**Harapan Terakhir**

**Harapan Terakhir**
Episode 13 * Tuan Muda Yanto Tercengang *


__ADS_3

***Setelah Airine mendengar perkataan dari kekasihnya, dia pun langsung menutup mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya, dia seolah-olah menahan tangisannya. Ekspresinya antara terkejut, heran, kaget semuanya bercampur menjadi satu, hal itu hanya karena Airin mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang sangat dicintainya tersebut.


***Yang Pasti perasaan Airine saat ini cukup rumit. Karena dia masih kurang yakin akan pembalikan situasi yang sekarang ini. Padahal tadinya dia sudah hampir putus asa akan kejadian sebelumnya. Awalnya dia mengira dirinya dan keluarganya sudah tidak punya harapan lagi untuk bertahan hidup.


***Tapi sekarang keadaan tiba-tiba berbalik, melihat situasi saat ini nampaknya keadaan sudah berbalik berpihak kepada mereka, apalagi kalau melihat Yanto juga nampaknya tidak ingin lagi melanjutkan perselisihan dengan Farel. Hal ini yang membuat perasaan Airine menjadi bingung. Antara senang, gembira, bahagia bercampur kaget. Semua perasaan itu sekarang sedang berkutat dalam pikiran Airine.


***Kenapa bisa seperti itu coba, kalau bisa di katakan hanya orang yang sudah mengalami rasanya putus asa lah yang bisa mengerti, bagaimana rasanya disaat kita benar-benar putus harapan dan tidak mungkin lagi ada jalan keluar dari rasa keputusasaan tersebut, tetapi tiba-tiba tanpa diduga ada seseorang datang membalikkan rasa keputusasaan tersebut menjadi sebuah harapan untuk bertahan hidup.


***Siapapun orangnya pasti bakal merasa, kalau apa yang dialaminya ibarat sebuah mimpi. Karena hanya di mimpilah kita sering merasakan, disaat kita lagi mengalami suatu kejadian yang mengancam nyawa kita, maka untuk melepaskan kita dari peristiwa mengerikan tersebut yaitu dengan cara kita harus terbangun dari mimpi tersebut.


***Dalam suatu peristiwa yang terjadi di alam mimpi saja, kita sudah sangat senang bisa terbebas dari peristiwa mengerikan tersebut, apalagi lah ini terjadi di kehidupan nyata. Ditambah lagi orang yang menyelamatkan kita dari malapetaka tersebut adalah orang yang sangat kita cintai.


***Perasaan seperti itulah yang saat ini di alami oleh Airine. Dan kejadian tersebut dialami oleh Airine di alam nyata dan bukan di alam mimpi.


***kembali ke perbincangan antara Farel dan Airine***


***"Ooh, begitu yah! tadi saya kira kamu sedang lagi mikirin apaan sayang," balas Airine.


***Sebelum Farel mengatakan apa-apa lagi, kepada Airine, tiba-tiba Telpon genggam Farel berdering lagi, "Sebentar ya Sayang, ada panggilan telepon lagi ini" kata Farel.

__ADS_1


***"Baiklah Sayang, angkat aja dulu telponnya mana tau penting" ucap Airine.


***Kemudian Farel melihat si pemanggil di HP nya, sama seperti panggilan tadi, tidak ada nama si penelepon. Tapi Farel sudah berfirasat bahwa panggilan itu mungkin dari Perusahaan yang System berikan kepadanya.


***Kemudian Farel pun menekan tanda jawab di HP nya dan terdengar suara orang di seberang telepon. "Hallo, selamat siang, Apa betul saya berbicara dengan Tuan Farel Bramasta?" tanya si penelepon tersebut.


***"Iya, dengan saya sendiri, maaf, dengan siapa saya berbicara dan ada gerangan apa kira-kira menelfon saya? jawab Farel.


***"Mohon maaf sebelumnya Tuan, apabila dengan panggilan saya, Tuan Farel merasa terganggu, perkenalkan nama saya Sigit Pranoto. Saya adalah Direktur dari Group Perusahaan Keluarga Gunawan" kata orang tersebut.


***Kalau Panggilan dari Anthony tadi, Farel tidak menyalakan speaker HP nya. Kali ini karena Farel merasa bahwa panggilan ini pasti berasal dari perusahaan keluarga Yanto, yaitu Group Gunawan. Dan ternyata tebakannya benar, maka dari itu Farel sengaja menyalakan speaker HP nya. 'Biar sekalian si Yanto yang sombong ini mendengar langsung status dari Group perusahaan keluarganya yang dia bangga-banggakan itu.' pikir Farel.


