
Beberapa minggu kemudian, Kenzi mengalami pendarahan mendadak. Sontak mereka berdua kaget dan panik. Dengan sekuat tenaga Anna menopang tubuh Kenzi untuk kepinggir jalan menunggu sebuah taksi.
Sesampai di Rumah Sakit, Kenzi langsung dirujukkan ke sebuah kamar meninggalkan Anna yang masih gugup dengan baju tidurnya.
Anna duduk di kursi sambil mencengkram kuat kedua tangannya. Didalam hati ia terus ofmemanjatkan doa.
Tak lama kemudian seorang resepsionis memanggil namanya. Wanita paruh baya itu menjelaskan prosedur pembayarannya untuk perawatan Kenzi.
"F*ck!!!!" ucap Anna sontak melihat isi dompetnya yang tak mencukupi jumlah nominal pembayaran tersebut.
"Sorry, bisa berikan aku waktu sebentar? Aku akan kembali ke rumah dan mengambil uangnya." Anna memohon pada wanita itu.
Namun ia hanya terdiam seraya mengerutkan bibirnya. Belum sempat menjawab, seseorang memotong disela pembicaraan mereka.
"I'll pay for her." suara serak yang mengejutkan mereka.
Anna langsung menengok kearah laki-laki itu dan sangat terkejut dibuatnya. Ya, ia adalah laki-laki yang ia temui di supermarket beberapa waktu yang lalu.
"You?" ucap Anna spontan.
Tanpa menghiraukan perkataan Anna, laki-laki itu menanyakan pada wanita itu mengenai jumlah pembayaran.
"No..no..no.. sorry. I'll pay it, but please, aku harus pulang sebentar." ucap Anna sambil menghentikan transaksi mereka.
"I don't need your money sir. Sorry. And thanks." pungkas Anna.
Laki-laki itu tak bergeming.
"Temanmu yang membutuhkan." ujarnya seraya kembali menyerahkan uang pada resepsionis tua itu yang sudah terlihat kesal.
Anna hanya bisa terdiam dan membiarkan pembayaran itu.
"Sir, sorry. Bisakah kau menungguku sekitar 15 menit? Aku harus kembali ke rumah dan mengembalikan uangmu." ucap Anna seraya meyakinkan laki-laki itu.
Baru saja Anna ingin pergi, tangannya sudah ditahan oleh laki-laki berpakaian putih dengan celana hitamnya.
"You don't have to."
"No sir. I have to."
Lagi-lagi ia menahan Anna untuk pergi. Kali ini ia menyeret Anna untuk menepi.
"Ok...ok! Kau tidak harus membayarnya sekarang. Temani temanmu dan pikirkan masalah pembayaran nanti." ucap laki-laki itu dengan sedikit frustasi.
Anna tentu saja kehabisan kata-kata. Ia mematung.
Laki-laki itu menyibak rambut depannya, tepat seperti adegan iklan shampo dimana sang aktor membersihkan rambutnya setelah mandi. Sangat membuat Anna terpesona.
"Mana ponselmu?" tanyanya mengejutkan Anna dari lamunan indahnya.
"Untuk apa?"
"Aku akan memberikan nomorku, dan kita bisa selesaikan masalah pembayaran itu nanti." tawar laki-laki itu seakan menghipnotis Anna untuk segera menyerahkan ponselnya.
Setelah selesai dengan segala macam insiden pembayaran dan laki-laki tadi. Akhirnya kini Anna bisa menemui Kenzi.
"Thanks God!" kata Anna mengucapkan syukur dan langsung memeluk Kenzi.
"Kau mengejutkanku!!" teriak Anna sembari mencubit lengan Kenzi karena kesal sekaligus ketakutan.
Kenzi membalas memukul kepala Anna dan mereka terlibat perkelahian aneh hingga berakhir kembali saling memeluk.
"Aku boleh pulang besok hari, dokter bilang tak apa dan tidak ada yang serius selain masalah pembengkakkan kakiku" jelas Kenzi berusaha menenangkan Anna.
"Are you sure?"
"I am totally fine. Don't worry, ok?!"
"Beberapa waktu menunggu diluar membuatku berpikir kau akan melahirkan atau yang lainnya. Syukurlah kalau semuanya baik-baik saja."
"Ya, terima kasih sudah menjadi 'suami' siap siagaku." balas Kenzi sembari menggenggam tangannya.
