We Are Monsters!

We Are Monsters!
Vol 1. Chapter 13


__ADS_3

Datangnya Monster! Desa Ini Dalam Bahaya?! (IV)



Setelah terkapar cukup lama aku-pun pulang dengan keadaan yang tak karuan, diriku berpikir habis-habisan bagaimana caranya menjadi kuat dalam waktu singkat.


Tapi jika dipikir kembali semua hal yang diinginkan itu butuh proses, begitupun dengan menjadi kuat.


Seketika, menyadari hal tersebut membuat-ku menjadi malas dan putus asa. Namum perasaan panas di dada-ku ini benar-benar membuatku harus melakukan-nya.


Atau setidaknya aku harus bisa melayangkan satu pukulan ke monster bernama Suji itu, yang mana akhirnya motivasi itu membuatku bergerak.


'Yosh! Ayo kita lakukan!'


Dengan begitu akupun pergi membasuh wajah-ku dengan air dingin, dan segera pergi kehalaman rumah untuk melatih diriku.


Aku berdiri di depan halaman dan bersiap untuk memulai latihan yang akan membuatku menjadi kuat, tapi disini diriku sendiri merasa bingung harus memulainya darimana.


Benar, walaupun aku sudah memiliki tekad yang kuat disini namun diriku tidak tahu harus berbuat apa.


Ketika aku terdiam cukup lama sambil berpikir dengan keras, akhirnya aku teringat beberapa gerakan yang sempat diajarkan oleh ayah-ku dulu.


Itu adalah gerakan bagaimana caranya memukul dengan baik mulai dari kuda-kudanya hingga serangan akhirnya, dan walaupun ingatan itu cukup samar-samar akupun melakukan-nya dengan semampu-ku.


Perlahan tapi pasti, aku mulai membuka kedua kaki-ku dengan jarak yang kurasa cukup. Lalu secara bergantian, kedua tangan-ku yang sudah berada di dada mulai meninju ke arah depan secara bergantian.


Syut! Syut!


'Sepertinya bukan begini deh.'


Dengan perasaan ragu akan benar atau tidaknya gerakan yang kulakukan sekarang, akupun melakukan semua itu selama 30 menit lamanya.


Menit demi menit-pun berlalu, dimana akhirnya aku merasa bahwa ini semua sia-sia. Ditambah semua gerakan yang kulakukan ini benar-benar meragukan.


"Erghhh!~ H-harus bisa!"


Pada saat aku sedang kesulitan dengan diriku sendiri, tanpa diduga Suji muncul entah darimana dan sepertinya dia sudah memperhatikan-ku selama ini.


"Oy Edward, apa-apaan yang kau lakukan itu?"


Tentu, itu membuatku terkejut dan akhirnya itu membuatku terjatuh.


'Aduh! Apakah dia akan menghabisiku sekarang?!'


Namun daripada memikirkan apa yang akan dilakukan olehnya setelah ini, aku lebih memilih untuk bangun dan kembali berlatih.


'S-seharusnya dia tidak melawan-ku di saat seperti ini kan?'


Dan untuk membuatnya pergi, aku memberikan-nya alasan yang membuat-ku terlihat cukup kuat.


"Untuk saat ini aku akan melepaskan-mu monster, suatu hari aku akan menjadi kuat dan mengalahkan-mu!"


Alih-alih menjadi terlihat kuat, justru dia terlihat menahan tawa karena ucapan-ku itu.


Ditambah dengan ekspresinya yang menyebalkan itu, seakan dia melihat diriku ini begitu menyedihkan.


'Cih!'


Tapi dengan cepat dia menutupi ekspresinya itu dan kembali terlihat tenang, diiringi dengan pertanyaan-nya yang membuat semangat-ku sedikit menurun.


"Apakah dengan gerakan-gerakan itu kau akan menjadi kuat?"


Mendengar itu, akupun berusaha memotivasi diriku kembali.


"Hmph! Jangan meremehkan pelajaran yang sudah diajarkan oleh ayah-ku dulu!"


'Benar! Aku yakin ini pasti akan membuahkan hasil!'


"Tidak-tidak. Maksudku, apakah kau yakin bahwa itu adalah gerakan yang benar?"


'...Sudah kuduga, bahwa ini salah.'


Akupun menghentikan semua gerakan yang kulakukan dan menatap Suji, saat ini aku sadar bahwa sepertinya aku tidak bisa melakukan perlawanan terhadapnya.


"Sebenarnya... aku merasa tidak."


"Nah! Itu baru lelaki, mengakui kesalahan bodohnya adalah sifat pria sejati."


"H-huhh?!!"


