We Will Be Together Someday

We Will Be Together Someday
Chapter 12


__ADS_3

Tepat jam 11 lewat 15 menit, Gio sudah sampai di halaman rumah Emma. Ia akan mengajak Emma ke pameran seni yang sedang diadakan di pusat kota. Setiap tahun Emma pasti tak akan ketinggalan untuk melihat berbagai karya seni dari seniman-seniman terkenal maupun pemula yang berhasil karyanya di pajang untuk kalangan pecinta seni.


Selagi menunggu Emma bersiap, Gio mengajak Lia dan Marcel bermain di teras rumah yang sudah di penuhi banyak mainan dua anak kecil tersebut. Theo keluar dari rumah turut bergabung dengan Gio tak berapa lama Alya datang seraya meletakkan nampan berisi kopi untuk Gio.


"Minum dulu yo."ajak Theo yang sedang meminum kopi susunya.


"Iya bang." angguk Gio.


Alya duduk di sebelah suaminya lalu membaca novel, kebiasaannya ketika sedang santai.


"Dek, masih mual gak perutnya?" tanya Theo pada sang istri.


"Udah enggak kok mas. Oh ya, nanti malam tolong beliin seblak di dekat kampusnya Emma ya? aku lagi pengen soalnya." pinta Alya yang tentu saja di sanggupi Theo.


Gio menoleh pada Theo da Alya yang tengah berbincang. "Kak Alya lagi hamil ya bang?" tanyanya.


Theo menganggukkan kepalanya seraya mengusap perut Alya yang masih datar.


"Iya yo, baru 4 minggu." sahut Theo.


"Kesampaian juga impian bang Theo punya anak banyak. Tahun depan nambah lagi gak bang?" canda Gio yang di sambut tawa renyah oleh Theo.


"Ya nambah lah. Mungkin 7 anak lagi, iya gak sayang?"


Alya memukul paha Theo pelan. Ia menundukkan kepalanya karena takut di ledek sebab pipinya bersemu merah karena ucapan Theo tadi.


"Kak Gio, ayo kita berangkat." Emma keluar dari rumah lalu memasang sepatunya dengan tergesa-gesa.


"Eh udah siap ma? ya udah ayo."


Gio berpamitan pada Theo dan Alya, lalu berjalan menuju motornya. Lia dan Marcel penasaran kenapa tantenya terburu-buru malah merengek ingin ikut.


"Tante mau kemana? aku ikut ya?" rengek Lia.


"Marcel juga ingin ikut, tante aku ikut ya?" Marcel memeluk kaki Emma yang membuat Emma kesulitan berjalan.

__ADS_1


"Aduh sayang, tante gak bisa bawa kalian. Lain kali aja kita pergi mainnya ya." bujuk Emma yang langsung di balas tangusan Lia dan Marcel.


Alya beranjak dari duduknya lalu meraih kedua anaknya, ia membujuk Lia dan Marcel ikut dengannya dan Theo untuk membeli seblak nanti malam. Kedua anak kecil itu akhirnya mau di bujuk setelah Emma juga menjanjikan membelikan sesuatu untuk mereka.


"Iya nanti tante beliin boneka beruang sama mobil-mobilan. Oke, jangan nangis lagi. Tante pergi dulu ya."


Emma mengecup kening Lia dan Marcel lalu berpamitan dengan kedua kakaknya. Ia duduk di atas motor setelah Gio memberika helm padanya.


"Kak Alya, kak Theo aku pergi dulu. Bye." Emma melambaikan tangan pada Theo dan Alya.


"Iya hati-hati, Gio jangan ngebut bawa motornya." seru Alya.


"Siap kak."


Motor yang di kendarai Gio menghilang di balik tembok samping rumah tetangga yang memang jalan menuju jalan Raya.


"Ayo anak-anak kita ke rumah sakit jengukin nenek." ajak Theo lalu berjalan ke dalam menyusul istrinya.


"Yeayyy!" seru Lia dan Marcel senang.


