
"Kakak, aku akan pergi mungkin akan punlang nanti sore ingat ya saat aku pulang ayo ajari aku ilmu beladiri" ucap Xiau hui sambil berpamitan. "Tentu aku tak akan lupa, berhati-hatilah jangan pulang malam" ucap Shin ji mengantar Xiau huisampai di pintu.
"Aku lihat kau semakin dekat dengan adik, jangan lupa dia adikmu jika kau macam-macam aku akan adukan pada ayah" ucap Shin hi mengancam, "tentu aku ingat, aku malah merasa kau semakin dekat dengan adik. Malah sikap mu padanya melebihi perlakuan ke adik kandung Emm," ucap Shin ji meledek adiknya.
"Diam, dasar pemalas setidaknya bersihkan kamarmu yang sudah seperti kandang babi itu" ucap Shin hi membalas ejekan kakaknya.
"Apa? kandang babi, itu adalah kamar paling rapi dan bersih tau" ucap Shin ji dengan nada meremehkan. "Sudah cukup, apa yang kalian bahas semenjak datang kalian berdebat terus apa kalian tidak lihat kupingku hampir tuli" ucap tabib Jing marah.
"Lihat adik kalian, dia itu sangat penurut tidak seperti kalian yang ribut seperti anak kecil" tambah tabib Jing meledek anaknya.
"Jangan lupa ayah, kami anak ayah kami meniru kebiasaan ayah loh" ucap Shin hi membalas meledek ayahnya.
"Waah, anak ayah makin berani nih" ucap tabib Jing sambil menggelitik anaknya
"Ha ha Ha, cukup ayah jangan sampai aku kasar" ancam Shin hi yang tertawa di gelitik.
"Aduh, anak ini tak berubah tetap kasar seperti saat dia kecil" ucap tabib Jing yang kepalanya benjol karena di pukul anaknya.
"Shin hi, kamu harus belajar menghormati orang yang lebih tua" ucap tabib Jing kesal.
"Ayah, aku harus melindungi diri dari pria mesum," ucap Shin hi dengan nada kesal.
"Apa yg aku katakam benar kak" ucap Shin hi yang menyadarkan kakaknya yang tengah asik tertawa. "Eee, Benar" ucap Shin ji singkat.
"Ayah dengar itu, ayo kak kita masuk dan biarkan ayah kita ini merenungi perkataannya.
Shin hi mengajak Shin ji untuk masuk ke rumah. "Ayah, terima kasih sudah mengalihkan kemarahan adik" ucap Shin ji sambil tertawa lega.
"Dasar anak itu tingkah lakunya sangat mirip ibunya" ucap tabib Jing yang di tinggal sendirian.
Sementara itu Xiau hui yang bekerja paruh waktu di kedai, saat dia masuk ke kedai. Kedai itu terlihat berantakan dan nyonya pemilik kedai terlihat tertidur di meja pelanggan dengan sebotol minuman keras di sampingnya.
"Nyonya, bangunlah kenapa anda tidur disini" ucap Xiau hui sambil membangunkan pemilik kedai. "Aaaah, kenapa bangunkan aku" ucapnya sambil menggerutu.
"Nyonya, bangunlah aku akan segera membereskan kedai" ucap Xiau hui mengulangi perkataannya. "Waah, kau sudah mulai kerja lagi. Bagaimana kabarmu" ucap pemilik kedai yang penasaran dengan Xiau hui.
"Nyonya jika ada masalah jangan minum minuman keras, akan lebih baik jika kau menceritakan masalahmu pada orang yang kau percayai" ucap Xiau hui.
"Bagaimana aku bisa cerita, dengan siapa aku bahkan tak tau siapa yang bisa ku percayai" ucap nya dengan nada pasrah.
__ADS_1
"Jika kau ingin aku bisa mendengarkan mu" ucap Xiau hui sambil menata kembali meja dan kursi yang berserakan. Tiba-tiba Xiau hui di peluk dari belakang Nyonya pemilik kedai tidak bicara apapun, dia hanya memeluk Xiau hui sambil menangis sesegukan. Xiau hui merasakan kesedihan yang amat mendalam dari tiap tetes air mata pemilik kedai. Xiau hui membalikan badan dan memeluk pemilik kedai.
"Anda tidak akan bisa menahan kesedihan sendiri, jika tak bisa menahannya dan menceritakannya pada orang terpercaya anda anda bisa mencari pendamping yang mau menjadi sandaran anda saat menangis" ucap Xiau hui yang menambah deras air mata nya.
"Aku menghancurkan hidup orang lain, jika dia tau entah apa yang akan dia katakan tentangku" ucap pemilik kedai dengan tersedu-sedu. "Nyonya katakan yang sebenarnya, anda akan merasa lebih ringan. Jika dia mampu memaafkan anda itu artinya dia orang baik, namun jika dia tak memaafkanmu tak masalah yang terpenting kamu sudah mengatakan kebenarannya kamu akan merasa bebanmu makin ringan nyonya" ucap Xiau hui dengan tulus. Mendengar pernyataan Xiau hui dia pun mulai menyadari sesuatu, mengakui kesalahan akan lebih baik daripada menyimpannya.
