Xiau Hui Sang Penyelamat

Xiau Hui Sang Penyelamat
9. Berterus Terang


__ADS_3

"Hey wanita tak tau diri sepaskan kakakku, kau berani memeluk kakakku" Teriak Shin hi sambil memeluk kakaknya dan mendorong wajah Xiau hui menjauh. "Tidak" teriaknya dengan keras karena Xiau hui mencium bibir kakaknya. Dalam sekejap xiau hui tersadar dan ikut berteriak. "Aaaaa, apa ini" ucap Xiau hui penuh keterkejutan. "Aaa, kenapa aku memeluk nya" teriak Xiau hui masih tak percaya. "Awas, jangan dekat-dekat kakakku. Jika kamu memaksa akan aku patahkan lehermu" ucap Shin hi memgancam.


Shin hi sangat melarang kakaknya untuk mendekati Xiau hui, dia tidak ingin kakak nya di rebut. Tabib Jing akhirnya pulang dan saat dia masuk ke dalam rumah, dia merasakanada suasana yang tak enak di dalam rumah. Dia pergi ke dapur dan membawa semangkok garam untuk di taruh di samping pintu masuk.


"Ini pasti pertanda iblis telah mengikutiku sampai kemari" ucap tabib Jing penuh kewaspadaan. "Semoga dia tak sampai mengikutiku berhari-hari" aku tak akan sanggut jika terkejut olehnya. Tabib jing begitu merindukan ketiga anak yg dia suruh menjaga rumah, dia menghampiri suara gaduh dari kamar Shin hi. Dia tercengang melihat anak-anak itu sedang dalam kondisi gila.


Xiau hui meringkuk di pojok kamar sambil berkata "Aku kotor" secara berulang kali, sementara Shin ji seperti menjadi patung tanpa nyawa bengong tak berkedip atau pun bergerak, di sisi lain kamar ada Shin hi yang terduduk dengan aura yang sangat suram menatap Xiau hui.


"Entah apa yang terjadi selama aku tak ada disini," ucap tabib Jing penuh keheranan.


Tabib jing mencoba menyadarkan mereka namun tak ada respon. Mereka tetap pada kondisi itu, lalu tabib Jing mengambil air di dapur dan menyiram mereka semua. "Aaaaa" teriak mereka bersamaan. "Apa yang terjadi disini" ucap tabib Jing bertanya sambil memaksa mereka bertiga berlutut berjejer.


Kenapa saat aku kembali kalian bertingkah aneh" tambah tabib Jing terheran.

__ADS_1


"Ayah ini semua salah Xiau hui." ucap Shin hi menunjuk Xiau hui. "Bagaimana Xiau hui, apa kamu mengakui nya?" ucap tabib jing penasaran. "Maaf," ucap Xiau hui dengan mata yang berkaca-kaca. "Lalu apa yang kau lakukan Shin ji?. Bukankah sudah ku peringatkan untuk kau menjaga adik-adikmu" ucap tabib Jing marah. "Maaf ayah, aku tak bisa mengendalikan kedua gadis ini" ucap Shin ji dengan wajah mengerikan. "Jangan berharap kalian akan terbebas dari hukuman" ucap tabib Jing dengan marah. "Untuk saat ini kalian boleh tenang karena aku akan istirahat, hukuman kalian akan aku berikan besok" tambah tabib Jing yang merasa ngantuk karena kelelahan.


"Sejak kapan rumah yang semula sepi menjadi ramai punuh warna" ucap tabib Jing dalam mimpi, "Oh iya, sejak Xiau hui datang kemari. Dari saat itu rumah ini menjadi hidup" ucap tabib Jing menambahkan. Setelah mengucap beberapa kaliman akhirnya tabib Jing tertidur dengan lelap.


Keesokan paginya, tabib Jing terbangun dan mencari anak-anak itu namun tak satu pun dari mereka yang masih ada di rumah." Kemana mereka melarikan diri, dasar anak-anak nakal" ucap tabib Jing sambil tertawa.


