Xiau Hui Sang Penyelamat

Xiau Hui Sang Penyelamat
14. Mencari jati diri (2)


__ADS_3

Kami akan merahasiakamnya sampai nanti tiba saat nya dia dewasa" ucap Zin yuan dan Cheng mi bersamaan.


xiau hui memulai paginya dengan lari keliling kota bersama anak anjing nya, dia melatih daya tahan fisik nya dan mulai belajar mengendalikan sihirnya nya, dia juga mempelajari tentang kekuatan bertarung dan mengamati situasi pertarungan. Dia juga mempelajari tentang berbagai gaya pertarungan, dan cara membaca gerakan lawan. Sedikit demi sedikit Xiau hui mempelajari ilmu bela diri untuk kepentingannya melindungi diri dan melindungi orang-orang terkasihnya.


Seiring dengan peningkatan kemampuan fisiknya, dia juga mulai mengalami peningkatan di kekuatan sihirnya, bukan hanya menciptakan kubah pelindung yang makin kuat, daya serang tanaman dan kekuatan es nya juga makin pesat.


Xiau hui juga mendapat kemampuan baru untuk mengendalikan tanah, meski sangat sulit untuk tubuhnya menerima itu. Dia menjadi sangat lelah jika mengendalikan tanah, "Semua ini masih awalan bagiku, aku masih harus terus berlatih untuk melindungi segalanya" ucap Xiau hui. Dengan makin kuatnya tekad Xiau hui semakin mendekat pula rintangan yang lebih besar darinya. Xiau hui tidak merasa kesepian sama sekali karena memiliki meyzi serakang, meyzi pun sangat bahagia bisa menemani Xiau hui. Mereka selalu bersama semenjak hari itu, bahkan Meyzi juga ikut tidur di kamar Shin hi.


Setelah beberapa hari Xiau hui berlatih sihir, hari ini dia menyempatkan latihan fisik dan juga pedang. "Sulit sekali berlatih sendiri, tak ada yang mengkoreksi kesalahanku mungkin lebih baik aku masuk ke sebuah akademi. Selain bisa mendapat teman intuk berlatih dia juga akan mendapat pengakuan resmi dari akademi.


Setelah belajar mengendalikan pedang, Xiau hui pun kembali bekerja paruh waktu di kedai.


"Selamat pagi, aku datang untuk bekerja" ucap Xiau hui, "Koki Nyonya tak ada disini?" tambah Xiau hui yang mencari-cari nyonya itu.


"Xiau hui, kemarin nyonya pamit untuk pulang ke rumahnya dan ke makam anaknya untuk bersih-bersih. "Ooh, nyonya sudah punya anak." ucao Xiau hui heran. "Tidak itu anak angkat nya, lima belas tahun lalu meninggal karena lahir prematur, jika dia masih hidup mungkin dia sudah tumbuh menjadi gadis cantik sepertimu" ucap koki pada Xiau hui.


"Anak angkat?,aku jadi bingung kenapa sudah lah, aku akan segera bersih-bersih" ucap Xiau hui yang malas untuk memikirkan hal-hal rumit.


"Hey nona, bawakan aku sake, jangan hanya berdiri disana" ucap pelanggan yang berteriak dengan kasar. "Hey, diam tutup mulutmu gadis itu sangat mengerikan" ucap temannya yang datang bersamanya. "Baik tuan tunggulah disana" ucap Xiau hui yang mencoba sabar.


"Pria-pria itu mulai lagi, apa yang sebelum nya belum cukup membuat mereka jera" gerutu Xiau hui penuh amarah. "Sabar Xiau hui sabar, kamu disini untuk bekerja bukan untuk mengacaukan segalanya" ucap Xiau hui untuk membuat dirinya kuat.


"Ini tuan, minuman anda" ucap Xiau hui meletakan minuman di meja. "Hey apa kau bodoh, mana tumis daging sapinya. Mana bisa minum tanpa itu" ucapnya sambil berlagak sombong di depan temannya, "maaf nona kami tak ingin ikut campur atas apa yg dia lakukan,yang kemarin sudah cukup untuk kami" ucap temannya yang menyerah di hadapan Xiau hui. "Bagus jika kalian sadar, berarti hanya dia yg belum pernah merasakan rasanya remuk" ucap Xiau hui dengan nada jengkel.


"Hey nona kemarilah ikut minum denganku" ucap nya sambil mencoba memegang Xiau hui. Teman yang datang bersama pria itu memalingkan wajah tanda tak ingin ikut campur. Xiau hui menangkis tangan pria itu dan bergegas ke dapur. "Koki, ada yang pesan sepiring tumis daging sapi" ucap Xiau hui.


"Baik," ucap koki yang dengan sigap membuatkan pesanan nya. setelah beberapa menit tumis daging sapi pun siap, "Xiau hui, ini pesanannya bawakan ke depan dan kembalilah ke dapur aku akan membuatkanmu satu" ucap sang koki dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


"Baik tuan" ucap Xiau hui yang merasa sedikit di hibur. "Ini tuan pesanan anda" ucap Xiau hui.


"Hey gadis manis, mau kemana bukankah aku menyuruhmu menemaniku minum" ucap nya sambil memegang tangan Xiau hui. "Cukup tuan, prilaku anda sudah sangat keterlaluan singkirkan tangan kotormu sebelum ku hancurkan" ucap Xiau hui penuh amarah, wajahnya memerah karena menahan emosi.


"Hey, brani sekali kau membantahku apa kau tak pernah mendengar pelanggan adalah raja" ucap nya berdiri dan menampar Xiau hui di pipi kanannya. "Heeey, dasar bodoh kenapa kau menamparku" teriak Xiau hui dambil membanting nya ke lantai. "Jika pelanggan adalah raja, maka kami adalah dewa" ucap nya sambil menampar bolak balik pria itu.


