
"Oh ya udah kak, aku gak papa kok. Semoga kakak dan istri bahagia selalu. Hmm,"
Emma menatap layar ponselnya yang masih terhubung dengan Gio. Tak lama kemudian, ponselnya redup yang menandakan Gio telah mematikan panggilan telponnya. Gadis bermata bulat itu memandang sendu walpaper ponselnya yang menampilkan potret dirinya bersama Gio saat di pameran seni.
"Kenapa baru sekarang ngomongnya? apa ini balasan untukku karena aku juga di jodohkan tapi aku tak bilang ke kak Gio? Tapi... "
Emma terduduk lemas di lantai kamarnya, ia menangis terisak sambil menepuk dadanya yang terasa sesak. Sungguh ia amat mencintai Gio namun kenapa Gio begitu tega membohonginya dengan alasan pulang kampung.
"Kak Gio maafkan aku, jika seandainya aku mengatakan yang sebenarnya mungkin kak Gio tak akan menikah dengan perempuan lain." lirihnya dengan tersedu-sedu.
Tadi pagi Gio tiba-tiba menelponnya, Emma yang sedang menunggu telpon dari Gio, tentu saja antusias dan senang. Namun kebahagiaannya redup setelah Gio mengatakan suatu hal yang mampu membuat seluruh dunianya runtuh. Gio di paksa menikahi calon istri kakaknya, sementara sang kakak kecelakaan ketika hendak pulang ke kampung halamannya. Demi nama baik keluarga, Gio menerima Chintya yang diam-diam sedang mengandung buah cintanya dengan sang kakak. Pernikahan mereka sudah di laksanakan satu hari yang lalu namun Gio baru mengatakannya pagi ini. Gio terpaksa menikahi Chintya dan meninggalkan Emma tanpa ada kata putus di antara mereka.
°°°°°
Dean, salah satu asisten pribadi Guntur terlihat keluar dari gedung perusahaan Rahardja Grup siang ini. Pria bertubuh tinggi semampai dengan postur tubuhnya yang atletis itu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya sambil berjalan menuju parkiran mobilnya.
"Siap tuan. Akan saya laksanakan hari ini juga." ucapnya lewat ponsel. Setelah memastikan panggilannya terputus dari seberang, Dean menaruh ponselnya di dashboard mobil.
Ia menghela napas kasar lalu melajukan mobilnya meninggalkan pelataran gedung.
Di laci dashboard mobilnya, ia menyimpan selembar foto yang telah usang. Dean lantas mengambilnya dan memandang nanar foto tersebut.
"Maafkan aku, tapi aku mencintaimu." lirihnya lalu melempar foto tersebut kembali ke laci.
__ADS_1
°°°°°
Malam ini, Stevano terpaksa menemui Emma di salah satu restoran mewah yang sudah di reservasi oleh orang tuanya. Dengan hati yang sedang sedih karena kehilangan Cinta pertamanya, Emma menuruti permintaan kakeknya untuk datang menemui Stevano.
Emma telah siap dengan gaun terbaiknya, ia meraih tas selempangnya lalu beranjak keluar dari kamarnya. Supir pribadi keluarga Rahardja datang untuk menjemputnya. Di ruang tamu, ada ayah dan ibu serta kakaknya sementara Alya sedang membacakan dongeng untuk kedua anaknya agar segera tidur.
"Mah, pah aku pergi dulu. Pak supirnya udah di luar kan?" tanya Emma.
"Udah. Baru aja datang, baik-baiklah dengan nak Vano. Menurut mama, dia anak yang baik walaupun terlihat sangat kaku. Jika ada hal yang tak mengenakkan, langsung pulang aja." Erna tersenyum walau hatinya masih tak terima dengan perjodohan ini. Ia mempunyai firasat jika Stevano bukanlah pria yang baik. Jika dia pria yang baik pasti datang kesini untuk menjemput Emma, tidak menyuruh supirnya. Sedangkan pria tersebut sudah berada di restoran kata supirnya.
Emma membalas senyum Erna. "Iya mah."
