yang dimilikinya.


Aku mengetahui itu karena dia memiliki dragon mark di belakang tubuhnya. Benar, saat itu tanpa kusadari aku telah mengecek berbagai area tubuhnya.


Aku merasa hari itu adalah hari yang sudah ditakdirkan, aku bahkan merasa lebih hidup daripada hari-hari sebelumnya. Oleh karena itu, aku pun berniat membawanya pulang bersama-ku.


Akan tetapi saat aku ingin membawanya pergi, entah mengapa tubuhnya itu sangat sulit di angkat dari peti tersebut.


Bocah itu seperti telah menempel atau menyatu dengan peti tersebut, dan anehnya bocah itu tetap tertidur setelah berbagai keributan yang kuperbuat.


Hingga akhirnya aku menarik bocah tersebut dengan paksa tanpa peduli jika bocah itu akan terbangun nantinya, dan seperti yang di harapkan dia masih tertidur setelah kupisahkan dari peti tidurnya itu.


Aku sangat senang dan ingin segera membawanya pulang bersama-ku, rasanya saat itu seperti baru saja aku mendapatkan teman hidup baru.


Namun kesenangan-ku itu berhenti dengan cepat, secara tiba-tiba hamparan rumput hijau yang ada di dungeon ini perlahan mulai terbakar.


Langit biru-pun juga menjadi gelap, dan perlahan api yang membakar seluruh rumput di dungeon ini berubah menjadi api berwarna biru.


Saat itu aku merasa benar-benar berada dalam bahaya, dan segera pergi dari dungeon ini bersama bocah yang baru saja kubawa.


Selama dalam perjalanan terbang menuju pintu keluar, aku mulai merasakan panas yang luar biasa. Saat itu aku menyadari bahwa api biru itu telah berubah menjadi warna putih.


Itu adalah kedua kalinya dalam hidup-ku saat aku melihat api berwarna putih, sebelumnya aku pernah melihat itu saat bertarung bersama raja di perang Rangnarok.


Saat itu, api putih yang dimiliki oleh raja membuat ras naga menang telak saat perang ragnarok.



Sudah tiga hari semenjak bocah laki-laki yang kutemukan itu terbagun, sebelumnya dia sangat ketakutan saat melihat-ku hingga dia sempat pergi melarikan diri.


Bodohnya, saat itu aku berpikir bahwa dia itu telah mengalami mimpi buruk.


Tapi semua itu berubah ketika aku menyelamatkannya dari monster lain yang ada di pegunungan ini.


Tidak itu saja, dia sepertinya juga sangat menyukai hasil buruan-ku.


"J-jadi kau adalah seorang yang telah bereinkarnasi?"


"Ya, bisa dibilang seperti itu. Maksudku, saat aku menyadari bahwa diriku sudah mati di dunia sebelumnya, entah mengapa aku pun tersadar di tempat ini."


"Tapi hingga kau terkejut seperti itu, apakah di dunia-mu itu tidak ada monster?"


"Tidak. Itu adalah dunia yang hanya berisi manusia saja."


"Woah, hanya berisi manusia saja?"


"Benar, sekilas itu adalah dunia yang damai."


'...Hanya sekilas ya.'


"Itu cukup menarik, karena faktanya di dunia ini kau bereinkarnasi sebagai monster."

__ADS_1


"Ha?"


"Benar, monster. Tapi kau ini adalah monster tipe sempurna, singkatnya kau ini memiliki akal dan fisik layaknya manusia."


"Tunggu-tunggu, apakah wajahku saat ini baik-baik saja?"


"Tidak ada masalah dengan itu, hanya saja kau memiliki kemampuan naga dan bisa menggunakan sihir seperti manusia."


"S-sihir? -Maksudmu sihir yang begitu?!"


"...Sihir yang begitu, mungkin iya."


"Wow! Bukankah itu hebat?!"


"Itu memang hebat jika kau benar-benar bisa melakukannya."


"M-maksudmu apakah dengan sihir itu aku bisa menjadi monster yang kuat?!"


