
Di pagi hari Xiau hui sudah mulai sibuk bersiap-siap untuk masuk ke sebuah akademi ternama di kekaisaran dia tak berangkat sendiri karena kedua kakaknya juga ikut. Mereka akan dinggal di asrama untuk siswa pemula, "Ayah, kami akan berangkat sekarang" teriak Shin hi bersemangat. "Paman kami akan berangkat, paman jaga kesehatan di rumah kami akan sering-sering pulang" ucap Xiau hui di ikuti anggukan Shin ji.
"Tentu saja, kalian belajarlah dengan giat jangan hanya bertengkar" ucap tabib jing sambil tertawa. "Tentu saja kami akam belajar, ayah kira kami pergi berlibur" ucap Shim hi yang kehilangan momen harunya saat akan berpisah dari ayahnya. Mendengar ocehan putrinya itu dia tertawa kecil sambil menahan air matanya.
Setelah cukup lama bertengkar dan mereka berpamitan, akhirnya mereka menuju ke asrama mereka masing-masing. Shin hi, dan Xiau hui menuju asrama putri sementara Shin ji menuju asrama pria.
Mereka memutuskan untuk masuk ke akademi Xing Shun. Mereka bertiga masuk ke akademi tersebut dengan mengambil sebuah tes yang di lakukan dalam waktu setahun sekali.
Shin hi dan Xiau hui terkejut saat memasuki asrama putri di sediakan dua buah meja. Salah satu meja berisi aneka tanaman obat dan tanaman beracun mulai dari yang kering sampai yang masih segar, sementara meja yang satu lagi berisi sebuah tongkat berwarna keemasan. "Adik, aku tak mengerti kenapa kedua meja itu di sediakan. Pasa siswa pun belum ada yang masuk" ucap Shin hi penuh kebingungan. ''Aku pun tak mengerti kak'' ucap Xiau hui sambil menatap wajah siswi lain yang juga kebingungan.
Mereka masih menantikan penjelasan dari pihak akademi, dan setelah beberapa saat menunggu datang beberapa pria paruh baya dengan pakaian putih. "Hem, mohon perhatiannya" ucap salah satu pria tersebut memecah kebingungan para siswi.
"Perkenalkan saya selaku ketua dari akademi ini, serta beberapa guru menyambut kedatangan kalian. Kalian pasti bingung dengan kedua meja yang ada di hadapan kalian" ucap pria tersebut memberi penjelasan.
"Kedua meja ini kami siapkan untuk beberapa tujuan, selain kami ingin menguji kemampuan kalian kami juga memberikan tes apakah kalian layak untuk masuk ke akademi kami" tambah pria itu dengan tegas.
"Mengapa begitu ketat untuk masuk ke sebuah akademi" ucap salah seorang gadis di belakang Xiau hui. " Tentu ketat, ini akademi ternama" ucap wanita di sampingnya memotong pembicaraan.
Para siswi diminta untuk berbaris setelah menerima pengarahan tersebut, Xiau hui dan Shin hi mendapat antrian terakhir karena mereka ingin mengamati dahulu tentang ujian tersebut. Antrian pertama seorang wanita anggun dengan angkuh dan sombong maju dan memilih mengambil tongkat tersebut. Saat menyentuh tongakat itu terpancar cahaya merah dari tongkat itu yang menandakan kekuatan sihirnya masih ada di tingkat awal dan berkembang. Panitia mengumumkan arti warna merah yang di pancarkan tongkat tersebut menandakan status dan tingkatan kekuatan dari mereka yang menyentuhnya.
Setelah lulus ujian siswi tersebut di perbolehkan masuk ke ruangan untuk menerima seragam serta kartu identitas kepesertaan. Siswi di urutan ke dua pun maju dan mengambil kertas untuk menebak beberapa tanaman obat serta kegunaan nya. Dia menebak sekitar sembilan jenis dan menyerahkan daftarnya untuk di nilai.
Dia juga di nyatakan lulus dengan perolehan tujuh tebakannya benar dia di arahkan untuk masuk ke ruangan sebelah kanan.
Siswi ke tiga pun maju da memilih mengambil tongkat itu, namun sayang dia tak mendapat respon apapun dari tongkat tersebut.
Dia memilih tongkat itu karena tak lagi mendapat contekan atas tes hari ini, dia kira akan lulus dengan mudah. "Maaf nona tongkat ini tidak akan merespon mereka yang berlaku curang, silahkan meninggalkan akademi kami" ucap salah satu panitia dengan tegas.
"Apa maksud nya ini, kenapa saya di usir mungkin kalian tidak tau siapa saya" teriaknya saa di seret untuk keluar akademi.