"Terima kasih Xiau hui. kau membuatku tersadar akan apa yg aku butuhkan, padahal kau lebih muda dariku" ucap nya penuh rasa bersalah. "Tidak nyonya, aku juga baru mempelajarinya beberapa hari terakhir" ucap Xiau hui dengan santai. Xiau hui tidak tau jika yang di maksud oleh boss nya itu tentang dia dan keluarganya.
Kembali lagi pada tabib Jing yang pergi ke tempat Zang lie, dia memaksa penjaga tempat itu untuk memgantarnya bertemu Zang lie.
"Kamu menutup-nutupi kepulangan Zang lie" ucap tabib Jing kesal.
"Tuan Jing, tuan memang sudah pulang dia sedang beristirahat saat ini, tolong jangan membuat keributan" ucap nya mencegah tabib Jing masuk.
"Hey, ada apa ribut-ribut tuan saya tidak mampu menahan teman anda, dia begitu keras kepala sehingga memancing saya untuk bertindak kasar" ucap penjaga itu melapor pada Zang lie.
"Kamu tidak akan bisa menahan dia aku sangat mengerti isi kepalanya , tak apa lanjutkan tugasmu" ucap Zang lie kesal. "Baik tuan" ucapnya sambil pergi menjauh.
"Ayo bicara di dalam, akan ada hal mengejutkan jadi tak bisa ku bicarakan di luar" ucap Zang lie yang setengah mengantuk, sejujurnya Zang lie ingin beristirahat karena sewaktu dia mencari informasi tak sama sekali bisa tidur.
Zang lie mengajak tuan Jing ke suatu ruangan yang tertutup. "Ada apa kenapa kau mengajakku kemari," ucap tuan Jing kebingungan. "Maaf tapi ini masalah yang sangat penting tak bisa ku bicarakan di luar" ucap Zang lie dengan nada serius.
"Lalu apa yang terjadi?" ucap tuan Jing tak sabar. "Pimpinan bandit itu bernama Anh lin mereka yang membantu adikmu melahirkan. Dia melahirkan di usia kandungan tujuh bulan, dan anaknya tak bertahan lama. Dia sangat sedih akan nasib adikmu, melahirkan anak lalu anaknya meninggal, dia menukar anak itu dengan anak yg dia bawa. memberi kesempatan adikmu memiliki anak, Dia adalah anak dari Kaisar terdahulu."
"Dia juga menitipkan pesan agar berita ini tak tersebar dulu, agar tak membahayakan keponakanmu" ucap Zang lie. "Lalu bagaimana dengan jasad keponakanku," ucap tuan Jing kebingungan. "Dia membawanya pergi, dan mengenalkannya sebagai anak angkatnya dan di makamkan dengan layak di desa ini. Dia juga menjadi nyonya di tempat Xiau hui bekerja sambilan.
"Hal ini aku pun tak bisa menyampaikannya pada adiku, aku tak pernah tau bagaimana tanggapan adiku mendengarnya.
Di tempat lain Anh lin sedang pergi menuju desa Chengzi, dia ingin mengatakan langsung kebenarannya pada Zin yuan. Dia ingin melepaskan sedikit bebannya agar tak di hantui rasa bersalah.
Anh lin berjalam sedikit demi sedikit sambil memikirkan resiko yang akan dia tanggung.
Banyak hal yang dia pikorkan sejak saat itu dia memikirkan segala akibat uang akan dia sebabkan.
Dia melihat rumah itu yang begitu lama menghantuinya, kenangan lama mulai bangkit di ingatannya yang membuat dia menjadi ragu dan tak bisa mendekati rumah itu. Saat dia ingin menenangkan diri dan hatinya dia masuk kembali ke dalam hutan. Saat matahari terbenam dia menyalakan api unggun sambil membakar hasil buruannya dia merenungi segala hal yang telah terjadi.
"Tuhan, kuatkan aku tabahkan hatiku agar aku mampu mengungkapkan segalanya." Ucap Anh lin penuh harapan.
Setelah semalaman memikirkan tentang akibatnya, di pagi hari Anh lin mendapat keberaniannya kembali. Dia mendekat ke rumah itu dan mengetuk pintunya.
__ADS_1
"Permisi, tuan permisi" ucap Anh lin sambil mengetuk pintu. "Iya siapa" ucap Zin yuan membuka pintu. "Anh lin apa ini kamu, apa benar kamu" ucap Zin yuan berteriak dan memeluk Anh lin.
"Bagaimana kabarmu"ucap Zin yuan mempersilakan Anh lin masuk ke rumahnya.
"Aku baik, bagaimana denganmu" ucap Anh lin canggung. "Loh siapa dia istriku?" ucap Cheng mi seakan takjub. "Dia yang membantuku melahirkan dulu sayang" ucap Zin yuan memperkenalkan Anh lin. "Sebenarnya aku datang kemari untuk menyampaikan hal penting" ucap Anh lin gugup.
"Ada apa" ucap Zin yuan cemas, dia merasa kedatangan Anh lin kali ini ada hubungannya dengan anaknya.