Shin hi mulai belajar masak di kedai makanan dekat rumahnya, sementara Shin ji dan Xiau hui pergi ke danau yang ada di perbatasan pinggiran ibu kota, mereka mulai belajar beladiri. Lebih tepatnya Shin ji mengajari Xiau hui ilmu beladiri.


Setelah hari mulai gelap Xiau hui, Shin ji dan Shin hi memutuskan untuk pulang. Mereka berkumpul di depan rumah dan masih ragu-ragu untuk masuk. Mereka bertiga membawa makanan untuk merayu tabib Jing agar berhenti marah.


"Baik ayah" ucap Shin ji sambil tersenyum. "Hey masuk, ayah sudah tidak marah" ucap Shin ji sambil tertawa. Mereka pun masuk dan duduk di meja makan, " Makanlah, kenapa diam saja" ucap tabib Jing pada ketiga anak itu.


" Baik," ucap mereka bersamaan. Setelah mereka selesai makan. Tabib jing mencoba menengahi mereka, "Jujurlah padaku, ada apa sebenarnya dengan kalian" ucap tabib Jing khawatir. Shin ji yang memulai pertama untuk mengakui segalanya. "Maaf ayah, sebenarnya dari awal aku sudah menyukai Xiau hui" ucap Shin ji yang membuat Xiau hui wajahnya memerah. "Tidak, semuanya karna aku. Aku tak ingin ayah dan kakak di rebut olehnya. Itu sebabnya aku marah pada Xiau hui" ucap Shin hi yang tak ingin kakaknya di marahi sendiri.

__ADS_1


"Maaf tabib, semua salahku aku masuk sembarangan ke keluarga kalian dan membuat kalian terganggu" ucap Xiau hui yang tak mau kalah. " Sebenarnya, tak ada satu pun dari kalian yang pantas di salahkan. karena kalian adalah saudara. Xiau hui adalah anak dari adik ayah, yang bernama zin yuan. Dulu bibik kalian kawin lari karena tidak mendapat restu dari kakek kalian" ucap tabib Jing yang membuat mereka bertiga sangat terkejut, bahkan mereka seakan tak percaya dan mengira ayahnya bercanda. "Waah, tabib jing anda sangat hebat dalam hal bercanda" ucap Xiau hui dengan nada kebingungan. " Aku tidak akan bercanda tentang hal ini" ucao tabib Jing membenarkan.


"Haaaa, lalu kami ini sepupu?" ucap Shin hi dengan keras.


"Tapi itulah kenyataannya nak" sahut tabib Jing menjelaskan pada mereka bertiga. "Aku akan tidur sekarang," ucap mereka bersamaan. Mereka bertiga masuk ke kamar meninggalkan tabib Jing yang penuh rasa bersalah.


"Wajar bagi mereka untuk tak percaya atau bahkan marah, terutama Xiau hui" ucap tabib Jing yang masih duduk merenung di meja makan. Ketiga anak itu merasakan hal yang sama namun tak berbicara sepatah kata pun.


Mereka tidur, namun tak tahu jika tabib Jing tak tau harus berkata apa lagi, dia bingung dan terus memikirkan banyak hal hingga pagi tiba.


"Maaf kan kami, anak-anak. Tolong jangan marah pada kami karena ini sudah jalan takdir yang tuhan siapkan untuk kalian." Ucap tabib Jing penuh rasa bersalah.


Ketika pagi tiba, ketiga anak itu keluar dan mendapati tabib Jing yang masih terduduk merenung di meja makan. mereka hanya bisa menatap tabib Jing dengan menahan air mata. Mereka tidak bisa menerima kenyataan itu, tapi mereka juga tak tega melihat tabib Jing penuh kesedihan.

__ADS_1


* * *


__ADS_2