***Benar saja, begitu Yanto mendengar bahwa yang menelfon Farel adalah Direktur dari Perusahaan keluarganya, Dia pun langsung memiliki Firasat aneh. Masalahnya, Seorang Direktur Perusahaan Keluarganya yang terkenal bermartabat, berinisiatif menelpon dan nampak merendahkan dirinya kepada seorang pria yang baru saja berkonflik dengannya.


***"Jadi begini, Tuan Farel. Dari informasi yang kami dapat barusan, bahwasanya Tuan Farel telah mengakusisi saham dari Perusahaan Group Gunawan kami sebesar 51 persen. Maka secara otomatis Tuan Farel adalah Pemegang Saham Mayoritas perusahaan ini, Jadi Tuan Farel sudah berhak ikut serta dalam pengambilan keputusan dalam Rapat umum pemegang saham kami bahkan memiliki suara terbanyak." kata Sigit Pranoto di seberang telepon.


***Boom...mm....m...! terdengar seperti suara ledakan didalam hati Yanto, dia sangat terkejut dan tercengang mendengar apa yang di katakan oleh Direktur Perusahaan keluarganya tersebut.


***Dia tidak menyangka sama sekali, kalau ternyata orang yang baru saja di aniayanya ini, dan sudah membalas penganiayaan tersebut dengan membuat dirinya babak belur, sudah memiliki atau membeli mayoritas saham di perusahaan keluarganya sendiri.

__ADS_1


***Bahkan bukan dia saja yang terkejut mendengar perkataan dari Direktur perusahaan keluarga Gunawan ini, tapi seluruh keluarga Sukoharjo yang berada dalam rumah tersebutpun sangat terkejut mendengarnya.


***Apalagi si penghianat Keluarga Sukoharjo, setelah dia mendengar perkataan si penelpon barusan, dia sudah langsung menggigil ketakutan. 'Mampus gwe' pikirnya. 'Bagaimana bisa kejadiannya menjadi terbalik seperti ini? apakah saya masih bisa menyelamatkan diri dengan situasi ini?' kalau saja saya tau dari awal kejadiannya bakal seperti ini, saya tidak akan berani bahkan sekalipun di janjikan imbalan yang lebih fantastis, tapi sekarang semuanya sudah terlambat, tidak ada lagi gunanya penyesalan. Kalaupun saya memohon bahkan sampai bersujud sekalipun, belum tentu Keluarga ini apalagi Anak yang sudah membeli mayoritas saham Keluarga Gunawan ini mau memaafkan saya,' pikirnya lagi. Sementara itu, Yanto juga berpikiran hampir sama seperti dirinya.


***'Apa...,? apakah yang di katakan oleh Pak Sigit ini adalah kebenaran atau hanya omong kosong,? mana mungkin perusahaan keluargaku yang setahu saya tidak ada masalah apa-apa, secara tidak terduga telah menjual lebih dari separuh sahamnya? apalagi yang membeli saham tersebut adalah orang yang sudah sengaja saya bikin bangkrut. Lagian, darimana pula anak ini memiliki kekuasaan untuk mengakuisisi saham perusahaan keluargaku yang tergolong besar itu? kalau memang benar seperti itu, berarti ini sudah semakin kacau. Berarti saya sudah betul-betul menyinggung orang yang tidak seharusnya saya singgung kali ini.' pikir Yanto.


***Kemudian Farel Pun segera menanggapi peryataan orang yang berbicara dengan nya tersebut. Dengan nada yang tegas dan berwibawa, Farel pun berkata "Owh, Iya Pak Sigit. Orang kepercayaan saya mungkin yang melakukan semua itu tanpa memberitahukan dulu kepadaku, makanya saya juga baru mengetahuinya setelah Pak Sigit menginformasikannya kepadaku" ucap Farel untuk menyembunyikan perbuatan System.