Keesokan harinya, setelah mereka keluar dari Rumah Sakit. Anna teringat untuk segera membayar laki-laki itu. Namun sayangnya beberapa kali Anna menelepon atau mengirim pesan tak pernah dibalas laki-laki itu.
Beberapa hari berlalu, Anna harus datang lebih cepat untuk mempersiapkan acara yang lumayan besar diadakan di restoran mereka. Sampai Kenzi harus check seorang diri karena kesibukan Anna hari itu.
Semua orang di restoran mulai sibuk mempersiapkan semua keperluan dan pesan yang telah diminta orang yang mereservasi. Saking ramainya aktivitas saat itu, tak sengaja Anna bersenggolan dengan salah satu pelayanan laki-laki yang sedang membawa air panas.
"oouuuchhh" Anna hampir teriak karena kesakitan.
Pelayanan laki-laki yang bernama Kim itu segera meminta maaf. Sayangnya yang disalahkan bosnya adalah Anna karena ketidak hati-hatiannya saat berjalan.
Setelah diomeli beberapa waktu, Anna akhirnya bisa kembali ke dapur dan membawa pesanan pertama acaranya tersebut. Sambil menahan sakit pada tangannya, Anna berusaha seprofesional mungkin menyajikan makanan dan bersikap ramah.
"I am so sorry. Oles ini di tanganmu." bisik Kim seraya menyerahkan obat salep dari kantong celananya.
Saat kebelakang, Anna langsung ke kamar mandi mengoles tangannya untuk meredakan sakit akibat air panas itu. Setelah kembali ke dapur, ia mengantar makanan kembali ke meja sebelah kiri.
__ADS_1
Matanya terdiam melihat seseorang yang sedang berbicara itu adalah laki-laki yang ia temui di Rumah Sakit tempo lalu. Tapi sayangnya Anna tak bisa menegurnya, ia hanya menyerahkan makanan dan menuangkan minuman di gelasnya. Sampai akhirnya laki-laki itu juga menyadarinya, namun tak bisa mengucapkan sepatah katapun.
Anna berdiri di pojok ruangan dengan tangan dibelakang, tanpa berbicara dan sambil mengawasi tamu spesial malam itu.
Sesaat kemudian, mereka mulai membuka acara jamuan makan malam mereka. Tiba-tiba salah seorang tamu itu, yang lebih tua dari yang lain mulai memanggil nama seseorang.
"James Wild, terima kasih atas ide luar biasanya. Ini benar-benar menutup tahun dengan sempurna" setelah ucapan itu, semua mulai bertepuk tangan.
Laki-laki dengan baju putihnya dilengkapi dasi hitam itu berdiri lalu mengucapkan beberapa kalimat diikuti dengan suara tepukan tangan dari berbagai sudut.
"Oh namanya James Wild" ucap Anna didalam hati saat mengetahui nama laki-laki itu.
Seketika Anna mulai menyadari sesuatu.
"Dia.....bukan James yang itu kan?"
"oh tidak mungkin. Apa-apaan aku ini."
Itulah kalimat yang terus berputar di kepala Anna sehingga membuatnya tak sadar sedari tadi ada sepasang mata laser yang hampir menembus kepalanya.
Mr. Frank, bos mengerikannya itu memberikan isyarat menggunakan jarinya lalu Anna segera mengikutinya menuju dapur.
Sesampai di dapur, Anna menghadap Mr. Frank dengan tegap.
"Paaaakkkkk!!!" suara lantang terdengar hingga menarik perhatian para pegawai lainnya.
Wajah Anna panas dan memerah, tangan keras dari Mr. Frank hampir membuatnya berteriak kesakitan. Untungnya, dia menahannya.
"What the Hell are you doing?! Melamun ditengah pertemuan seperti orang bodoh?" makinya dengan nada yang terus meninggi.
Mungkin jika Anna adalah laki-laki, ia bisa saja benar-benar babak belur disitu. Pegawai lain sudah biasa melihat hal itu, lagipula mereka diperlakukan seperti itu setiap melakukan kesalahan. Pernah suatu ketika Anna sampai lebam dan terkilir karena beberapa kesalahannya. Dan ia memaklumi hal itu karena ia membutuhkan pekerjaannya. Dan untungnya, entahlah apa harus mengatakan itu adalah keuntungan, ia sudah terbiasa dipukul dulu oleh Ayahnya dan Kakaknya.
