
Dua hari berlalu sejak Kenzi memutuskan untuk mempertahankan bayinya. Anna sebenarnya tidak tega dan ikut bingung dengan kondisi Kenzi saat ini. Ia tak bisa memikirkan cara Kenzi untuk "pura-pura" tidak hamil saat kembali ke rumah bibinya. Fyi, bibinya taat beragama dan dia tidak menyetujui pengguguran kandungan tapi di satu sisi bibinya membenci pacar Kenzi yang kemaren.
Ini sungguh Membingungkan.
"Ken, kamu ngga mungkin pulang kan?" kata Anna sambil membuka tirai kamar pagi itu.
"That's the big problem honey. Aku harus ngomong apa?"
Anna berpikir keras, mencoba mencari jalan keluar .
"Gimana kalau kamu ikut aku disini?" ucap Anna sambil duduk di kasur mendekati Kenzi.
"Terserah berapa lama, kau tau kau selalu diterima di hidupku Ken" sambungnya.
Mendengar hal itu, Kenzi tersenyum dan memeluk Anna.
"Kuharap kamu laki-laki dan aku pasti akan menikahimu" ujarnya seraya tertawa kecil.
"But I don't want you" balas Anna santai.
Setelah beberapa hari kemudian Kenzi dan Anna pulang kembali ke kampung halaman mereka. Kota yang ditinggalkan Anna.
"Are u ok?" tanya Kenzi saat melihat Anna yang melamun di dalam pesawat.
"Yeah."
"Just tell me ok?"
"Aku ...... aku sedikit gugup harus kembali kesini. Beberapa bulan yang lalu aku seperti gembel berusaha kabur dari sini." ucap Anna bergetar.
Kenzi menggenggam tangan Anna, berusaha menenangkannya.
__ADS_1
"It's ok Ann. Kita ngga balik ke rumahmu, kita hanya beberapa jam untuk packing dan memberitahu bibiku. That's all dan kita pergi"
Anna berusaha mengontrol isi kepalanya dan hatinya. Ia mendoktrin dirinya untuk tetap kuat.
Sesampai di rumah Bibi Mary setelah sebelumnya mampir di apartemen Jeff, mereka langsung ke kamar Anna melanjutkan packing.
Tak lama kemudian Bibi Mary datang dengan membawa minuman.
"Thank bibi Mary." ujar Anna seraya mengambil minuman itu.
Bibi Mary tersenyum.
"Anna, kau terlihat berbeda." ujarnya menegur tampilan Anna yang memang jauh berubah dari sebelumnya.
"Iya begitulah Anna sekarang." timpal Kenzi.
"Aku tetap aku bibi, yang berubah hanya tampilanku." jawab Anna seraya mengelus pundak bibi Mary.
"Berapa lama Kenzi akan disana?" tanya Bibi Mary.
"Entahlah. Kalau aku nyaman mungkin akan lebih lama lagi." jawab Anna.
"Oh big no, Ken. Kau akan menyusahkan Anna disana."
Anna hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Ngga papa, aku senang ada teman disana." jawab Anna.
"Ken, jangan macam-macam yang merepotkan Anna. Hiduplah lebih baik, ok?"
Anna mengangguk bersamaan dengan Kenzi.
__ADS_1
Didalam hati Anna ia merasa damai berada di lingkungan Kenzi yang nyaman. Bibinya yang perhatian, pamannya ramah, bahkan Max anak bibinya juga baik sekali. Betapa indahnya keluarga ini di mata Anna.
Suatu hari ia ingin tinggal dan menciptakan lingkungan yang indah seperti ini dengan keluarganya nanti. Dan menghindari anak-anaknya nanti untuk merasakan kengerian masa kecil Anna dulu.
Setelah berpamitan dengan bibi Mary, mereka kembali ke kota dan langsung ke rumah sewa Anna.
"Ugh, aku capek." keluh Kenzi seraya melemparkan tubuhnya diatas kasur.
Anna juga ikut berbaring dan menatap Kenzi.
"Apa yang kau lihat?" tanyanya.
".....aku membayangkan kau akan jadi ibu dalam 7 bulan kedepan."
Mendengar hal itu, Kenzi sontak merinding dan langsung duduk.
"Hei, aku tidak bilang untuk tetap mempertahankan bayi ini selamanya."
Anna kaget sekaligus bingung.
"Sorry...what?"
"Aku mempertahankannya sampai bayi ini lahir dan aku akan mendaftarkannya untuk di adopsi. That's my big plan" jawab Kenzi dengan santai.
Anna kehabisan kata, ia tak bisa menjawab apa-apa. Selama beberapa hari ini ternyata ia salah paham dengan Kenzi. Berita ini lebih mengejutkannya.
"Wow. Kukira kau akan MEMPERTAHANKAN bayinya"
"Yeah sure, keep the baby for awhile."
Anna hanya diam dan tak banyak memberikan respon. Lagipula keputusan itu adalah hak Kenzi dan ia hanya bisa mensupportnya.
__ADS_1