
Anna terdiam, badannya terpaku pada pemandangan mengerikan itu. Bagaimana bisa seseorang yang dipercayainya itu ternyata telah menipunya selama ini.
"Anna, are u ok?" tanya Kenzi khawatir melihat respon Anna.
Sekuat apapun ia tersenyum, akhirnya air mata itu tak bisa ditahan terlalu lama hingga akhirnya Anna menatap kearah Kenzi seraya mengangkat bahunya menandakan ketidaktahuannya atas perasaannya.
Tentu saja ia sakit dan kecewa luar biasa besar terhadap laki-laki yang sampai sekarang tak menyadari keberadaan mereka itu. Hingga akhirnya Anna mengajak Kenzi untuk pulang.
"Pulang yuk" ajak Anna sembari menghapus air matanya.
Kenzi mengusap tangan Anna, menggenggam kuat kedua tangan sahabatnya yang tengah gemetaran itu.
Sepanjang perjalanan Kenzi mengutuk James tanpa jeda.
"He's an idiot!!" kutuknya dengan keras sementara Anna termenung dengan air mata yang terus bercucuran.
"Ann, say something! Kau menakutiku dengan diam seperti itu. Paling tidak kutuklah lelaki brengsek seperti James itu atau beri dia pelajaran nanti"
Anna menatap sayu kearah Kenzi yang tengah menyetir.
"Ken, jangan katakan pada James kita mengetahui tentang hal ini. Termasuk kehamilanku." kata Anna seraya menghapus air matanya.
"What? Apa maksudmu?" tanya Kenzi terkejut.
"Aku hanya tak mau menambah masalah lagi."
"Big No, Ann. Orang yang menambah masalah adalah James, dan dia harus bertanggung jawab dengan keadaanmu sekarang."
"Apa kau lihat? She's pregnant! Apa yang kau harapkan? Keadaan akan semakin memburuk jika James tau dan tidak akan ada jalan terbaik untuk ini." jawab Anna sedikit meninggikan suaranya.
Kenzi menatapnya penuh rasa khawatir, "Aku hanya khawatir tentangmu Ann."
"I know Ken. Untuk membesarkan seorang anak, aku bisa sendiri. And I do happy with that."
Kenzi kehabisan kata-kata hanya menatap lurus kedepan sampai pada akhirnya mereka tiba di rumah.
Keadaan semakin memburuk ketika Anna mulai stres dan mengurung dirinya di kamar. Ia bahkan kesulitan untuk makan, tubuhnya mulai semakin melemah. Namun untungnya, beberapa hari kemudian Kim datang kerumahnya untuk membawakan kimchi yang dijanjikannya dulu.
Setelah masuk kedalam kamar, Kim terus memanggilnya namun tak ada respon sama sekali hingga memunculkan kekhawatiran.
"Hey, Ann." panggil Kim seraya berjalan mendekat dan menepuk pundak Anna.
Namun karena tidak ada balasan, Kim semakin panik hingga akhirnya Kenzi ikut masuk ke kamar mereka untuk mengeceknya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Kenzi kebingungan.
"Kita harus ke rumah sakit." perintah Kim seraya mengangkat Anna dengan selimutnya.
Tak selang berapa lama, ternyata James juga mendatangi rumah mereka namun sayangnya sudah terlambat. Kim dan Kenzi menunggu diluar dengan terus berdoa. Setelah sekitar 20 menit menunggu, akhirnya dokter keluar dan menjelaskan keadaan Anna.
"Dia perlu banyak istirahat dan pastikan asupan gizinya teratur terlebih ketika sedang mengandung."
Sontak Kim terkejut dan tak bisa memberikan respon apapun selain menatap kearah Kenzi.
Setelah Dokter pergi, Kim yang kebingungan segera mencegat Kenzi yang berusaha kabur dengan alasan ingin mengurus masalah pembayaran dan obat Anna.
