
Karena libur, Kenzi memasak daging bumbu kesukaan Anna di siang hari itu. Namun, sesaat bau itu memenuhi ruangan, Anna tiba-tiba merasa mual.
"Hey, are you ok?" tanya Kenzi melihat Anna yang berlari cepat ke kamar mandi.
"Sure" jawab Anna singkat kemudian terduduk di depan closet.
Ia memegang perutnya yang merasa mual entah karena apa.
Saat kembali berjalan kedapur, Kenzi menyodorkan sepiring daging itu lalu automatis Anna berlari kembali ke kamar mandi dan muntah.
"Oh honey, something wrong about you." tegur Kenzi seraya memberikan air putih padanya.
"I don't know Ken."
"Sudah cek?"
"Aku belum ke rumah sakit."
"No no. I mean, testpack?"
Anna spontan menengok kearah Kenzi dengan kesal.
"Stop tell me about that f*king testpack."
"You don't have any choice Ann. Kemarin kau muntah karena yogurt kesukaanmu, lalu kau mual mencium bau sabun cuci kita, dan sekarang daging? That's totally weird you know?!" terang Kenzi berusaha menenangkan Anna.
Sejujurnya Anna juga mencurigai hal tersebut tapi berusaha semampunya untuk tetap santai.
"Aku akan selalu ada disisimu Ann. Just like what you did for me." ucap Kenzi kemudian memeluk Anna.
Beberapa menit kemudian, Kenzi berhasil membeli testpack.
"Ini, baca aturannya."
Dengan gugup Anna mengambilnya lalu masuk kedalam kamar mandi kembali.
Disatu sisi, Kenzi ikut gugup menunggu hasilnya. Ia berencana menghubungi James yang sudah pulang dari urusan kerjanya, namun ia takut James masih capek atau lebih tepatnya James belum siap seperti Anna jika hasilnya positif.
Seketika Anna pun keluar, wajahnya pucat. Tubuhnya tak bergerak di ambang pintu.
"Jadi?"
"F*cking bad Ken."
"Are you sure?"
"Oh my God, kill me" teriak Anna sembari melempar testpack itu kelantai.
Kenzi langsung berlari memeluk Anna untuk menenangkannya.
"It's ok Ann. I've been there before. We can through this."
"I don't know Ken."
"Just like me, sampai akhirnya aku tinggal disini denganmu. Melewati masa terberat hamil hingga melahirkan."
"I am not ready for this."
"Kita tidak pernah siap menghadapi sesuatu diluar ekspektasi kita."
Anna hanya terdiam tanpa menangis namun seluruh badannya bergetar.
"We have to meet James right now."
Anna segera menolak.
"No, I won't."
__ADS_1
"WHAT!"
Kenzi keheranan.
"Kurasa sekarang bukan waktu yang tepat."
"Jadi kapan?"
"I don't know."
"Sampai perutmu besar?"
"No!" tolak Anna dengan cepat.
"Are you want to do something else?" tanya Kenzi sedikit curiga pada Anna.
"No, aku tidak berani menggugurkannya."
Kenzi bernafas lega.
"Lalu?"
"I don't know."
"D*mn. I hate it." keluh Kenzi karena kesal memikirkan peristiwa mengejutkan ini.
"I need to tell James later, ketika aku siap dan akan kulakukan sendiri."
"Are you sure?"
"Yes."
Anna mengangguk sembari kembali ke kamar mandi untuk beberapa waktu.
Kenzi yang awalnya ingin makan tiba-tiba kehilangan seleranya. Ia tak bisa membayangkan keadaan Anna saat ini yang begitu terkejut, disaat Anna sedang mendapat kehidupan lebih baik dan tempat kerjanya yang supportif malah peristiwa ini benar-benar mengejutkan dan memporak-porandakan rencana kehidupan Anna.
"I have a plan. For next week." ungkap Anna saat menghampiri Kenzi yang duduk didepan laptopnya.
"What?"
"I need to tell James."
"I told you!"
"Tapi, aku harus pastikan dia dalam keadaan yang baik agar bisa berpikir untuk jalan keluarnya."
"I hope he will."
"Yeah."
"Besok apa kita check ke Rumah Sakit?"
Anna terdiam.
"Sure."
Dan keesokan harinya, Anna bersama Kenzi memeriksa kandungan. Mereka menunggu dan tanpa sengaja bertemu Hyun Na.
"Hi Ann. What are you doing here?"
Sontak mereka kaget dengan kedatangan Hyun Na.
"Just medical check" jawab Kenzi dengan cepat.
"Siapa yang sakit?"
"Aku" jawab Anna seraya menyembunyikan kertas ditangannya.
__ADS_1
"Kamu sendiri?" timpal Kenzi berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Ahh ... Aku mengambil beberapa obat untuk mengurangi alergiku."
"Kim?" tanya Anna tiba-tiba.
"Dia sibuk menganggur setelah berhenti dari restoran itu."
Anna kaget mendengarnya.
"Seriously?"
"Yes for sure. Aku tidak paham jalan pikirnya. Entahlah"
"I'll text him later."
"Ok, but Sorry I have to go now. bye!"
Mereka berpisah sekaligus melepaskan ketegangan.
"Why you didn't tell her?" tanya Anna pada Kenzi yang memandangnya.
"Hei, James harus orang pertama yang tahu ini."
"That's not a big deal Ken."
"No, it is"
Setelah melakukan pemeriksaan dan pengecekkan, badan Anna masih keringat dingin.
"So, dokternya bilang sudah 15 weeks. Wow, itu lama sekali!" ujar Kenzi saat mereka makan di mall sekaligus membeli baju.
"Yeah, dan selama ini aku tak menyadari ada sesuatu tumbuh didalam diriku."
"Kuharap kau tetap sepositif ini sampai pada kakimu bengkak, tidurmu susah, sampai nafasmu sesak nanti." jawab Kenzi mengusiknya.
Anna mendorongnya, seraya mencubit kecil.
"Kau membuatku takut."
"Aku membuatmu waspada" protesnya.
Mereka tertawa sambil kembali makan. Tak lama kemudian wajah Kenzi mematung. Ia terlihat sangat terkejut dengan sesuatu didepannya.
"Hei, kenapa?" tegur Anna seraya melambaikan tangan didepan wajah Kenzi.
"Tak apa." singkatnya kemudian mengalihkan pandangan.
Saat Anna ingin berbalik, secepat kilat Kenzi menahannya.
"Don't look back ok!" katanya memperingatkan dengan keras.
"Hei, relax. What's wrong Ken?"
Kenzi diam dan tetap melarang Anna untuk berbalik.
Sayangnya, Anna tak bisa menahan rasa penasarannya dan ia pun menengok kebelakang.
"DAAARRR" Jantungnya bak disambar petir seketika.
Tubuhnya mematung, jantungnya berdegup keras dan kini ia mengepal tangannya begitu kuat.
Laki-laki dengan jaket putih itu menggendong anak kecil, dan disebelahnya seorang wanita hamil besar menggandeng tangannya.
Anna pernah bertemu dengan wanita dan anak kecil itu di toko tempatnya bekerja dulu, tapi bukan itu yang membuatnya terkejut.
Anna sangat terkejut saat melihat James yang ada disana diantara mereka.
__ADS_1