Wrong Entrance

Wrong Entrance
Salah Paham


__ADS_3

"Anna?" ketuk James dari luar.


Sialnya saat itu Kenzi yang membuka pintu karena Anna terlampau lelah sehabis merenovasi rumah mereka kemaren.


Kenzi tanpa ragu mempersilahkan James untuk masuk ke kamar mereka. Awalnya James memang mengetuk, namun tak terdengar balasan ataupun suara hingga ia langsung memutuskan untuk masuk.


"Hei, sleephead." tegur James sesaat saat ia masuk ke kamar.


James melihat pakaian terbuka Anna dan langsung menutupnya menggunakan selimut. Ia terus menatap Anna penuh makna seakan ingin menyimpan setiap detik itu.


"Apa kau puas mengobservasiku?" tegur Anna dengan mata tertutup.


"Ouh wow, aku tidak mengobservasimu." tolak James dengan cepat menjauhkan badannya.


Anna langsung membuka matanya perlahan dan duduk. Namun James langsung mengalihkan pandangannya ke jendela.


"What's wrong?" tanya Anna heran.


"Look at your hot body then you know why. Pakai bajumu." jawab James dengan santai.


Mendengar hal itu Anna sungguk terkejut, ia segera menutup badannya. Tentu saja ia lupa kalau tadi malam ia kepanasan lalu melepas baju luarnya untuk bisa tertidur. Untungnya mengatasi kecanggungan Kenzi masuk kedalam kamar mengajak mereka untuk makan.


Anna tak mandi dan hanya mengenakan Hoodienya dan keluar kamar segera.


"Thanks James untuk bantuannya selama mengurus masalah adopsi bayiku kemarin." ucap Kenzi dengan tulus.


Ya, sudah 5 bulan pasca pertemuan aneh Anna dan James kala itu. Dan kini Kenzi sudah melahirkan. Ia mengikuti rencana awal mereka dan mengurus masalah adopsi sehingga bayi perempuan tersebut sudah berada di tangan orang yang pantas.


"Tak apa. Aku senang menghabiskan waktu dan membantu kalian" jawab James dengan santai seraya mengusap punggung tangan Kenzi.


Lalu, tiba-tiba Kenzi bertanya pada Anna yang baru saja duduk mengambil susu.


"Setelah 17 tahun lebih berpisah, apa kalian tidak pernah berusaha mencari tahu kehidupan satu sama lain?" tanya Kenzi menatap kearah Anna dan James.


"Ken, kau tau keadaanku dulu. Aku percaya setelah kita berpisah maka tak perlu menunggu untuk dipertemukan. Kalau takdir mempertemukan maka tak perlu lagi kita lakukan apapun" jawab Anna cepat.


James hanya menatap kearah Anna, "Jadi kau melupakanku begitu saja?" tanyanya dengan nada sayu.


"Aku tak punya pilihan."


"You know? Keluarganya makin menggila setiap tahun." pungkas Kenzi.


James menatap kedalam mata Anna. Ia terus menunggu jawaban Anna yang sesungguhnya namun sayangnya Anna malah menghentikan makannya lalu beralasan keluar untuk membeli beberapa minuman untuk pesta nanti malam.

__ADS_1


"Aku akan menemanimu." ucap James seraya mengambil mantelnya.


"Tak usah. Kau temani saja Kenzi"


"No, you don't. Aku bisa sendiri, aku bukan anak kecil ok?!" timpal Kenzi tak terima.


Namun Anna tetap bersikukuh untuk tetap pergi sendiri.


Setelah kepergian Anna, mereka berdua kembali melanjutkan makan.


"Hidupnya sudah terlalu berat semenjak masih tinggal di rumah orang tuanya. Jadi kupikir ia sudah cukup kesulitan mempertahankan hidupnya dan tidak mempunyai kesempatan untuk memikirkan seseorang yang pergi begitu saja." terang Kenzi dengan berhati-hati.


"Apa seburuk itu?" tanya James penasaran.


Kenzi-pun sebisa mungkin menceritakan sekilas kehidupan Anna dan ketika mendengar hal itu James benar-benar terpukul.


Disatu sisi, James yang pergi begitu saja menjalani hidup yang menyenangkan dan semua terencana dengan baik oleh kedua orang tuanya. Namun disisi lain sahabatnya bertahun-tahun mengalami hal yang mengerikan.


"Dia pernah membicarakanmu. Kupikir ia merindukanmu hanya saja dia tak banyak menunjukkannya." kata Kenzi yang tiba-tiba membuat perasaan James sangat senang.