Namun keadaan disana tiba-tiba hening saat seseorang tak sengaja masuk ke area dapur. Melihat hal itu Mr. Frank langsung bersikap ramah dan meminta tamu itu kembali ke ruangannya.
"Sorry Sir. Anda tidak boleh untuk masuk ke ruangan ini." dengan suara lembut Mr. Frank yang diikuti senyuman palsunya.
"Ouh sorry, aku mau ke toilet tapi tak sengaja mendengar percakapan menarik dibelakang sini." jawabnya santai.
Anna tak berani mengangkat kepalanya. Ia masih menunduk.
"Kau apakan dia?" tanya laki-laki itu kembali.
"Sorry Sir. Anda tidak diperkenankan untuk berada disini. Silahkan kembali ke tempat anda." pinta Mr. Frank berusaha tenang dan segera menunjuk pegawai untuk mengantar tamu tersebut.
"Tidak diperkenankan? Wow, bukankah tindakanmu tadi juga tidak diperkenankan?" tanyanya kembali sambil menaikan nada bicaranya.
"Ya, disini kita memperlakukan pegawai sama, entah laki-laki atau perempuan dan itu berdasarkan kesalahan mereka juga." jawab Mr. Frank tak tahan dengan tingkah tamu itu.
"Wah, disini seperti angkatan bersenjata. Luar biasa ketat." timpal tamu itu sedikit menambahkan tawanya yang terkesan mengejek.
Anna masih tak bisa bergerak, ia hanya melihat kelantai dan menghitung tetesan darah yang keluar dari mulutnya.
"Hei, kau yang disana? Apa kau bisu atau apa? Bicaralah! Apa kau patung?" teriak laki-laki itu frustasi.
Melihat laki-laki itu terus mendekat kearah Mr. Frank dan Anna, pegawai yang lain hanya saling menatap satu sama lain karena bingung apa yang mesti mereka lakukan.
Mr. Frank terlihat mengepalkan tangannya, lalu ia sekali lagi meminta untuk meninggalkan dapur itu.
"Please, tinggalkan dapur ini dan kembali ke tempat anda. Ini adalah wilayah privasi kami dan anda tidak berhak ikut campur."
Mendengar hal itu, langkah kaki laki-laki itu berhenti. Namun ia malah menjawab kembali perkataan dari Mr. Frank.
"Ok, aku akan kembali tapi dia harus ikut denganku." ujar laki-laki itu dengan santainya.
Sontak Anna terkejut dan tak sengaja mengangkat kepalanya. Namun betapa terkejutnya lagi ia saat mendapati laki-laki itu adalah James Wild. Ia berdiri dengan tegap dan gagahnya diantara Mr. Frank dan Anna.
"Kau bisa membawa wanita ini saat urusan kami selesai dan jam kerjanya berakhir." kata Mr. Frank berusaha kembali tenang.
"Ok, tapi setelah aku melihat kau minta maaf telah memukul pegawaimu sampai berdarah seperti itu." jawab James dengan menunjuk kearah Anna yang tak berani mengeluarkan sepatah katapun.
Mr. Frank terkejut dan enggan melakukannya namun karena terus didesak ia akhirnya meminta maaf dan pegawai lain yang melihatnya ikut terkejut.
Anna yang tak berani berbuat apa-apa hanya melihat tanpa mengeluarkan ekspresi lain selain terkejut. Apalagi kemudian James mendekati Anna dan membisikinya sesuatu.
"Apakah aku masih keren melakukannya setelah 17 tahun?" bisik James membuat Anna kebingungan pada awalnya.
Setelah James keluar dan Mr. Frank terlihat kesal, pegawai wanita lainnya mengambil kompres air untuk diletakkan di pipi Anna. Mereka mengusap belakang dan pundaknya agar tetap kuat. Ya, mereka disana saling support seperti itu karena mereka pernah mengalami hal yang sama.
Beberapa jam kemudian, berakhir sudah pekerjaan Anna dan ia pulang melewati pintu belakang restoran.
"Astagaaaaaa!" ucap Anna kaget melihat James yang sudah ada disana.
"Mr. Wild, apa yang anda lakukan disini?" tanya Anna dengan sedikit rasa takut.
"Oh apa anda mau meminta uang Rumah Sakit? Aku akan mengirim ke rekening anda sekarang." celetuk Anna saat mengingat masalah uang itu.
Namun James malah mengusap rambut Anna.
__ADS_1
Anna langsung menjauh karena merasa kejanggalan.
