
Setelah keesokannya, James terbangun dan menatap Anna yang tidur disampingnya. Perlahan ia merapikan rambut Anna dan tangannya berhenti pada luka dikeningnya. Betapa sedihnya James melihat itu dan membayangkan kejadian yang pernah dilihatnya dulu ternyata terus berlanjut sampai sekarang.
Setelah itu ia bangun dan segera mandi sebelum akhirnya memasak toast untuk sarapan mereka.
Anna terbangun dan mengintip pekerjaan James di dapur. Ia tersenyum kearah James yang menunjukkan makanan buatannya.
"Morning."
"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Anna.
"Kulihat kau begitu nyaman tertidur. Dan aku tidak mau mengganggumu."
Anna kembali tersenyum dan menyiapkan gelas minuman mereka di meja.
"Kau hari ini kerja?" tanya James.
"Ya, mungkin 2 jam lagi aku berangkat."
James memastikan Anna duduk terlebih dahulu sebelum mulai membicarakan sesuatu.
"Anna, aku tau kau sulit mendapatkan pekerjaan dan membutuhkan uang. Tapi, bisakah kau berhenti bekerja disana?" Ungkap James seraya menggenggam tangan Anna.
"I'll help you to find another job, ok?"
__ADS_1
"Kenapa James?"
"Aku tersiksa membayangkanmu terus diperlakukan seperti itu setiap bekerja. Aku akan mencarikanmu pekerjaan yang lebih manusiawi daripada itu. I'll help you."
"Aku sudah biasa James. Luka ini dua sampai tiga hari kedepan akan sembuh. It's ok, trust me."
James kehabisan kata, ia hanya menatap mata Anna dengan serius berusaha mencari cara lain.
"Kau sudah berjuang beberapa tahun lalu, harusnya sekarang kau disini bahagia. Uang memang bisa membelikan kita sofa dan makanan yang enak tapi uang tidak bisa membelikan kita kebahagiaan batin."
"Listen to me Anna. Please." sambung James.
Anna tersenyum dan mengangguk untuk menyetujui ide James.
Dan kabar baiknya besok hari Kenzi datang untuk kembali tinggal bersama Anna. Mereka menyambutnya dan makan malam di restoran atas permintaan James. Setelah kembali pulang ke rumah, Kenzi kelelahan dan langsung tidur di kamar meninggalkan James dan Anna di ruang tengah.
Saat menonton televisi, James melihat kearah Anna yang hanya menggunakan baju rumah dan celana pendek hitam membuatnya tak bisa mengalihkan pandangannya. Mengetahui hal itu, Anna menatap James yang berusaha mengalihkan pandangannya dan pura-pura tidak tahu.
Anna berencana menjahili James yang berusaha fokus ke layar televisi. Ia membuka kancing atas bajunya dan mengikat rambutnya keatas pura-pura kepanasan. James memakan umpannya dan memperhatikan baju Anna.
Melihat hal itu, Anna tak bisa menahan lucunya wajah James saat itu sehingga ia tertawa. Sontak James kebingungan.
"Ada apa?" tanyanya kebingungan.
__ADS_1
Anna masih tertawa dan berusaha mengendalikannya namun tak berhasil.
"Kau mempermaikanku?" tanya James diiringi tawa Anna yang lepas.
"Astagaa James, kau tidak harus mengintip dibalik bajuku seperti itu." ucap Anna terpotong-potong oleh ketawanya.
Mendengar hal itu James ikut tertawa dan malu. Ia tiba-tiba mendorong Anna kebelakang dan menindihnya.
"Kau salah mempermainkan orang." bisik James ditelinga Anna.
Keesokan paginya, James yang sudah pulang tengah malam tadi meninggalkan Anna yang tertidur pulas di sofa. Tak lama kemudian Kenzi datang dan duduk menghadap Anna yang tidur di sofa. Perlahan Anna membuka matanya,
"Wow, kalian berdua luar biasa tadi malam." ujar Kenzi seraya mempraktekkan sesuatu didepan Anna.
Anna langsung duduk dan berusaha tenang.
"Kau tidak perlu berbohong. Kalian berdua tadi malam cukup intens." ejekknya sambil tersenyum.
Anna hanya tertawa karena tak mampu mencari penolakan.
"I heard it. Kalian berisik sekali dan erangan itu membuatku ingin menontonnya secara langsung."
"What the F*ck Ken." jawab Anna kesal sambil melemparinya bantal.
__ADS_1