We Will Be Together Someday

We Will Be Together Someday
Chapter 10


__ADS_3

"Tolong terima perjodohan ini nak Emma, pria tua ini meminta padamu untuk menjadi menantunya."


"..... Anakku hanya satu, aku tak ingin ia menjadi bodoh hanya karena seorang gadis yang katanya ia cintai itu. Hanya dirimu yang bisa menolongku nak Emma. Bantu aku untuk membuat Stevano sadar apa yang selama ini ia perjuangkan itu sangat salah."


Dahi Emma mengerut, ia bingung dan heran kenapa pak Guntur meminta tolong padanya. Pikir Emma, tinggal tegur atau nasehati saja anaknya itu. Tapi kenapa harus dia yang menjadi istri pria yang tak di kenalnya itu. Bagaimana cara Emma mengatakannya pada Gio, hubungannya dengan Gio sudah seperti orang berpacaran dan Gio sebentar lagi lulus kuliah. Bahkan Gio sudah bekerja di perusahan teknologi sebagai staff biasa. Gio sudah mengatakan padanya, bahwa sebentar lagi Gio akan datang ke rumah untuk melamarnya.


"Emma?" gadis itu tersentak kaget karena tepukan pelan di tangannya.


"Eh iya mah, mama mau apa? biar aku ambilin." tanyanya sembari mengambil piring plastik yang isinya potongan buah apel dari atas meja.


Erna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. "Nggak, mama nggak mau apa-apa. Kamu lagi mikirin apa? mama udah panggil sejak tadi tapi kamu gak sadar juga."


Emma hanya cengengesan. "Nggak mikirin apa-apa cuma lagi capek aja. Mama cepat sembuh ya biar bisa lihat aku nikah nanti."


Emma mengenggam kedua tangan pucat Erna. Lalu menidurkan kepalanya di samping tubuh Erna.


"Kamu menerima perjodohan ini sayang? mama gak mau kamu putus kuliah hanya karena menikah dengan pria itu. Mama juga gak enak dengan nak Gio yang udah janji bakalan jadi suami kamu nanti."


"Aku akan lakukan apapun jika itu membuat mama sama papa bahagia. Aku sudah tau semuanya termasuk rencana kakek."


Erna terdiam dan tanpa sadar air matanya mengalir. Ia sangat merasa bersalah pada anaknya, jika dulu ia ada di sana, mungkin Emma tak akan menikah secepat ini karena desakan ayah mertuanya. Ia merasa menyesal karena tak bisa menahan ayah mertuanya. Ia juga tak bisa melihat anaknya sukses di masa depan.


"Mah, kakek tak suka sama mama ya? kenapa mah? apa karena ayah menikahi mama tanpa restu kakek? tapi apa yang membuat kakek tak suka sama mamah?" tanya Emma.


"Mungkin latar belakang keluarga mama yang gak jelas makanya kakek tak menyukai mama. Tapi papamu lebih memilih mama di banding ayahnya. Mama merasa di ratukan oleh papamu selama ini."

__ADS_1


Emma tersenyum tipis. Memang benar papanya adalah Cinta pertamanya,superhero nya. Papanya sangat menyayangi dirinya, apapun yang dimintanya pasti akan langsung terkabulkan. Waktu Emma SMA, ia pernah jatuh dari motor dan mendapatkan luka kecil di lutut serta siku, papanya langsung membawanya ke rumah sakit. Luka kecil yang jika di olesi betadine bakalan sembuh tapi papanya bersikeras membawanya ke rumah sakit bahkan sampai meminta dokter untuk menjahitnya jika ada luka dalam.


"ih papa, ini cuma luka kecil loh. Kenapa harus di bawa ke ugd segala sih. Aku takut di jahit pah."


"tapi ini harus di jahit Emma, liat tuh berdarah nanti infeksi kalo lukanya masih terbuka kayak gini."


"Gak mau di jahit papa, dokternya aja bilang ini gak masalah serius kok. Papa aja yang terlalu panik."


"Terserah kamu lah, kalo lukanya malah menjadi jangan nangis-nangis tengah malam nanti di kira kuntilanak sama tetangga."


