
Beberapa hari kemudian, Alya istri Theo belanja kebutuhan rumah bersama Erna pagi ini di pasar dekat rumah. Theo beserta istri dan anak-anaknya sudah berada di rumah keluarga sejak 2 hari yang lalu. Kebetulan anak-anaknya sedang libur sekolah, oleh sebab itu Theo memutuskan pulang ke rumah orang tuanya bersama keluarga kecilnya.
Usia Theo dan Emma lumayan jauh yakni hampir 13 tahun. Erna dan Anwar sangat sudah mendapatkan anak dulunya, kelahiran Theo saat usia pernikahan mereka sudah memasuki 3 tahun sedangkan Emma, mereka harus menunggu 13 tahun untuk mendapatkannya.
"Mah, kayaknya udah cukup nih buat seminggu. Apa mama mau cari sayur lagi?" tanya Alya sembari mengecek tas belanjaan nya.
"Um, udangnya udah ada? ayahmu suka udang, katanya dia mintak menu makan siang hari ini harus ada udang." jelas Erna, ia meraih kantong belanjaan Alya dan melihat isinya.
"Kalo udang belum kita beli mah, aku cari ke sana dulu ya." tunjuk Alya ke penjual aneka seafood mentah di ujung pasar.
"Baiklah, kalo udah dapet langsung ke parkiran aja. Mama tunggu di sana aja."
"Oke."
Alya berjalan masuk kembali ke dalam pasar untuk mencari udang sekalian ia ingin membeli frozen food untuk anak-anaknya. Erna melangkah menuju parkiran untuk mencari becak, belanjaannya dan Alya cukup banyak jadi tak mungkin mereka membawanya sambil jalan kaki ke rumah.
"Erna?" panggil seseorang dari kejauhan. Ia sudah melihat Erna keluar dari pasar saat dirinya ingin masuk ke dalam mobil seusai belanja bersama ART nya.
Erna membalikkan badannya, ia mengernyitkan dahinya bingung. Orang yang memanggilnya berlari kecil ke arahnya.
"Kamu Erna kan? menantu pak Chandra Kalandra. Aku Indira, istri Guntur Raharja."
Erna hanya mengangguk pelan. "Iya, anda siapa?"
Indira tersenyum cerah sontak ia memeluk badan Erna. "Sudah lama aku ingin bertemu denganmu calon besan. Oh ya putrimu mana? aku ingin melihatnya secara langsung. Aku cuma melihat dari foto saja dan beberapa info dari asisten pribadi suamiku. Anakmu sangat cantik dan sifatnya baik sekali. Aku menyukai anakmu sebagai menantuku." kata Indira panjang lebar.
Erna terkejut mendengar ucapan Indira. Sampai segitunya ayah mertua ingin menikahkan Emma dengan cucu dari temannya. Bahkan sampai mematai kehidupan Emma.
"Oh ya? anakku tak bersamaku sekarang. Lain kali saja anda bertemu dengannya. Saya permisi." Erna tak berniat mengobrol lebih banyak dengan Indira, hatinya masih tak terima jika anaknya di atur oleh ayah mertua yang sangat tak menyukainya.
"Loh buk Erna mau kemana? kita belum mengobrol banyak. Buk Erna?!" panggil Indira.
__ADS_1
"Mah, aku udah dapat udangnya." Alya mendekati Erna sambil membawa belanjaannya. Alya menoleh ke belakang, melihat Indira yang memanggil ibu mertuanya.
"Ayo cepat kita pulang. Mamah udah kasih pesen sama mang Udin." ajak Erna terburu-buru.
"Mah, tapi ibuk itu manggil mamah."
"Udah biarin aja. Ayo."
Supir keluarga Rahardja mendekati Indira untuk mengajak nyonya besar mereka pulang. Indira yang masih melihat ke arah Erna dan Alya hanya bisa pasrah dan mengikuti supirnya ke mobil.
"Ada apa dengannya? sepertinya dia tak senang dengan perjodohan ini." gumam Indira.
°°°°°
"Anak-anak ayo makan nuggetnya, nih udah tante goreng buat kalian."
Emma meletakkan piring berisi enam nugget beserta saus tomatnya di atas meja. Lia dan Marcel, keponakannya itu suka sekali dengan frozen food yang satu itu.
