We Will Be Together Someday

We Will Be Together Someday
Chapter 07


__ADS_3

Saat ini Stevano dan Tania sedang makan malam berdua di restoran mewah di kawasan elit yang hanya kalangan konglomerat saja tinggal disini. Awalnya Tania merasa minder melihat beberapa pengunjung yang memakai pakaian glamor dan bermerek, namun Stevano meyakinkan Tania agar percaya diri saja.


"Aku ngerasa gak percaya diri Vano. Lihatlah, perempuan-perempuan disini pada cantik dan seperti orang berpendidikan semua, sedangkan aku cuma perempuan tamatan SMA yang kerja jadi penjaga toko busana." celetuk Tania sembari menyicipi spagetti carbonara yang di pesannya tadi.


Stevano meletakkan sendok dan garpunya di atas meja, kemudian menatap Tania yang tampak gelisah.


"Tania, coba kamu santai aja makannya. Jangan peduliin orang sekitar, lagian orang-orang disini pada sibuk semua dengan urusan mereka. Kamu aja yang kelihatan risih. Nah, sekarang habiskan makanannya kan kamu sendiri yang bilang jangan buang-buang makanan, mubazir di luar sana masih banyak yang gak bisa makan enak seperti ini."


Seketika Tania tersenyum melihat Stevano meniru ucapannya tempo hari. Kalimat yang biasa di ucapkan Tania ketika melihat Stevano tidak menghabiskan makanannya.


"Iya iya deh. Kamu benar, aku aja yang ngerasa aneh sama orang-orang padahal gak ada yang peduli juga." ucap Tania.


Lalu keduanya memakan makanannya kembali sembari mengobrol tentang masa depan yang hanya di tanggapi biasa oleh Tania.


"Udah selesai, sekarang kita mau kemana?" tanya Stevano setelah berada di luar restoran.


Tania memasang wajah yang sedang berpikir. Stevano tersenyum gemas, mengusap lembut rambut panjang milik Tania.


"Eum, bagaimana kalo kita ke pasar malem dekat rumah aku? aku rasa belum terlalu malam buat kesana. Lagian ini juga malam minggu, cocok buat orang yang lagi pacaran." saran Tania dengan ragu. Soalnya Stevano belum pernah ke pasar malam sejak pacaran dengan Tania, dan Tania pun enggan mengajak pria itu kesana lantaran takut Stevano risih dengan keramaian.


Tanpa di sangka Stevano menganggukkan kepalanya yang membuat Tania tercengang. "Serius mau kesana? kamu gak risih kan? soalnya di sana bising."


"Tidak. Ini pertama kalinya aku ke sana, kalau disana seru, aku bakalan ngajak kamu tiap minggu. Ayo."


Tania tertawa pelan lalu masuk ke dalam mobil setelah pintunya di buka Stevano.


°°°°°


"Tumben kakak ngajak aku kesini? biasanya paling males kalu main kesini sekedar sebentar aja." ucap Emma sembari memakan permen kapasnya.


Emma tidak jadi datang ke acara ulang tahun Raina lantaran kekasih temannya itu masuk rumah sakit karena asam lambungnya kumat sehingga acara sederhana itu di batalkan. Sementara Sandra, langsung pulang karena ingin menonton sambungan drama Korea yang biasa ia tonton.


"Ya lagi males aja di rumah, mending kesini rame. Di rumah sepi banget kayak kuburan. Kamu gak keberatankan kalau aku aja kesini?"


"Ya nggak lah. Ulang tahunnya Raina di batalkan, untung aja kakak ke rumah ngajak aku kesini, aku paling males kalo ganti baju lagi." celetuk Emma.


Gio mengajak Emma ke bianglala, di sambut antusias oleh gadis 20 tahun itu. Setelah mencoba beberapa permainan yang di pasar malam, Gio yang belum makan malam sama sekali akhirnya memilih makan di kedai pecel lele milik pak Hendri, teman dekat orang tua Emma.


"Pecel lele Lamongan nya terkenal enak banget disini kak, kakak harus cobain. Aku sama Sandra sering beli disini malahan Sandra sampek nambah lagi saking enaknya." Emma tertawa kecil saat membicarakan Sandra yang makan banyak tapi badannya tidak pernah gemuk.


"Oh ya? tapi kenapa badannya tidak gemukan juga?" tanya Gio sambil memakan kol gorengnya.


"Nah itulah kak, aku juga gak tau. Dia juga sering ngeluh kenapa gak gemuk juga." Emma terkekeh geli.


Di lain tempat, Tania bersama Stevano sudah selesai memainkan permainan di pasar malam dan singgah sebentar di kedai pecel lele pak Hendri. Tania membelikan ibu dan adiknya makan malam sebagai buah tangan dari luar, awalnya Stevano ingin membelikan kue dari merk terkenal di dunia namun ditolak Tania sebab Stevano sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuknya hari ini.

__ADS_1


"Pak, pecel ayam sama lelenya ya, tapi di bungkus." ujar Tania ketika gilirannya.


"Siap mbak, tunggu sebentar ya."


"Iya pak."


Tania duduk di sebelah Stevano yang sedang memainkan ponselnya.


