
Di Kanada, Stevano tengah mempersiapkan segala barang-barangnya yang akan ia bawa kembali ke Indonesia 2 hari lagi. Tak lupa ia juga membawa sesuatu untuk kekasihnya yakni Tania Naissa. Rasanya ia ingin cepat-cepat kembali ke Indonesia karena dan memeluk erat sang kekasih. Selama 5 tahun tak pernah berjumpa dengan Tania hanya berkirim pesan saja itupun tanpa sepengetahuan ayah dan kakeknya.
"Masuk!" ujar Stevano saat ada seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Tuan muda, ayah anda ingin bicara dengan anda. Tolong aktifkan ponsel anda." ucap Edward, asisten pribadinya. Setelah mengucapkan pesan tuan besar, Edward segera pergi dari kamar Stevano.
Stevano yang sedang menyusun pakaiannya ke dalam koper menghembuskan nafasnya kasar. Lantas ia mengambil ponselnya di atas meja, lalu menelpon ayahnya. Tak berapa lama panggilanya tersambung, tuan Guntur mengangkat telpon dari Stevano.
"Wah, tumben kamu yang telpon papa duluan. Ada gerangan apa ini?"
"Bukannya papa yang ingin bicara denganku? Ada apa?" tanya Stevano yang kemudian duduk di sofa empuknya.
"Beginikah caramu berbicara dengan papa setelah 5 tahun ini? Sangat sopan sekali."
"Bagaimana kabar mama,kakek dan nenek pah? Kalian sehat semua kan?"
"Tentu saja sehat. Tapi, kakekmu ingin kau segera pulang. Ada yang ingin beliau sampaikan padamu."
"Ya tentu aku akan pulang dan kembali tinggal di Indonesia. Kenapa tidak sekarang juga bicara padaku?"
"Jika kamu ingin tahu,makanya cepat pulang. Atau ada hal lain yang ingin kau tuju setelah di Indonesia?"
Stevano seketika menjauhkan ponselnya dari telinga. Kenapa papanya bisa tau jika ada hal lain yang ia lakukan. Apa jangan-jangan selama ini papanya telah memata-matainya? Tapi tidak mungkin sebab pria paruh baya itu sudah janji padanya sebelum dirinya berangkat ke Kanada.
"Hallo?? Stevano?!"
"Pah, lain kali aku hubungi kembali. Aku mau tidur dulu, selamat malam."
Tanpa mendengar respon papanya, Stevano langsung mematikan ponselnya.
Stevano yang memang merasa kelelahan segera beranjak tidur. Ia mematikan lampu kamar lalu tidur untuk menyelami dunia mimpi.
°°°°°
"Wih ada yang baru dapat kado nih... Cie cie." goda Sandra ketika Emma masuk ke kelas pagi ini. Sandra sudah tiba lebih dulu di antar kakak laki-lakinya dan menunggu Emma di dalam kelas sambil mengulang kembali materi minggu lalu.
"Ih apaan sih." kata Emma lalu menduduki kursi di sebelah Sandra yang memang kosong.
__ADS_1
"Btw, apa yang di kasih kak Gio kemarin? Kasih tau dong."
Emma pura-pura berpikir sambil menangkup dagunya dengan tangan kanannya di atas meja. "Apa ya?"
Sandra mendelik kesal. "Kasih tau dong Ma. Aku kepo nih."
Emma mengeluarkan sesuatu dari tas nya dan meletakkanya di hadapan Sandra. Sontak Sandra berdecak kagum melihat benda mewah yang di perlihatkan Emma padanya.
"Ini kan limited edition Emma. Ke-kenapa kak Gio bisa dapat ini?" kata Sandra sembari memegang benda tersebut.
Emma tersenyum manis lalu melirik benda istimewa dari Gio.
"Gak tau. Ini kan kado dari kak Gio, berarti suprise lah."
Kotak musik dengan mainan seorang balerina di atasnya. Kotak musik ini memang sedang di gemari anak-anak muda saat ini termasuk Emma yang sudah menabung untuk membeli kotak musik klasik keluaran dari salah satu negara di Eropa.
"Ih boleh aku pinjem gak?" tanya Sandra.
Emma segera memeluk kotak musiknya lalu menggeleng keras.
"Nggak lah. Ini kado masa aku pinjemin sih."
"Biarin."
