Xiau Hui Sang Penyelamat

Xiau Hui Sang Penyelamat
7. Rasa cemburu


__ADS_3

Setelah beberapa hari bekerjakeras, Xiau hui mendapat banyak bayaran. Namun tubuh nya tidak begitu kuat, kesibukannya beberapa hari kerakhir membuatnya begitu kelelahan. Sampai hari ini dia mengalami demam, dia ingin melanjutkan pekerjaannya tapi saat keluar dari rumah dia langsung ambruk.


Dia pingsan di depan pintu kediaman tabib Jing. Shin ji begitu panik saat mendapati Xiau hui tergeletak tak sadarkan diri.


"Xiau hui, woy bangun, Xiau hui jangan tidur disini" ucap Shin ji cemas. Saat dia tidak mendapat balasan dari Xiau hui, dia mulai berteriak memanggil ayahnya dan adiknya.


"Ayah, adik Xiau hui sakit. Dia pingsan" ucapnya sambil menggendong Xiau hui.


Tabib Jing begitu terkejut mendengar teriakan anaknya. " Ada apa nak, kenapa dia pingsan?" tanya tabib Jing pada anak sulungnya. "Aku juga tidak tau ayah, makanya aku memanggil mu. Jangan katakan kamu lupa bahwa dirimu adalah tabib" ucap Sin ji dengan tatapan kesalnya. Shin hi hanya berdiri di samping pi tu dan mengamati Xiau hui. "Waaah, hebat sekali dia. Dia membuat drama lagi" ucap Shin hi curiga. "Sejak dia datang sudah banyak drama yang dia buat, dia benar benar ingin merebut ayah dan kakak ku" ucap Shin hi dengan nada kesal. "Bagaimana caranya agar aku bisa mengusir dia dari rumahku, jika tidak bisa ku usir setidaknya membuatnya paham saja sudah cukup tamu tak tau diri" tambah Shin hi makin marah.


Tabib Jing dan anak sulung nya sibuk menyiapkan kebutusan Xiau hui, baik obat, air minum, bubur dan lainnya. Mereka begitu cemas melihat Xiau hui jatuh sakit. Xiau hui, kamu harus sehat. "Tidak usah membalas apa yang kamiberikan, aku sendiri sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri" ucap tabib Jing penuh harapan. Shin ji juga begitu mengkhawatir kan Xiau hui. Dia sudah menyimpan rasa pada Xiau hui semenjak pertama bertemu. "Si bodoh ini terlalu memaksakan diri, cepatlah sehat. Setelah kau sehat aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke danau di pinggiran kota" ucap Shin ji pada Xiau hui. Xiau hui mendengar banyak harapan dari tabib Jing dan Shin ji, dia bertekad untuk menjaga keluarga ini dengan baik. Dia merasa begitu bersyukur atas karunia tuhan padanya.


Sementara itu di desa Ayah Xiau hui semakin hari semakin sehat, dia juga sudah bisa mengumpulkan tanaman obat di hutan untuk mata pencahariannya. Saat dia sedang berada di hutan untuk mencari tanaman obat, dia mendapat pirasat yang kurang baik. Dia teringat akan putrinya yang sedang menimba ilmu di ibu kota. "Ada apa ini, kenapa perasaanku kurang enak" ucap Cheng mi. "Semoga putriku baik-baik saja" ucap Cheng mi cemas.


"Tabib Jing, aku harus pergi dari sini. Aku harus kembali ke desa untuk bertemu orang tua ku. Aku juga harus membawakan mereka uang" ucap Xiau hui memaksa. Tidak nak, jangan pergi kemanapun. "Aku punya solusinya, berikan titipanmu pada Shin ji. Biar dia yang membawakan nya kepada orang tuamu" ucap tabib Jing. "Kamu harus istirahat jika tidak demam mu akan makin parah" ucap tabib Jing penuh kecemasan.

__ADS_1


"Tapi, itu akan sangat merepotkan." ucap Xiau hui penuh kekhawatiran, "Tidak masalah aku juga ingin menugaskan anakku untuk mencari tanaman obat disana" ucap tabib Jing menenangkan.


"Baiklah tabib, orang tua saya tinggal di desa Chenzi, mereka tinggal di pinggiran desa sebelah barat dekat dengan hutan." Ucap Xiau hui. Barang yang ingin aku titipkan ada di tas coklat, ada sekantung koin emas disana. Tabib, Tolong sampaikan kantong itu pada mereka. Itu hasil dari bekerja paruh waktu ku, aku ingin mereka memakainya untuk keperluan sehari-hari" Ucao Xiau hui lemah. "Tenang saja nak, aku akan membantumu menyampaikannya" ucap tabib Jing. Tabib Jing mengambil kantong yang Xiau hui maksud, dia menghitung berapa jumblah koin yang Xiau hui punya, dia juga menambahkan beberapa koin ke dalam kantong itu. "Nak anggaplah ini tanda terima kasih ku telah menemani anak-anakku" ucap tabib Jing menahan air mata. Dia begitu terharu atas pengorbanan Xiau hui.


"Shin ji. Shin ji, kemarilah. Aku memiliki tugas penting untukmu," teriak tabib Jing penuh semangat. Shin ji kamu pergilah ke desa Chenzi di pinggiran desa sebelah barat ada rumah tua dengan pagar kayu, pergilah kesana temui kedua orang disana dampaikan kantong ini pada mereka ini titipan Xiauhui" ucap tabib Jing menegaskan. " Baik ayah, aku akan menyampaikannya tepat waktu dan segera pulang" ucap Shin ji.


