
*** Di pagi hari, di salah satu Ruangan yang biasa di pakai untuk bekerja. Ruangan itu tidak begitu luas, tapi juga tidak terlalu sempit. ruangan itu berukuran 5x6 m². Ruangan itu penuh dengan berkas-berkas yang nampak tidak di atur dengan rapi. pokoknya ruangan itu betul-betul menandakan bahwa ruangan itu adalah ruang kerja.
Terdapat satu orang Pria dewasa yang kira-kira berusia 25 thn. yang bernama Farel Bramasta. Sebenarnya parasnya cukup ber karisma, dan elegan. Tapi, di karenakan saat ini Pria itu sedang dalam keadaan frustasi. Sehingga saat ini, wajah Pria itu nampak lusuh, rambutnya acak-acakan, pakaiannya lusuh dan keriput. Pokoknya, tidak ada semangat sama sekali.
Mengapa pria itu sampai nampak stres seperti itu? bukan karena putus cinta kan? setelah ditelusuri, rupanya Pria yang sehari-harinya aktif dan ceria itu ternyata memang sedang stress.
Tapi bukan gara-gara masalah asmara, melainkan penyebabnya adalah karena perusahaan yang susah payah dia rintis dari nol hingga berkembang sampai saat ini sedang di landa krisis berat, dan terancam akan segera pailit.
Adapun yang membuatnya semakin kesal adalah, ternyata orang yang selama ini sangat dia percayai dan sudah dia anggap sebagai saudara sendiri, tidak diduga sama sekali bahwa orang tersebut dengan tega hati mengkhianati kepercayaan yang selama ini di berikan oleh Pria itu kepadanya.
Pengkhianatan itu membuat Farel sangat stress sekaligus sakit hati, sakit hatinya itu sudah merasuk sampai ke tulang-belulang. Rasanya ingin sekali dirinya menemui pengkhianat itu dan mencabik-cabik tubuh orang itu untuk melampiaskan amarah di hatinya. Tapi apa daya Farel, si pengkhianat itu sudah kabur entah kemana dan Farel tidak tau lagi rimbanya di mana.
Pada saat Farel sedang merenungkan dan memikirkan akan nasib Perusahaannya yang hancur gara-gara pengkhianatan orang kepercayaannya, tiba-tiba dia mendengar suara ketukan pintu ruang kerjanya.
Tok.tok.tok.tok. suara pintu terdengar diketuk.
"Farel sayang ... apa kamu di dalam? ini aku Airine, Farel mendengar suara kekasihnya Airine sedang mengetuk pintu ruang kerjanya. kemudian dia sedikit bersemangat dan langsung merapikan-rapikan berkas-berkas yang semrawut tersebut. Dia juga tidak lupa sekalian merapikan penampilannya agar tidak nampak lusuh di depan kekasih pujaan hatinya.
Kemudian, dia pun menyahut dari dalam. "Masuk saja sayang! pintunya tidak di kunci kok," ucap Farel dari dalam ruangan.
"Oke ... saya masuk ya, sayang ..." balas Airine, dan langsung membuka pintu,
"Kreekk ... !!!"
suara pintu terdengar di buka, setelah pintu terbuka, Airine melihat Farel sedang tersenyum menyambutnya, tapi nampaknya senyum tersebut di paksakan. tapi Airine juga menyambut senyum itu, sebenarnya dengan senyum di paksakan juga. Kemudian Airine pun bergegas ke arah Farel. Tapi dia tidak berani terlalu dekat dengan Farel, karena mungkin dia merasa tidak etis, apalagi mereka sedang berduaan di dalam kamar tersebut, sekalipun memang Airine tadi sengaja tidak menutup pintu ruangan itu, tapi tetap saja kurang pantas kalau Airine duduk terlalu menempel pada Farel.
Dengan senyum yang terlihat di paksakan, Farel terlebih dahulu menyapa kekasihnya Airine.
"Hay sayang, apa kabar? sehat?" sapa Farel
"Hay, juga sayang, kabar aku seperti yang kamu lihat, masih sehat kok." balas Airine.