Dan tak lama dosen datang lalu mulai mengajarkan materi minggu lalu. Emma menyimpan kembali kotak musiknya ke dalam tas.
°°°°°
Hari ini Anwar memilih tak masuk kerja, ia beserta sang istri terpaksa mendatangi rumah ayahnya tanpa sepengetahuan Emma dan Theo, anak laki-lakinya. Hanya 3 jam dari rumahnya untuk sampai ke kediaman lelaki tua tersebut.
Satpam yang berjaga di luar, segera membukakan pagar rumah ketika tau anak dari atasannya datang setelah sekian lama pergi dari rumah mewah ini.
"Bapak masih kerja disini?" tanya Anwar pada pak Budi, pria paruh baya yang sudah lama bekerja untuk ayahnya. Mungkin sejak Anwar masih sekolah.
"Iya tuan. Kalau saya tidak kerja, bagaimana kehidupan istri dan anak-anak saya tuan." jawab pak Budi seraya menunduk.
Anwar menepuk bahu paka Budi pelan lalu masuk ke halaman rumah setelah mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Di dalam rumah, Chandra duduk di sofa sembari meneguk secangkir teh hangat. Dan tak lama, kepala pelayan rumahnya datang untuk mengatakan Anwar dan Erna telah tiba.
Chandra tersenyum miring, ia berdiri untuk menyambut anak dan menantu tak di anggapnya.
"Selamat datang anakku. Papa kira kamu akan datang sendiri tapi datang bersama perempuan ini. Ya sudah tidak apa-apa, ayo masuk." Chandra mengajak masuk Anwar dan Erna lalu mempersilahkan keduanya masuk.
"Bik Imah, tolong antarkan minuman ke mari dan masak makanan yang enak." perintah Chandra.
"Baik tuan." Imah menganggukkan kepalanya, dan pergi meninggalkan keluarga tersebut.
Anwar menggenggam erat tangan sang istri, seakan memberikan kekuatan agar tak terlalu memikirkan perkataan papanya yang super tajam. Anwar tak ingin sebenarnya datang kesini apalagi membawa Erna namun karena ada hal lain yang menyangkut Putri satu-satunya yaitu Emma, dengan terpaksa ia datang dan mengajak Erna.
"Tidak perlu repot-repot pa, saya datang kemari ingin mengetahui kenapa papa ingin sekali menjodohkan Emma tanpa mengatakan apapun pada kami." ucap Anwar.
Chandra beralih menatap Anwar lalu tersenyum kecil." kamu tak ingat perjanjian di awal kamu meminta restu pada papa saat menikahi perempuan ini?"
Anwar terdiam sejenak sambil memikirkan perjanjian yang dimaksud papanya. Ingatannya beralih ke beberapa tahun silam, ketika ia meminta restu sang papa.
'Pah, izinkan aku menikahi Erna. Erna adalah perempuan baik-baik, sopan, dan pintar. Keluarganya juga sangat menyayangiku seperti saudara sendiri.'
'Sudah berapa kali papa bilang, kau tidak bisa menikahi perempuan itu Anwar. Dia tak sederajat dengan kita, lebih baik kau menikahi Putri tuan Alexander. Zoya, perempuan berpendidikan tinggi dan tentunya juga dari keluarga terpandang seperti kita.'
'Aku mencintai Erna pah. Aku tak masalah jika dia berasal dari keluarga sederhana yang penting dia baik dan selalu memperlakukan papa seperti orang tuanya sendiri.'
'Baik, jika kau tetap ingin menikahinya papa akan memberikan restu tapi ada syaratnya.'
'Syaratnya apa?'
'Jika nanti kau punya anak perempuan, papa ingin anak itu menikah dengan pria pilihan papa.'
'Papah?! Maksudnya apa?!'
"Bagaimana Anwar, kamu sudah ingat?" tanya Chandra menghentikan lamunan Anwar. Erna yang tak tau apa-apa menatap sang suami dengan bingung.
"Apa tujuan papa sebenarnya?" tanya Anwar dengan rahang mengeras. Ia mengabaikan tatapan tanya dari sang istri.
Chandra tertawa kecil, lalu menatap sepasang suami istri di hadapannya itu.
__ADS_1
"Kamu ingin tau? Tapi, tunggu sampai kalian membawa Emma ke sini. Dan tentunya anak itu harus menikah dengan pria pilihan ku."