"Ken, ada apa ini?" tanya Kim sembari menatap tajam kearah Kenzi.
Kenzi yang terus berusaha mengalihkan pandangannya pun terdesak dan akhirnya menceritakan semuanya kepada Kim.
Dari awalnya kebingungan, Kim akhirnya ikut kesal namun disatu sisi ia ikut terpukul mengetahui apa yang baru saja terjadi.
"Dia tidak mau James tau, dan kuharap kau merahasiakannya." tutup Kenzi seraya melepas cengkraman Kim dipundaknya.
"Apa yang akan kalian lakukan sekarang?" tanya Kim kembali.
"Aku tidak tau apa yang ada dipikiran Anna saat ini. Dan aku ketakutan jika hal seperti ini terjadi lagi nantinya. This is because that f*cking man!" jawab Kenzi kesal.
Kim berjalan masuk, menemui Anna yang masih tidak sadarkan diri. Ia mengelus kepala Anna dengan lembut,
"Aku akan selalu berada disampingmu." ucapnya setengah berbisik.
Tak lama kemudian Kenzi masuk dengan wajah yang tiba-tiba khawatir.
"Ada apa?" tanya Kim.
Kenzi menunjukkan ponselnya, "James menanyakan keberadaan Anna."
"Apa yang harus kukatakan?" tanya Kenzi setengah menahan kesal karena harus pura-pura tidak tahu kesalahan James.
"Katakan kalau Anna berlibur ke Seoul bersamaku." saran Kim setelah berpikir keras.
"Semendadak itu?"
"Ya, kau bisa katakan alasan lain. Entahlah. Aku bingung."
"Yang ada dipikiranku hanya ingin membunuh lelaki brengsek itu" sambungnya seraya mengalihkan pandangannya kembali kepada Anna.
__ADS_1
"Percayalah, aku juga mau membunuhnya." balas Kenzi seraya mengangkat kembali telepon dari James.
Sementara itu, Anna menggerakkan jarinya dalam genggaman Kim.
"Kim?" tegur Anna seketika ia membuka matanya.
Kim tanpa sadar langsung memeluknya dan mengusap rambut Anna.
Mereka berpelukkan dalam keadaan berbaring begitu lama, hingga akhirnya Kim melepasnya sembari menghapus air mata Anna.
"Tak apa, bayimu masih bertahan. Aku sudah tahu semuanya Ann." terang Kim.
Anna hanya tersenyum seraya mengangguk, "Jangan katakan apapun pada James. Kumohon."
Kim tak terima lantas bertanya, "Kenapa?"
"Aku tak ingin berurusan lagi dengannya."
"Lalu, apa kau akan terus menghindarinya?"
Anna terdiam. Ia seakan mengambil beberapa detik untuk berpikir hingga akhirnya ia pun menjawab dengan pelan,
"Aku akan membuatnya menjauhiku"
Kim menghembuskan nafasnya, menyerahkan keputusan pada Anna. Yang dipikirkannya hanyalah keadaan Anna.
"Baiklah. Aku akan membantumu. Kau harus istirahat yang banyak."
Anna tersenyum seraya mengangguk. Kim tak bisa melepas matanya dari wajah Anna.
Tak lama kemudian Kenzi datang langsung memeluk Anna.
"Kau akan membuatku jantungan jika hal itu terjadi lagi." protes Kenzi seraya memukul paha Anna.
"Ouchh sakit Ken!"
"Jantungku hampir meledak kau tau!!" pukulnya sekali lagi.
"I love you" rayu Anna seraya ingin menciumnya.
Kenzi terus berusaha menjauh sementara Anna terus berusaha untuk mencium untuk menenangkannya. Hingga akhirnya Kim yang sejak tadi diam pun bertanya,
"Kau yakin anak itu bukan milik Kenzi?" celetuknya dengan santai namun mengagetkan mereka berdua.
__ADS_1