"Nak, maafkan papamu ini. Tak bisa melindungimu." ucap Anwar lirih. Ia merasa malu karena tak bisa bersikap tegas menentang ayahnya.
Emma melangkah ke luar dan menemui supir. Sang supir membukakan pintu mobil untuk calon istri tuan mudanya. Emma membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya pada keluarganya.
°°°°°
"Kenapa kau menerima perjodohan ini?" tanya Stevano yang sejak kedatangan Emma tak bersuara.
Emma yang sedang menonton penyanyi yang tengah memainkan pianonya di atas panggung kecil restoran ini, mengalihkan pandangannya ke Stevano. Alunan musiknya mampu menghipnotis Emma sampai tak sadar Stevano menatapnya dingin.
Emma hanya menatap Stevano datar lalu, "Aku hanya ingin membuat kedua orang tuaku bahagia." ucapnya kemudian. Ia meraih sendok kecil lalu mengaduk teh lemon hangatnya dan menyesapnya tanpa memperdulikan Stevano yang menatapnya tajam.
__ADS_1
"Kau ingin kedua orang tuamu bahagia tapi kau menghancurkan kebahagiaanku. Jika seandainya kau menolak perjodohan ini, aku masih bersama wanita yang kucintai." kata Stevano.
Emma meletakkan teh lemonnya di atas meja. kemudian beralih melihat Stevano. "Kalau begitu bicaralah pada orang tuamu untuk membatalkan perjodohan ini lalu menikahlah dengan wanitamu itu."
Ucapan Emma mampu membuatnya terdiam. Bagaimana caranya ia membujuk keluarganya untuk menerima Tania sebagai istrinya.
Sebelum ia berangkat ke Kanada, Stevano pernah membawa Tania ke rumah untuk di perkenalkan pada keluarga agar sebelum dirinya ke Kanada, ia dan Tania bertunangan terlebih dahulu. Namun, ayah dan kakek-neneknya menolak mentah-mentah niat baik Stevano dan menghina Tania yang latar belakang keluarganya tak jelas hanya sang ibu yang tak membuka suara. Sejak saat itu Tania tak ingin muncul di hadapan keluarga Stevano.
"Kenapa kau diam?" tanya Emma. Gadis itu tertawa kecil melihat wajah bingung Stevano.
"..... jika aku bisa menolak, aku tak ingin menerimamu sebagai calon suamiku. Tapi aku tak berdaya karena aku hanya ingin orang tuaku bahagia dan sehat selalu tanpa berada di bawah tekanan." ucap Emma yang tak dimengerti Stevano.
"Apa maksudmu? bukankah ayahmu yang merencanakan perjodohan ini?" tanya Stevano. Stevano ingat sekali jika ayahnya dan ayah Emma yang merencanakan perjodohan ini seperti yang ia dengar dari ibunya.
Emma menggelengkan kepalanya."bukan ayahku tapi kakekku. Pria tua yang tak pernah aku lihat tapi malah berkuasa di kehidupan keluargaku. Seandainya ayah dan ibuku tak menikah, mungkin hal seperti ini tak akan terjadi. Dan kau pun bisa menikah dengan wanitamu."
Stevano berdehem pelan. "Begini saja, perjodohan ini tetap berlanjut tapi kita harus membuat kesepakatan. Kau bersedia?"
Emma mengernyitkan dahinya. "Kesepakatan? apa?"
"Kita menikah tapi setelah satu tahun kita harus bercerai. Aku akan menikahi wanitaku dan kau terserah ingin melakukan apa. Selama pernikahan jangan ada perasaan di antara kita dan jangan ikut campur dengan urusan masing-masing. Kita tidur terpisah tapi saat orang tuaku atau orang tuamu berkunjung, bersikap biasa saja seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Bersikaplah seperti orang asing jika di rumah." kata Stevano seraya memberikan selembar kertas yang sudah ada materai dan tanda tangannya.
Emma tampak memandangi kertas tersebut, tak lama ia menganggukkan kepalanya setuju. "Baiklah, aku setuju. Kau simpan saja salinan kertas ini dan berikan padaku setelah kita menikah nanti."
__ADS_1