
Beberapa hari kemudian, Emma duduk di salah satu kursi tunggu rumah sakit. Ibunya sudah boleh pulang hari ini, ayah dan kakaknya sedang menemani sang ibu bersiap. Kakak ipar dan dua keponakannya tak di perbolehkan ikut oleh Theo. Jadilah hanya mereka saja menjemput Erna dengan menggunakan mobil milik Theo.
Emma tengah menunggu notifikasi pesan dari Gio. Mendadak pria itu pulang ke rumah orang tuanya di luar kota dan baru mengabari Emma setelah sampai di rumahnya.
"Kak Gio kok lama banget balas pesannya sih?!" gerutunya sembari menatap layar ponselnya.
"Emma, mama udah siap nih. Tolong kamu dorong kursinya mama, kakak sama ayah mau angkat barang-barang mamah." Theo tiba-tiba datang dan menyuruh Emma.
Emma segera berdiri dari duduknya lalu menyimpan ponselnya di tas selempang yang ia pakai.
"Eh iya kak, bentar."
Gadis yang baru genap 20 tahun itu mendorong kursi roda sang ibu menuju parkiran. Anwar dan Theo mengikuti dari belakang.
"Mamah mau makan apa hari ini? Alya udah masak banyak di rumah, katanya untuk menyambut mama yang udah sehat ini." ucap Theo.
"Alya buat sayur asem gak? mama lagi ingin makan itu." tanya Erna.
"Ada mah, aku udah kabarin kak Alya tadi. Kayaknya dia lagi masak sekarang mah." sahut Emma. Erna tersenyum tipis mendengarnya.
Tampak dari luar, Anwar berlari kecil ke arah istri dan anak-anaknya.
"Mobil udah di luar, ayo kita pulang."
Sekeluarga berjalan ke arah mobil, Erna di gendong Theo ke kursi belakang sementara Emma membantu Anwar memasukkan barang ke bagasi mobil.
"Kak, nanti mampir dulu ke supermarket ya. Aku mau beli sesuatu disana." pinta Emma yang sudah duduk di samping Theo yang jadi supirnya. Erna dan Anwar memilih duduk di belakang.
"Oke."
Mobil SUV warna hitam itu melaju pelan meninggalkan area rumah sakit Medical.
°°°°°
__ADS_1
Sorenya sepulang dari kantor, Stevano mengendarai mobilnya menuju kedai milik ibu Tania. Ia nekat pergi tanpa sepengetahuan ayahnya yang saat ini masih berada di kantor. Tanpa di sadarinya, mobil sedan hitam milik salah satu bawahan ayahnya tengah mengikutinya dari belakang. Dean, pria yang lebih tua 3 bulan darinya di perintahkan Guntur untuk memantau kegiatan Stevano.
Selama di kantor, perasaan Stevano mendadak gelisah dan cemas dengan keadaan Tania yang beberapa hari ini sulit di hubungi. Ia mencoba menelpon Tari namun ia ingat Tari sudah mengganti nomor ponselnya lantaran gadis belia itu tempo hari kecopetan saat pulang dari sekolah.
"Ah, sialan." umpatnya sambil membanting ponselnya ke kursi sebelah.
Ponselnya berdering, tertera nama sang ayah dari layar tersebut. Stevano hanya meliriknya saja lalu fokus mengemudi mobilnya. Ia lagi malas berdebat dengan sang ayah. Perdebatan yang awalnya tentang perjodohan nya dengan gadis bernama Emma.
Dua puluh menit kemudian, Stevano akhirnya sampai. Akan tetapi, kedai milik Marina tertutup dan sepi.
Dahi Stevano mengernyit. "Tutup? tidak biasanya, buk Marina tutup di saat jualannya laris manis." gumamnya.
Stevano memutar balikan mobilnya, ke rumah Tania.
Pria berparas tampan itu turun dari mobilnya, ia sedikit bingung kenapa rumah Tania ramai sekali dengan para warga. Salah satu ibu-ibu lewat, Stevano bertanya apa yang terjadi.
"Nak Tania ingin mencoba bunuh diri katanya ia tak ingin hidup lagi." jawaban singkat yang mampu membuat hati Stevano berdetak tak karuan. Ia takut terjadi sesuatu dengan gadis yang amat ia cintai itu.