"Rame juga ya kedainya, kamu sering makan disini?" tanya Stevano.


Tania menganggukkan kepalanya. "Sering sih tapi itu dulu pas aku kerja di toko itu." tunjuk Tania pada ruko di seberang jalan yang sudah tutup. Stevano melihat ke arah yang di tunjukkan Tania.


"Kamu pernah kerja disana? kok aku baru tau."


Tania mendelik kearah Stevano yang tampak heran.


"Emangnya kamu selama ini dimana?"


Stevano cengengesan seraya menggenggam tangan Tania.


"Mbak, permisi bisa tolong ambilin tisu di sebelahnya?" tanya seorang gadis yang tak lain Emma. Di mejanya kebetulan tisu habis, karyawan pak Hendri sedang mengambilkannya di gudang penyimpanan bahan.


"Oh tisu? ini mbak." Tania mengambilkannya dan memberikannya pada Emma.


"Makasih mbak, cuma ngambil sedikit kok mbak. Nih mbak."


"kak, ayo pulang udah larut malam banget nih." Emma menyusul Gio yang tengah membayar makanan mereka di kasir.


"udah dapat tisunya?" tanya Gio.


"udah. di meja sebelah sana, ayo pulang."


Gio mengalihkan pandangannya ke meja Tania dan Stevano.


"kak Tania?" gumamnya dalam hati.


"kak Gio? hello?" Emma mengibaskan tangannya di depan wajah Gio. Gio tersentak kaget.


"oh ayo pulang." ajak Gio dari tempat itu.


°°°°°


Saat Gio remaja, Tania dan Tari adalah tetangganya. Ibu Gio adalah teman dekat ibunya Tania dan Tari, sementara ayahnya merupakan manajer di tempat kerja ayah Tania dan Tari. Tania dan Gio dibilang sangat dekat walau beda 1 tahun. Gio sempat menyukai Tania namun saat itu Tania sudah punya kekasih yang tak lain adalah Stevano. Sejak saat itu keduanya tak pernah dekat lagi, dan tiba-tiba saja keluarga Tania memutuskan pindah. Gio tak pernah lagi ketemu Tania maupun Tari. Namun, saat Gio sedang menemani temannya ke sekolah sepupunya, ia bertemu Tari dan keduanya mengobrol banyak hal. Tari juga menunjukkan alamat rumahnya jika seandainya Gio ingin mampir ke rumah. Akhirnya Gio tahu bagaimana keluarga Tania pindah lantaran ayah kakak beradik itu meninggal dan bayaran kontrakan menunggak selama 3 bulan lebih.


°°°°°

__ADS_1


"Kemana saja anak itu?" tanya Guntur pada Dean, sang asisten muda.


"Hanya restoran dan pasar malam dekat rumah gadis itu tuan." lapor Dean sambil menundukkan kepalanya.


Guntur tertawa mencemooh. Ia memainkan pulpennya di atas meja lalu memutar kursinya jadi menghadap jendela besarnya.


"Pasar malam? sejak kapan Stevano mau ke sana? ada-ada saja." ucap Guntur.


"Tapi tuan, di sana saya melihat cucu tuan Chandra sedang bersama seseorang mungkin itu pacarnya." ungkap Dean dengan ragu.


Sontak Guntur membalikkan badannya beserta kursinya.


"Kau serius? tapi kata Chandra cucunya belum pernah berpacaran apalgi dekat dengan laki-laki selain ayah dan kakaknya."


"Saya kurang tau tuan, dari yang saya lihat mereka sangat dekat."


Guntur tampak berpikir. "Hmm, tolong kau cari tau laki-laki yang bersama cucunya Chandra." ucapnya kemudian.


"Baik tuan, saya permisi." Dean memundurkan langkahnya lalu berbalik meninggalkan Guntur seorang diri.


°°°°°


"Dean, apa Stevano sudah pulang?" tanya Indira pada Dean yang baru saja keluar daru ruang kerja Guntur.


"Belum sepertinya nyonya, mau saya cari tuan mudanya nyonya?" tawar Stevano.


"aduh anak ini kemana sih, ya sudah tolong kamu telpon anak itu dan suruh pulang karena kakek neneknya sudah dalam perjalanan kesini." titah Indira yang langsung di laksanakan Dean.


Belum juga Dean melangkah ke luar rumah besar itu, Stevano sudah menampakkan dirinya dari ruang tamu.


"Saya permisi nyonya." ucap Dean.


"ya." respon Indira singkat.


"Kamu darimana aja sih no? Dean hampir saja mau nelpon kamu biar kamu cepat pulang." omel Indira.


Stevano tampak acuh dengan omelan Indira, ia membuka jasnya dan menaruhnya di sofa.


"biasa lah mah, lagi asyik ngobrol sama teman." sahutnya santai.


"ya sudah cepat sana, duduk di luar. Kakek sama nenek kamu udah mau kesini."


"emangnya mau ngomongin apa sih mah? serius amat."


"Ya tentang perjodohan kamu lah." ucap Indira santai namun seperti semburan bom di diri Stevano.

__ADS_1


"A-pa?!"


__ADS_2