
Anak Lelaki Yang Berkeinginan! Desa Kecil Di Kaki Gunung Neraka! (II)
♤
Sebuah pedesaan dengan rumah-rumahnya yang terbuat dari kayu, beberapa rumah dibelakang-nya terdapat tempat yang kelihatannya adalah sebuah kebun.
Tidak lupa beberapa bagian dari wilayah desa ini juga diisi ladang, besar kemungkinan itu adalah ladang bahan pangan.
"Kamu bisa tinggal disini sekarang nak."
"Wah, rumah-mu sedikit lebih besar daripada yang lain ya?"
"Ini sama saja."
Aku tiba di sebuah rumah setelah mengikuti nenek yang ada di hadapan-ku ini, rumah ini sedikit lebih besar dan berbeda dari rumah-rumah lainnya.
Dengan menaiki tangga yang tidak banyak kami akhirnya mulai masuk kedalam, singkatnya rumah ini terlihat seperti rumah panggung.
Di dalam aku bisa melihat sebuah interior rumah yang sangat amat sederhana, bisa dilihat berbagai perlengkapan yang ada terbuat dari kayu.
Kayu yang dipakai terlihat masih cukup kasar, bahkan kelihatannya rumah-rumah lain juga dibangun dengan kayu yang sama.
"Kamar-mu ada di sebelah sana. Jika kamu mencari kamar mandi, itu ada di bagian belakang rumah ini."
"Maksudmu di luar?"
"Ya, ada bilik kecil disana. Kamu bisa membersihkan dirimu disitu."
'Wah-wah, aku merasakan sebuah kemunduran zaman.'
"Kalau begitu aku akan pergi melihat kamar-ku."
"Silahkan. Lakukan saja sesuka-mu."
Ketika aku berjalan nenek yang tubuhnya kecil dan bungkuk itu kembali bertanya.
"Apakah kamu akan menghancurkan desa ini nak?"
Sambil berjalan kedepan aku menjawab pertanyaan-nya itu.
"Tentu saja tidak, bagaimana bisa aku menghancurkan sesuatu yang sudah kumiliki."
"Hm, kalau begitu aku sangat berterima kasih. Bagaimana-pun desa ini adalah satu-satunya kenangan yang kumiliki bersama suami dan anak-ku."
'Keluarga ya, apakah mereka semua telah tiada?'
Walaupun tetap berjalan menuju kamarku, mendengar hal itu membuat-ku tersenyum. Aku bersyukur karena telah mengetahui alasannya itu dan tidak merusak pedesaan ini.
Setelah sampai di kamar-ku aku bisa menemukan sebuah ranjang yang ukurannya tidak terlalu besar, tapi itu cukup luas untuk tubuh-ku yang masih bocah ini.
Sebuah meja dan kursi kecil juga di tempatkan di dekat jendela kamar ini, sekilas itu seperti sebuah meja belajar lalu semua bagian kamar ini cukup bersih walaupun terbuat dari kayu-kayu sederhana.
Aku mencoba untuk duduk di ranjang, sepertinya ranjang ini diisi oleh jerami yang dilapisi oleh beberapa lapisan kain. Ini cukup nyaman dibandingkan tempat tidurku saat di gunung.
Langit sudah mulai gelap saat aku membuka jendela yang ada di kamar ini, disana aku bisa melihat warga desa yang masih sibuk berbicara satu sama lain di salah satu halaman rumah yang ada.
Tak lama setelah aku memperhatikan mereka, nenek yang sebelumnya bersama-ku datang berjalan menghampiri mereka. Dari ekpresi wajah mereka kelihatannya para warga masih tidak setuju dengan keputusan yang dibuat oleh nenek.
Beberapa warga yang ada juga sepertinya sudah siap pergi dengan mengemaskan barang mereka, bahkan ada beberapa kuda yang mulai datang.
Melihat itu sudah jelas bahwa mereka menganggap keberadaan-ku ini adalah sebuah ancaman.
Memperhatikan mereka membuat-ku tak sadar bahwa langit sudah menjadi benar-benar gelap, beberapa warga juga sudah mulai menyalakan lentera yang dimilikinya.
'Udara sudah jadi sedingin ini ya?'
Dengan begitu akupun mulai menutup jendela kamar-ku dan mulai berbaring di ranjang yang hangat ini.
Mereka mau pergi atau tinggal aku benar-benar tidak peduli, bagaimanapun ranjang ini benar-benar membuat punggungku terasa nyaman.
'Ah~ Mantap!'