"Ah papa bikin aku kesel aja."


Pintu ruangan terbuka, Emma dan Erna menoleh ke arah pintu. Terlihat Theo beserta keluarga kecilnya datang sambil membawa buah tangan. Lia dan Marcel berlari kecil menuju kasur Erna.


"Nek, aku bawain roti bakar sama jagung rebus nih." kata Lia.


Tiga orang dewasa di kamar itu tertawa melihat dua anak kecil yang saat ini bertengkar karena ingin buah tangannya di cicipi pertama kali oleh neneknya.


"Udah udah, nanti nenek makan bawaan kalian. Sekarang duduk diam ya." tegur Erna. Lia dan Marcel duduk di sofa ruangan.


"Mah, keadaannya gimana? udah mendingan?" tanya Alya sembari meletakkan rantang berisi makanan dari rumah di meja.


"lumayan lah ya. kok kamu pucet Alya? lagi demam ya?" tanya Erna. Emma mengalihkan pandangannya ke arah kakak iparnya.


Theo yang sedang menghidupkan ponsel untuk kedua anaknya agar diam sambil menonton Youtube Kids, melihat ke ibunya. Tak lama pria itu tersenyum seraya berjalan ke atah istrinya.

__ADS_1


Ia memeluk bahu Alya, tangannya yang satu lagi mengelus perut datar Alya.


"Alya lagi hamil 3 bulan mah, pagi tadi dia sempat morning sickness makanya kelihatan pucet wajahnya. Sebenarnya udah aku larang buat ikut tapi dia ngotot ingin lihat keadaan mama." terang Theo dengan perasaan bahagia karena sebentar lagi ia menyambut kelahiran buah hati ketiganya.


"Kak Alya hamil? Wah selamat kak. Bentar lagi ponakan ku launching dong. Ah, bakalan ribut terus nih sama tiga bocil di rumah."


Emma memeluk kakak iparnya dan di sambut senang oleh Alya. Sebelum bertemu Theo, Alya tinggal di panti asuhan setelah orang tuanya meninggal karena kebaran. Bibinya yang janda tak mau merawatnya bahkan nenek dan kakeknya juga tak ingin Alya tinggal bersama mereka dengan alasan ekonomi. Namun sejak mengenal Theo di bangku SMA, Alya baru merasakan yang namanya keluarga dari Erna dan Anwar. Serta Emma yang dulunya masih kecil, sering menemaninya pergi jalan-jalan dengan menggunakan motor. Alya sudah menganggap Emma sebagai adik kandungnya begitupun Erna dan Anwar yang sudah seperti orang tua baginya.


"Selamat ya sayang. Kamu harus rajin atur pola makan sama banyak gerak tapi jangan ngangkat beban yang berat-berat dulu ya. Kalo mau apa-apa mintak tolong sama Theo atau telpon mama jika Theo malas gerak." ucap Erna sambil mengusap perut datar menantunya.


"Makasih mah. Mama juga cepat sembuh biar bisa temenin Lia sama Marcel main. Mereka cerewet banget nanya mama kapan sembuhnya." keluh Alya dengan nada bercanda.


"Iya iya, mama rajin kok minum obat. Nih udah mulai bisa makan sendiri." tunjuk Erna pada pring bekas makannya di atas meja.


Theo tersenyum melihat keadaan ibunya yang terlihat lumayan sehat. Lalu matanya beralih pada Emma yang sedang memotong buah apel sambil melamun.


"Dek, bisa ikut kakak sebentar? ada yang ingin kakak omongin sama kamu."


Emma menoleh pada Theo. "Omongin apa? disini aja kali kak biar mama sama kak Alya bisa denger."


"Kak Alya udah tau maksud kakak dan mungkin mama pun tau. Ayo, kita duduk di luar aja."


Emma menghela nafasnya pelan lalu meletakkan pisaunya di atas meja. Ia pun mengikuti kakaknya setelah mempause video yang sedang di putar Lia dan Marcel di Youtube Kids. Sehingga kedua anak kecil itu berteriak kesal.


"Tanteeee!!"

__ADS_1


"Emma!!"


__ADS_2