"Dia juga banyak berubah dan tapi percayalah ia masih Anna yang dulu"


"Aku sebenarnya dipaksa untuk pindah ke kota ini. Aku ingin mengucapkan perpisahan tapi ia tak pernah datang ke taman yang kami janjikan dulu. Oleh karenanya aku pergi, menganggap ia tak begitu menganggapku penting." Jawab James tenang sambil berusaha membuat Kenzi memahami situasi dari sudut pandangnya.


James mengangguk, lalu menjawab.


"Dan aku punya waktu untuk memperbaikinya dan mengulang apa yang terlewatkan."


Disatu sisi, Anna yang pergi ke supermarket bertemu dengan Kim yang merupakan salah satu pegawai Restoran tempat ia bekerja. Mereka terbilang cukup dekat sejak kejadian air panas itu.


Setelah selesai berbelanja disana, Anna mengajak Kim untuk ikut bersama mereka di pesta nanti malam. Dan tentu saja aku ia setuju.


Beberapa jam kemudian, James datang dan tak lama disusul oleh Kim.


"Dia siapa?" bisik James seraya memeluk Anna.


"Teman kerjaku."


Kim yang ikut terkejut melihat James secara otomatis mengulurkan tangan.


"Hello Sir, Aku Kim. Teman kerja Anna."


"Hello Kim. Aku James."

__ADS_1


Kim membalas senyuman manis James seperti biasanya.


"Kita pernah bertemu di dapur Restoran. Anda sangat keren saat itu." puji Kim diikuti tawa kecil James.


"Senangnya kau menganggapnya keren, wanita yang kutolong itu malah memarahiku karena menjadi seperti itu." ungkap James sambil mengarahkan matanya kearah Anna untuk menyinggungnya.


"Oh ayolah James, apakah kita harus membahas itu lagi?" protes Anna tak terima.


Tak lama kemudian Kenzi memotong pembicaraan mereka, dan mulai membuka minuman mereka. Mereka bercengkrama cukup lama hingga saat mulai tinggi malam, Kim berusaha untuk pulang.


"Thanks Ann, kupikir aku harus pulang dulu." ujarnya pamit.


Karena dibawah pengaruh minuman, Anna malah mendatanginya dan memeluknya dengan erat.


"Thanks sudah mau menjadi temanku" tutup Anna diiringi kecupan dipipi Kim sebelum akhirnya ia pulang.


Melihat hal itu James mematung, ia tak percaya apa yang baru saja terjadi. Dan tanpa pikir panjang setelah melihat Anna sempoyongan, James menuntunnya memasukki kamar.


"Kalian tidurlah didalam, aku disini saja." ujar Kenzi seraya mengambil segelas minuman lagi dan duduk didepan televisi.


Kenzi sepertinya mengerti tatapan cemburu James tadi dan mengharapkan ada sesuatu yang terjadi malam ini antara James dan Anna. Seperti 'reuni kecil'.


Sesaat di depan kasur, tubuh Anna langsung terbaring dengan santainya. Dengan rapi James menidurkan Anna diatas kasur bewarna cream itu. Namun Anna tiba-tiba meraih tangan James sehingga ia terduduk tepat disampingnya.


"Kau, kenapa pergi begitu saja? Tak bisakah kau menungguku sebentar?" kata Anna sedikit tidak terlalu jelas.


"Kau yang tidak kunjung datang, Ann. I've been waiting for you." protes James sambil menggenggam tangan Anna yang menggenggam tangan kirinya.


"Aku datang kok..... heee... tapi kau sudah tidak ada disana brengsek!" balas Anna.


Ia trus memukul kecil paha James saat itu.


"Aku....aku... berusaha kabur dari rumah untuk menemuimu. Kau tau, aku merasakan puluhan pukulan oleh ayahku akibatnya." terang Anna yang sontak mengejutkan James.


"Kau malah pergi begitu saja dan mengira aku tak merindukanmu? I am so d*mn hard miss you!" teriak Anna kemudian terbaring kembali.


Anna melepaskan genggamannya dan membalikkan badannya.


"Kau pasti bahagia dulu dan sekarang. Dan aku senang mengetahui itu" tutup Anna kemudian tertidur pulas seketika.


James masih tak berkutik. Ia terdiam dan matanya berkaca setelah mengetahui kebenarannya selama ini. Begitu dalam James mengubur rasa rindunya dan cinta padanya. Ia menghabiskan 17 tahun lebih menganggap Anna tidak peduli padanya, sedangkan Anna begitu berjuang disaat-saat itu.


Akhirnya ia tak bisa tertidur. Semalaman ia hanya duduk dan memastikan Anna tertidur sampai pagi harinya ia pulang meninggalkan mereka secara diam-diam.

__ADS_1


__ADS_2