Ada beberapa siswi yang tak lulus dalam ujian tahun ini, para kandidat berguguran satu demi satu. Hingga tiba saat nya giliran Shin hi, dia maju dengan penuh kepercayaan diri. Dia mengambil sebuah kertas dan menebak beberapa tanaman obat dan menjelaskan manfaat serta efek samping nya.
Shin hi berhasil menebak 30 jenis tanaman obat dengan tepat, panitia meminta Shin hi untuk mencoba mengambil tongkat di meja lain. Meskipun dia kebingungan dia menyetujui permintaan panitia tersebut. "Aku hanya perlu mengambilnya kan," ucap Shin hi penuh tanda tanya. Xiau hui melihat hal tersebut merasa sangat bangga akan kakaknya, sampai-sampai dia tak berkedip karna tegang saat melihat Shin hi menjalani ujian.
"Ayo kak, semangat" triak Xiau hui dengan keras dan membuat suasana di sekitarnya menjadi canggung. "Maaf, maaf" ucapnya menatap ke sekeliling.
Shin hi mendengarnya hanya bisa tersenyum dan menatap mata adik sepupunya itu.
__ADS_1
Shin hi memberanikan diri mengambil tongkat tersebut, seketika semua panitia tercengang melihat tongkat tersebut memancarkan cahaya kehijauan yang lembut dan hangat. "Selamat nona anda lulus, arti dari warna hijau tersebut adalah kemampuan dalam bidang pengobatan yang masih ada di tingkat menengah. Mereka dengan kemampuan tersebut akan memiliki masa depan yang cerah dalam bidang pengobatan" ucap panitia tersebut dengan sangat bersemangat.
Shin hi pun di persilakan masuk ke ruangan, Xiau hui merasa sangat gugup saat menantikan gilirannya. "Baik yang selanjutnya" ucap panitia tersebut memanggil saat Xiau hui akan maju kedepan. Tiba2 ada peserta yang masuk karna sudah giliran kelompoknya untuk masuk. Mereka seakan tak mengangap Xiau hui dan mendahuluinya untuk mengikuti ujian tersebut.
"Maaf, sebenarnya ini giliran saya" ucap Xiau hui dengan nada lembut agar tak sampai menyinggung perasaan orang-orang di kelompok tersebut.
"Tidak ini giliran kami" bentak pimpinan kelompok tersebut pada Xiau hui yang di susul tawa remeh dari kelompok itu.
"Ha ha ha, sepertinya dia tidak mengenali nona" tambah salah seorang di samping wanita tersebut yang seketika membuat Xiau hui terpancing amarah.
"Sabar adik," teriak Shin hi mengingatkan Xiau hui yang wajahnya mulai memerah karna amarahnya. "Cukup tertawanya, biarkan adik manis ini duluan. Aku takut dia akan menangis jika kita biarkan" ucap salah satu dari mereka sambil memegang dagu Xiau hui.
"Lepaskan aku bodoh, dasar tidak tau malu. Singkirkam tangan kotor mu" ucap Xiau hui meledek dengan nada yang tak enak di dengar.
Shin hi mlihat hanya bisa menahan tawanya dari jauh. " Diam lah gadis bodoh" bentak salah seorang wanita sambil mengangkat tangan untuk menampar Xiau hui.
Dia begitu kesal akan perlawanan Xiau hui, yang seakan-akan tak memiliki rasa takut.
"Kenapa diam, tampar aku pilih lah kana atau kiri" ucap Xiau hui menantang nya.
"Tangan ku" ucapnya sambil gemetar.
"Aku tak bisa menggerakan tanganku" ucap Ling zu dengan sangat ketakutan. Mendengar ucapan temannya serentak mereka menoleh pada Xiau hui, mereka menatap mata Xiau hui yang merah membara. Mereka bergidik ngeri saat Xiau hui melempar tatapan tajam ke arah mereka. Rambut Xiau hui pun mulai berubah warna menjadi putih, seiring dengan perubahan rambutnya angin kencang pun mulai bertiup seakan menandakan bencana akan tiba.
Mereka yang awalnya meremehkan Xiau hui merasakan aura mencekam dan suasana menjadi dingin, mereka bertanya-tanya tentang identitas gadis di hadapan mereka.
Sebelum situasi semakin buruk para panitia menghentikan pertikaian mereka, dan menenangkan suasana. "Berhentilah, siapapun boleh masuk dan mengikuti ujian terlebih dahulu jangan memperkeruh suasana" ucap salah seorang panitia yang mencoba mencairkan suasana.
Xiau hui melangkah maju tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia mengambil kertas dan menulis beberapa tanaman yg dia ketahui.
