We Will Be Together Someday

We Will Be Together Someday
Chapter 01


__ADS_3

"Terimakasih, silahkan datang kembali."


Emma, gadis itu tersenyum usai beberapa pengunjung swalayan tempatnya bekerja pergi setelah berbelanja. Setelah pulang dari kampus, Emma langsung bekerja menggantikan karyawan yang dapat shift pagi. Beruntung swalayan ini memiliki sistem bekerja dengan shift, jadi tak membuat Emma kerepotan jika mendapatkan jadwal kuliah pagi atau siang.


"Ma, kamu di panggil kak Gio tuh." Sandra, rekan kerjanya yang juga masih kuliah berdiri di hadapannya. Emma yang sedang menghitung uang di laci kasir menoleh kearah telunjuk Sandra. Ya, ada kakak kelasnya sewaktu SMA tengah berdiri di luar.


Emma menghela napas pelan.


"Tolong gantiin aku sebentar ya, nanti pulang kerja aku traktir makan bakso."


"Oke." sahut Sandra dengan senang. Siapa yang tak senang jika di traktir makan malam, jadi uang yang seharusnya untuk beli makan bisa di tabung untuk kebutuhan yang lain.


Emma berlari kecil menghampiri Gio, seniornya juga di kampus.


"Kak," sapa Emma sambil menepuk bahu Gio dari belakang. Gio membalikkan badannya lalu tersenyum lebar.


"Lagi sibuk ya?"


"Banget. Emang kenapa?"


"Nanti malam mau ajak kamu makan malam di tempat biasa. Tapi kayaknya gak bisa deh, saking banyaknya pengunjung swalayan." ucap Gio sembari melihat ke dalam swalayan. Sekarang akhir pekan, memang banyak pengunjung yang membeli barang-barang keperluan apalagi hari ini tanggal di awal bulan.


"Kalo gak gini aja kak, pas waktunya pulang aku kabarin kakak deh. Sekalian ngajak Sandra, soalnya aku udah janjiin dia di traktir."


Gio tampak berpikir lalu mengangguk setuju. Tak ingin menggangu pekerjaan pujaan hatinya, Gio pamit pulang setelah mengusap sayang rambut hitam milik Emma.


"Hati-hati ya kak. Nanti malam aku kabarin." sahut Emma.


Gio yang sudah menaiki motornya, mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.


Emma kembali masuk ke dalam dan melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Sandra membantu Emma memasukkan barang-barang belanjaan pengunjung.


Sebenarnya Emma dan Gio tak pernah pacaran, namun keduanya berjanji akan melangkah lebih jauh jika sudah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan tetap. Jadi, baik Gio maupun Emma hanya melakukan pendekatan yang tentunya dua belah pihak keluarga sudah mengetahuinya. Gio merupakan anak tunggal di keluarganya dan saat ini tinggal sendiri sementara orang tuanya di luar kota untuk bekerja. Lalu, Emma anak bungsu di keluarganya hanya dia yang masih tinggal bersama orang tuanya lantaran sang kakak sudah menikah dan tinggal di luar negri karena pekerjaan.


°°°°°


Tepat jam 11 malam, swalayan akhirnya tutup dan semua pegawai bekerja sama membersihkan swalayan.


"Langsung pulang ya anak-anak, soalnya ini udah jam 11. Takut ada apa-apa dengan kalian apalagi yang perempuan. Para pria tolong iringi mereka yang perempuan pulang ke rumah masing-masing." titah pak Edo, manager swalayan.


"Baik pak."


"Ya udah silahkan pulang ke rumah masing-masing." pria berusia 40 an tersebut berlalu menuju parkiran untuk mengambil motornya. Walaupun pak Edo kaya, namun pria itu lebih nyaman menggunakan motor dibanding mobil. Itu yang di tangkap Emma selama bekerja di sini.


"Sandra, Emma kalian gak pulang?" tanya Rino, salah satu pekerja pria.

__ADS_1


"Kami gak bawa motor kak." ucap Sandra yang di angguki Emma.


"Rumah kalian jauh gak dari sini?" tanya Yuda, rekan kerja yang lain. Yuda sudah beristri, sedang hamil kabarnya.


"Kalau aku dekat kak tapi Sandra bakalan nginap di rumah aku kak." ucap Emma.


"Iya kak, udah malem banget soalnya. Lagian rumah ku jauh dari sini."


"Ya udah, kita anterin aja ke rumah Emma." ucap Rino pada Yuda. Yuda menganggukan kepalanya.


Emma dan Sandra tampak ragu mengiyakan, apalagi Yuda yang sudah beristri. Mereka tak mau ada yang salah paham.


