
"Kak Vano? udah lama di sini ya?" tegur Tari yang baru pulang dari sekolah.
"Eh Tari, lumayan lah. Baru pulang ya?"
Tari menganggukkan kepalanya pelan. Lalu duduk di kursi berhadapan dengan Stevano.
"Ada apa kak? melamun aja. Lagi mikiran Mbak Tania ya?" tanya Tari sambil menyeruput minuman botolnya.
Stevano menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Nggak cuma lagi mikirin pekerjaan kakak aja yang numpuk. Kamu sekolahnya gimana? udah kelas berapa sekarang?"
Tari menghembuskan nafasnya berat. Ia Melesukan bahunya ke bawah seraya melepaskan tas ranselnya dan menaruhnya di kursi sebelahnya.
"Sekolah ku baik kak, sekarang udah kelas 2 bentar lagi kelas 3. Tugas dari sekolah banyak banget sampai aku tidurnya udah larut malam."
"Yang rajin ya sekolahnya biar bisa dapat beasiswa kuliah di kampus terbaik. Tania sering cerita kalo kamu selalu juara kelas dan dia berharap kamu bisa sukses melebihi dirinya."
"Eum mbak sering semangati aku buat sekolah tapi aku males sama teman-teman yang sok kaya dan sok berkuasa kak."
"Maksudnya? kamu di jauhi gitu karena anak beasiswa?"
Tari menganggukkan kepalanya lesu.
"Ah itu jangan peduliin mereka, fokus ke tujuan kamu ke sekolah itu untuk apa. Belajar dapat nilai Bagus terus tamatnya biar bisa kuliah." ucap Stevano.
"Iya kak. makasih udah support aku, kak Vani sama mbak Tania cocok kalo jadi suami-istri. Biar nanti anak-anaknya bangga punya orang tua seperti kalian." kata Tari seraya tersenyum manis.
Senyuman di wajah Stevano meredup setelah mendengar ucapan Tari. Stevano bingung harus mengatakan apa pada Tania dan ia pun tak ingin melepaskan Tania begitu saja demi menikahi gadis yang tak di kenalnya.
"Vano, jika kamu nekat masih berhubungan dengan gadis bernama Tania itu, jangan salahkan papa jika suatu hal yang terjadi dengannya."
Ancaman papanya tak main-main kali ini, Stevano tak mau terjadi hal buruk menimpa gadis yang di cintainya. Ia ingin Tania selalu bahagia.
°°°°°
"Ih kesel deh, gara-gara kutu kupret itu aku jadi sial gini. Arhhhh!" pekik Sandra di kantin kampus, untung saja hanya beberapa mahasiswa di dalamnya. Mereka menatap tajam Sandra namun di balas acuh oleh gadis berambut berantakan itu.
Emma berdiri dari duduknya dan meminta maaf pada mahasiswa lain yang terganggu karena teriakan Sandra.
__ADS_1
"Udah dong San, liat tuh mereka mau kayak memakan kamu. Lagian sih kamu polos banget jadi orang, mau aja di ajak dinner di restoran mahal. Akhirnya kamu di tipu sampai di tinggalin bayar makannya sendiri." rutuk Emma dengan nada kesal.
"Kan aku gak tau kalau ujung-ujungnya di tipu kayak itu. Awal kenalan orangnya humble, baik. Mana tau aku kalau dia tukang tipu."
Sandra menidurkan kepalanya di atas meja seraya mengoceh, menyumpahi pria yang telah menipunya. Emma memutar bola matanya jengah lalu memakan kembali bakso ayamnya yang hampir dingin.
Beberapa hari yang lalu, Sandra di dekati kakak seniornya Adrian. Sandra yang sudah lama menjomblo akhirnya menerima ajakan Adrian kencan di beberapa tempat wisata dan tadi malam Adrian mengajaknya dinner di restoran seafood namun Adrian pergi begitu saja setelah izin ingin ke toilet sebentar. Sandra yang sudah lama menunggu di mejanya, berinisiatif mencari Adrian ke toilet namun Adrian pergi tanpa membayar makanan mereka. Dengan hati dongkol, terpaksa Sandra yang membayar tagihannya.
"Kan udah di ingetin Vanya, kalo Adrian itu tukang tipu. Korbannya juga bertebaran di kampus ini. Kamunya aja yang gak mau dengerin, tuhkan rugi kamu. Berapa kemarin uang kamu keluar?"
Sandra menegakkan kepalanya dan mengacungkan 3 jarinya.