Setelah berbaring dan memejamkan mataku sebentar, tanpa sadar aku mulai tertidur.
♤
Hari telah berganti, aku merasa bahwa kali ini diriku telah tidur lebih lama dari biasanya.
Membuka jendela kamar membuat-ku menyadari matahari telah naik cukup tinggi, dan aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah-ku.
Ketika aku berjalan keluar kamar dan sampai di ruang depan, aku melihat nenek yang sedang menyiapkan makanan di meja.
Makanan-makanan itu sepertinya baru saja matang, melihat bagaimana asap uap tercipta karena itu masih panas.
__ADS_1
"Nak suji, kemarilah. Ayo kita makan bersama."
"Aku akan datang setelah membasuh wajah-ku."
"Kalau begitu aku akan menunggumu."
Aku-pun pergi menuju kamar mandi yang ada di luar bagian belakang rumah ini, bisa dibilang kamar mandi ini mungkin cukup lazim di era abad pertengahan.
Aku membasuh wajah-ku dengan kantung air yang selalu kubawa, entah mengapa aku merasa air di kantung ini lebih bersih dan segar.
'Beruntung aku memilih artefak ini.'
Setelah aku selesai membersihkan diriku, aku kembali masuk dan pergi duduk di meja makan bersama nenek.
"Sepertinya tidur-mu sangat nyenyak, apakah kamarnya nyaman?"
"Ya, itu cukup nyaman. Apakah dulu itu adalah kamar anak-mu?"
"Itu benar."
"Begitukah, pasti anak-mu sudah pergi dan memiliki keluarga bukan?"
"Ha-ha, kamu terdengar seperti orang dewasa."
"H-hehe, aku hanya asal bicara kok."
'Ya, memang aku ini sudah dewasa.'
Ketika aku sedang memikirkan hal tersebut nenek yang ada di hadapan-ku mulai berbicara kembali, namun kali ini dia membicarakan topik yang cukup serius untuk dibahas bersama anak kecil sepertiku.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan pada dunia ini nak?"
"Ha? Maksud nenek?"
"Sepertinya kamu belum menyadari bahwa keberadaan-mu itu seperti sebuah kotak pandora ya?"
'Pandora ya.'
Di dunia-ku berasal kotak pandora sendiri adalah sebuah kotak atau peti harta yang berisi kutukan, singkatnya itu adalah sumber masalah besar yang tidak di inginkan.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang nenek bicarakan."
"Jelasnya, keberadaan-mu itu akan membuat perubahan besar pada dunia ini. Entah itu baik ataupun buruk, jadi apa jawaban-mu?"
"Aku mengerti, berarti nak Suji akan menghancurkan dunia ya?"
"Tidak, aku tidak tertarik."
"Kalau begitu apa?"
"Aku akan menjadi yang terjahat agar aku bisa mengatur kejahatan itu sendiri."
Terkejut mendengar jawaban-ku, nenek tersebut tak lama mulai tersenyum dan mengakhiri topik pembicaraan yang serius ini.
"Aku berdoa semoga perjalanan menuju tujuan-mu itu lancar, kalau begitu ayo kita makan."
'Benar juga, makanan ini akan dingin jika tidak segera dimakan.'
"Ya! Terima kasih atas hidangannya nek, selamat makan!"
"Selamat makan."
Aku-pun mulai menyantap sebuah sup yang berisi berbagai macam sayuran di sebuah mangkuk kayu ini, beberapa sayuran terlihat seperti wortel dan juga kentang.
Dengan aroma rempah-rempah yang belum pernah ku ketahui sebelumnya, aku merasa bahwa sup ini tidak terlalu buruk.
Kuahnya-pun terasa cukup hambar, namun itu tidak terlalu karena aroma rempah yang ada seakan membantu kekurangan tersebut.
Dan berkat sup itu aku siap menjalani hari ini.
Setelah kami selesai makan dan membersihkan semua peralatan, nenek mengajak-ku untuk berkeliling desa sambil melihat berapa warga yang tersisa sejak kedatangan-ku.
Nenek memberitahuku bahwa ada sebagian warga yang pergi meninggalkan desa saat malam hari, hasilnya nenek ingin melihat siapa saja yang masih tetap tinggal sekarang ini.
Saat kami berjalan menyusuri perumahan yang ada, beberapa warga yang sedang beraktivitas di luar langsung kembali masuk kedalam rumahnya saat melihat-ku.
Namun dari semua itu terdapat satu anak kecil pemberani yang muncul di depan-ku dan membuat-ku berhenti.