"Kamu kenapa sayang? kok kelihatannya matamu sembab gitu, kamu habis menangis? emang ada masalah apa sayang? tanya Farel, seolah-olah dia sendiri tidak ada masalah.
"Owh, tidak, tidak ada masalah apa-apa kok, sayang, tadi mata aku cuman sedang kelilipan saja kok, bukan karena sehabis menangis," jawab Airine mencoba menutupi kesedihan di hatinya.
"Ohh, begitu ya sayang, syukur deh kalau memang tidak ada masalah apa-apa, kalau ada masalah, kamu ceritain ke aku ya, sayang, mana tau aku bisa bantu." ucap Farel kemudian.
"Iya, sayang, pasti, pasti aku bakal ceritain ke kamu kok, kalau memang aku ada masalah," jawab Airine masih tetap mencoba menutupi kesedihannya. "Kalau kamu sendiri, kenapa sayang, kok, nampak kucel dan kurang bersemangat gitu" tanya Airine kemudian.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Airine, Farel pun bingung, apa harus menceritakannya sekarang atau nanti saja nunggu moment yang tepat.
Melihat Farel yang terdiam, Airine pun berpikir 'Jangan-jangan Farel memang lagi ada masalah, mungkin masalahnya ruwet juga, nampaknya dia sedang menutupi kesedihannya itu, dan belum mau bercerita ke aku, bagaimana ini? apakah aku juga mesti bilang sekarang kepadanya kalau aku harus meninggalkannya dan berpisah dengannya? apakah itu adil? saya nggak tega, kalau melihat dirinya semakin bersedih, mungkin lebih baik, nunggu moment yang pas aja kali yah, lain kali saja deh kalau begitu.' pikir Airine.
Hmm ... mereka sama-sama sedang diam, dan asyik berpikir dalam hati masing-masing. bagaimana nih, apa kita perlu kasih jeda iklan dulu, atau gimana? tapi untung saja mereka kemudian membuka mulutnya.
"Sa ..."
"Sa ..."
Tapi kok, sama-sama berbarengan ngomong sa ... nya.
Dengan sama-sama senyum canggung yang di paksakan, kemudian Airine pun mencoba berbicara duluan.
"Ka ..."
"Ka ..."
Hah, malah sama-sama berbarengan lagi sih ... aduh, kacau nih.
Kemudian Farel akhirnya berbicara duluan,
"Sayang juga mau bilang apa tadi," jawab Airine.
"Kamu aja yang duluan sayang," kata Farel.
"Biar kamu saja yang duluan sayang," balas Airine lagi.
"Hmm, baiklah kalau begitu, aku saja yang duluan," ucap Farel sambil menghela napas. "kalau aku sih, sayang, jujur saja, tidak ada masalah apa-apa sayang, cuman masalah biasa saja, masalah di perusahaan, nggak ada yang perlu di pusingkan." kata Farel lagi
"Owh, begitu, tapi nampaknya, kalau aku lihat dari raut wajahmu, kayaknya masih ada yang kamu sembunyikan sayang." ucap Airine.
"Serius sayang, nggak ada, suer." balas Farel sambil mengangkat dua jarinya. "kalau begitu, giliran kamu sayang, coba cerita apa sebenarnya masalahmu, siapa tau aku dapat membantu." ucap Farel.
"Hmm ... " jawab Airine sambil menghela napas. Kemudian di lanjutkan lagi, "kalau aku sih ... " kata Airine tapi dengan nada terputus.
"Kalau kamu, kenapa sayang? ayo dong, cerita, jangan bikin aku penasaran," bujuk Farel.
Mendengar bujukan kekasihnya, Airine pun berpikir, 'apa sebaiknya aku katakan saja yah ... dari pada lama-lama disembunyikan, pasti akhirnya bakal ketahuan juga. Tapi kalau di katakan sekarang, aku takut, Farel tidak bisa menerimanya, karena terlalu menyakitkan untuk di ungkapkan, tapi pasti semakin sakit juga kalau di pendam.' pikir Airine. kemudian dia pun berkata.