"tiga apa nih? tiga ratus ribu?" tanya Emma bingung.
"tiga juta." kata Sandra singkat.
"Apa??!" pekik Emma yang bahkan mengalahkan suara Sandra.
"...... Ya ampun San, kok kamu mau banget sih di ajak dinner tapi kamu yang bayarin. Oh My God, kenapa sahabat ku polos kali ya tuhan."
Emma menjauhkan mangkok baksonya lalu beranjak pergi meninggalkan Sandra yang duduk.
"Lah Emma mau kemana? ini siapa yang bayarin?" teriak Sandra.
°°°°°
"Ma, mau kemana? kok belum ganti baju?" tanya Sandra tiba-tiba ketika melihat Emma terburu-buru keluar dari ruang ganti.
Dengan mata sembab Emma beralih menatap Sandra. "mama masuk rumah sakit San, aku harus ke sana. tolong izinin sama pak Edo ya."
"Tapi ma... "
"..... Aku ikut, kak Ayu tolong gantiin aku di kasir. mamanya Emma masuk rumah sakit, aku mau nganterin dia dulu takut kenapa-napa pas bawa motor." pinta Sandra seraya mengambil kunci motornya.
"Iya, cepet kejer Emma." seru Ayu.
Sandra mengejar Emma yang sudah berlari ke area parkir, Emma tampak bingung mencari motornya.
"Emma ayo naik, biar aku yang bawa motor." ajak Sandra yang sudah bersiap dengan helmnya.
__ADS_1
Emma menganggukkan kepalanya, kemudian naik ke motornya.
Selama perjalanan ke rumah sakit Medical, Emma tak hentinya menangis dan merutuki dirinya sendiri yang tak tahu apa-apa tentang sakit ibunya. Sandra yang sambil menjalankan motor berusaha menenangkan Emma dan sesekali berteriak karena keadaan jalan yang ramai kendaraan.
15 menit kemudian, keduanya sampai di rumah sakit. Tanpa melepaskan helmnya, Emma berlari menuju ruangan sang ibu begitu pula Sandra yang terpaksa mengikuti Emma dengan menggunakan helmnya.
"kak, mama kenapa? keadaan mama gimana? papa mana?" tanya Emma setelah sampai di ruangan Erna.
Theo berdiri dari duduknya lalu memeluk sang adik yang masih menangis. Anwar tak ada di lorong rumah sakit hanya Alya yang sedang membayar administrasi Erna.
"Kamu tenang aja, mama lagi di tangani dokter di dalam."
"Tapi apa sakit mama, kenapa hanya aku yang tidak tahu?" pekik Emma sambil sesegukan. Sandra berdiri di sebelahnya, mengusap bahu Emma.
"Ma, pelan-pelan aja nanya. Ini rumah sakit loh." tegur Sandra. Ia merasa kasihan dengan raut wajah Theo yang terlihat sendu.
"Theo?!"
Panggil seseorang dari kejauhan, Anwar berlari tergesa-gesa bersama pria tua yang tak di kenalnya.
"Papah, mama kenapa?" tanya Emma pada Anwar. Anwar lantas memeluk Putri bungsunya dan menenangkannya.
"Mama gak papa sayang, kita tunggu dokternya keluar ya." bisik Anwar pada Emma.
Pria tua yang tadi bersama Anwar hanya diam melihat Emma yang berada di pelukan Anwar.
"Ini putrimu pak Anwar?" tanyanya.
Anwar menoleh pada pria tua tersebut, lalu menganggukkan kepalanya pelan. "Iya tuan, ini Emma putri saya."
Pria tua tersebut tersenyum hangat lalu mengusap kepala Emma lembut.
"Bisakah kita bicara berdua saja nak Emma?" tanyanya.
Emma menatap wajah ayahnya seolah meminta persetujuan, Anwar menganggukkan kepalanya. "Pergilah, ini teman ayah. Dia ingin mengenalmu lebih dekat."
Dengan wajah bingung, Emma beranjak dari tempatnya dan mengikuti langkah pria tua itu ke taman belakang rumah sakit Medical. Tempat yang biasa di pakai dokter anak untuk mengajak bermain pasien anak-anak penderita kanker.
"Maaf, anda mau bicara apa?" tanya Emma.
__ADS_1
"Kenalkan saya Guntur Rahardja, saya teman sekolah ayahmu dulu. Saya hanya ingin mengobrol sedikit dengan calon menantu saya."
"Calon menantu?"