
Setelah Kenzi harus kembali pulang ke rumah bibinya karena kabar dari paman mereka yang sakit parah, Anna kembali tinggal sendirian. Namun karena sekarang ada James, mereka sering menghabiskan hari bersama.
"Kau mau makan apa?" tanya James seraya membuka kulkas kecil di rumah Anna.
"Terserah." jawab Anna seraya menyiapkan mantel James dan tas kerjanya.
Semalam James menginap di rumah Anna karena harus membantunya memperbaiki beberapa alat rumah yang rusak. Mereka tak melakukan apapun, James tidur di sofa dan Anna di kasur.
Usai mereka makan, James pamit kerja dan tanpa sadar mencium kening Anna. Mereka sama-sama terkejut namun James langsung pergi begitu saja sambil melambaikan tangannya kearah Anna yang masih terdiam diambang pintu.
Di restoran hari itu sedang ramai dan Anna kembali terlibat konflik dengan salah satu pelanggan disana. Alhasil dibelakang dapur bisa dibayangkan apa yang terjadi.
Karena terlalu marah Mr. Frank mendorong Anna hingga kepalanya terbentur ujung meja. Sontak kepalanya langsung sakit dan tangannya berdarah saat menyentuh keningnya.
"Sekali lagi kau membuat masalah dengan pelanggan, maka pergi dari sini. Kau paham!" bentaknya sambil menarik kerah baju Anna untuk memaksanya berdiri.
Setelah Mr. Frank pergi, Kim langsung mendekati Anna yang terduduk lunglai karena pusing dari kepalanya. Karena khawatir Kim langsung membawanya keruang istirahat mereka dan berusaha membersihkan wajah Anna dari cucuran darahnya.
"Anna, berhentilah dari pekerjaan ini." pinta Kim mendadak.
"Kau tau aku tak bisa."
"Aku akan membantumu mencari pekerjaan lain." rayunya sekali lagi meyakinkan Anna.
"Luka seperti ini tak menyakitiku lagi Kim. Aku bisa menahannya." jawab Anna dengan begitu yakin.
"Tapi tubuhmu tidak, perlahan pasti akan hancur. Sebelum terlambat maka berhentilah."
Anna hanya diam mendengar hal itu dan mengucapkan terima kasih atas bantuan Kim. Setelah dua jam sejak itu, merekapun pulang. Untungnya Kim bersedia mengantarnya.
Tanpa membuka pakaiannya, Anna langsung menuju ke kamarnya. Sedangkan Kim mencari obat dan pembersih luka di rumahnya. Namun setibanya Kim di kamar Anna, ia sudah tertidur pulas.
Dengan perlahan Kim berjalan mendekatinya, duduk di kasurnya dan membersihkan luka itu dengan teliti sampai pada mengganti perbannya. Tak selang beberapa menit, ponsel Anna berbunyi.
Kim melihat nama James dilayar ponselnya. Awalnya Kim tak mau mengangkat, namun karena James terus menelpon dan ia tak mau itu membangunkan tidur Anna.
"Hai James, ini Kim" sapa Kim seraya berjalan ke luar kamar.
__ADS_1
"Oh hai, dimana Anna?" tanyanya langsung.
"Dia di kamar sedang tidur."
James tak membalas jawaban dari Kim dan masih terdiam.
"Maaf bisakah kau menelponnya pagi nanti? Anna sedang terluka dan baru saja tertidur." terang Kim kembali saat tak mendengar jawaban dari James.
"Maksudmu?"
"Kecelakaan kerja."
"Sudah ke Rumah Sakit?"
"Dia menolak. Lukanya tidak terlalu serius tapi cukup menyakitkan sampai berjalanpun ia sempoyongan."
Mendengar hal itu, James begitu khawatir. Ia ingin segera menemui Anna namun keadaannya sekarang tidak memungkinkan. Ia sedang berada di Rumah Sakit menunggu untuk melakukan pengecekkan sesuatu hal.
"Bisakah kau tinggal disana 1 jam sebelum aku datang menggantikanmu?" tanya James setelah mencari jalan keluar.
"Oh tentu. Sampai pagipun bagiku tak masalah."
Setelah mematikan ponsel itu, James tak bisa berpikir lurus. Ia duduk di ruang tunggu tapi pikirannya sudah berada di tempat lain.
"Ada apa?" tanya perempuan yang duduk disampingnya.
"Ngga apa-apa." jawab James singkat seraya mengubah ekspresinya.
Seperti yang sudah direncanakan, James pergi ke rumah Anna setelah 2 jam terlambat karena urusan mendadaknya yang ternyata lebih lama dari perkiraannya. Sesampainya di rumah Anna, Kim membuka pintu sambil memegang tasnya.
"Ahh untunglah kau datang. Aku sudah menunggumu."
"Ada beberapa hal lagi tadi. Maaf aku terlambat." ucap James penuh sesal dan langsung berjalan kearah kamar Anna.
"Syukurlah kau sudah disini, aku harus pulang karena adikku baru saja datang dari Korea. Jagalah dia." pesan Kim kemudian pergi keluar meninggalkan Anna dan James disana.
Sejak saat itu James tinggal di rumah Anna dan mulai memperhatikan luka tersebut. Saat hendak menyentuhnya, tiba-tiba Anna terbangun.
__ADS_1
"Kim?" tegurnya.
"James." ucap James ditelinganya.
Anna terdiam dan memperhatikan dengan jelas mata biru James.
"Kenapa kau disini?"
"Menjagamu."
Anna langsung tersenyum senang, ia mengelus wajah James.
"Kau tidak perlu merasa bersalah padaku." ucap Anna dengan pelan.
Dahi James mengerut, ia bingung.
"Apa maksudmu?"
"Apa yang terjadi padaku setelah kau pergi bukan kesalahanmu. Hidupku memang seperti itu, aku tidak menyalahkan siapapun." terang Anna meyakinkan James.
Tiba-tiba James menggenggam tangan Anna yang sejak tadi ada di pipinya.
"Aku melakukan ini bukan karena rasa bersalah."
Seketika James langsung mendaratkan bibirnya dan mencium Anna dengan lembut tanpa penolakan sedikitpun. Merasa hal itu, James pun bermain dengan bibir bawahnya yang begitu lembut.
Kini tangan Anna sudah melingkar di leher James, dan mereka saling menciumi satu sama lain dengan lembut. Tanpa melepaskan ciumannya, James sudah berada diatas Anna.
"Begitu lama aku menunggu momen ini." ungkap James membuat Anna merasa malu.
"Kalau begitu diamlah, dan lanjutkan." ucap Anna lalu menyerang kembali bibir James.
Ciuman itu mulai dengan liar, perlahan James menciumi leher Anna dengan lembut sedangkan Anna hanya diam menikmati sentuhan itu.
Kancing baju kerja James mulai dilepas satu persatu, dan posisi mereka sekarang sudah terbalik. James berada dibawah Anna yang sedang berusaha melepas bajunya sendiri.
Kegiatan itu terus berlanjut, mereka saling memberikan kenikmatan disetiap sentuhannya. Gerakan yang mulanya pelan kini mulai mencapai puncak.
__ADS_1
Malam itu begitu indah bagi Anna maupun James sendiri. Mereka takkan melupakan pengalaman pertama mereka saat itu.