
Saat ini Theo dan Emma duduk berdua di kantin rumah sakit. Emma menyeruput teh hangatnya sedangkan Theo menatap hamparan kebun di samping kantin rumah sakit yang banyak di tumbuhi berbagai tanaman Indah. Kedua kakak beradik itu duduk berhadapan.
"Dulu kakak sama ayah ingin sekali melihat kamu bersanding di atas altar pernikahan bersama pria yang sangat kamu cintai begitu pun sebaliknya. Ayah pernah bilang pada kakak, kamu masih terlalu kecil untuk berpacaran atau mengenal lawan jenis jadi ayah meminta pada kakak untuk melindungi kamu dan jika seandainya ada pria yang mendekati kamu, kakak harus menyelidiki latar belakang dan segala sifatnya. Gio, pria yang menurut kakak sangat sempurna untuk bersanding dengan kamu ya karena dia dari keluarga baik-baik dan sifatnya Bagus. Kakak ataupun ayah tak memandang siapa pria yang akan menjadi suamiku, mau itu kaya atau sederhana yang penting pria itu menyayangi kamu dan mau bekerja keras untuk membahagiakan kamu. Gio melakukan semuanya bahkan dia bekerja di tempat teman satu sekolah kakak sekarang." ucap Theo dengan tersenyum miris.
Emma menatap Theo dengan mata berkaca-kaca. Ia terharu dengan ucapan kakaknya yang selalu peduli padanya walaupun jarak usia mereka terbilang jauh.
Emma meraih tangan Theo dan menggenggamnya erat seakan tak ingin berjuhan dari sang kakak. Theo membalas genggaman tangan Emma tak kalah eratnya di atas meja.
"Kakak dan ayah adalah superhero bagiku. Kalian tak pernah tergantikan dalam hidupku sekalipun aku sudah menikah nantinya." kata Emma dengan sesegukan.
"Iya kakak tau itu, kamu adalah adik kakak satu-satunya. Mama sama papa sudah lama menantikan kamu, kakak pun begitu sudah sangat ingin punya adik agar ada teman bermain."
Keduanya diam sambil menatap hamparan kebun yang selalu bermekaran di samping kantin rumah sakit. Sepertinya petugas kebersihan sangat rajin menyiram dan memberikan pupuk pada tanaman-tanaman itu.
"Jika suatu saat suamimu berlaku kasar atau tak mengenakan, tolong bilang pada kakakmu ini. Jangan di pendam walaupun itu adalah urusan rumah tanggamu. Kakak akan membantumu sebisa mungkin." kata Theo tiba-tiba.
Emma menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis. "Aku janji."
Theo membalas senyum Emma, tangannya terulur untuk mengusap rambut panjang sang adik.
°°°°°
Di kediaman keluarga Rahardja, Guntur bersama istri serta kedua orang tuanya sedang duduk bersama di ruang keluarga. Mereka tengah mengobrol santai untuk membahas pertemuan dengan keluarga Emma.
Stevano yang sudah rapi dengan setelan casualnya turun dari lantai atas, rencananya ia akan mengajak Tania jalan-jalan berhubungan hari ini adalah hari libur.
Mendengar bunyi telapak sepatu dari tangga, semua anggota keluarga yang berada di lantai bawah menoleh dan tampaklah Stevano yang akan bersiap pergi.
"Kamu mau kemana Vano?" tegur Indira.
__ADS_1
Stevano menghentikan langkahnya lalu menghela napasnya kasar. "Aku mau keluar."
"Tidak boleh. Kamu harus di rumah, malam ini kita akan ke rumah Emma untuk membicarakan acara pernikahan kalian." seru Guntur.
Pria 25 tahun itu mengepalkan kedua tangannya dan berbalik menghadap ayahnya.
"Pah, sudah berapa kali aku bilang aku tidak ingin menikahi gadis asing itu. Tolong mengerti diriku. Aku sudah mempunyai kekasih dan sebentar lagi kami akan menikah. Aku tak peduli jika tidak dapat restu dari kalian." setelah mengucapkan itu, Stevano beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga.
"Berhenti!"
Sontak langkah Stevano terhenti ketika suara kakeknya menggelegar di rumah mewah tersebut.