"Yo! Edward!"
'Jadi keluarganya tetap tinggal ya?'
"Cih! Karena kau, banyak dari teman-teman ku yang pergi bersama keluarga-nya meninggalkan desa ini!"
__ADS_1
Nenek yang sedang bersama-ku mulai menggelengkan kepalanya saat melihat Edward yang sedang berusaha menghalangi jalan-ku.
"Ehh? Mengapa kau menyalahkan-ku?"
"Memang siapa lagi yang harus di salahkan?!"
"Haha! Tentu saja kau. karena kau, aku lebih mudah menguasai desa ini. Blwe!"
'Menggoda anak kecil sepertinya memang seru ya!'
Mendengar jawaban-ku membuatnya marah dan dia maju sambil mengepalkan tinjunya sekuat tenaga, sayangnya aku berhasil menahan itu dengan mudah.
'Sekarang tubuhnya sudah tidak gemetar karena ketakutkan lagi.'
Terkadang rasa benci dan dendam akan membuat seseorang menjadi sangat kuat, bahkan kau seperti tidak memiliki rasa takut terhadap apapun.
"Itu adalah semangat yang bagus, tapi jika hanya semangat yang kau punya maka kau akan lebih cepat mati ditangan-ku."
Sementara satu tangan-ku menahan tinjunya, tangan-ku yang lain mulai mendekati keningnya hingga disana aku-pun menyentilnya dengan santai.
Itu cukup membuatnya terhempas dan terjatuh, walaupun itu tidak jauh namun dia melayang cukup tinggi dari tanah.
"G-hakh!"
'A-apakah aku berlebihan?'
Saat itu Edward hanya bisa berbaring ditanah hingga akhirnya aku dan nenek berjalan melewatinya.
"Baru kali ini aku melihat kepala desa yang sangat tidak ramah."
"Apa yang nenek katakan? Bukankah nenek yang kepala desanya?!"
"Tentu saja tidak. Bukannya kamu bilang ingin mengambil desa ini menjadi milik-mu?"
"Tidak-tidak! Bukan itu maksud-ku, aku hanya ingin desa ini menjadi mikik-ku secara hukum rimba saja. Apakah nenek mengerti?"
"Jadi begitu, kalau begitu kamu seperti seorang penjajah yang sedang memperluas daerah kekuasaan-mu ya?"
"Itu benar!"
"Kalau begitu sekarang desa ini sudah bukan lagi bagian dari Tronaria Kingdom ya?"
"Tronaria kingdom?"
"Ya, itu adalah salah satu dari tujuh kerajaan besar yang ada di dunia ini, jangan bilang kamu juga tidak tahu akan hal itu."
"He-he, aku tidak tahu nek."
Saat itu aku menyadari bahwa semua pengetahuan yang Aoryu berikan padaku hanyalah dasar-dasar tentang monster, sihir, dan cara bertarung.
'Astaga.'
Tapi ngomong-ngomong...
"Nenek apakah aku boleh tahu siapa namamu?"
"Oh, aku lupa siapa namaku sejak lama sekali. Tapi warga desa selalu memanggil-ku nenek Bei!"
"Hah?!!"
'Bagaimana bisa dia ingat soal dunia ini, sementara namanya sendiri tidak.'
Ketika aku memikirkan hal tersebut tanpa disadari kami telah sampai diladang yang cukup besar, disana aku bisa melihat beberapa orang yang kelihatannya sedang mengurus ladang tersebut.
"Ini ladang apa?"
"Ini adalah ladang gandum, desa kami selalu memasok gandum untuk kerajaan dan sebagai imbalan-nya kami mendapatkan olahan-olahan dari gandum tersebut."
"Bukankah lebih baik jika kalian mengolah-nya sendiri?"
"Sayang-nya mesin pengolah yang dimiliki oleh desa ini sudah lama rusak, padahal dulu kami bisa mendapatkan beberapa keping emas jika sudah mengolahnya."
"Apakah mesin itu tidak bisa diperbaiki?"
"Tidak, sumber tenaga untuk mesin tersebut adalah batu mana yang sangat besar. Itu sudah dipakai beberapa dekade sehingga akhirnya batu mana tersebut telah habis."
'Tunggu, kedengarannya itu seperti baterai di dunia-ku sebelumnya.'
"Kalau begitu apakah aku boleh melihat mesin itu?"
"Ya, tentu saja. Itu memang tujuan kita berikutnya."
Dengan begitu, aku dan nenek kepala desa ini kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat mesin pengolah gandum itu berada.
__ADS_1