We Will Be Together Someday

We Will Be Together Someday
Chapter 05


__ADS_3

Pagi ini sesuai janji Stevano yang akan tiba di Indonesia,Tania sudah berdiri di luar bandara seorang diri. Karena tak mungkin dirinya menunggu di dalam sebab ada asisten pribadi ayah Stevano disana. Mungkin saja ada tuan Guntur yang ikut serta menanti kepulangan anak satu-satunya.


Tak berapa lama, pesawat yang di tumpangi Stevano akhirnya mendarat dan beberapa penumpang turun termasuk pria yang dicintai Tania. Stevano berjalan santai sambil menyeret kopernya, wajahnya tampak berseri-seri seraya melambaikan tangan pada ibunya yang juga ada di bandara.


Tania menitikkan air matanya ketika Stevano menatap dirinya dari kejauhan. Stevano mengulas senyum simpul sambil memeluk tubuh ibunya. Tania mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Stevano.


'Aku merindukanmu. Tapi, aku tak bisa ikut serta di sana. Melihatmu tiba dengan selamat, sudah membuatku senang.' 


Stevano meraih ponselnya dan membaca isinya. Ia melihat ke arah Tania berdiri, Tania menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum haru.


"Stevano, tampaknya kamu senang bisa kembali ke Indonesia? Sampai-sampai pria tua ini tak kau tanyai bagaimana kabarnya." tanya Guntur. Stevano membalikkan tubuhnya lalu tertawa kecil dan memeluk tubuh ayahnya.


"Maafkan aku ayah. Aku tak melihatmu tadi."


"Hmm... Tubuhku terlalu kecil rupanya hingga anak bertubuh jangkung ini tak melihatnya." lirih Guntur.


"Tuan besar, mobil sudah siap." ucap supir pribadi keluarga Rahardja.


"Baiklah. Ayo sayang, sepertinya kamu keliatan lelah. Mari kita pulang, di rumah bik Lilis udah masak banyak makanan kesukaan kamu." ucap Indira, ibu kandung Stevano.


"Bik Lilis masih kerja di rumah bu?" tanya Stevano berusaha mengalihkan perhatian ayah dan ibunya agar tak melihat ke tempat Tania berdiri. Tania yang mengerti lirikan mata Stevano, segera beranjak dari sana dan kembali ke tempat kerjanya. Ia tak mau membuat masalah dengan keluarga besar itu walaupun ada Stevano disana.


"Tentu aja. Bik Lilis udah lama kerja sama keluarga kita. Kamu masih 4 tahun aja bik Lilis udah ada di rumah." jelas Indira yang berjalan di sebelah Guntur.


Stevano mengangguk paham. Ia menyerahkan dua kopernya ke supir.


"Kalian pulanglah dulu, ayah mau ke kantor ada hal yang harus diurus." kata Guntur.


Indira berdecak kesal. "Anak baru pulang malah langsung kerja. Apa-apan itu." ucapnya kesal lalu berjalan mendahului anak dan suaminya.


Guntur menggelengkan kepalanya pelan. Ia menoleh pada Stevano. "Ayah harus kembali ke kantor, kamu dan ibu pulanglah dulu. Besok pagi, kamu harus stand by di kantor biar yang cabang di Kanada sepupu kamu yang handle."


"Baiklah. Ayah hati-hati." Stevano masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Melihat mobil yang di tumpangi anak dn istrinya melaju, Guntur berjalan kembali ke dalam bandara bersama asisten pribadinya.


"Aku yakin perempuan itu masih ada di sekitaran sini." gumamnya.


"Biar saya cari kesana tuan." tawar Dean, asisten pribadi Guntur. Guntur menganggukkan kepalanya.


Guntur dan Dean segera memencar mencari keberadaan Tania yang mereka yakini belum terlalu jauh pergi.


"Bagaimana? Kamu menemukan perempuan itu?" tanya Guntur pada Dean yang baru kembali. Ia tak melihat keberadaan Tania di dalam bandara.


"Saat saya melihatnya, dia sudah keburu pergi naik motornya pak." ucap Dean sambil menundukkan kepalanya.


Guntur menghela napasnya kasar.


"Ini tak bisa dibiarkan, Stevano harus menikah secepatnya. Aku tak mau perempuan itu terus bersama Stevano." gumam Guntur.


Dean yang tak mau ikut campur masalah atasannya, hanya diam dan berkutik apapun.


