We Will Be Together Someday

We Will Be Together Someday
Chapter 06


__ADS_3

Lamunan Emma terhenti ketika nada dering ponselnya berbunyi. Ia meraih ponselnya dari dalam tas, keningnya berkerut heran melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Tumben kak Theo nelpon? Ada apa ya?" gumamnya sambil mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo kak, gimana kabarnya?" tanya Emma setelah menekan tombol hijau di layar ponselnya.


'Baik ,kakakmu juga. Dek, kata papa kamu bakalan nikah ya? Kok cepet banget, kuliah kamu gimana?' 


Emma mendesah pelan. "Aku gak tau kak, kayaknya ada yang disembunyikan papa sama mama deh. Aku aja baru tau kemarin habis pulang dari kampus."


Theo terdiam sejenak. Sebenarnya ia sudah tau hal ini pasti terjadi, tapi ia tak menyangka akan secepat ini kakeknya bertindak.


"Kak? Lagi sibuk ya?" tanya Emma di seberang sana.


'Ouh gak dek. Kamu lagi dimana sekarang?' 


"Di taman dekat kampus, udah selesai sih tapi aku pengen aja duduk disini." kata Emma seraya cengengesan.


'Oh ya, ada yang ingin kakak kasih tau sama kamu tapi ingat jangan sampai papa sama mama tau ya.'


"Ada apa kak? Kok mama sama papa gak boleh tau?" tanya Emma.


'Eum. Begini, kamu tau gak kakek kita masih hidup. Coba kamu datangi rumah kakek, alamatnya kakak kurang tau. Tapi, kamu periksa aja lemari mama sama papa, cari alamat kakek.'


"Aku tau kakek masih hidup tapi untuk apa ke rumahnya? Papa larang aku kesana, lagipula aku gak terlalu dekat sama kakek."


'Kakak pengen kamu kesana dan cari tau kenapa kamu nikah secepat ini? Bahkan kamu dijodohin sama orang lain.' 


"Maksudnya apa kak? Jadi bukan papa yang jodohin aku? Terus hubungannya sama kakek apa? Atau kakak selama ini udah tau kalau aku bakalan dijodohin?" tanpa sadar Emma membentak Theo lewat telpon sehingga orang-orang yang berada di taman menoleh padanya.


Theo yang masih berada di tempat kerjanya, mengusap wajahnya kasar. Ia merasa bersalah pada sang adik. Ya, memang benar selama ini Theo mengetahui hal itu dari kedua orang tuanya. Awalnya Theo menentang keras kakeknya bahkan ia hampir menghajar pria tua itu jika saja pengawal di rumah besar itu tidak ada. Namun, dirinya juga tak bisa bertindak karena ada istri dan anak-anaknya yang harus ia jaga.


"Kak Theo, jawab aku! Jangan diam saja." pekik Emma. Gadis itu bahkan tak memperdulikan lagi tatapan aneh orang-orang pada dirinya.


'Emma, besok pagi kakak pulang ke rumah. Tolong, jangan banyak bicara pada mama dan papa. Kakak khawatir dengan kesehatan mama, dek.' setelahnya panggilan terputus begitu saja.


Emma mengecek ponselnya. Ia berdecak kesal karena Theo mematikan sambungan telponnya sepihak.


"Ini apalagi? Mama sakit, kenapa aku gak tau. Ada apa sebenarnya ini? Apa hanya aku saja yang tidak tau apa-apa?" lirihnya sambil berusaha menelpon Theo berulang kali.


".....Tidak diangkatnya. Oke, aku akan tunggu sampai besok pagi."


Emma berdiri dari duduknya dan meninggalkan taman itu.


°°°°°


'Tania, aku akan ke kedai ibumu. Tunggu aku ya.' 


Tania tersenyum bahagia melihat pesan dari Stevano. Ia bergegas mengganti pakaiannya dan sedikit memoles wajahnya dengan bedak. Sebelumnya ia sudah mandi, rencananya mau tidur sebentar sebelum berangkat ke kedai ibunya.

__ADS_1


"Kayaknya aku harus pake lipstik sedikit deh." Tania meraih lipstik berwarna merah muda lalu mengaplikasikan ke bibirnya.


".....perfect, gak terlalu menor."


Tania mematut dirinya di depan kaca. Memakai blouse warna peach dengan celana jeans hitam, Tania membiarkan rambutnya tergerai.


Gadis 24 tahun itu tersenyum cerah seraya membayangkan dirinya bertemu Stevano dan memeluk tubuh pria yang dicintainya itu.


Tania mengambil kunci motornya lalu menyambar tas selempangnya. Menghidupkan mesin motor matic tersebut dan melaju membelah jalanan ibukota.


°°°°°


Stevano mengangkat kotak yang sudah ia bungkus secantik mungkin untuk Tania. Pria itu tersenyum bahagia karena sebentar lagi ia bertemu dengan sang pujaan hati setelah 5 tahun menetap di negri orang.


Tok..... Tok.....


"Stevano, ini ibu. Boleh masuk gak?" tanya Indira dari luar.


Dengan cepat Stevano menyimpan kotak tersebut ke dalam paper bag lalu memasukannya ke dalam kolong tempat tidur. Takut ketahuan oleh ibunya dan melaporkannya ke sang ayah.


