
"EMMA?!"
Emma menolehkan kepalanya ke arah dapur, tempat Sandra sedang makan. Terlihat Sandra berdiri dari duduknya.
"Kenapa sih?" tanya Emma yang sudah berdiri di dekat Meja.
"Tadi ada kecoa terbang, lagi muterin kepala aku." ucap Sandra yang berusaha menghindari kecoa dari kepalanya padahal hewan menjijikkan itu telah pergi mencari hiburan yang lain.
Emma mendengus kesal lalu kembali memakan makanannya.
"Mama sama papa lagi bicarain apa sih? Kok sampek ada kalimat nikah segala?" pikir Emma sambil mengunyah makanannya.
°°°°°
Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di Vancouver, Kanada. Seorang pria berperawakan tinggi tegap dengan mata tajam menatap lurus ke arah jendela kaca besar di ruangannya,memperlihatkan gedung-gedung tinggi nan mewah di negara tersebut. Keadaan pas malam hari di kota tersebut memang sangat Bagus,gemerlap cahaya warna warni yang mampu memanjakan mata.
Pria berpakaian rapi itu tampak berdiri dengan kedua tangan di saku celana dasarnya yang mahal,rancangan designer ternama. Stevano Putra Rahardja, putra tunggal pemilik Rahardja Company, salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Saat ini akan membuka cabang di salah satu kota di Kanada, tepatnya di Vancouver. Stevano yang telah selesai dengan pendidikan S2 nya di minta sang ayah untuk turun tangan membantu perusahaan.
Pria berusia 25 tahun itu menolehkan kepalanya ke belakang, ketika seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Masuk!" perintahnya sambil berjalan menuju kursi kebanggaannya.
"Ada apa?" tanyanya tanpa menatap sekretarisnya. Tangannya sibuk mengetik sesuatu di laptop.
Monica, wanita keturunan Belanda-Indonesia itu menghembuskan napasnya pelan lalu meletakkan sebuah berkas di atas meja Stevano.
"Ayah anda memintaberkas ini harussudah ada besok pagi sebelum pemimpin perusahaan Onwell datang." ucap Monica dalam bahasa Inggris.
Stevano mengangkat kepalanya heran. Ia melirik berkas tersebut lalu menyingkirkan berkas itu ke tepi mejanya.
"Kenapa tidak ayah sendiri yang memeriksa berkas kerja sama ini?" tanya Stevano.
"Saya hanya menjalankan perintah, pak. Kalau begitu saya pulang pak. Selamat malam."
Tanpa mendengar respon atasannya, Monica berlalu dari ruangan. Sudah hampir 1 bulan ini, ia lembur sampai malam dan penantiannya sudah berakhir. Besok, jam kerjanya tak semengerikan yang dulu.
"Monic, lain kali pakai bahasa Indonesia saja ngomong sama saya. Jangan sok-sok inggris, masih belepotan." ujar Stevano lalu kembali mengalihkan pandangannya ke laptop.
__ADS_1
Sedangkan Monica menghentakkan kakinya kesal, setelahnya pergi dari ruangan tersebut.
"Ih kalo bukan karena kak Fabio, ogah kerja sama orang kutub itu." gumam Monica yang tentunya di dengar oleh Stevano.
Stevano tak terlalu peduli lalu kembali melanjutkan pekerjaanya.
'Tania, satu minggu lagi aku akan kembali ke Indonesia. Jadi aku harap, kamu masih menungguku disana.' Stevano mengetik pesan melalui ponselnya.
°°°°°
Di sudut kota Jakarta, seorang gadis tampak tersenyum-senyum bahkan kedua pipinya bersemu merah ketika matanya melihat ke layar ponsel miliknya. Pesan seseorang yang jauh di ujung sana, selalu membuat dirinya merasa tenang dari semua masalah yang menimpanya.
'Bahkan tanpa kamu minta, aku selalu menunggu disini. Sampai kapanpun itu, kalau bisa sampai aku jadi nenek-nenek perawan heheh.' balasnya lalu mengirim pesan singkat tersebut.
"Tania, jangan main hp mulu. Ayo bantuin ibuk, itu pelanggan rame di kedai." teriak wanita paruh baya yang memakai apron di tubuhnya.
Tania bergegas berdiri dan menyimpan ponselnya di saku apron yang di kenaikannya. Masuk ke dalam kedai makanan kecil milik ibunya. Walaupun begitu, kedainya tetap ramai sampai malam karena letaknya yang strategis.
"Silahkan mbak, mau pesan apa?" tanya Tania sembari memberikan kertas putih berisi menu makanan buatan ibunya.
"Nasi soto medannya dua terus minumnya es jeruk sama es kopi susu ya mbak."
"Gak ada kak."
"Ya udah mbak, di tunggu sebentar ya."
Tania pergi dari meja tersebut, lalu memberikan pesanan pelanggan pada ibunya yang selaku tukang masak.
"Buk, ini untuk meja yang di sudut ya." Tania menyerahkan kertas catatan seperti biasa.
"Oke. Tunggu 5 menit."
