We Will Be Together Someday

We Will Be Together Someday
Chapter 15


__ADS_3

Setelah pertemuan mendadak itu, Emma lebih sering banyak diam di kampus maupun di tempat kerjanya. Sementara Stevano selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan atau di waktu senggangnya ia menghampiri Tania yang masih mengurung diri di rumah. Tania diberhentikan dari toko busana, tempatnya bekerja karena sudah terlalu sering cuti tanpa mengabari manajer toko.


Ada banyak kejanggalan yang terjadi pada Tania, pikir Stevano selama berusaha fokus dengan urusan kantornya. Tania tak mau bercerita, ia hanya diam dan akan mengamuk jika seseorang memaksanya untuk menceritakan kejadian yang menimpanya. Tania tak gila, ia hanya stress itu yang Stevano dengar dari ucapan dokter yang memeriksa Tania.


Stevano berharap tak ada apapun yang terjadi pada Tania. Termasuk ancaman ayahnya yang akan melukai Tania jika ia nekat menemui gadis Malang itu.


Pernikahannya dengan Emma di percepatan oleh orang tuanya dan akan di laksanakan minggu depan dengan sangat meriah. Sampai hari ini, Stevano belum mengatakan apapun pada Tania mengenai perjodohannya.


Stevano takut, Tania pergi meninggalkannya. Ia bingung, harus jujur tapi malah menyakiti hati Tania namun jika ia berbohong dan memilih menyembunyikan hal ini akan membuat Tania marah serta kecewa teramat sangat.


"Ahkk, sial." rutuknya sambil mengacak rambutnya. Ia membanting pulpen yang di tangannya ke sembarang arah.


Stevano bangkit dari tempat duduknya, lalu mengambil jasnya yang tergantung rapi di sudut ruangan.


"Aku akan keluar sebentar, jika presdir datang katakan saja aku ada urusan di luar." ucap Stevano pada sekretarisnya yang berdiri di luar.


"Baik pak." balas Naira, sekretarisnya yang baru selesai cuti sehabis melahirkan.


°°°°°


Minggu depan, ya hari ini adalah acara pernikahan Stevano dan Emma. Stevano tak mengatakan apapun pada Tania, ia akan memikirkan hal itu nanti ketika semuanya sudah membaik. Kakeknya tiba-tiba mendapatkan seorang jantung dann memintanya untuk menikahi Emma secepatnya.


Setelah di rias, Emma hanya duduk termenung di ruang riasnya. Ia sudah memakai gaun pengantin dan menunggu kedatangan ayahnya untuk mengantarkan dirinya menuju altar, tempat Stevano berdiri menunggunya.


Sandra yang sejak tadi menemaninya, ikutan diam dan menunggu Emma buka suara. Sandra tak tau bagaimana cara menghibur Emma yang pastinya tak terima dengan perjodohan sepihak ini. Apalagi dengan pria yang tak di kenalnya.


Ceklekk....


Emma dan Sandra menoleh, terlihat Anwar berdiri dengan raut wajah sendu di ambang pintu. Dengan mata berkaca-kaca Emma beranjak dari duduknya, Sandra lekas membantu Emma mengangkat gaunnya yang panjang mengenai lantai.

__ADS_1


"Pah, apa tak bisa di batalkan saja pernikahan ini? aku tak sanggup pah. Aku tak mencintainya," ucap Emma dengan bergetar.


Anwar menunduk tak berani menatap mata sang anak yang memohon padanya.


"Maafkan papa nak. Papa tak bisa menghentikan pernikahan ini." kata Anwar putus asa.


Emma tersenyum miris. Ia menggandeng lengan sang ayah. "Aku tau. Ayo pah, mau tak mau aku harus siap."


Anwar menggengam tangan Emma dan menuntun gadis itu keluar dari ruangannya. Sandra menatap punggung Emma dengan sedih dan kasihan. Ia sangat tau, Emma tak ingin membuat kedua tuanya sedih jadi menerima perjodohan ini dengan terpaksa agar kedua orang tuanya bahagia.


Acara pernikahan berjalan lancar hari ini. Erna dan Anwar saling berpelukan melihat Putri tercinta mereka tengah bersanding dengan pria yang telah menjadi menantu mereka. Erna menangis terharu melihat Emma yang terpaksa menerima perjodohan sepihak ini. Wanita paruh baya tersebut tak bisa menghalang pernikahan ini lantaran ada Chandra yang berdiri di antara mereka.