Xiau hui juga mengambil tongkat di meja lain untuk membuktikan kekuatannya pantas dan layak untuk akademi ini.
Saat Xiau hui mengambil tongkat tersebut, tongkat itu mengeluarkan cahaya keemasan yang begitu menyilaukan. Di tangan Xiau hui muncul sebuah gelang yang memancarkan aura penguasa dan aura kemurnian.
Xiau hui merasakan kekuatan yang besar mengalir di dalam dirinya, dia juga menyadari perbedaan dari kemampuan fisiknya serta bayangannya. Rambut putih Xiau hui pun berangsur-angsur kembali normal, mata Xiau hui juga kembali normal. Para panitia yang menyaksikan kejadian tersebut terheran-heran akan asal kekuatan dari gadis di hadapan mereka. Mereka mempersilahkan Xiau hui masuk karena lolos dalam ujian dan membarikan seragam nya. Setelah itu masuk beberapa kelompok lagi untuk mengikuti ujian masuk. "Sepertinya kalian mengganggu orang yang salah" ucap seorang gadis berpakaian hitam dengan cadar dan jubahnya.
"Siapa kau" ucap Xin zi terkejut dengan ucapan gadis itu, "Tak perlu khawatir aku tak akan membocorkan apa yang aku lihat tadi" ucapnya dengan penuh kepercayaan diri. Gadis itu pun maju dan mendahului melakukan ujian, mereka di tinggalkan dengan tatapan yg masih bingung akan hal yang terjadi barusan.
__ADS_1
"Mungkin hari ini adalah hari sial kita" ucap Ling zu penuh kebingungan. Ling zu dan teman-temannya merasa begitu khawatir dengan keberadaan Xiau hui.
Setelah drama yang cukup rumit dan penuh kejutan itu, ujian masuk itu pun di tutup. Xiau hui di tempatkan di kelas satu terpisah dengan Shin hi yang di tempatkan di kelas dua.
Xiau hui ditempatkan di kelas tersebut bersama dengan sembilan belas siswi lain, termasuk empat orang dari kelompok usil tadi.
"Kenapa mereka harus berada di kelas yang sama dengan ku" ucap Xiau hui menggerutu kesal. "Nona mungkin mereka akan membagi takdir dengan anda. Lebih tepatnya takdir anda dan mereka akan berkaitan" ucap salah seorang gadis yang duduk di belakang Xiau hui.
"Siapa kamu, jika kamu orang yang berprilaku sama seperti mereka tolong jauhi aku" ucap Xiau hui tegas.
" Bukan, aku disini hanya sebagai pengamat nona. Namaku Shi jia, aku adalah putri dari pengrajin senjata untuk kekaisaran" ucap gadis itu menjelaskan sambil memperkenalkan diri.
"Baiklah" ucap Xiau hui acuh tak acuh.
"Lalu nama nona siapa?" ucap Shi jia dengan penuh penasaran.
"Namaku Xiau hui, aku kemari bersama kedua kakakku. Aku anak dari petani, pamanku adalah tabib biasa" ucap Xiau hui dengan enggan.
"Kalau begitu bisakah kita menjadi teman" ucap Shi jia memohon. "Tentu, asal kau tidak akan pernah mencari masalah dengan ku atau kedua kakak ku" ucap Xiau hui menyetujui permintaan Shi jia.
Dengan begitu mereka mulai menjadi teman, Shi jia sangat penasaran tentang kekuatan Xiau hui. Shi jia juga sangat penasaran tentang latar belakang Xiau hui yang sebenar nya. Apa yang Xiau hui katakan tentang keluarganya itu benar atau hanya sengaja di tutupi pemikiran itu terus saja berputar-putar di kepala Shi jia.
Salah seorang guru masuk ke dalam kelas mereka, namun tak ada satupun siswi yang menyadari atau memberi hormat.
"Dug, Bisakah kalian tenang atau harus aku bungkam" ucap guru tersebut sambil memukul meja dengan keras.
Tersadar akan guru tersebut seluruh kelas menjadi tenang dan membungkung pada nya.
"Tidak usah banyak bicara, aku disini sebagai guru pembimbing kalian selain mengajari kalian aku disini bertugas untuk mengawasi kelas ini. Nama ku Dha xin, panggil aku guru Xin" ucap guru tersebut dengan wajah serius.
"Aku akan menegaskan pada kalian, di kelas ini aku tak ingin mendengar ada yang bertengkar satu sama lain segala masalah harus di selesaikan di dalam kelas. kalian dengar," ucap guru Xin dengan tatapan berapi-api.
"Baik guru" ucap seluruh siswi serempak.
*
*
__ADS_1
*
*