Lekas Stevano berjalan cepat membelah kerumunan warga yang berdiri di depan rumah Tania.
"Vano, aku takut." ucap Tania yang tentunya tak dimengerti Stevano.
"Kamu kenapa? apa yang terjadi, tolong katakan padaku Tania. Jika ada masalah jangan di pendam, kau punya aku untuk tempat berbagi." kata Stevano yang berusaha menenangkan Tania.
Tania hanya menggeleng cepat sembari menangis. Ia memeluk tubuh Stevano dengan erat. Tiba-tiba matanya melihat seseorang berdiri di antara kerumunan warga.Lantas ia berteriak histeris dan mencengkeram kuat punggung Stevano.
"Tania berhenti, ada apa? Tania kumohon tenang oke?" bujuk Stevano.
Marina dan Tari saling menguatkan, mereka sedih karena tak tau apa masalah Tania hingga gadis itu nekat mencoba bunuh diri dengan meminum cairan pembersih lantai.
Stevano mengalihkan pandangannya ke para warga yang penasaran dengan aksi nekat Tania. Ia menyuruh mereka untuk bubar dengan sopan. Mereka menuruti ucapan Stevano dan kini tinggalah Stevano, Tania, Marina dan Tari.
"Sekarang udah tenang? ada aku disini." Stevano mendudukan Tania di kursi sofa, sedangkan Tari ke dapur untuk membuat teh hangat dan kopi untuk Tania serta Stevano.
__ADS_1
"Bu, kenapa dengan Tania? beberapa hari ini Tania tak di bisa di hubungi, maafkan saya juga karena jarang berkunjung ke kedai ataupun rumah sebab saya sangat sibuk dengan urusan pekerjaan." jelas Stevano.
Marina menceritakan semuanya dari awal Tania tak mau keluar kamar hingga hari ini ia nekat mencoba bunuh diri. Stevano sempat termenung lalu beralih menatap mata Tania yang terdapat kantung mata dibawahnya. Penampilan Tania juga acak-acakan dan masih memakai pakaian tidur.
"Apa yang terjadi waktu itu padamu tania?" pikir Stevano.
°°°°°
Flashback beberapa tahun lalu...
Tania yang kala itu masih kelas 2 SMA tengah menunggu Stevano di depan gerbang sekolah. Rencananya mereka akan ke studio photobook dekat tempat wisata yang sedang ramai tahun ini.
Stevano masih berada di kelasnya karena ada mata pelajaran yang harus di ulangi kembali. Tania sambil menunggu Stevano, ia memainkan ponselnya dan duduk di warung soto ayam milik buk Wati. Ia hanya memesan es teh saja tanpa makanan.
"Oh Tania? sendirian aja?" tanya seseorang yang juga murid di sekolah Tania dan Stevano. Murid itu bertubuh gemuk, wajahnya penuh jerawat, serta hobinya makan coklat. Tania mengalihkan perhatiannya ke murid tersebut.
Gadis 17 tahun itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Iya Alva. Kamu ngapain masih di sekolah? bukannya udah pulang ya?"
Murid bernama Alva itu memamerkan giginya yang rapi. "Mau pulang nih, kamu gak pulang? lagi nungguin teman ya?"
"Nungguin Vano. Dia masih di kelas. Bentar lagi keluar kok. Kamu duluan aja."
Belum sempat Alva menjawabnya, Stevano terlihat berlari dari arah sekolah ke warung buk Wati. "kamu lama nungguin aku ya? Maaf ya, tadi ada temen yang mintak tolong anterin buku paket ke perpus." sesal Stevano.
"Vano? oh nggak kok, ini ada Alva yang nemenin aku ngobrol tadi." Tania menunjuk Alva yang diam berdiri di depannya.
"Makasih ya udah nemenin Tania. Kalo gitu kita pamit ya Alva, bye." Stevano meraih tangan Tania setelah mengucapkan terima kasih pada Alva.
"Oh ya sama-sama no. Lagian aku juga mau pulang."
Stevano menganggukkan kepalanya sementara Tania tersenyum pada Alva. Alva masih berdiri di warung buk Wati namun matanya menatap punggung Tania dan Stevano yang berjalan bersama sambil bergandengan.
"Apa karena aku jelek, kamu gak mau lihat aku ya Tania?" lirih Alva seraya tersenyum miris.
__ADS_1
Flashback off