"Baik, ayah mempercayakan tugas ini padamu. Jangan melakukan kesalahan ingat" tegas tabib Jing pada anaknya.


Shin ji pun berangkat ke sana setelah matahari terbit keesokan harinya, dia berjalan menuju desa Chenzi. Saat sampai disana Shin ji tidak langsung ke rumah itu, dia mengamati situasi sebentar. "Inikah rumah Xiau hui", ucap nya penuh tanda tanya. Setelah beberapa saat Shin ji mengamati situasi. Keluarlah dua orang yang sepertinya orang tua Xiau hui. Mereka tampak sangat bingung entah apa yang menjadi kendala mereka. Setelah dirasa sesuai, Shin ji pun mendekat kesana "Permisi tuan, nyonya. Saya dari ibu kota, ingin menyampaikan titipan dari Xiau hui" ucapnya sambil membungkuk mberi salam. "Apa kamu kekasih putriku?" ucap ibu Xiau hui. "Bukan nyonya saya hanya temannya di ibu kota kami sama-sama belajar disana" ucap Shin ji menegaskan. "Lalu ada apa tuan kemari," sahut ayahnya. "Saya kemari ingin membawa titipan dari Xiau hui" ucap Shin ji sambil menyerahkan sebuah kantong.


"Apa ini? koin emas yang anak anda hasilkan untuk memenuhi kebutuhan kalian" ucap nya sopan. "Anak itu memang sangat keras kepala, sudah ku bilang tidak usah" ucap Cheng mi kesal. Baik kami terima titipan ini,saya ingi. bertanya sesuatu hal. Kenapa anda yang datang untuk menyampaika nya, dimana Xiau hui. Kenapa bukan dia yang membawanya, kami sangat merindukan dia" ucap Cheng mi.


"Baik paman, saya akan menyampaikan nya lada Xiau hui" ucap Shin ji sambil pamit untuk pulang. Dia pun melanjutkan perjalanan pulangnya, dia ingin segera sampai rumah dan melihat keadaan Xiau hui. Dia pun bergegas pulang ke rumah. Setelah beberapa saat dia berjalan menuju ke rumahnya, dia sampai di rumah dan terkejut melihat banyak orang berdiri mengerumuni rumahnya. "Ada apa ini kenapa banyak orang disini" ucapnya penuh cemas. " Tuan tadi rumah anda bersinar begitu terang sampai-sampai kami silau melihatnya. Shin ji bergegas masuk ke rumah melihat ayahnya dan adiknya menatap Xiau hui yang terbaring lemah.


"Ayah, apayang terjadi?" ucao Shin ji bingung.

__ADS_1


Ayahnya menoleh sebentar dan berkata "Dia tadi mengigau karena cemas ayah langsung memeriksanya, ayah terkejut saat tubuhnya mengeluarkan cajaya yang sangat terang" ucap tabib Jing heran. "Lalu apa yang dia katakan ketika mengigau" tanya Shin ji.


"Jangan mendekat, tidak kau bukan ibuku. Pergi kau, itu yang dia ucapkan" jelas tabib Jing pada Shin ji. "Shin ji, apa yang kau lihat ketika bertemu orang tua Xiau hui?" tanya tabib Jing,


"Akutidak melihat apa-apa, disana hanya tinggal orang tua Xiau hui yang terlihat tidak memiliki kekuatan apapun". Ucao Shin ji, bisa di pastikan dia bukan anak mereka. Kekuatan yang di miliki Xiau hui memiliki kemiripan dengan kaisar terdahulu" ucap tabib jing. "Tapi Bagaimana bisa ayah?, aku dengar Kaisar terdahulu sudah di penjara bersama Permaisurinya tepat 14 tahun lalu." "Anak mereka pun ikut tumbuh di penjara" bagaimana mungkin?" sahut Shin ji heran.


"Ini masih misteri nak, jangan sampai kabar ini tersebar dan sampai ke telinga Kaisar Zang lie, jika tidak anak ini akan ada dalam bahaya" sahut tabib Jing dengan sangat cemas. "Ayah akan mencari tau kebenarannya dulu, seminggu lagi ayah akan bertemu dengan orang tua Xiau hui, saat itu tolong kalian jaga Xiau hui. Jangan sampai hal buruk terjadi padanya" ucap tabib jing pada anak-anaknya.


Sementara itu, mendengar perkataan ayahnya Shin hi merasa semakin cemburu pada Xiau hui. Dia merasa Xiau hui begitu beruntung.


Rasa cemburu yang semakin lama semakin kuat, membuat Shin hi lalay, dia lupa mengisi air di kamar Xiau hui. Dia juga melupakan untuk membawa dan memasakan makanan untuk Xiau hui. Sampai hari menjadi sore, Shin hi baru teringat dia melupakan dua hal itu. Dia bergegas memberi Xiau hui makan dan minum. Shin hi berpura-pura khawatir pada Xiau hui. Namun Shin ji melihat keanehan pada Xiau hui, bibirnya kering seperti tak minum seharian. Shin ji pun mengajak adiknya bicara,


"Shin hi aku tau apa yang sudah kau lakukan. Tolong jangan di ulangi, aku tak akan mengatakan apapun pada ayah. Ini kesempatan terakhirmu" ucap Shin ji mengancam.


Shin hi pergi tanpa mengatakan sepatah katapun, dia semakin membenci Xiau hui.

__ADS_1


Tapi Shin hi tidak bisa berkata apa-apa kakak nya sudah mengetahui apa yang dia lakukan. Jika kali ini dia mengulanginya kakaknya akan benar-benar mengatakannya pada sang ayah.


* * *


__ADS_2