"Apa kau bukan Anna yang kumaksud?" tanya James merasa heran dengan sikap Anna.
"Wdym?"
"Anna, putri dari Mr. Watson? tanyanya membuat jantung Anna berdegup kencang.
"Oh God." ucap Anna spontan menyadari kalau dugaannya tadi benar.
Ini adalah James Wild teman masa kecilnya dulu. Mereka terpisah saat James melanjutkan sekolah ke kota lain. Dan kini setelah 17 tahun mereka kembali bertemu.
Anna masih canggung namun dengan cepat James memeluknya dengan erat.
"Oh Tuhan. Pertama kali aku tak menyadari itu kau, lalu ketika di rumah sakit itu aku melihat namamu dan itu benar-benar mengejutkanku." jelasnya tanpa melepaskan pelukannya.
"Hei kenapa kau diam?" tanyanya heran seraya melepaskan pelukannya.
"Aku....aku masih tak percaya ini."
"Aku pun begitu."
"I really miss you. So..so...bad."
Dengan nada pelan Anna menjawab, "Me too James"
Setelah reuni singkat, James membawa Anna ke apartemennya untuk melanjutkan reuni mereka.
"So, yang hamil kemarin itu siapa?" tanya James sesaat ia melepaskan mantelnya.
"Sahabatku."
"Ok, jadi kalian tinggal serumah?"
"Iya"
"Suaminya?"
"Don't ask me that."
"Ouh ok." jawab James dengan santai namun masih memperhatikan raut wajah Anna yang tak nyaman. Dengan cepat ia mengambil obat mengingat wajah Anna masih lebam.
Saat James mendekat membawa obat dan ingin membersihkan pipinya, Anna langsung mundur dan menolaknya.
"It's ok James."
"No, ini akan memburuk besok pagi." Balas James sambil menahan pergerakan Anna.
"Dia memukulmu sangat keras. Kau sudah sering diperlakukan begini atau baru saja?"
Anna tak menjawab.
"Kau tau, aku begitu bahagia bertemu denganmu tapi kau terlihat seperti sedang di sekap." celetuknya sambil menatap dekat wajah Anna.
Anna sebenarnya merasakan hal yang sama, ia begitu senang namun rasanya semua serba rumit untuk sekarang. Namun karena James terus mengeluhkan hal itu dan ia merasa tak nyaman akhirnya Anna bicara padanya.
"Ok James. Sebenarnya aku senang bertemu denganmu, sangat senang. Tapi mengingat pertemuan aneh kita di supermarket, di Rumah Sakit, dan di dapur tadi malam, semua terasa cukup rumit untum otakku."
Mendengar itu James langsung senyum dan mengusap kepala Anna.
"Hei tak apa. Aku adalah James sahabat kecilmu yang selalu mengandalkanmu dulu. Tak apa. Pertemuan memang kadang harus seaneh itu agar berkesan." Jawab James dengan ringan.
"Aku mengetahui masalah pembengkakkan kaki ibu hamil karena temanku adalah dokter kandungan dan malam kita bertemu di Rumah Sakit adalah kebetulan aku habis menjenguk teman kantorku yang baru saja operasi. Semua hanya kebetulan yang akhirnya mempertemukan kita."
Anna terdiam, tanpa sadar ia tersenyum.
"Tapi bagiku utang tetaplah uang. Aku akan mengirim uangnya kerekeningmu." kata Anna diikuti tawa James.
"Temanmu sudah membayarnya beberapa waktu lalu. Semua beres. Sebenarnya aku ikhlas memberikan uangku untukmu dan sahabatmu, kalian terlihat sangat panik dan perlu bantuan."
"Ya kau benar, kami memang panik. Terlebih aku, walaupun yang hamil adalah Kenzi."
"Oh namanya Kenzi."
"Ya, kalian bisa berkenalan nanti."
"Kapan?" tanya James penuh semangat.
"Diwaktu yang tepat."
James cemberut dan mengerutkan dahinya mendengar jawaban Anna. Namun ia kembali melihat keadaan tangan Anna yang memerah akibat air panas yang tumpah tadi.
"Ini luka apa lagi? Apa yang laki-laki itu lakukan padamu?" tanya James begitu marah.
"Hei, that's fine. Ini kecerobohanku menabrak seseorang yang sedang membawa air panas."
James menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
"Kau harus lebih berhati-hati lagi." pesannya sambil mengusap lembut rambut Anna.