"Jika kau nekat menemui gadis itu, siap-siap saja kau tak akan pernah bertemu dengannya. Camkan itu!" Sentak Wisnu, kakek Stevano. Kemudian pria tua itu pergi dengan menggunakan tongkat untuk membantu langkahnya, di ikuti oleh istrinya dari belakang.
Guntur tersenyum miring melihat Stevano berbalik masuk ke kamarnya. Indira yang melihat anaknya memendam amarah hanya bisa pasrah. Sebenarnya ia tidak memandang latar belakang calon istri Stevano namun setelah suaminya menceritakan siapa Tania dan keluarganya, Indira pun setuju menjodohkan Stevano dengan Emma, gadis baik hati yang pernah menolongnya.
Emma yang saat itu sedang menemani teman sekolahnya yang jadi anggota tari tradisional di acara pernikahan, masuk ke bilik toilet untuk mencuci mukanya. Melihat ibu-ibu yang sedang kesusahan dengab roknya yang robek, Emma segera membantu untuk menjahit ala kadarnya saja. Beruntung ada alat jahit milik Sandra yang ketinggalan di laci kelas yang ia selamatkan. Sandra suka sekali membuat mainan gantungan kunci dari kain flanel yang kemudian ia jual ke teman-teman sekolah.
"Kamu bisa jahit ini? sepertinya robekan roknya gak terlalu panjang tapi terlihat jelek jika di pakai." kata Indira.
"Bisa kok buk, cuma jahit sedikit aja sih ini nanti pas di rumah ibu permak aja kembali ke tukang jahit. Sayang roknya Bagus banget kalo cuma sekali pake."
Emma menjahit rok tersebut, ia meminjamkan celana training miliknya pada Indira selagi rok kebayanya di jahit.
"Nah udah siap, coba ibu pakai dulu. Siapa tau ada yang gak kejahit." Emma menyerahkan rok itu ke Indira.
"Wah rapi banget. Makasih ya dek udah bantu tante, oh ya nama kamu siapa?"
"Emma tante."
__ADS_1
"Nama yang Bagus. Nama tante Indira, makasih ya. Jadi gak enak sama kamu nih."
Indira mengeluarkan uang berwarna merah dua lembar dan memberikannya pada Emma, namun Emma menolaknya.
"Gak usah tante, cuma jahit dikit doang kok. Kalo gitu aku permisi ya tante, kayaknya temen aku udah selesai performnya."
Emma berlalu dari toilet meninggalkan Indira sendirian.
"Anak yang baik, seandainya ia jadi menantuku pasti akan sangat menyenangkan belajar menjahit bersama." gumam Indira.
°°°°°
"Eum baiklah, lain kali aja kita pergi jalan-jalannya. Nggak, aku rencana mau ke kedai ibu buat bantu-bantu. Ya udah, kamu istirahat yang banyak jangan lupa minum obat."
Tania menatap ponselnya, Stevano tidak jadi mengajaknya main keluar hari ini dengan alasan tak enak badan.
"Alasannya gak masuk akal, baru tadi malam ia sehat-sehat aja dan sekarang mendadak sakit. Apa papanya tau jika Stevano sering bertemu aku ya? tapi tak mungkin papanya orang sibuk. Ah sudahlah, lebih baik aku ke kedai ibu saja."
Tania bersiap-siap pergi ke kedai ibunya, ia meraih kunci motornya. Saat mematikan TV, pintu rumahnya di ketuk seseorang dari luar. Tania berjalan ke pintu lalu membukanya. Ia mengernyit heran melihat punggung tegap seseorang seperti Stevano.
"vano? tapi katanya sakit, kenapa malah kesini?" kata Tania.
Orang tersebut membalikkan badannya dan menatap Tania dalam. Tania kaget ternyata bukan Vano yang datang melainkan orang lain yang proporsi tubuhnya hampir sama dengan Stevano.
"Oh? anda siapa ya? mau cari siapa?" tanya Tania bingung.
Tiba-tiba pria itu membekap mulut Tania dan memaksa masuk ke dalam rumah yang hanya Tania sendiri di dalamnya. Pria itu menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Eh, anda siapa? tolong lepaskan saya. eum eum, tolong?! tolong?!" pekik Tania sambil memberontak. Ia memukul tubuh pria itu dengan sekuat tenaga sebelum akhirnya pemandangannya gelap.
__ADS_1