"Tolong jaga adikku. Emma adalah satu-satunya anak perempuan di keluarga kami. Orang tuaku sudah sangat lama menantikan kehadirannya di dunia ini. Jika kau tak menginginkan adikku lagi, aku mohon tolong kembalikan dia baik-baik padaku." ucap Theo berusaha tegar, Alya yang berdiri di sampingnya mengusap punggung lebar itu menenangkan.


Stevano hanya diam menatap dingin Theo yang sedang menundukkan kepalanya. Dan dengan terpaksa ia mengangguk pelan dan berjanji tak akan menyakiti Emma, istri yang tak dicintainya.


Emma beralih memeluk Theo sambil menangis sesegukan. Theo mencoba tersenyum sembari mengusap rambut Emma dari belakang. "Jangan menangis, ini adalah hari bahagiamu."


"Kamu sudah membuat kami bangga Ma. Ya sudah kembalilah pada suamimu. Kalau dia menyakitimu, katakan pada kakak. Biar kakak yang menghajarnya."


Emma menganggukan kepalanya.


Tanpa di sadari oleh mereka, terlihat seorang gadis menangis terisak menyaksikan pernikahan pria yang dicintainya. Tania, yang awalnya ingin menemui Stevano di rumahnya secara diam-diam dari pintu belakang. Tania kenal dengan salah satu pelayan di rumah besar itu, pelayan tersebut sangat baik padanya. Tania ingin meminta bantuan pada pelayan tersebut untuk memanggil Stevano namun yang ia dapati malah pernikahan Stevano dengan wanita lain yang di adakan di halaman belakang rumah mewah ini.


"Jadi ini alasanmu tak menelepon atau mengunjungiku Vano?" lirih Tania dengan mata masih memandang Stevano dan Emma.


Lelah dan sakit hati melihat pasangan suami-istri tersebut, Tania memilih meninggalkan acara itu. Saat ia membalikkan badan, tampak asa seorang pria berdiri di hadapannya.


Tania sontak kaget dan bersiap akan berteriak namun kalah cepat, pria itu membekap mulutnya dan menyeretnya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Eumm eumm.... kau siapa?" ucap Tania terbata-bata. Ia berusaha melepaskan tangan pria tersebut.


"..... tolong, tolong?!" ucapnya dengan susah payah.


"DIAMLAH!" sentak pria tersebut. Ia memasukan tubuh Tania ke dalam mobil lalu mengikat lengan Tania dan membekap mulutnya dengan lakban.


Tania membulatkan matanya ketika melihat wajah pria yang menculiknya. Ia langsung memberontak sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari pria tersebut. Terbayang olehnya saat pria itu menidurinya kala itu, mengambil harta berharga yang ia miliki.


"Diam atau kau akan aku lempar ke jalanan." ucap pria tersebut. Seketika Tania diam dengan sekujur tubuh gemetar ketakutan.


Mobil pria itu berjalan pelan membelah jalanan ibukota yang padat.


°°°°°


Malam harinya, Emma dan Stevano pulang ke rumah yang merupakan hadiah dari orang tua dari suaminya. Hanya berdua dan Stevano yang mengendarai mobil sedan hitam tersebut. Emma duduk diam dengan mata yang memandang suasana malam kota.


Tak ada percakapan sama sekali di dalam mobil. Emma yang enggan bicara sedangkan Stevano yang memang terpaksa menerima pernikahan ini. Di pikiran dan hatinya hanya tertuju Tania yang sejak beberapa hari lalu tak pernah ia hubungi atau di temui.


"Sudah sampai. Di dalam sudah ada pembantu yang akan mengantarmu ke kamar." ucap Stevano. Pria itu melangkah masuk menuju kamarnya yang memang sengaja terpisah dengan Emma. Emma di lantai bawah, sedangkan dirinya di lantai atas.


"Eum." gumam Emma sambil menyeret kopernya. Di dalam ada bik Rani, ART yang sudah lama bekerja di rumah keluarga Stevano. Di kirim ke sini untuk membantu Emma mengurus rumah.


Emma masuk ke kamarnya. Ia menata pakaiannya di dalam lemari.


"Taruh saja disana, biar aku yang merapikannya nanti. Terimakasih." ucap Emma saat bik Rani meletakkan satu koper lagi di kamarnya.


"Sama-sama non."


Bik Rani berlalu pergi meninggalkan Emma yang sudah duduk termenung di atas kasurnya.

__ADS_1


Wanita tersebut menghela napasnya pelan." Tak pernah terbayangkan olehku kalau aku akan jadi istri secepat ini dengan pria yang tak aku kenal." gumamnya lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur.


__ADS_2