***"Ohh, tidak apa-apa Tuan Farel. Saya memang sengaja menelepon Tuan Farel untuk memberitahukan hal ini kepada Anda, sekalian saya ingin menyampaikan Informasi Bahwa dalam dua hari kedepannya akan di adakan Rapat Umum Pemegang Saham sekalian penanda tanganan sertifikat kepemilikan saham yang sudah Tuan Farel beli. Dan juga pengenalan Tuan Farel kepada pemilik saham yang lainnya. Jadi, Apakah kira-kira Tuan Farel ada waktu luang dalam dua hari ke depan?" ucap Sigit kepada Farel dengan hanya sekali tarikan nafas, karena saking bersemangatnya.


***Kenapa Sigit tidak bersemangat coba, setelah menyelidiki secara singkat informasi tentang Farel dia bisa mengwtahui sedikit tentang Farel. Dia sangat terkejut dan tidak mengira sama sekali bahwa orang yang sudah membeli saham mayoritas di perusahaan yang dia pimpin adalah seorang Anak muda yang usianya saja belum genap 25 tahun. Dia mengira Pembeli mayoritas saham perusahaan mereka paling sedikit sudah berusia lanjut. Tapi ternyata dia salah menebak. Hal ini berarti sama dengan pemikiran Anthony dari Group Edward's sebelumnya.


***"Hmm... begitu yah, Pak Sigit. Kalau masalah itu Pak Sigit atur saja dulu. Saya akan menyempatkan waktu untuk pergi kesana dalam dua hari ke depan." Jawab Farel. "Tapi ngomong-ngomong Pak Sigit, selama dalam masa transisi pergantian kepemilikan saham mayoritas, saya berharap seluruh kegiatan operasional perusahaan tetap di jalankan seperti biasa ya Pak Sigit. Dan semua tanggung jawab operasional Perusahaan sementara ini saya masih tetap mempercayakan kepada Pak Sigit, dan apabila memang Pak Sigit nantinya saya lihat memilliki kredibilitas yang sesuai dengan harapan saya, tidak tertutup kemungkinan kalau jabatan yang saat ini Bapak pegang, tetap saya pertahankan atau saya ganti dengan yang lebih berkompeten, itupun kalau Pak Sigit memang bersedia untuk tetap bertahan pada jabatan tersebut, atau Pak Sigit memilih meninggalkan jabatan itu, semuanya saya serahkan kepada Pak Sigit sendiri untuk menentukan pilihan" kata Farel kepada Sigit.


***Mendengar perkataan dari Farel, Sigit pun langsung lebih bersemangat lagi. Dia tidak menyangka sama sekali, sekalipun orang itu belum mengenalnya secara langsung, tapi orang itu berani menyerahkan tanggung jawab sebesar itu kepada dirinya, walaupun hanya sementara.


***Diapun berpikir dalam hati, 'Kenapa Anak ini dengan mudahnya mempercayakan tanggung jawab perusahaan sebesar ini kepada saya? apa dia ini bodoh? apa dia tidak khawatir, kalau aku akan menggunakan kesempatan ini untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dalam tempo waktu yang tersisa ini?' pikirnya.


***Sebenarnya kalau pun dia tidak melakukan hal-hal yang yang seperti dia pikirkan, dengan jabatan setinggi ini, dia sudah bisa merasakan kemewahan dari fasilitas-fasilitas dan upah yang lumayan besar dari jabatannya saat ini. Akan tetapi, dasar memang sifat serakah manusia itu selalu merasa kurang dan kurang atas apa yang sudah di milikinya. manusia itu tidak pernah merasa puas, apalagi mereka memiliki kesempatan untuk melakukan apa yang biasa di sebut antara obsesi, keinginan dan keserakahan.

__ADS_1


***Sigit merasa ini adalah kesempatan dan peluang besar untuk bertindak mengambil keutungan sebesar-besarnya untuk dirinya sendiri dan kelompoknya, dia pun segera mengatur siasat yang kira-kira bisa mendapatkan keuntungan terbesar tapi sekaligus meminimalisir resiko bakal ketahuan, padahal dirinya tidak menyadari bahwa sebenarnya Farel juga telah mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa merugikan perusahaannya tersebut.


***Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? apakah Sigit benar-benar melaksanakan rencananya untuk mengambil kesempatan ini dengan mengambil keuntungan sebesar-besarnya selama transisi pengalihan kekuasaan di perusahaan yan dia kepalai tersebut? apakah dia akan berhasil? lalu bagaimana cara Farel untuk mengantisipasi hal tersebut? kita saksikan saja di Episode selanjutnya, tetap semangat...


__ADS_2