"Bwahahaha! Benar sekali! Tapi sebelum itu aku akan menjelaskan tentang hal yang mendasar di dunia ini."


"Tidak, sepertinya itu tidak penting."


"Dan soal itu kau bisa serahkan padaku! Aku akan melatihmu setiap hari mulai besok!"


"Oy! Apakah kau mendengarkan-ku?"


"Bwahahaha! Kau harus bersiap menjalani pelatihan dariku hingga kau menjadi sangat kuat!"


"Yang benar saja!"


Saat itu, aku-pun tidak sabar untuk menjadikannya monster paling kuat di dunia ini.


Setelahnya, aku juga memberinya semua pengetahuan dasar yang ada di dunia ini kepada bocah ini.



"Aliran mana di dalam dirimu itu, kau harus bisa merasakannya! Bocah!"


"Sudah kubilang aku tidak merasakan apapun, dasar kadal!"


"Teruslah berusaha! Kau harus menjadi monster yang kuat, setidaknya kau harus sebanding dengan-ku!"


Itu adalah sebuah keharusan, karena bagaimanapun aku sudah bertekad agar dirinya menjadi monster level enam.


Walaupun aku berkata pada dirinya agar setidaknya memiliki level yang sama denganku, tapi jika akhirnya dia nanti bisa mengalahkan-ku itu artinya dia sudah melampauiku yang level lima ini.


Benar, aku tahu betul potensi yang dimiliki oleh perfect dragon sepertinya. Jika semuanya sesuai dengan apa yang kubayangkan, maka seharusnya dia memiliki kekuatan yang sama dengan raja.


'Melatihnya membuat-ku teringat dengan raja, tapi saat ini...'


"Apakah kau ini tidak bisa berimajinasi? Sudah kubilang, kau hanya perlu membayangkan prinsip dan bentuk dari sihir yang akan kau ciptakan!"


"Berkata saja memang mudah! Coba kau lakukan saja sendiri daripada kau terus mengoceh dan mengganggu-ku!"


"Apakah kau lupa? Aku ini hanyalah rational monster! Tentu saja aku tidak bisa melakukan-nya!"


"Lalu bagaimana kau bisa mengajari-ku jika kau sendiri tidak bisa?!"


"Itu karena aku sangat tahu potensi yang dimiliki oleh perfect dragon sepertimu!"


'Benar, terkadang melatih bocah ini membuat kepalaku sakit.'


Karena bagaimanapun yang kuajarkan padanya hanya sebatas teori saja, dan saat itu untuk pertama kalinya aku menyesal terlahir sebagai rational monster.



Sudah dua tahun sejak aku melatih bocah ini, dan baru saja aku telah meluluskan dirinya.


Dengan sedikit pemaksaan yang kulakukan, akhirnya dia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melawan-ku.


Tidak lupa bahwa dia benar-benar melampaui diriku sekarang.


Menciptakan sihir tidaklah mudah seperti kelihatannya, bagaimana-pun kau harus mampu membayangkan prinsip dan wujud dari sihir itu sendiri.


"Huft... dengan begini kau akhirnya sudah lulus!"


Bocah itu terkapar ditanah dengan lemas setelah mengeluarkan sihir yang begitu kuat.


Dan beruntung sihir dengan sekala pemusnahan-nya yang luar biasa itu berhasil dihentikan.


'Sun child ya...'


"...Oy, bantu aku berdiri dong..."

__ADS_1


"Hahaha, sepertinya sihir terakhir-mu itu membuat mana-mu terkuras ya."


"Begitula, rasanya seluruh badan-ku kesemutan."


Dengan begitu, aku pun membawa bocah ini kembali ke tempat kami tinggal selama ini.


"Rasanya seperti menjadi anak kucing jika kau membawa-ku seperti ini."


"Jhanghan bhanyak bhicara khau."


'Mau bagaimana lagi, aku ini tidak mempunyai tangan sih.'