°°°°°


Marina mengetuk pintu kamar Tania sembari membawa nampan berisi makanan untuk Putri sulungnya yang sudah 2 hari ini tidak keluar kamar. Marina beranggapan kalau anaknya sakit dan malas beranjak dari tempat tidur, namun kali ini ia merasa janggal karena Tania tak keluar kamarnya walau sedetik.


Tari yang berdiri di sebelah sang ibu, terus mencoba menelpon ponsel kakaknya berharap di angkat Tania tapi Tania hanya membalas pesannya mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Tentu Tari dan Marina tak percaya begitu saja.


"Mah, kalo gak salah kita ada kunci cadangan kamar ini deh. Mama ingat gak dimana mama simpan kuncinya?" tanya Tari.


Marina menghela napasnya pelan. "Kuncinya udah lama hilang Ri, cuma kunci cadangan rumah ini yang mama simpan."


Tari menjatuhkan bahunya lemas. Ia kembali mengetuk pintu kamar kakaknya dengan lesu.


"Mbak, ayo dong buka pintunya. Daritadi mamah berdiri terus di depan kamar mbak. Apa gak kasihan lihat mama khawatir sama mbak? mbak buka ya pintunya?"


Sementara di dalam kamar bernuansa merah muda, terlihat Tania duduk sambil memeluk kakinya di atas kasur. Ia menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut tebal peninggalan mendiang ayahnya. Selimut usang yang selalu di pakai ayahnya ketika musim dingin.

__ADS_1


Pakaian yang ia kenakan masih sama seperti pakaian kemarin, rambut yang acak-acakan serta wajah yang berminyak karena tak di basuh. Matanya sembab sebab menangis sepanjang malam mengingat hal laknat yang terjadi padanya siang itu.


"Papa, put-rimu telah di-nodai. Maafka-n ak-ku karena tak bisa menjaga diri sendi-ri."lirih Tania sesegukan. Kadang ia menggosok tubuhnya dengan sekuat tenaga seakan menghilangkan kotoran yang menempel di kulitnya. Namun bukannya bersih malah terdapat banyak memar di sekitar lengannya.


"Aku harus menghilangkan jejak si bajingan itu, ya harus." Tania beranjak dari kasurnya dan melesat pergi ke kamar mandinya.


Ia mengambil gayung lalu mengguyur tubuhnya berulang kali dengan sesekali menggosok tubuhnya.


"Vano, maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga diri sendiri. Vano, Vano tolong aku!" jerit Tania di sertai isak tangis. Ia meringkuk di sudut kamar mandi. Ia merasa dirinya tak sempurna lagi setelah pria asing itu merenggut sesuatu darinya yang akan ia berikan pada suaminya nanti. Ia takut Vano tak mau lagi dengannya dan malah meninggalkannya jika kejadian 2 hari yang lalu di ketahui pria yang ia cintai tersebut.


"Mah, kayak suara orang lagi mandi di dalam kamarnya mbak Tania. Apa jangan-jangan mbak Tania lagi mandi ya?"


Tari menempelkan telinga di daun pintu kamar Tania.


"Masa sih Ri?" Marina ikutan seperti Tari.


"Oh kamu benar, semoga saja mbak mau keluar. Kita tunggu di meja makan aja ya."


"Iya mah."


Marina dan Tari berlalu ke meja makan sambil menunggu Tania keluar dari kamarnya.


°°°°°


"Gimana? berhasil atau gagal?" tanya seseorang di balik kursinya yang sedang menghadap ke belakang.


"Berhasil tuan."


"Bagus. Kau jangan menyesalinya, aku tau kau sudah lama memendam perasaan untuk gadis itu. Anggap saja sebagai umpan jika seandainya berbuah dan kau bisa bertanggung jawab pada gadis itu."


"Iy-ya tuan. Saya mencintainya sampai detik ini tapi takdir berkata lain."


"Hem. Pergilah, aku ada urusan sebentar lagi."


"Saya permisi tuan."

__ADS_1


__ADS_2