Tania tersenyum lalu kembali ke depan menghampiri pelanggan yang baru datang. Kedai yang dirintis ibunya lewat tabungan mendiang sang ayah sewaktu bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan besar sudah mulai dikenal di daerah ini. Beberapa pekerja kantor, mahasiswa, maupun anak-anak selokah selalu mampir ke sini makan siang ataupun malam. Bukan hanya Tania dan sang ibu saja di kedai, ada 2 karyawan lain yang baru dipekerjakan oleh ibunya 5 bulan terakhir ini.
Dengan usaha kedai makanan ini, ibunya bisa membiayai uang sekolah Tari, adik Tania yang masih kelas 2 SMA. Sementara Tania sendiri hanya bantu-bantu ketika siang menjelang sore lantaran ia juga bekerja sebagai pegawai toko busana yang sistemnya shift.
°°°°°
__ADS_1
Tania dan Stevano sudah menjalin hubungan sejak keduanya duduk di bangku SMA namun karena keadaan keluarga keduanya sangat berbanding terbalik, terpaksa Stevano mengikuti perintah sang ayah untuk kuliah di Kanada dan meninggalkan Tania yang sedang terpuruk karena kematian kakak laki-lakinya.
Tuan Guntur tak bisa menerima anaknya memiliki hubungan dengan Tania, gadis miskin yang asal-usulnya tidak jelas. Bahkan Tuan Guntur tega mengancam Stevano jika seandainya putra tunggalnya itu menolak untuk ke Kanada. Tak ingin gadis yang dicintainya terluka oleh ayahnya, Stevano meninggalkan Tania namun ia diam-diam menyuruh teman sekolahnya untuk memantau Tania dan memberikan no ponsel barunya untuk Tania agar keduanya bisa berkomunikasi.
°°°°°
Bu Erna yang sedang melipat pakaian suami beserta anaknya di ruang tengah sambil menonton siaran kesukaannya, di kagetkan dengan kedatangan pria paruh baya yang menggunakan tongkat serta seorang pria muda yang selalu berdiri di sampingnya.
"Pa-pa?" ucap Erna tergagap, segera ia berdiri lalu merapikan pakaian yang belum sempat terlipat. Pria paruh baya yang merupakan mertuanya sudah berdiri di depan pintu yang sengaja Erna buka agar angin masuk ke dalam. Gegas Erna menghampirinya lalu menyalami tangan keriput tersebut, namun di tepis si pemilik dan berlalu masuk ke dalam.
"Dimana Anwar?" tanyanya datar.
Erna memilin ujung baju yang dikenakannya, gugup dan ragu akan menjawab pertanyaan papa mertuanya yang memang tidak menyukai dirinya. Suaminya selalu berpesan jika papanya datang terkesan mendadak ke rumah mereka, lalu bertanya dirinya dimana, jawab saja tidak tau.
Anwar tak ingin bertemu ayahnya sejak ia masih sekolah. Bagi Anwar, ayahnya adalah orang tua terkejam di dunia bahkan tak ragu melenyapkan ibunya di peristiwa kelam beberapa tahun silam. Kakak-kakaknya korban dari kekejian sang ayah bila tak menuruti perintah maka sudah di pastikan kehidupannya tak akan bebas. Demi kebahagiaan dirinya, Anwar rela keluar dari rumah dan hidup tak beraturan. Berbekal ijazah SMA, Anwar bekerja sebagai Cleaning Service sembari melanjutkan kuliahnya. Di tempat kuliah lah Anwar bertemu Erna, mereka berteman lalu menjadi pasangan kekasih. Hingga keduanya menikah, Anwar tak pernah bertemu ayahnya lagi kecuali saat ia meminta restu.
"Hei, kau dungu atau tuli? Dimana Anwar?" sentak Chandra, papa Anwar.
Erna tersentak dari lamunannya, terpaksa menelpon suaminya yang mungkin sebentar lagi pulang dari sekolah. Anwar, guru Sejarah di salah satu SMP negri di kota ini.
"Sebentar lagi dia pulang pah. Papa ingin minum apa? Biar saya buatkan." kata Erna.
"Tidak usah." hardik Chandra. Erna menunduk sambil meremas kedua tangannya, takut melihat tatapan bengis papa mertuanya.
Beberapa menit kemudian, Anwar pulang dan terburu-buru memasukkan motornya ke dalam bagasi rumah. Ia takut istrinya dilukai papanya. Anwar sangat tau bagaimana watak pria tua tersebut.
"Ada apa papa datang ke rumahku?" tanya Anwar langsung. Wajahnya memerah menahan amarah, kedua tangannya terkepal era di samping tubuhnya.
Chandra tertawa kecil melihat wajah penuh amarah milik sang putra bungsu. Ia beranjak dari duduknya lalu memeluk tubuh tinggi Anwar.
"Sudah lama sekali papa tidak bertemu denganmu War. Apa kabar nak?" tanya Chandra lembut.
"Jangan berbasa-basi, langsung cepat katakan apa tujuan papa datang ke gubuk kecil ini." desak Anwar.
"Kamu tau saja apa tujuan papa kesini. Oh ya, dimana putrimu? Pasti sudah dewasa sekarang."
Erna menatap sang suami dengan tatapan memohon agar tak membawa Putri mereka ke dalam masalah ini. Anwar yang peka dengan tatapan istrinya, menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
"Lalu apa yang akan papa lakukan pada putriku?"
"Sesuai janjimu, putrimu harus menikah dengan pria pilihanku." ucap Chandra santai sambil tersenyum lebar.