Seketika wajahnya yang tenang itu malah tersenyum dengan lebar, namun ini bukanlah seringai yang kulihat saat dia mengakui bahwa dirinya adalah monster.


Bisa dibilang detik ini aku merasa bahwa dirinya bukanlah monster, atau jelasnya aku tidak merasakan adanya bahaya dari dirinya.


'A-apa-apaan sih dia ini?!'


Dengan cepat dan bersemangat dia-pun mengoreksi kesalahan-kesalahan yang telah kulakukan.


"Kesalahan-mu adalah kau kurang membuka pergelangan kakimu, lalu kau harus membungkuk sedikit."


"S-siapa yang meminta pendapat-mu?!"


'Benar! Siapa juga yang mau mendengarkan-mu?! Lagipula aku ini akan melawan-mu nantinya loh!'


Berbanding denganku yang terlihat acuh tak acuh dengannya, dia justu terus memberikan instruksi kepadaku dan itu membuatku perlahan mengikuti semua arahan-nya.


"Setelah kau merasa kuda-kuda mu cukup kuat, kau bisa memutar kaki kanan-mu kebelakang. Lalu setelah-nya badan-mu akan mengikuti pergerakan kaki-mu itu."


"B-begini?"


"Ya, Setelah itu barulah kau bisa sambil menyiapkan serangan tinju dengan tangan kanan-mu. Kau bisa menghempaskan tinju yang kuat jika kau memutar kembali badan dan kaki kanan-mu itu "


'Uwah! Aku merasa bahwa ini lebih cepat dan juga kuat!'


Dengan begitu aku merasa sangat bersemangat karena tidak ragu lagi dengan gerakan-ku, akan tetapi tiba-tiba seseorang meneriaki diriku dengan suara cemasnya.


"Edward! Apa yang kau lakukan dengan monster itu?!"


""!!!""


Entah darimana ibu-ku itu datang, sepertinya dia baru saja pulang dari ladang saat ini.


'Tapi jarang sekali melihatnya pulang secepat ini.'


Suji yang sebelumnya bersamaku-pun langsung beranjak pergi tanpa mengatakan sepatah katapun, yang mana sepertinya dia tidak ingin membuat keributan yang lebih dari ini.


Melihat apa yang dilakukannya mulai membuat pandangan-ku tentangnya berubah, setidaknya untuk saat ini.


'Dia monster yang aneh.'


Dengan begitu ibuku-pun memeluk-ku dan menanyakan kondisi-ku, tentu saja aku menjelaskan apa yang telah terjadi.


Mendengar penjelasan-ku pun ibuku terdiam sejenak, tapi setelah itu dia membawa kabar baik dan terlihat sangat senang.


Itu karena kabarnya mesin pengolah gandum di desa kami sudah bisa digunakan kembali. Entah siapa yang telah melakukan itu, aku merasa berterima kasih sedalam-dalamnya.


'Karena ibu terlihat sangat senang.'


__ADS_1


Beberapa minggu berlalu semenjak kedatangan Suji ke desa ini, namun desa ini masih terlihat baik-baik saja.


Lebih dari itu, para warga desa saat ini telah mengetahui bahwa Suji-lah yang telah membuat mesin pengolah gandum kami bekerja.


Alhasil saat ini para warga merasa bahwa dirinya bukan ancaman sama sekali, akan tetapi masih ada rasa cemas yang menyelimuti para warga karena Suji lama tak terlihat semenjak dua hari kedatangan-nya itu.


Tapi melihat nenek Bei yang tinggal bersamanya itu baik-baik saja membuat kami sedikit tenang.


Sejujurnya itu membuat diriku semakin bingung dengan monster yang satu ini, atau mungkin tidak hanya diriku saja.


Dibawah langit sore ini diriku bahkan masih berlatih untuk memperkuat diriku sendiri, tentunya aku melakukan persis seperti arahan Suji saat itu.


Tetesan keringat di kening-ku mungkin bukan karena berlatih sepanjang hari, tapi karena aku memikirkan apa yang sedang di rencakanan monster tersebut.


'Memangnya ada monster yang baik begitu?'


Lalu jika memang seperti itu untuk apa diriku berlatih seperti ini? Aku benar-benar dibingungkan oleh-nya.


Ketika aku memikirkan itu, ibuku-pun kembali dari ladang dimana wajahnya belakangan ini lebih senang dari sebelumnya.


Mungkin itu karena mesin pengolah gandum yang sudah bisa digunakan kembali, ibu-ku sendiri bahkan terkejut saat mengetahui bahwa Suji lah yang telah memperbaiki mesin tersebut.


"Edward! Bersihkan dirimu, sudah waktunya kita masuk."