"Mari masuk dulu, aku takut akan ada yang mendengar perkataan kita jika di teruskan diluar." Ucap Cheng mi menyarankan.
Mereka pun masuk ke dalam dengan perasaan was-was. "Semoga bukan hal buruk" ucap Cheng mi dan Zin yuan bersamaan.
Zin yuan menarik tangan Anh lin untuk masuk ke rumah dan mengajak nya duduk di ruang makan. "Ada apa Anh lin, jika hal ini berkaitan dengan anak kami tolong ceritakan dengan teliti" ucao Zin yuan. "Maaf kan aku karena baru bisa datang kemari setelah lima belas tahun berlalu" ucap Anh lin gugup. Baru mendengar itu saja rasanya Cheng mi seperti akan mengalami serangan jantung, detak jantungnya semakin cepat dan cepat. "Maaf nona, saya akan mengambikan minuman" ucap Cheng mi sambil memegang dadanya.
"Entah apa sekarang lagi, kenapa banyak hal yang menimpa keluarga ku" ucap nya penuh kekhawatiran. "Ini silakan di minum" ucap Cheng mi sambil menyuguhkan beberapa minuman. "Maaf mungkin kedatanganku membawa kalian ke dalam kecemasan, aku harus menceritakan semuanya sekarang" "aku adalah mantan tabib kerajaan yang di usir bersamaan dengan di penjaranya Kaisar dan ratu terdahulu. Saya bertugas untuk menjaga anak kedua dari kaisar yang ingin di bunuh oleh musuh-musuhnya,"
"Bertepatan dengan hari dimana kami melarikan diri, anak buah saya memberi tau tentang anda disini, saya bergegas datang dan membantu anda" "Saat itu saya menyaksikan anda sangat keras berjuang saat pendarahan anak anda lahir lebih awal dengan kondisi kritis, dia hanya mampu bertahan sebentar sebelum meninggal. Saat itu saya tak langsung pergi, saat anda tidur saya merasa kasihan dengan anda dan anak yang saya bawa."
"Saya tak tau dari mana datang nya ide untuk menaruh anak itu bersama anda, maaf saya menukar anak anda" "Saya membawanya yang saya kenalkan sebagai anak angkat saya, dia juga di makamkan dengan layak" ucap Anh lin.
Mendengar kenyataan yang begitu pahit, mereka hanya membeku dan seakan tak percaya. Cheng mi pun menangis, "ya tuhan, begitu berbaktinya dia hingga rela menjual tanaman obat bertahun-tahun saat aku sakit, dia tak menikmati sepeserpun uang penjualannya, dia malah membawa ku berobat. Anak yang begitu aku sayang yang sangat berbakti itu ternyata bukan anakku" ucao Cheng mi menangis tersedu.
Anh lin mendengar pernyataan Cheng mi hanya bisa menangis dengan rasa bersalahnya.
Zin yuan meneteskan airmata mendengar cerita Anh lin, "tidak, dia juga anak kami dia adalah belahan jiwa kami meskipun dia bukan darah daging kami dia adalah anak kami. Tak akan ada cinta dan kasih sayang yang melebihi kasih sayang kami" ucap Zin yuan dengan air mata yang terus menerus menetes.
"Kamu benar, aku melihat sendiri bakti anakmu dengan mataku sendiri" "meski dia berada jauh dari kalian, baktinya pada kalian tak akan ada yang bisa merebutnya" "aku memiliki kedai di ibu kota, sekali lihat pun aku mengenali anak kalian, dia mencari pekerjaan paruh waktu untuk kalian" ucap nya dengan rasa yang tak bisa di jelaskan.
Zin yuan pun berdiri dari kursinya, dia datang dan memeluk Anh lin, "Terima kasih, kau memberikan kami kesempatan untuk memiliki Xiau hui terima kasih telah membawakan kami anak yang berbakti dan sangat baik hati" ucap Zin yuan sambil menangis. "Maafkan aku, telah berbohong dan menyimpa nya lama, maaf" ucap Anh lin penuh rasa menyesal.
Saat mereka selesai dengan airmatanya, Zin yuan juga menanyakan tentang kenapa dia tidak bisa hamil lagi. "Aku tak bisa menjelaskannya,tapi ada kemungkinan saat kamu mengalami pendarahan sebelum melahirkan itu ada hubungan nya dengan rahimmu" ucap Anh lin dengan wajah serius.
"Mungkin tuhan merasa cukup saat memberi kami Xiau hui sebagai anak" ucap Cheng mi iklas akan takdir ini.
"Maaf, mungkin ini tak pantas jika aku memintanya. Tapi tolong jangan publikasikan hal ini ke orang luar, aku sangat takut akan ada bahaya yang menghampiri Xiau hui. Saat ini dia baru memulai pelajarannya" ucap Anh lin.
"Jangan khawatir, kami juga memikirkan hal yang sama" kami juga tak ingin mengecewakan anak kami lagi" ucap Cheng mi.
"Kami akan merahasiakamnya sampai nanti tiba saat nya dia dewasa" ucap Zin yuan dan Cheng mi bersamaan.
__ADS_1
* * *