Sepertinya hari ini aku harus menyiapkan makan malam yang spesial untuknya.



Beberapa bulan berlalu sejak aku meluluskan ujian bocah ini, dan selama itu kami banyak menghabiskan waktu bersama.


Dan saat itu aku menyadari bahwa dia mungkin akan mulai melakukan perjalanannya, tersadar akan hal itu membuat-ku cukup sedih. Bagaimana-pun aku tidak bisa memaksanya untuk terus bersama-ku.


'Benar, dia harus melihat dunia luar. Aku tidak boleh egois seperti ini.'


"Jika kau menambahkan tanaman ini, maka rasa daging babinya akan lebih gurih."


"Begitu ya, sepertinya kau cukup ahli dalam memasak. Bocah."


"Di kehidupan sebelumnya, aku ini sudah terbiasa menyiapkan makanan untuk-ku sendiri. Walaupun bahan di dunia ini cukup berbeda sih."


Mungkin ini adalah waktu yang tepat menanyakan rencana-nya untuk kedepan.


"Ngomong-ngomong, apakah kau tidak ingin pergi melakukan petualangan-mu?"


Ketika aku menanyakan hal tersebut, bocah tersebut berhenti sejenak dan mulai memberikan jawaban-nya.


"Kau tahu, aku ini sangat ingin memulai petualangan-ku menjadi monster yang paling kuat dan jahat."


"Lalu?"


"T-tapi disisi lain aku merasa bahwa kita ini sudah seperti keluarga, d-dan lagi di kehidupan yang sebelumnya aku ini tidak memiliki sosok ayah dalam hidup-ku... J-jadi.."


Mendengar penjelasan-nya yang setengah-setengah itu sudah membuatku sangat paham, dan saat itu rasanya aku ingin menangis.


'Ayah... jadi begitu.'


"Bwahahaha! Apa-apaan ini rupanya kau memiliki perasaan seperti itu ya!"


"J-jangan tertawa seperti itu! Lagipula siapa lagi yang akan memasak makanan untuk-mu jika aku tidak ada!"


"Jangan khawatirkan aku seperti itu, aku ini telah hidup selama berabad-abad. Kesepian? Tentu saja tidak! Lagipula kau ini terlalu merepotkan jadi cepatlah pergi dari sini, dan mulailah perjalanan-mu!"


"Cih! Jadi begitu ya!"


"Bwahahaha, dengan begitu aku akan menanti kabar yang hebat dari dunia ini tentang-mu!"


"Biarpun kau menyebutnya petualangan, sebenarnya aku masih tidak tahu akan melakukan apa di dunia ini."


"Begitu ya, kalau begitu mungkin ini adalah saat yang tepat untuk memberimu hadiah kelulusan-mu."


"Oh iya! Aku lupa tentang itu!."


Dengan begitu aku mengeluarkan sebuah buku dari sihir ruang yang kumiliki, itu adalah buku harian yang sudah kutulis selama ini.


"Eh? sebuah buku?"


"Benar! Itu adalah buku harian-ku selama hidup berabad-abad!"


"Ugh... kayaknya ini tidak deh..."


"Hoy! Jangan begitu kepada buku harian-ku! Isinya mungkin bisa jadi jawaban dari pertanyaan-mu dalam berpetualang di dunia ini!"


"Tapi sepertinya buku ini terlalu tebal untuk sebuah buku harian."


"Mau bagaimana lagi, itu adalah buku harian tentang keseharian-ku selama berabad-abad."


"Itu cukup masuk akal, tapi..."


"Dan satu hal lagi, kau boleh membacanya jika kau sudah pergi dari tempat ini."


"Haaah? Mengapa begitu?!"


"Kau ini tidak punya otak ya? Tentu saja aku juga malu jika buku harian-ku dibaca di hadapan-ku! Oleh karena itu, pergilah berpetualang jika kau ingin membacanya."


"Hahahaha! Jadi kau punya rasa malu juga!"

__ADS_1


"Tentu saja!"


__ADS_2