
Kehidupan Emma setelah menikah dengan Stevano terbilang biasa saja. Stevano dengan kehidupannya sementara Emma yang hanya sibuk kuliah. Sepasang pengantin baru itu masih merasa asing dengan pernikahan mereka. Namun Emma tetap menjalankan tugasnya sebagai istri dengan menyiapkan sarapan dan pakaian kerja Stevano, tapi Emma tak bisa memberikannya langsung pada pria yang berstatus suaminya tersebut. Ia menyuruh bik Rani mengantarkan pakaian Stevano. Bik Rani awalnya heran kenapa majikannya ini pisah kamar, tapi setelah di beritahu oleh supir, barulah ia paham dan mengikuti perintah Emma maupun Stevano.
Stevano dan Emma sarapan bersama di meja makan. Hanya mereka berdua, duduk saling menjauh. Tak ada percakapan hanya dentingan sendok yang beraduk dengan piring. Stevano beranjak dari duduknya lalu meraih jas dan tas kerjanya. Ia berangkat ke kantor tanpa berpamitan dengan Emma. Emma pun tak peduli, wanita itu juga bersiap akan berangkat ke kampus. Hari ini jadwalnya di kampus lumayan padat, ia sedikit lega karena tak akan pulang lebih dulu dan merasakan kebosanan yang melanda di rumah walaupun ada bik Rani yang bisa ia ajak mengobrol.
"Bik, aku berangkat ya." pamit Emma.
"Ya non. Hati-hati." sahut bik Rani dari dapur. Wanita paruh baya itu sedang mencuci alat-alat dapur di wastafel.
Emma berjalan kaki menuju halte bus yang tak jauh dari rumah. Sebenarnya ada supir, namun Emma menolak di antar maupun di jemput. Ia beralasan merasa tak enak karena selama ini ia hanya menggunakan motor pribadinya atau naik bus untuk pergi kemana-mana.
°°°°°
Setelah melihat secara langsung acara pernikahan Stevano, Tania lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Ia juga tak berniat untuk keluar sekedar jalan-jalan sebentar.
Ponselnya bergetar, Tania hanya meliriknya saja tanpa berniat mengangkat ataupun membalas pesan. Benda pintar itu kembali hidup, Tania berdecih lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
'Jangan khawatirkan apa-apa, kau tenang saja. Aku akan siap apapun yang terjadi." isi pesan dari nomor tak di kenal.
"Vano, kau dimana? aku merindukan mu." lirih Tania sebelum matanya tertutup, tidur. Tania mengidap insomnia sejak peristiwa yang merenggut mahkotanya. Ia masih terpikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, Tania tak bodoh untuk tak mengetahui hal tersebut. Bahkan untuk tidur saja ia tak bisa, pernah seharian ia tak tidur dan jarang makan. Ia hanya makan jika sudah di suruh ibu dan adiknya.
__ADS_1
°°°°°
Theo dan keluarga kecilnya sudah kembali ke tempat tinggal mereka. Kini hanya ada Anwar dan Erna saja di rumah. Erna merasa kesepian di rumah karena tak ada Emma yang menemaninya sedangkan Anwar harus pergi mengajar di sekolah dan pulang sore hari.
Selagi menunggu suaminya pulang, Erna duduk di teras rumah sambil meminum teh hangat dan memakan biskuitnya. Beberapa tetangga yang lewat depan rumahnya sesekali menyapa dan sedikit mengobrol, berbasa-basi.
Sejak Emma menikah, banyak tetangga yang menanyakan hal itu. Erna sengaja tak mengundang warga sini dan hanya mengajak ketua RT saja sebagai salah satu saksi di pernikahan Emma. Lambat laun, warga pun mulai tahu berita pernikahan Emma. Banyak di antaranya bergosip kenapa Emma menikah diam-diam, ada yang bilang hamil duluan, ada juga yang bilang Emma menikah dengan pria tua. Namun semuanya di bantah oleh ketua RT, akhirnya mereka percaya dan memaklumi acara pernikahan Emma yang memang tertutup sesuai permintaan keluarga suami Emma.
Erna membantu suaminya membuka pagar, Anwar masuk dan menuntun motornya untuk di letakkan di garasi. Erna menyalami tangan sang suami lalu mengambil alih tas kerja Anwar.
"Mas, mau mandi atau makan dulu?" tanya Erna sembari meletakkan tas kerja Anwar di meja.
"Ah sepertinya aku mandi dulu mah. Gerah sekali rasanya setelah hampir seharian di sekolah, mengajar dan memberikan soal-soal pada murid kelas 3." kata Anwar seraya merenggangkan otot-otot tubuhnya.
Anwar mendengus pelan. "Eih, kalo ada yang nakal siap-siap saja menginap di sekolah. Dan akan aku berikan soal-soal yang susah nanti."
Erna tertawa kecil. "Ya sudah sana, mandi dulu. Aku mau bikin sup jagung biar makannya pas hangat-hangat. Cuaca juga mendung pas banget deh makan yang hangat."
Anwar bangkit berdiri, Erna pun segera melangkah ke dapur. Belum sampai kamar, Anwar kembali lagi.
__ADS_1
"Mah, apa Emma sudah nelpon ke sini?" tanya Anwar.
Erna menghembuskan nafasnya berat. Lalu menggelengkan kepalanya. "Belum ada telpon dari Emma pah. Emang kenapa?"
"Gak ada, papa cuma tanya aja. Papa mandi ya." ucap Anwar sambil berlalu.
"Hmm... jangan lama-lama mandinya."
°°°°°
"Apa?!"
"..... jadi papa menjodohkan Emma dengan pria itu hanya untuk kerakusan papa saja? aku tak menyangka papa selicik ini."
"Hahahah..... kau baru tau papamu ini licik? Anwar.... Anwar, kan sudah dari dulu papa bilang. Kalau kamu menuruti keinginan papa, maka semua ini tak akan terjadi. Dan kau pun bisa hidup bahagia dengan keluargamu."
"Jika pun aku menerima keinginan papa, aku tak akan sudi menjodohkan anakku dengan keluarga bajingan itu."
"Iya, jika kau menerimanya tapi sekarang kau malah memilih wanita itu daripada keinginan papamu ini. Jadi terima saja nasib anakmu, Anwar. Sudahlah lebih baik kau pergi dari rumh ini."
__ADS_1
"Jika terjadi sesuatu pada putriku, papa orang pertama yang akan aku hancurkan."
"Hmmmm...."