Kakak ipar dan ibunya sedang memasak untuk makan siang, jadi tugas Emma hanya menemani Lia dan Marcel bermain. Kebetulan hari ini ia tak ada jadwal kuliah dan sorenya ia bekerja di swalayan.
Lia, Putri sulung kakaknya sudah berusia 7 tahun dan sudah kelas 1 SD sedangkan Marcel masih 5 tahun dan baru sekolah TK.
"Tante, kata papa tante udah pacar ya? siapa namanya?" tanya Lia yang ingin tau sekali. Lia anaknya banyak bertanya dan cerewet, Marcel bocah itu lebih banyak diam dan hanya berbicara jika ada orang yang mengajaknya bicara.
Emma membulatkan matanya. "Ih kamu ini, kapan papa kamu bilang? Lia, itu urusan orang dewasa, kamu masih kecikkk. Jadi, jangan kepo sama urusan orang dewasa ya."
"Aku denger papa bicara sama pacar tante, namanya Gio. Om Gio." jelas Lia.
"Mana ada tante pacar. Ish sudahlah masih kecil juga, udah tau yang namanya pacar. Belajar sana yang rajin, ompol kamu aja masih basah tuh di kasur tante."
Lia yang sedang mengunyah nuggetnya, cemberut karena ucapan Emma yang mengejek dirinya. Marcel tertawa lepas mendengar kakaknya masih ngompol.
__ADS_1
"aku gak ngompol tante, tapi Marcel tuh yang ngompol." bela Lia tapi malah menuduh Marcel. Marcel yang tak terima di tuduh, langsung mengambil semua nugget milik Lia.
"Marcelll!"
Suara cempreng khas Lia terdengar sampai ke dapur. Alya dan Erna hanya menggelengkan kepalanya sudah biasa mendengar teriakan melengking dari Lia dan tingkah usil Marcel pada kakaknya.
°°°°°
Siang ini, Stevano sudah berada di kedai milik Marina. Di kedai hanya ada Marina dan dua karyawannya, Tania masih di tempat kerjanya.
"Nak Vano sudah makan? ini udah jam 12 siang." tegur Marina sambil membawa soto ayamnya.
Stevano yang sedang melamun, tersentak dan memaksakan senyumnya. "Belum bu, mungkin sebentar lagi saya makan."
"Makanlah dulu nak Vano, sebentar lagi Tania pulangnya. Nanti kalau nak Vano tidak makan, Tania bakalan ngoceh sampai malam loh." tanpa di minta, Marina meletakkan soto ayam beserta minumnya di atas meja Stevano.
Mau tak mau, Stevano menerima makanan dari Marina dan memakannya. Ia tak mau Tania khawatir jika ia belum makan dari pagi.
"kedatangan kami kesini, ingin membicarakan perjodohan kamu dengan Emma anaknya pak Anwar, guru sekolah kamu dulu."
"Kek, nek aku udah punya pacar. Sebentar lagi aku mau melamarnya. Tolong jangan jodohkan aku dengan gadis itu, aku tak mencintainya."
"Vano kakek tak setuju dengan kekasih kamu saat ini, sebaiknya kamu putuskan gadis itu dan terima perjodohan ini. Kakek yakin kamu pasti mencintai Emma seiring waktu. Emma gadis yang baik dan penurut."
"Tania juga gadis baik kek, mah tolong kasih pengertian pada kakek dan nenek. Aku hanya mencintai Tania, aku tak menyukai gadis bernama Emma itu."
"Vano, mama lebih suka kamu dengan Emma di banding Tania. Asal-usul Tania tidak jelas, mama lebih senang punya menantu yang latar belakangnya Bagus seperti keluarga Emma."
"Tetap aku tidak mau di jodohkan mah. Sudahlah, percuma aku disini. Aku tetap akan menikahi Tania."
"Vano, jadi kamu lebih memilih gadis itu daripada permintaan mamamu ini? baiklah, silahkan pilih gadis itu tapi jangan pernah menampakkan dirimu di keluarga ini. Kamu dan kami tidak ada hubungan, semua usaha yang di bangun kakekmu akan jatuh ke tangan sepupumu Anara."
__ADS_1