We Will Be Together Someday

We Will Be Together Someday
Chapter 03


__ADS_3

Sepulang dari kampus, Gio memilih mampir ke swalayan tempat Emma bekerja. Gio sengaja tak mengabari Emma lantaran ingin memberikan kejutan ulang tahun pada gadis manis itu. Gio yakin Emma pasti lupa dengan tanggal kelahirannya.


Sebelum ke swalayan, Gio mampir sebentar di toko yang menjual berbagai souvenir menarik. Sambil menunggu pelayan toko membungkus kan kadonya dengan kertas warna merah muda kesukaan Emma,Gio mengedarkan pandangannya ke seluruh toko yang lumayan besar ini.


Matanya menyipit tatkala melihat seseorang yang dikenalnya tengah berdiri di parkiran toko.


"Tari? Kok dia bisa sampai sini? Daerahnya kan lumayan jauh dari sekolah sama rumahnya." gumamnya yang kemudian berjalan keluar sekedaringin menyapa. Namun langkahnya harus terhenti, sebab pelayan toko telah selesai membungkus kan kadonya.


"Berapa semuanya mbak?" tanya Gio seraya mengeluarkan dompetnya.


"Totalnya 345 ribu mas."


Gio memberikan kartu ATM nya lalu pelayan toko menggesekkan kartunya ke mesin EDC (Electronic Data Capture).


"Terimakasih mas." ucap pelayan toko.


"Ya, sama-sama mbak."


Gio kembali melihat ke tempat Tari berdiri tadi, tapi gadis itu tak ada di tempat. Tak ingin membuang waktu mencari keberadaan Tari, Gio segera ke parkiran untuk mengambil motornya.


Tanggal 26 April, tanggal yang selalu Gio ingat sejak 5 tahun yang lalu. Ya, tepatnya saat Gio melihat Emma yang sedang melukis di ruangan kesenian sekolah. Waktu itu Gio sudah kelas 12 sedangkan Emma baru kelas 10 SMA. Entah kenapa Gio terpesona dengan kecantikan alami milik Emma, wajah yang tanpa riasan, rambut yang selalu di kuncir kuda dengan sedikit poni tipis menutupi dahinya. Semenjak itu, Gio sering menatap Emma dari kejauhan dan tentunya diam-diam bahkan ia juga mengambil foto Emma yang tengah melukis ataupun sedang berkumpul bersama teman-temannya. Dan tanpa disangka Gio, tanggal tersebut merupakan tanggal kelahiran Emma sebab ia tak sengaja mendengar salah satu teman Emma membicarakan acara ulang tahun gadis itu.


°°°°°


"Apa?! Tari bolos lagi?" murka Tania saat menerima panggilan telpon dari wali kelas sang adik.


".... Baik buk, besok saya akan ke sekolah. Ya terimakasih, selamat siang."


Tania menutup telponnya lalu menghubungi Tari untuk menanyakan keberadaan anak itu. Namun, Tari tak kunjung mengangkat telponnya. Tania tak putus asa, ia mencoba beberapa kali tetap saja ponsel sang adik adik tak aktif.


"Awas aja anak itu, pulang nanti habis dia." geram Tania lalu kemudian siap-siap berangkat menuju kedai ibunya.


Setelah merapikan diri, Tania beranjak keluar sembari menenteng tas selempangnya. Menghidupkan mesin motor maticnya dan melaju membelah jalanan ibukota dengan pelan.


15 menit kemudian, Tania tiba di kedai milik sang ibu yang kebetulan sedang sepi pembeli. Tania berjalan menuju dapur dan alangkah terkejutnya dia melihat Tari sedang mencuci piring.


"Tari? Ngapain kamu disini?" tanya Tania yang tak menyangka adik super pemalasnya sedang mencuci piring, pekerjaan yang tak mau gadis itu sentuh sama sekali.


Tari cengengesan lalu menunjukkan piring kotor yang sedang di bilasnya." cuci kain mbak."


Tania memutar bola matanya malas.


"Oh ya, guru kamu tadi telpon mbak katanya kamu bolos lagi ya?"


"Emang. Aku males ke sekolah." jawab Tari sedikit acuh. Gadis itu masih sibuk mencuci piring-piring kotor.


"Ini bukan sekali dua kali loh kamu bolos tapi dalam seminggu bisa 3 sampai 4 kali Tari. Itupun tiap minggu kamu lakukan. Apa ibu tau kelakuan kamu?" tanya Tania yang sudah berdiri di sebelah Tari.


Yang di tanya hanya menggelengkan kepalanya pelan. Tania menghembuskan nafasnya berat.


"Terus ibu mana?"

__ADS_1


"Lagi istirahat di kamar atas."


"Sekarang mbak tanya, kenapa kamu bolos? Gak mungkin kan karena uang SPP, soalnya tiap bulan selalu mbak kasih ke wali kelas kamu langsung. Uang jajan hampir tiap hari mbak lebihkan, terus masalahnya apa?"