"Ayo naik aja. Istriku gak bakal marah kalau aku ngomong ke dia sepulang dari sini."


Terpaksa Emma naik ke motor Yuda sedangkan Sandra bersama Rino. Kalo menunggu ojek online, terlalu lama. Di daerah sini kalau malam sudah kelihatan sepi.


Tak berapa lama, Emma dan Sandra sampai di rumah minimalis milik kedua orang tua Emma. Tampak dari depan rumah, Erna, ibu Emma tengah menunggu kepulangan Putri bungsunya. Di temani Anwar, ayah Emma.


"Makasih kak, tolong sampaikan pada istri kakak maaf udah nebeng ke motor suaminya." ucap Emma sambil turun dari motor.


"Gak papa kali, tapi bakalan aku sampaikan kok ke Gina."


Rino dan Yuda langsung pulang setelah mengantara Emma dan Sandra ke rumah.


"Tadi di swalayang banyak pengunjung, rame banget deh pokoknya mah." kata Emma sembari melepaskan sepatunya.


"Tapi kan bisa kamu kabarin ke rumah Ma, kalo kayak gini terus kamu gak usah kerja. Mama sama papa masih bisa biayain kamu."


"Ih mama apa-apaan sih. Aku seneng kerja disana apalagi banyak teman-teman, biar nambah wawasan tauk."


"Ya udah terserah kamu tapi kalo pulangnya jam segini, tolong kabari ke rumah. Nak Sandra, tadi mama kamu nelpon kalo kalian lama pulang, di suruh nginep di sini dulu besok pagi bakal di jemput sama abang kamu." kata Erna pada Sandra yang duduk di sofa bersama Emma.


"Iya tante tadi mama udah WA aku kok. Makasih tante udah ngizinin aku tidur disini." ucap Sandra sambil tersenyum.


"Ish jangan sungkan kayak gitu, anggap aja ini rumah kamu sendiri. Kalo gitu kalian makan gih, Emma panasin lagi lauk yang tadi udah mama masak."


"Ya mah. Ayo makan, perut aku udah keroncongan nih." ajak Emma. Kedua gadis itu berlalu ke dapur.


"Pah, ayo masuk udah malem nih." ajak Erna pada suaminya.


Anwar baru saja menutup pagar rumahnya dan memasukan motor ke dalam bagasi. Lalu menutup pintu.


"Mana anak-anak mah?" tanya Anwar setelah mengunci pintu.


"Tuh lagi makan. Papa gak mau makan lagi?"

__ADS_1


"Gak udah kenyang. Selagi anak-anak sedang makan, ada yang mau papa bicarain sama mama." ucap Anwar dengan serius. Erna mengernyit heran melihat suaminya.


"Bicara apa?"


"Ayo ke kamar, jangan sampai Emma tau."


"Emang kenapa pah?"


"Nanti mama bakalan tau, ayo."


Mau tak mau Erna mengikuti langkah sang suami menuju kamar mereka.


Sementara itu, Emma dan Sandra sedang asyik makan tanpa menyadari Gio tengah menunggu pesan dari Emma sendirian di balkon rumahnya.


"San, kamu ingat sesuatu gak?" tanya Emma sambil mengunyah ayam rendangnya.


"Enggak tuh, kenapa? Ada yang ketinggalan di swalayan?"


Emma menghentikan kunyahan nya, tak berapa lama matanya membulat sempurna lalu menepuk dahinya pelan.


"Astaga aku lupa ngabarin kak Gio kalo malam ini gak bisa nerima ajakan dia makan malam di tempat biasa."


Sontak Emma berlari kecil ke ruang tamu untuk mengambil tasnya.


"Ih dasar pelupa." gumam Sandra yang tampak menikmati makan malamnya.


Emma meraih ponselnya dari dalam tas. Lalu mengetikkan pesan untuk Gio.


'Kak, maafin aku udah lupa ngabarin ke kakak kalo aku gak bisa terima ajakan kakak. Lain kali aja kita makan malamnya ya. Sekali lagi maafin aku ya kak.' 


Pesannya terkirim namun masih centang satu. Emma menaruh kembali ponselnya.


"Pah, apa papa yakin sama keputusan papa ini?"


"Papa berat melepaskan Emma mah tapi mau bagaimana lagi, pria tua itu akan melukai anak-anak kita jika tak bisa menerima permintaannya."


"Tak ada cara lain supaya Emma tak menikah dengan pria itu pah? Emma masih terlalu muda untuk menikah."


DEG


Menikah? Aku menikah dengan siapa? Terus pak tua itu siapa? Apa jangan-jangan kakek?


Emma mematung di tempatnya, bahkan panggilan dari Sandra tak di hiraukannya.


"EMMA?!"

__ADS_1


__ADS_2