__ADS_1
"Huh, ntah lah sayang, ntah aku bisa mengatakannya atau tidak. Aku takut hatimu akan terluka. Sebenarnya aku tidak tega untuk mengatakannya sayang, hiks ... hiks ..." ucap Airin dengan mulai menangis.
Melihat kekasihnya yang menangis, Farel pun memiliki firasat yang tidak baik, kemudian dia pun berkata dengan lirih, "Sayang, kenapa kamu menangis? apa sebenarnya masalahnya? ayo, ceritakan saja padaku sayang, aku sudah siap mendengarnya, walaupun menyakitkan, saya yakin, saya kuat." bujuk Farel kemudian.
Mendengar pernyataan kekasihnya yang seolah memohon, Airine pun tidak tega untuk menyembunyikannya lagi. Kemudian dengan berat hati, dia pun berkata. "Baiklah sayang, aku akan mengatakannya, aku harap kamu kuat menerimanya, dan kamu juga harus janji kamu nggak akan melakukan hal yang macam-macam setelah aku mengatakannya, oke !" ucap Airine.
"Oke, aku janji." timpal Farel, padahal dalam hatinya sudah semakin berfirasat buruk.
Setelah pertimbangan yang alot, dan serasa menguras energi, Airine pun berkata. "Farel sayang, sebelumnya maafkan aku, karena aku tidak bisa lagi terus bersamamu, untuk menjalani hari-hari selanjutnya, mari kita akhiri sampai disini saja hubungan kita ini". Ucap Airine kepada farel, sambil menahan tangis.
"Boom mm ... !!!" terdengar seperti bunyi ledakan, dalam hati dan jiwa Farel. badannya langsung lemas tak berdaya.
Iya, setelah Farel mendengar ucapan kekasihnya, Farel sangat kaget sampai jiwanya terguncang, dia tidak percaya akan apa yang dia dengar dari kekasihnya ini. Dengan mulutnya serasa sangat berat untuk berkata-kata farel pun berkata, "Airine, sayang, apa maksudmu!?" apakah kamu serius? kesalahan apa yang sudah aku lakukan terhadapmu? mengapa kamu tiba² datang dan mengatakan akan mengakhiri hubungan kita? bukan kah selama ini hubungan kita baik² saja dan tidak ada masalah? padahal kita sudah berjanji untuk sehidup semati, kita bahkan sudah saling ber angan-angan, betapa indahnya kehidupan kita nantinya apabila kita menikah lalu di karuniai dengan beberapa orang anak yang lucu-lucu dan menggemaskan"
"Akan tetapi sekarang apa? kamu dengan mudahnya bilang ingin mengakhiri saja hubungan ini? dimana perasaan kamu airine, sayang? Apakah kamu sudah lupa akan janji² kita itu? apakah selama ini pengorbanan ku kepadamu belum cukup? segampang itu kah kamu melupakan semua janji-janji yang pernah kita ucapkan sebelumnya?" Tanya Farel panjang lebar, yang membuat airin bingung harus menjawab apa dan mulai dari mana untuk menjawabnya.
Pada akhirnya, Airin hanya bisa berkata, "Farel, sayang, jangan bicara seperti itu, dengarkan dulu penjelasan ku, kata-kata mu itu hanya akan menambah rasa bersalah di hatiku. Aku sebenarnya tidak ingin berpisah dari kamu, tapi ... tapi ini semua terpaksa aku lakukan demi kebaikan kita bersama, karena aku sudah di paksa menikah dengan pria pilihan keluargaku. Aku tidak bisa menolak pernikahan ini. Karna ini bukan hanya menyangkut diriku saja tetapi menyangkut keseluruhan keluarga besar qu. Aku di paksa menikah dengan orang yang tidak aku cintai demi keberlanjutan bisnis Ayahku, aku harap kamu mengerti akan situasi dan kondisi ku saat ini. Asal kamu tau, aku sebenarnya masih sangat mencintaimu dan ingin selalu hidup di sisimu sampai ajal menjemput ku. Tapi apa daya ku? aku hanya seorang wanita yang lemah yang tidak ber daya menolak keinginan orang tuaku dan dijadikan sebagai bahan transaksi bisnis oleh orang tuaku".