Tari membuang muka saat melihat tatapan serius kakak satu-satunya tersebut. Tania tau bagaimana tingkah adiknya ini. Tari tak mau orang lain tau bagaimana keadaan dirinya. Gadis belia berusia 17 tahun itu selalu memendam perasaannya bahkan ke Tania maupun sang ibu. Di sekolahnya Tari merupakan murid cerdas dan bisa mendapatkan beasiswa kuliah jika tak bolos sekolah. Tapi, Tania akan tetap bertanya kenapa Tari sering kali bolos bahkan di hari yang sama juga. Setiap hari selasa dan Jumat, kadang di hari Sabtu pun Tari tetap bolos.


Melihat Tari hanya diam saja, Tania memutuskan mengajak Tari ke taman belakang yang lumayan sejuk karena ada banyak tanaman yang sengaja di tanam sang ibu.


"Duduk." perintah Tania.


Tari hanya diam berdiri sambil menundukan kepalanya. Dengan masih berpakaian seragam sekolahnya, Tari terpaksa duduk ketika Tania menariknya ke bangku.


"Coba cerita sama mbak, apa yang terjadi sama kamu. Pelan-pelan aja ceritanya, mbak pasti dengerin." ujar Tania yang berusaha tak memaksa Tari untuk bercerita dengannya.


Tanpa di pandu, tiba-tiba saja Tari menangis terisak-isak sambil memeluk Tania. Sontak saja membuat Tania kaget. Setaunya, Tati tipe anak yang jarang menangis kecuali jika suatu hal yang benar-benar membuat hatinya terluka.


"Kok nangis? Kamu kenapa Ri? Ayo jawab mbak." desak Tania sembari mengusap punggung mungil milik adiknya.


"Mbak tapi harus janji sama aku jangan bilang siapa-siapa apalagi ibu." ucap Tari tergugu karena tangisannya.


"Cepat katakan ada apa sebenarnya?" tekan Tania seraya melepaskan pelukannya Tari dari tubuhnya.


Tari hanya diam, takut memberitahu Tania sesuatu yang membuat dirinya merasa gelisah, cemas dan takut selama ini. Tania yang sudah geram, segera beranjak dari bangkunya berniat memberitahu sang ibu.


"Mbak jangan beri tahu ibu. Nanti penyakit ibu bisa kambuh kembali, tolong mbak." Tari menahan langkah Tania dengan memegang lengan kakaknya tersebut.


Tania kembali duduk di bangkunya.


"Katakan apa yang terjadi sama kamu." hardik Tania.


"APA?!" pekik Tania. Amarah Tania menyeruak seolah siap menerkam mangsanya. Kedua tangannya mengepal erat. Ia beralih menatap Tari, adiknya tampak menundukkan kepalanya namun tangisannya terdengar menyayat hati.


Tania menghembuskan nafasnya kasar. "Ceritakan bagaimana kejadiannya."


Lalu Tari bercerita dari awal sampai hari ini bagaimana dirinya lebih memilih bolos daripada mengatakan pada semua orang. Di sekolah, Tari termasuk siswa paling cerdas dan didukung oleh kecantikan alaminya yang juga diakui oleh Tania. Sehingga banyak siswa laki-laki yang mengincar dirinya bahkan sampai menangajaknya berpacaran. Namun Tari menolaknya lantaran ingin fokus sekolah dulu dan melanjutkannya ke bangku kuliah. Tapi, semua siswa perempuan iri dan tidak suka dengan keberadaan Tari, mereka merasa Tari adalah saingan yang terlalu berat. Lalu, mereka sepakat mengerjai Tari sampai nekat merusak loker milik Tari. Awalanya Tari menganggapnya biasa saja, akan tetapi lama-kelamaan bully yang di terima Tari sampai ke fisik. Salah satu kakak kelas Tari, tega mendorong Tari dari tangga sehingga dahi Tari terluka. Tari tak kuat menerima bullyan tersebut, dan memilih bolos sekolah. Sebenarnya Tari sudah pernah melaporkan tindak bullying tersebut, namun kepala sekolah tak pernah menanggapi laporan Tari sebab salah satu siswa yang membullynya anak dari ketua yayasan.


Tania mendengar semua cerita Tari seketika langsung marah dan bersiap mengadukan pada pihak sekolah. Namun di tahan Tari lantaran percuma jika memberitahukan ke sekolah tetap tak akan di tanggapi.


Tania tampak memikirkan solusi dari masalah yang menimpa adiknya. Tak mungkin ia langsung ke sekolah Tari sambil membawa bukti, sebab akan sia-sia saja apa yang dilakukannya. Bukannya mendapatkan keadilan malah dirinya yang akan di ceramahi. Orang yang ia hadapi bukan orang biasa melainkan orang yang mempunyai pengaruh besar di kota ini. Akan susah jika di bawa ke hukum, apalagi nanti ada aksi suap menyuap.