"Yaa!"


Ibuku yang baru saja kembali juga membersihkan dirinya seperlunya, lalu dengan cepat dia pergi menyiapkan makan malam untuk kami berdua.


Setelah diriku sudah bersih akupun duduk dimeja makan rumah kami yang kecil, disana aku sedikit berbincang dengan ibu-ku.


"Ibu? Apakah monster itu memang sebenarnya tidak jahat?"


Mendengar itu, ibuku berhenti sejenak dan lanjut memasak kembali.


"Mungkin saja memang seperti itu, tapi kita sendiri tidak boleh karena hal yang belum tentu benar itu."


Mendengar itu aku hanya terdiam, lalu tak lama setelah itu makanan pun selesai dihidangkan dan kami memakan-nya bersama.


"Ibu lihat belakangan ini kamu banyak berlatih? Ada apa?"


"Aku melakukan itu dengan niat untuk melawan Suji."


"Tsk, jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Para warga sempat menyalahkan-mu atas kejadian ini sebelumnya, jadi jangan menambahkan masalah ibumu ini dong!"


"T-tapi aku harus bertanggung jawab dengan masalah yang telah kubuat kan?"


"Sudahlah lupakah saja! Lagipula ibu lebih senang karena kamu baik-baik saja sampai saat ini."


Mendengar itu aku-pun hanya bisa diam dan melanjutkan makan malam-ku, namun tepat ketika diriku sedang melakukan suapan terakhir-ku, aku mendengat suara ledakan yang cukup keras di desa ini.


Ibuku yang juga mendengar hal tersebut juga terkejut dan itu membuat kami terdiam sejenak, tak lama aku pun berlari membuka pintu rumah-ku dan dari sana aku melihat sebuah asap kebakaran berasal dari pintu masuk desa.


'Apakah Suji sudah mulai bergerak?!'


Melihat itu membuatku pergi tanpa mengatakan apapun, dimana diriku saat ini yakin bahwa Suji mungkin sudah melakukan pergerakan-nya.


"Hei Edward! Mau kemana?!"


'Tunggu saja Suji!'


Tanpa menghiraukan ibuku, akupun berlari kesumber suata tersebut.



Dengan perlahan dan bersembunyi aku berusaha mendekati sumber kekacauan yang terjadi di desa ini, aku berusaha agar tidak terlihat oleh warga yang mencoba mengevakuasi para warga yang lain.


Kala itu aku bisa melihat warna merah api membuat asap hitam melayang tinggi ke langit dimana itu menutupi bintang-bintang yang ada.


Dan semakin dekat diriku di pintu masuk, betapa terkejut-nya diriku ketika melihat bahwa itu rupanya adalah ulah ribuan monstet goblin yang datang menyerang desa kami.


Melihat itu membuat-ku gemetar ketakutan, tapi aku berusaha tenang dan melihat para warga yang sedang mencoba menghadang mereka dari kejauhan.


Jumlah para warga yang menahan mereka jelas kalah telak, bahkan ada beberapa goblin yang ukurannya lebih besar dari yang lain.


Akan tetapi para warga itu berhasil menahan meraka untuk beberapa saat, itu karena tidak semua dari goblin tersebut ikut menyerang mereka.


Tapi itu lebih buruk dari apapun, aku bisa melihat bahwa para goblin itu seperti sedang bersenang-senang dengan mereka.


Seakan para goblin tersebut secara bergantian menyerang para warga dimana itu membuat mereka bertarung tanpa henti.


Disini aku benar-benar menyaksikan para warga tersebut hingga mereka benar-benar kehabisan tenaga.


Melihat itu membuat jantung-ku berdetak dengan cepat dan tanpa kusadari aku telah memasuki medan pertempuran yang gila ini.


"Hentikaaan!"


""!!!""


Dengan teriakan itu, akupun menarik perhatian mereka yang ada di sini.



"...Edward?! ...Hah, apa yang kau lakukan bocah?!"


"Benar... Kau semestinya sudah lari bersama yang lain!"


Mendengar para warga yang terkejut akan kedatangan-ku ini, aku hanya bisa terdiam dan menatap salah satu goblin besar yang ada dihadapan-ku.


Disini aku bahkan bisa melihat bahwa salah satu goblin besar ini sepertinya mulai menaruh perhatian-nya padaku, itu bisa dilihat dari seringai di wajahnya.


Tapi entah mengapa aku tidak merasa takut sedikit-pun, mungkin karena aku telah melihat seringai monster yang lebih menyeramkan daripada dia.


Goblin besar itu perlahan mulai mendekati-ku.


"Anak manusia, apakah kau mau bermain?"