"Masuklah bu." sahutnya.


Indira membuka pintu kamar Stevano. Ia menatap sekeliling kamar yang bernuansa monokrom tersebut.


"Ayah sama anak sama aja. Apanya sih yang istimewa dengan kegelapan ini?" gumanya sebal.


Stevano menggaruk tengkuknya gugup. "Mau ketemu temen lama bu. Mereka udah nungguin di kafe tempat biasa aku nongkrong waktu SMA."


Indira menganggukan kepalanya. "Oh ya, nanti malem kakek sama nenek kamu mau datang. Jangan sampai telat pulangnya ya."


"Kakek sama nenek? Biasanya aku yang bakalan disuruh ke rumah."


"Iya. Katanya mereka kangen sama cucu kesayangannya. Makanya jauh-jauh dateng kesini cuma mau lihat kamu."


"Ouh ya sudahlah. Bu, aku pergi dulu ya. Soalnya mereka udah pada nungguin."


"Baiklah. Inget, jangan pulang terlalu malem. Kasihan kakek sama nenek kamu nunggu nanti."


Stevano hanya tersenyum, Indira beranjak dari kamar sang anak. Melihat ibunya pergi, Stevano mengambil paper bag tadi lalu berjalan santai keluar dari kamarnya. Beruntung ibunya lebih suka duduk di halaman belakang sambil minum teh dan mengobrol dengan para pelayan, jadi wanita yang sudah melahirkanya itu tak akan melihat barang yang ia bawa.


"Stevano? Kamu mau kemana?" tanya seseorang mengagetkannya. Stevano melempar barangnya ke dalam jok belakang mobil. Lalu membalikan tubuhnya.


"Ke tempat teman lama yah di kafe tongkrongan waktu aku SMA." jelas Stevano berusaha untuk tidak gugup.


"Ouh. Ya sudah, hati-hati." ucap Guntur.


"Iya yah. Aku pamit."


Stevano mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Guntur hanya tersenyum miring melihat tingkah sang anak.

__ADS_1


"Cepat ikuti anak itu dan laporkan apa saja kegiatannya." perintar Guntur pada Dean yang selalu bersamanya. Dean menganggukkan kepalanya, lalu berjalan cepat ke tempat area parkir mobil milik keluarga Rahardja.


°°°°°


"Tante, lagi ngapain?" tanya Sandra saat datang ke rumah Emma setelah pulang dari kampus.


Erna yang sedang menyapu halaman rumahnya, membalikkan badannya ke pagar rumah. Wanita berusia 50 an itu tersenyum hangat pada anak dari temannya.


"Lagi nyapu halaman rumah nih dra. Eh, kok gak langsung pulang ke rumah dulu? Gak di tanyain sama mama kamu nanti." kata Erna sambil membukakan pintu pagar.


"Aku udah ngasih kabar sama mama Tan. Kata mama kalo pulangnya kemaleman, nginap di rumah tante aja dulu. Besok pagi di jemput papa." Sandra masuk lalu menyalami tangan ibu dari sahabatnya.


"Ouh gitu. Ya udah masuk gih, Emma di kamarnya sejak tadi." ajak Erna.


"Oke tante. Aku masuk ya."


"Iya, oh ya kamu udah makan belum? Tante tadi masak lumayan banyak, kalau mau makan tinggal dipanasin aja dulu."


"Udah tadi Tan. Nanti aja kalau laper tan."


"Baiklah."


Erna melanjutkan kembali menyapunya. Sedangkan Sandra masuk ke dalam dan berjalan menuju kamar Emma.


"Emma, ini aku Sandra. Boleh masuk gak?" tanyanya seraya mengetuk pintu kamar berwarna coklat tua tersebut.


"Eumm, masuk lah." sahut Emma dari dalam.


Sandra membuka pintu kamar Emma, terlihat dari dalam Emma baru bangun tidur dan sekarang sedang duduk di atas kasurnya.


Sandra mendengus sebal, ia melipat lengannya di atas perut. "Eh non, pantes gak ada balas pesan aku. Ternyata tidur siang ya."


Emma mengucek kedua matanya, ia menyipitkan matanya. "Oh Sandra, ngapain disini?" tanyanya dengan suara khas orang bangun tidur.


Gadis berambut panjang itu duduk di atas kasur Emma.


"Aduh Emma, aku kan udah kirim pesan tadi kalo nanti malem acara ulang tahunnya Raina. Ish, udah berulang kali malah aku ingetin." gerutu Sandra sambil memperlihatkan layar ponselnya.


Emma membulatkan matanya, gegas ia meraih ponselnya yang di atas meja.


"Astaga aku lupa!" pekik Emma.


Sandra memutarkan bola matanya malas. Ia beranjak dari tempat tidur lalu membuka lemari pakaian milik Emma.


"Ngapain?" tanya Emma heran melihat Sandra membuka lemari pakaiannya.


"Cepet mandi, biar aku cariin baju yang cocok untuk kamu." Sandra sibuk mencarikan pakaian yang cocok di kenakan oleh Emma.


Emma berdiri dari duduknya dan segera masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2