"Akan tetapi perlu kamu ketahui. Orang tua qu juga terpaksa melakukan semua ini, soalnya kalo ayah qu tidak menuruti keinginan keluarga Gunawan untuk menjadikan aku sebagai menantu mereka, maka bisnis Ayah ku yang selama ini dirintisnya dari awal akan hancur begitu saja".
"Taukah kamu betapa Ayah ku mencintai dan membanggakan bisnisnya ini? karna usaha ini dia sendiri yang memulai dari nol dan tanpa adanya campur tangan pihak lain untuk membantunya, begitu dia tau bahwa perusahaannya akan segera hancur, Ayah ku pun sangat stress dan frustasi dan ayahku sudah mencoba meminta pertolongan kepada beberapa koleganya yang selama ini bekerja sama dengan perusahaannya, akan tetapi, hasilnya nihil tidak ada seorang pun yang mau memberikan bantuan kepadanya".
"Aku sangat kasihan kepada Ayah dan Ibu ku. Disaat mereka dalam masa jayanya, banyak orang mencoba untuk meraih simpati dari Ayah dan Ibuku, mereka semua menjilat Ayah dan Ibuku agar supaya, Ayahku mau bekerja sama dengan mereka dan memberikan pertolongan kepada mereka saat mereka terpuruk".
"Akan tetapi, disaat giliran Ayah qu yang sedang terpuruk saat ini...mereka semua tutup mata dan seolah-olah mereka-mereka tidak mengenal Ayah dan Ibuku, Ayah dan Ibuku sangat frustasi dan sedih atas kemalangan yang menimpa mereka saat ini."
"Kebetulan, salah satu tuan muda di keluarga Gunawan yang bernama Yanto tertarik kepadaku dan sangat ingin menjadikan aku sebagai istrinya, padahal kamu tau sendiri kan? siapa Yanto itu? dia hanya lelaki bajingan yang hanya tau mempermainkan perasaan kaum wanita sesuka hatinya".
"Jadi menurut kamu apakah aku akan mencintainya seperti aku mencintaimu? Jadi kamu jangan terlalu menyalahkan ku akan keadaan ini ya sayang, yang pasti kamu tau aku akan tetap mencintaimu sampai kapan pun." ucap airin dengan panjang lebar.
"Satu lagi walaupun nantinya aku menikah dengannya, hanya tubuhku yang akan bersamanya tapi jiwa dan perasaan qu akan tetap selalu ada bersama mu."
Mendengar pengakuan kekasihnya, farel pun sedikit menerima dan mulai memahami akan peliknya masalah yang menimpa Airin saat ini. Lalu farel pun berkata pada airin. "Sayang, ma...maafkan aku yah" ucap farel, sedikit gelagapan. "Tadi aku sedikit terlalu posesif dan tidak membiarkan kamu menjelaskan duduk permasalahan sebenarnya terlebih dahulu, sekali lagi maafkan aku ya, sayang."
"Aku tidak tau kalo masalahnya sudah sampai seperti ini, akan tetapi, apakah tidak ada jalan keluar lagi sayang? apakah kamu memang harus menikah dengan laki-laki brengsek itu? aku tidak rela membiarkan orang yang paling aku sayang di rebut dan di jadikan mainan oleh laki-laki macam Yanto itu".
"Aku sudah bisa menebak akan seperti apa nasibmu nantinya, apabila si brengsek itu jadi menikah dengan dirimu. Pasti dia hanya akan bersenang-senang denganmu saja, setelah dia bosan dia akan mencampakkanmu begitu saja".
"Aku sudah sangat hafal akan perangai dan watak orang yang satu itu, dia tidak pernah serius dan puas dengan satu orang wanita saja, dia selalu suka mencari wanita lain, apabila dia sudah bosan dengan wanita sebelumnya" ucap farel pada kekasihnya dengan suara yang masih serak, akibat menangis sedari tadi.
__ADS_1