"Tidak, aku akan menghajarmu."


'Benar, setidaknya aku akan mencoba hasil latihan-ku disini.'


Mendengar itu, goblin besar ini tertawa dengan keras sebelum akhirnya dia kembali menatap-ku dengan kedua matanya yang besar.


Untuk sesaat, setelah menatap-ku dia pun terlihat kesal sebelum akhirnya dia memejamkan matanya itu dengan perlahan.


"Kau mirip seperti bocah itu. Baiklah, karena kau sudah mengingatkan-ku dengannya aku akan menerima pukulan-mu sekali."


'Sial, dia meremehkan-ku?'


"Kalau begitu kau pasti menyesali ini."


"Sudah hentikan Edward! Larilah!"


"...Hey! Apakah kau dengar?!"


Goblin besar di depanku ini tidak bergerak sedikit-pun seakan menunjukan bahwa dia tidak perlu persiapan apapun untuk menerima serangan-ku.


Dengan begitu aku-pun menyiapkan serangan-ku dengan memulai kuda-kuda yang telah diarahkan Suji sebelumnya.


Entah apakah ini akan berhasil tapi,

__ADS_1


"Aku terus melakukan latihan ini selama beberapa minggu yang lalu! Seorang monster yang lebih menakutkan telah mengajariku!"


"HAHAHA! Monster mana yang telah mengajari anak manusia?! Beritahu aku seperti apa dia!"


Tanpa menghiraukan ucapannya itu, akupun melesatkan pukulan ke arah rational goblin tersebut.


BUK!


'Jadi begitu, sudah kuduga menjadi kuat tidak akan secepat itu.'


Sialnya karena diriku sangat pendek pukulanku hanya mencapai lutut goblin besar itu, namun saat itu aku benar-benar telah siap dengan apa yang akan terjadi kepadaku.


'Setidaknya kali ini aku berhasil melakukan perlawanan terhadap monster yang datang menyerang desa.'


"HAHAHAHA! Sudah kuduga itu tidak ada apa-apanya! Kalau begitu giliran-ku bocah!"


Goblin besar yang terlihat baik-baik setelah serangan-ku itu mulai terlihat sangat menggebu-gebu, sebaliknya para warga yang sudah tak bisa berbuat apa-apa mulai merasa panik dan memintaku pergi.


"Itu sudah cukup Edward! Larilah!"


Goblin besar yang ada di hadapanku mulai mengangkat tinju besar-nya itu, dan itu membuatku tak bergeming sedikitpun.


'Maafkan aku Suji, karena telah berprasangka buruk padamu.'


Benar, saat ini aku merasa marah kepada diriku sendiri. Aku bahkan menggunakan teknik darinya dikala aku masih berprasangka buruk padanya.


Ketika Pukulan itu ingin mendarat kepadaku, goblin besar tersebut tiba-tiba terjatuh dan berlutut karena salah satu kaki-nya tiba-tiba terlihat aneh.


Saat itu aku menyadari dan terkejut rupanya serangan-ku itu berhasil melukainya.


Aku yang masih tidak percya mulai mendengar goblin besar itu mulai berteriak dengan keras.


"Arghhh! Sialan! Cepat habisi anak manusia ini!"


Dengan cepat para goblin kecil yang ada disekitarnya mulai berlari ke arahku dengan senjata-senjata mereka.


Aku-pun kembali bersiap, akan tetapi ada sesuatu yang lain datang dengan cepat menghalau para goblin tersebut.


BLAR!


Entah apapun itu, dia menghasilkan dentuman yang sangat keras, puing tanah dan debu yang beterbangan membuat diriku tidak mampu melihat apapun.


Bahkan mungkin para goblin tersebut merasakan hal yang sama, lalu dikala diriku tidak bisa melihat apapun aku bisa mendengar suara jeritan para goblin yang sedang dihajar.


'...Siapa?!'


Lalu saat debu-debu yang beterbangan mulai turun, disana aku bisa melihat sesosok monster yang lebih menyeramkan telah menghabisi para goblin yang ada tanpa belas kasih.


'Ini... Mengerikan...'


Darisana aku bisa melihat bahwa itu semua dilakukan oleh Suji seorang diri, bahkan dirinya sedang memegang salah satu kepala goblin yang sudah terpisah dari tubuhnya.


Para goblin yang seharusnya ada di sekitar kami bahkan terlihat sudah terbaring ditanah, beberapa bagian tubuhnya juga terlihat hancur atau bahkan menghilang.


Para goblin yang melihat Suji seketika langsung panik, atau bisa dibilang bahwa itu adalah ekpresi trauma dan juga ketakutan.


