
Bulan terus berganti, perut Kenzi mulai membesar. Mereka terus melakukan check ke Rumah Sakit dan mulai mengatur masalah pengadopsian anak Kenzi nantinya. Karena persediaan mereka juga menipis, mereka memutuskan untuk belanja ke salah satu super market di dekat Rumah Sakitnya.
"Ann, apa kau tidak mau pindah dari Restoran tempatmu bekerja?"
"Untuk apa?" tanya Anna heran sambil mengambil troli.
"I am talking about your boss. He's rude."
"Ehem!" ujar Anna menyetujui perkataan Kenzi.
"So, kenapa kau masih kerja disitu?"
"Aku mendapat bayaran yang bagus disana, masalah dia kasar padaku aku tak peduli."
"Wow, Ann. Aku lihat cara dia memperlakukanmu dan wanita yang lain." kata Kenzi dengan sedikit mendesak Anna untuk memperhatikannya daripada memilih jenis sabun mandi yang punya fungsi yang sama.
"Aku punya kenalan yang pernah bekerja disana. Dia benar-benar brengsek"
"You have a friend here?" ucap Anna terkejut.
"Yes, of course. Aku tak tahan diam di rumah selagi kau banting tulang bekerja." terang Kenzi sambil menepuk pundak Anna.
"Temanku bilang, laki-laki itu benar-benar gila. Dia menyentuh bagian-bagian yang tidak seharusnya. That man's have an issue."
"Oh wow? Aku bahkan ngga pernah dengar tentangnya. Anyway, he isn't a boss. Dia adalah adik dari pemiliknya yang disuruh untuk bantu disana."
"I don't give a f*ck who's the bos, but you must to be more careful. ok?!"
Anna mengerutkan dahinya kebingungan dengan hal yang baru saja Kenzi bicarakan. Rumor mengenai perlakuan tidak senonoh bos mereka memang sering terdengar saat jam mereka mandi malam sebelum pulang. Anna berpikir itu hanyalah rumor mengingat bos itu selalu kejam terhadap dirinya. Tidak seperti laki-laki pemain biasanya.
Anna lebih memilih tidak terlalu memikirkan rumor itu, selain karena bayaran disana cukup bagus tetapi juga karena Anna tidak bisa harus mencari kerja yang lain.
Saat sedang asyik memilih makanan, Anna tak sengaja melihat kearah kanannya.
"Wow, look at that man." celetuk Kenzi mengagetkan Anna.
Rupanya Kenzi menatap sosok yang sama dengannya. Ia langsung mengalihkan pandangannya dan berusaha tenang.
"Ann, I want him lay on my bed." ujar Kenzi spontan.
Sontak Anna merasa geli,
"Iiiiuuuuh, lihat perutmu dan berhentilah berpikiran kotor."
"Apa salahnya dengan perutku? I still can have a s*x with him."
"Ow wow, stop it. Kau membuatku ingin muntah."
"Hei, virgin. Kau akan memikirkan hal yang sama jika kau pernah merasakannya."
__ADS_1
"Kau gila. Aku akan mengambil beberapa sosis di rak sana." ujar Anna berusaha kabur dari Kenzi.
Tak lama setelah Anna memilih sosis dan beberapa daging, seseorang tiba-tiba mendekat.
"Hi." tegurnya singkat.
Anna merespon melihat kearah datangnya suara.
"Oh Hi." ujar Anna sedikit kaget.
Laki-laki yang mereka bicarakan tadi, berdiri didepan Anna dengan santainya.
Tubuh tinggi dan otot indahnya yang masih terlihat dibalik baju rapi itu membuat Anna membatu. Benar apa yang dikatakan Kenzi, laki-laki ini luar biasa.
Tak sadar karena terus melihat laki-laki itu, kini Anna mulai larut dalam khayalnya hingga laki-laki itu pun menepuk pundaknya.
"Are u ok?"
Dengan menutupi rasa malu, Anna mengangguk dan langsung melanjutkan percakapannya.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Anna singkat.
"Oh yeah.... So, apa kalian tadi membicarakanku?" tanya Laki-laki itu mendadak sambil tersenyum.
Anna kehabisan kata-kata. Ia benar-benar merasa seperti maling tertangkap polisi. Mengerikan dan memalukan tentunya.
Dalam hati Anna berkara, "F*ck Kenzi."
"Oh no no, that's totally fine. Aku hanya mau mengatakan kalau seharusnya temanmu ke dokter."
Sontak ucapan itu membuat Anna terkejut sekaligus heran.
"Wdym?"
"Aku melihat kakinya dan kau harus membawanya untuk diperiksa."
"Sorry, kau melihat apa? Kakinya? How dare you!" ucap Anna kesal lalu meninggalkan laki-laki itu.
"Pervert" kutuk Anna.
Setelah bertemu Kenzi di bagian rak roti, ia langsung mengajaknya pergi dari Supermarket itu.
"Hei, kenapa kita terburu-buru?"
"We have to leave now!" tegas Anna.
Kenzi hanya diam melihat tingkah laku aneh Anna. Mereka pulang tanpa mengobrol sama sekali. Tapi rupanya Kenzi tak tahan dengan itu sehingga menegur Anna yang sedang bersiap untuk tidur.
"Hei, Ann. What's wrong?"
__ADS_1
"Nothing." ucap Anna sambil menutup rapat matanya.
"Hei, nothing is something. Aku tak bisa tidur jika kau tidak bercerita padaku." rayu Kenzi terus menerus.
Anna menyerah.
"Ok. Did you remember that guy?"
"Yang di supermarket?" tanya Kenzi memastikan.
"Yaps. that's one. Dia mengerikan."
"Maksudmu? He's hot you know."
"Stop it Ken. Dia tau kita membicarakannya dan dia melihat kearahmu. Dia memerhatikan kakimu, KAKIMU!"
"Oh ok. Lalu?"
"Did you think that was so weird? I mean, ada orang asing yang melirik kita sampe memperhatikan seluk beluk kaki. Like wtf dude!"
"So, itu yang bikin kamu marah?"
"Ya." jawab Anna singkat.
Diluar ekspektasi Anna, Kenzi malah tertawa kencang sehabis mendengarnya. Ia bahkan duduk karena tidak tahan tertawa sambil berbaring.
"Ini sungguh lucu."
"Apa? Bagian mana yang lucu? He's pervert."
"It's normal for me Ann. Look at me, aku hamil dan kakiku membengkak. Bahkan dokter kemaren menyarankan ku untuk sering-sering check untuk mengurangi pembengkakan ini. Aku yakin kau tau ini." terang Kenzi dengan santai.
Mendengar itu, Anna terdiam. Ia sedikit mulai sedikit bisa mencerna informasi itu dan menyadari kalau reaksinya memang berlebihan tadinya.
"Jadi kau tidak harusnya marah Anna. Pun kalau ada yang marah, itu harusnya aku."
Anna tak banyak merespon selain menyadari kebodohannya tadi.
"Aku merasa menyesal telah berperilaku seperti itu tadi kepadanya. Selain itu yang salah juga kita, we talked about him and he f*cking knew that." ujar Anna sambil menggosok rambut pendeknya dan sesekali memukul kepalanya.
"What? Dia tau kita ngomongin dia?" Respon Kenzi seraya melotot kearah Anna.
"YESSSSS! And he told me."
Kenzi kembali tertawa,
"Kau pasti malu." canda Kenzi menambah kekesalan Anna.
"You are son of a b*tch!" Ujar Anna disertai tawa Kenzi yang nyaring.
__ADS_1