"Untuk saat ini, kamu gak usah datang ke sekolah. Masalah beasiswa itu jangan dipikirin, mbak masih mampu biayain kamu kuliah nanti. Ayo, sekarang ke dalam terus istirahat biar mbak yang jaga kedai." ujar Tania lalu berdiri dari duduknya.


"Mbak makasih ya udah jadi pelindung aku. Kalau gak ada mbak, entah apa yang terjadi sama aku kedepannya. Mbak, aku janji bakal belajar lebih giat lagi biar jadi orang sukses agar bantu mbak sama ibu." ucap Tari sembari memeluk Tania dengan erat. Tania tersenyum hangat lalu membalas pelukan Tari.


°°°°°


Akhirnya Gio sampai ke swalayan tempat Emma bekerja. Pria 23 tahun itu melangkahkan kakinya menuju kasir tempat Emma sedang berdiri saat ini. Beruntung swalayan lumayan sepi pengunjung, hanya beberapa saja yang sedang belanja. Emma yang hanya berdiri sambil menghitung uang receh mendongakkan kepalanya saat Rania menepuk bahunya dari samping, ia melihat Gio sedang berjalan ke arahnya. Emma lantas memutari meja kasir lalu menghampiri Gio.


"Kak Gio, kenapa gak kabarin aku dulu?" tanya Emma ketika sudah berdiri di hadapan Gio. Gio hanya tersenyum lalu mengajak Emma keluar sebentar.


"Pergilah, biar aku yang jagain kasir." ucap Rania saat tahu Emma akan meminta izin padanya.

__ADS_1


Emma menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih.


"Ada apa kak?"


"Nanti malam, aku jemput ya?" tanya Gio.


"Boleh, kebutulan kami pulang lebih awal soalnya pada Edo ada acara di rumahnya." jelas Emma.


"Baiklah. Itu aja yang mau aku bilang, oh ya ini jangan lupa di pake nanti malam. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat." ucap Gio sembari memberikan paper bag warna cokelat pada Emma. Emma menerimanya dengan raut wajah bingung.


"Ini apa?"


"Kamu bakalan tau juga nanti. Ya udah, aku pulang dulu. Jam berapa selesainya?"


"Jam 7 kam udah beres-beres sih kak."


Gio menatap jam tangannya, kemudian menganggukan kepalanya. "Masih ada waktu 3 jam lagi. Tunggu aku ya."


Emma tersenyum lebar. "Iya. Bye kak."


Gio memasang senyuman paling Indah yang tentunya biaa membuat kaum hawa menatap penuh binar padanya sewaktu sekola dulu. Namun, hanya satu gadis yang membuatnya bertekuk lutut yakni Emma Anatasya. Gio mengacak gemas rambut hitam sebahu Emma kemudian beranjak dari sana menuju motornya terparkir.


°°°°°


Malamnya Emma sudah bersiap-siap di kamarnya, dress berwarna ungu muda melekat sempurna di tubuh rampingnya dan tak lupa dandanan natural di wajahnya yang manis. Sedangkan Gio menunggu di luar bersama kedua orang tuanya.


"Bagus juga dress nya. Pilihan kak Gio memang gak pernah meleset." gumam Emma seraya tersenyum kecil di depan cermin. Ia mengambil tasnya, kemudian beranjak ke luar.


"Sayang, kamu udah siap?" tanya Erna ketika melihat Emma keluar dari kamarnya. Gio yang membelakangi Emma seketika menoleh ke belakang, ia terpana akan kecantikan Emma yang memang dari dulu tak pernah pudar.


Emma tersenyum malu lalu menganggukkan kepalanya. "Iya mah." ia melirik Gio yang masih mematung di tempatnya.


"Wah, Putri kita kalau sedikit di kasih bedak seperti princess ya mah." puji Anwar seraya memeluk bahu sang istri. Erna tersenyum bahagia.


"Tentu saja pah. Mamanya aja waktu masih muda juga cantik."


Emma menundukkan kepalanya, menutupi pipinya yang merah.


"Gio, kok kamu diem aja? Tuh Emma nya udah siap. Pergi gih, tapi jangan malam-malam pulangnya ya."


Gio tersentak kaget saat Anwar menepuk bahunya. Ia terlalu mengagumi kecantikan Emma sampai-sampai seperti patung, yang tak bisa bergerak.


"Eh iya om." ucap Gio gugup sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Anwar dan Erna menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya udah buruan pergi, udah hampir jam 9 nih nanti malah kemalaman pulangnya." ujar Erna.


"Ya mah. Kalau gitu kami pergi dulu."


Gio dan Emma berjalan beriringan menuju ke luar rumah. Malam ini, Gio membawa mobilnya sendiri agar Emma merasa nyaman dengan dress nya.

__ADS_1


"Pelan-pelan aja bawa mobilnya nak Gio." Erna dan Anwar mengantar sampai ke luar dan berdiri di teras.


Kemudian mobil berwarna hitam metalik itu melaju pelan meninggalkan pekarangan rumah Emma.


__ADS_2