"Sudah aku bilang kan, Nona saya tak ingin ikut campur dengannya" ucap pria yang datang bersamanya. "Tentu paman selama anda sopan saya tidak akan meledak" ucap Xiau hui dengan tatapan tajam. Akhirnya pria itu melanjutkan makannya dengan temannya meski wajahnya babak belur.


Mendengar keributan koki yang semula membuat tumis daging sapi keluar dapur, "Xiau hui ada apa ribut-ribut" ucap sang koki berteriak. "Maaf tuan, mereka mabuk dan jatuh ke lantai jadi saya membantunya, benarkan tuan" ucap Xiau hui sambil meremas tangan pria itu. "Be-benar tuan, maaf sudah mengganggu" ucapnya menyerah karena tangannya di remas begitu keras sampai-sampai serasa patah.


Xiau hui pun masuk kembali ke dapur dan makan bersama koki itu, "Xiau hui, pria tadi babak belur apa kau yang melakukannya?" ucap koki Yun shin, "He he he he, ketahuan ya maaf tuan akhir-akhir ini aku mudah tersulut emosi" ucap Xiau hui santai.


"Apa kau ingin masuk ke akademi beladiri, setidaknya kau harus mengontrol kekuatanmu. Agar tak membunuh orang" ucap koki Yun shin.


"Apkah ada tuan, akademi beladiri yang sesuai dengan saya" ucap Xiau hui penasaran. "Tentu saja ada, nanti saat nyonya Anh lin pulang mintalah dia mengantarmu" ucap koki Yun shin sambil menawarkan daging.


Saat selesai makan dan waktunya untuk Xiau hui pulang, dia berpamitan pada koki Yun shin. Di perjalanan pulang pun dia masih mengingat-ingat diaman dia mendengar nama itu, rasanya tak asing bagi Xiau hui.


Saat sampai di rumah tabib Jing Xiau hui pun mengajak Shin ji untuk mengajarinya memakai pedang. "Kakak, ayo ajari aku berpedang" teriak Xiau hui penuh semangat. "Ayo adik, kita ke danau" ucap Shin ji bersemangat. "Tunggu, aku akan ikut" teriak Shin hi.


"Aku tak akan membiarkan adik hanya berduaan dengan pria mesum sepertimu" ucap Shin hi sambil melirik kakaknya.


"Bodoh jika kau ingin ikut , tak bisa kah kau mengatakannya dengan baik" ucap Shin ji yang meledek adiknya. "Ayu bergegas, aku sudah membawa bekal makanan dan minuman kita sekalian piknik bersama" ucap Shin hi yang sangat-sangat senang.


Sebenarnya dulu Shin hi, Shin ji dan tabib Jing berencana untuk piknik namun selalu batal karena kesibukan ayahnya. "Baik" ucap Shin ji dan Xiau hui bersamaan. setelah sampai di danau mereka mulai berlatih pedang, mereka sangat bahagia tertawa dan saling bercanda satu sama lain. Ketika sore tiba Xiau hui merasa cukup lelah, mereka mulai makan sambil melihat kilau air danau di sore hari.


"Pemandangannya bagus" ucap Shin ji sambil tersenyum. "Iya, apa lagi makanan kak Shin hi sangat enak, aku suka sekali" ucap Xiau hui memuji. "Aku memang menyiapkannya untukmu adik," "maaf dulu pernah jahat padamu, kini aku menyayangimu seperti adik kandungku" ucap Shin hi sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


"Aku tak pernah merasa kakak jahat, aku sudah menyukai kakak dari awal aku datang, aku ingin menjadi bagian dari keluarga kakak" ucap Xiau hui yang terharu dan memeluk Shin hi.


"Terima kasih kak, sudah mau menerima ku sebagai adik kakak" ucap Xiau hui sambil tersenyum.


"Mengapa tidak adik, aku juga ingin memiliki adik sudah sejak lama." ucap Shin hi jujur.


Setelah puas makan dan mengungkapkan segalanya mereka memutuskan pulang.


Saat pulang ke rumah belum sampai mereka masuk mereka merasakan aura yang sangat suram menyelimuti rumah.


"Ada apa ini" ucap Shin ji yang langsung membuka pintu, dia melihat ayahnya duduk dengan muka yang menyeramkan.


"Ayah, ada apa ini" ucap Shin hi mengguncang-guncangkan tubuh ayah nya.


"Ooh, ternyata kalian. sudah pulang ya ayo kita makan" ucap tabib Jing dengan wajah yang gelisah.


"Paman, jika ada masalah ceritakan saja pada kami. Mungkin kami bisa bantu" ucap Xiau hui.


"Tidak ada apa-apa kok, aku hanya ingin merenungi hidupku" ucap tabib Jing yang membuat anak-anak cemas.


"Jangan bicara begitu" ucap mereka semua memeluk tabib jing penuh rasa cemas. "Kami sangat menyayangimu, jangan bicara sembarangan. Jika kami membuat kesalahan marahi kami, tapi jangan berprilaku begini" ucap mereka bersamaan sambil menangis.


"Hey, kenapa menangis nanti wajah tampan fan cantik kalian luntur. Aku benar-benar tidak apa-apa jangan khawatir" ucap tabib Jing mencoba menenangkan mereka.


"Awas saja ya paman bertingkah aneh lagi, aku tak akan maafkan" ucap Xiau hui sambil memeluk pamannya. "Terima kasih nak kamu sudah menganggapku sebagai paman" ucap tabib Jing yang membuat mereka kebingungan.


* * *

__ADS_1


__ADS_2