
Nightz terdiam sejenak sebelum akhirnya memutuskan menerima misi tersebut.
Walaupun hadiah yang diberikan terbilang sedikit, Nightz tetap menerimanya dengan alasan untuk menyenangkan teman-temannya.
"Ngomong-ngomong, lokasi telur burung walet itu dimana?" Leo bertanya dengan kebingungan sebelum akhirnya seseorang merespon Leo.
"Pergilah ke arah timur dan kalian akan menemukannya di sana!"
"Siapa dia?" Elfia bertanya namun tidak ada yang merespon.
"Terimakasih Bro!" Feniz merespon perkataan orang lain tersebut.
Hanya dalam hitungan menit saja Nightz dan kawan-kawannya telah meninggalkan Tempat itu.
Disisi lain, Seseorang bertanya kepada Ghost yang sedang melamun.
"Boss, ada apa denganmu?"
"Tidak, Kita lanjutkan lagi pestanya"
"Pelayan tambah 2 porsi lagi!"
Setelah mencoba mengembalikan suasana, Ghost bergumam "Apakah dia Nightz yang terkenal itu?"
Setelah 15 menit berlalu mengendarai kereta kuda menuju ke arah timur, akhirnya Nightz dan kawan-kawannya telah sampai di sebuah jurang yang tidak lain adalah <>.
Sebuah retakan besar dan dalam memanjangkan sejauh mata memandang.
"Sial, Apakah kita ditipu?" Leo melompat dari atas kereta Kuda kemudian mencoba melihat isi kedalaman jurang tersebut.
"Entahlah, namun kita belum menemukan petunjuk sedikitpun" Feniz merespon.
"Jadi perjalanan kita sia-sia?" Sahut Emiliaz
"Apa pendapatmu Nightz?" Emiliaz kemudian bertanya kepada Nightz.
Saat itu juga Nightz merespon dengan keterkejutan mengingat dirinya juga tidak tahu harus berbuat apa.
Saat Nightz mencoba menjawab, saat itu juga Leo berteriak.
"Itu dia Burung Walet!" Teriak Leo dengan penuh semangat.
Sesaat setelah mereka mendengar perkataan Leo, mereka kemudian merespon dengan memandangi ke atas, namun mereka tidak menemukan apapun selain awan dan langit yang cerah.
"Leo, Apakah kamu berbohong?" Elfia Merasa kesal.
"Bukan di atas, Tapi di bawah jurang" Sahut Leo.
Seketika mereka pun berjalan mendekati Leo lalu memandang kedalam Jurang tersebut.
Saat ini yang mereka lihat hanyalah sebuah jurang yang tertutup sebuah kabut berwarna hitam pekat.
__ADS_1
Selain itu, burung walet yang Leo lihat sebelumnya juga masih terlihat samar-samar karena bulu hitamnya hampir sama dengan kabut hitam tersebut.
"Mana?" Elfia terus bertanya hingga akhirnya Feniz berbicara.
"Aku melihat sarangnya!"
"Mereka bersarang di dinding-dinding Jurang"
"Dan aku juga melihat telurnya" Feniz menunjuk dengan penuh semangat.
Hanya dalam beberapa saat saja akhirnya mereka dapat menemukan sarang burung yang Feniz maksud.
"Hufttt, kau menipuku Feniz, aku hanya melihat rumput" sahut Elfia.
"Dasar bodoh, bukankah indera pengelihatan mu adalah yang terbaik di kelompok ini?" Jawab Feniz.
Setelah mengamati cukup lama, akhirnya Elfia dapat melihat dengan jelas.
"Hehe..."
"Ngomong-ngomong, bagaimana cara kita mengambilnya?" Tanya Leo dengan penuh penasaran.
Mereka juga menyadari bahwa Letak sarang burung tersebut berada di tempat yang berbahaya.
"Kurasa aku punya ide" sesaat kemudian, Nightz mengeluarkan sebuah tali pengikat yang sering digunakan untuk berburu hewan kecil di Eternal Link.
"Woahhh..." Leo tersenyum kagum sebelum akhirnya ia berbicara kembali.
Ting!
Elfia memukul kepala Leo hingga muncul benjolan berwarna pink.
"Aduh, Kau berlebihan Elfia" Leo mengeluh kesakitan.
"Baiklah, siapa yang akan turun untuk mengambil telur tersebut?" Feniz bertanya.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka saling memandang.
"Baiklah Elfia dan Nightz" Feniz menunjuk dengan penuh percaya diri, namun saat itu juga Elfia menolak.
"Tunggu-tunggu, Jangan pilih aku, aku takut ketinggian!....Pilih saja Leo!" Elfia menujuk Leo.
"Jangan pilih aku, badan ku besar dan berat!" Leo merespon dengan penuh keterkejutan, Leo sebenarnya juga phobia ketinggian.
"Bukankah kau adalah Raja hutan?" Sahut Elfia.
"Jangan memojokkan ku, Kenapa tidak memilih Emiliaz saja, bukankah tubuhnya kecil?" Sahut Leo.
"Jangan pilih aku!" Sahut Emiliaz.
"Baiklah Aku dan Nightz yang akan turun" sahut Feniz
__ADS_1
"Kenapa baru sekarang" Gumam Nightz.
Setelah memasang tali pengikat dan menyiapkan beberapa persiapan lainnya, akhirnya Nightz dan Feniz turun dengan bergantian.
"Nightz, kau mengambil telurnya dan aku mengawasi burungnya" Feniz memegang tali dengan gemetaran, saat ini mereka tengah turun sejauh 50 meter di atas permukaan tanah.
"Baiklah, serahkan saja Padaku" Nightz merespon.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Nightz berhasil mengambil Terlur tersebut.
"Kurasa ini benar-benar telur burung walet" Kata Nightz setelah selesai mengidentifikasi telur itu.
"Baiklah kita akan naik ke atas" Sahut Feniz.
"Oke"
Kabut kegelapan semakin tebal hingga menutupi Jarak pandang.
"Petualangan yang menyenangkan, kurasa aku ingin berterimakasih kepada mereka Setelah ini" Gumam Nightz
Mereka berdua mulai memanjat sebelum akhirnya Feniz terdiam sejenak.
"Kenapa kita berhenti?" Nightz dengan nada santai.
"Nightz, sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu kepadamu"
"Silahkan.."
"Apa hubungan mu dengan Diamone?"
Saat itu juga mata Nightz mulai bergetar, Nightz tidak mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Feniz saat ini, namun ia mencoba tetap tenang, mengingat hanya ada 2 pilihan yang Nightz miliki saat ini.
Menjawab dengan jujur atau dengan tidak jujur.
"Hanya masalah pribadi" Jawab Nightz.
"Baiklah" Feniz kemudian mulai mengeluarkan Skill miliknya.
Silent Voice!
Setelah mengeluarkan Skill itu, Feniz kemudian berbicara kembali.
"Nightz, aku ingatkan sekali lagi, jangan mencari masalah dengan Diamone dan Guild Tingkat Atas" Setelah selesai berbicara Feniz dengan cepat memotong tali pengikat millik Nightz.
Nightz mencoba merespon namun terlambat.
"...." Nightz mencoba berteriak.
"Sial, kenapa suaraku tidak mau keluar?" Gumam Nightz yang saat ini terjatuh.
"Siallllllllllllll!" Batin Nightz.
__ADS_1