Kami para warga hanya bisa melihat Suji seperti itu, dimana akhirnya dia melempar kepala goblin di genggamannya itu ke arah goblin besar yang sedang patah kakinya.


Lalu dikeheningan yang dia ciptakan sendiri dia pun berkata,


"Jika kamu bertanya siapa monster yang mengajarinya, itu adalah aku."


Melihat Suji goblin tersebut terlihat panik, dan dari sana aku merasa bahwa Suji sebelumnya sudah pernah menghajar mereka.


"...Khuh!!! Bagaimana bisa kau ada disini?!"


"Anggap saja ini sebagai takdir yang terjadi diantara kita, tapi perlu kau ketahui bahwa desa ini sekarang adalah wilayah-ku. Dengan kata lain adalah milik-ku."


"...S-sialan! T-tapi kau juga harus tahu bahwa kali ini ...aku datang bersama raja!"


"Raja?"


Taklama setelah itu, suara guncangan yang besar terjadi dimana itu terasa semakin dekat dengan kami.


Para goblin yang ada disekitar Suji pun mulai membuka jalan dan dari sana aku bisa melihat raja yang dimaksud oleh goblin besar yang ku hajar sebelumnya.


Saat kami memperhatikan sang raja yang berlari semakin dekat dengan kami, goblin yang patah kakinya itu mulai berbicara kembali.


"Nah! Sekarang apa yang akan kau lakukan?! Kami tidak akan takut dan pingsan seperti saat itu lagi! HAHAHA!"


Bisa dibilang raja goblin yang sedang berlari itu lebih besar dari goblin yang patah kakinya, kulitnya berwarna merah pekat seperti darah. Dengan tanduk besarnya dia terlihat sangat menyeramkan.


'A-apa-apaan itu?!'


"HAHAHA! Apakah kau takut-"


Cratz!


Tidak menunggu perkataan goblin besar itu selesai, Suji melesat ke wajah raja goblin tersebut, dan saat itu kepalanya benar-benar hancur dan kedua tanduknya itu terjatuh ke tanah bersama dengan tubuhnya yang besar.


"Ku kira dia bisa tahan dengan tinjuku, tapi seperti yang kuduga itu terlalu lemah. Bahkan walaupun tubuhnya besar dia itu lower monster kan? Apakah dia pantas kau sebut raja?"


'...Gila..'


Melihat itu membuat tubuhku lemas, sehingga tanpa sadar lututku telah terjatuh ketanah bersama tubuhku menyaksikan itu.


'Dia.. Benar-benar monster..'


Melihat itu membuat beberapa goblin panik seketika dan ribuan goblin ini menjadi kacau, beberapa diantaranya ada yang berlari kebelakang, adapula yang marah besar lalu maju ke arah Suji dengan emosi yang meledak-ledak.


Sementara goblin besar yang kakinya patah seketika membisu dan ekspresinya sangat terguncang.


"...T-tidak mungkin.."


Tapi sebelum para goblin yang berlari menyerang Suji sampai, goblin besar yang kaki-nya patah ini berteriak dengan keras.


"HENTIKAN! HENTIKAN! HENTIKAN!"


Sayangnya beberapa goblin besar selain dirinya ada yang tetap berlari ke arah Suji dan tetap ingin menyerangnya.


Aku tidak mampu berbuat apa-apa dan hanya menyaksikan kegilaan perang yang sesungguhnya terjadi sekarang.


'Tidak, ini bukan peperangan.'


Ini lebih ke pembantaian massal.


Suji pun mulai menghabisi para goblin yang berlari menyerang dirinya secara bersamaan, saat itu Suji juga mengatakan sesuatu yang tidak dapat kupahami.


"Ini menarik, tapi kali ini aku tidak akan mengeluarkan aura sihir-ku agar kalian tidak pingsan lagi."


Dengan cepat Suji memukul mundul ribuan goblin itu hingga cukup jauh dari daerah desa, walaupun aku berada dekat dengan api yang membakar desa entah mengapa aku merasa dingin melihat dia menghabisi para goblin tersebut.


Bagian tubuh goblin yang beterbangan dan juga darah yang keluar dari sana membuat-ku mual, lalu seakan tidak puas dengan semua itu Suji pun mengeluarkan api yang besar dari mulutnya.


Fhush!!!


Api tersebut berwarna putih dan cukup menyilaukan sehingga membuat suasana disini seakan berubah menjadi siang hari, lalu seketika para goblin tersebut menghilang bersamaan dengan rumput-rumput yang ada.


Saat itu, ladang rumput kami benar-benar menjadi tandus.

__ADS_1


__ADS_2