Setelahnya Guntur dan Dean pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah pulang dari kampus, Emma memilih tak masuk kerja dengan alasan sakit kepala. Jadi, duduk di taman dekat kampus menjadi pilihannya sendirian. Sandra kerja sedangkan Gio masih ada jadwalnya di kampus.


Emma duduk termenung di kursi taman sambil memegang kotak musik hadiah dari Gio. Ia melirik kotak musik tersebut dengan datar lalu beralih menatap tanaman-tanaman Indah dihadapannya.


Flashback


Tadi malam sepulang dari kampus, papa dan mamanya duduk diam di sofa ruang tamu. Emma mendekati keduanya dan menyalami satu per satu. 


"Mama, tau gak aku di kasih ini sama kak Gio kemarin malem. Bagus gak?" tanya Emma dengan wajah riangnya sambil mengeluarkan kotak musik dari dalam tasnya. Ia tersenyum senang tanpa menyadari perubahan wajah papa dan mamanya yang menatapnya sendu. 


Emma meletakkan kotak musik pemberian Gio ke atas meja saat tak ada respon apapun dari kedua orang tuanya. Emma menatap keduanya dengan tatapan heran dan bingung. 


"Kenapa mah, pah?"  tanya Emma pelan. Ia mengusap lembut lengan sang mama lalu beralih pada papanya. 

__ADS_1


"Kok diem aja sih pah mah? Coba bilang sama Emma, kalian kenapa? Apa kak Theo sama istrinya baik-baik aja? Mah, pah." desak Emma. Wajahnya berubah panik. Dalam pikirannya ada hal yang terjadi pada keluarga kecil kakaknya. 


"Emma?" lirih Anwar tanpa menatap wajah sang anak. 


"Iya pah. Ada apa?" tanya Emma dengan cepat. 


"Papa bisa minta satu kali ini aja gak? Ini demi kita semua. Hanya sekali ini saja." kata Anwar yang tak di mengerti Emma.


Erna memegang tangan sang suami, Anwar menoleh pada istrinya tersebut. Dengan tatapan memohon, Erna tak ingin anaknya menjadi korban keserakahan papa mertuanya. 


Anwar mengusap wajahnya kasar. Ia kembali menatap sang anak. Sebenarnya ia tak ingin Emma menikah muda, Anwar ingin Emma mengejar cita-citanya terlebih dahulu dan menikmati masa mudanya. Namun, papanya memberi ancaman yang tentunya menyangkut keluarganya. 


"Papa ingin, kamu menikah dengan pria pilihan papa nak." 


Seketika pergerakan Emma terhenti, Emma menatap wajah papanya bingung. 


"M-maksud papa apa? Emma gak ngerti." 


"Menikahlah dengan pria yang akan papa jodohkan sama kamu. Penuhi permintaan papamu ini. Selama ini papa tak pernah menuntut apapun padamu tapi hanya sekali ini saja tolong turuti permintaan papa." jelas Anwar dengan terpaksa. 


"Tapi pah, permintaan papa ini menyangkut kehidupanku. Lagipula aku belum selesai kuliah, aku masih ingin mengejar masa depanku pah. Kak Gio akan melamarku nanti setelah mendapat pekerjaan, papa dan mama tau itukan. Apa kata orang tua kak Gio nanti." sentak Emma tanpa sadar. 


"Emma, jangan bicara terlalu keras pada papamu nak." tegur Erna. 


Emma menghela nafasnya pelan. Ia duduk kembali. 


"Maafkan aku pah. Aku tak sadar bicara kasar pada kalian. Maaf." ucap Emma dengan nada pelan. 


"Maafkan papamu ini nak. Tapi, papa mohon tolong penuhi permintaan papamu ini." 


Flashback off


Emma sendiri heran, kenapa papa dan mamanya meminta hal itu padanya. Bahkan kedua orang tua itu selalu menyuruhnya agar belajar dengan giat biar dapat pekerjaan yang baik di masa depan. Tapi, kenapa papa dan mamanya berubah pikiran.

__ADS_1


"Jadi, benar waktu itu aku denger kalao mereka mau nikahin sama orang lain. Tapi, kenapa secepat ini? Sampai aku jodohkan segala. Lalu kak Gio bagaimana? Papa dan mama setuju dengan kak Gio." gumam Emma.


__ADS_2