" System Kekayaan "

" System Kekayaan "
BAB 20


__ADS_3

"Ini benar. Ini rekening bank resminya."



Robert mengambil alih ponsel Clarence.



Robert menghitungnya 10 kali dan akhirnya dia mengetahui jumlahnya.



"Rp.2.800.000.000!"



Tangan Robert terus gemetar. Wajahnya terlihat murung. "Clarence, uangnya ..."



"Jangan khawatir."



Clarence berkata dengan tegas, "Uang itu bersih dan legal. Ayah bisa melacaknya kembali nanti. Ayolah, aku seorang mahasiswa. Aku tidak akan melanggar hukum!"



"Ini banyak sekali!"



Brenna menarik napas dalam - dalam.



Jumlah sangat besar sehingga bagi Brenna, itu seperti gambar abstrak. Dia tidak tahu apa sebenarnya angka - angka yang terlihat itu.



Lagi pula, angkanya terlalu banyak.



Mereka tidak akan pernah mendapatkan uang sebanyak itu walaupun bertani selama 10 masa kehidupan.



Robert mulai tenang kembali. Dia meskipun terlihat tenang, dia merasa bersemangat jauh di lubuk hatinya.



Clarence benar !



Mengapa dia harus bertani kalau anaknya sangat kaya ?



Robert bergegas bangun dari tempat tidur, tanpa mempedulikan luka di kakinya.



Brenna menatap Robert dan bertanya, "Kamu mau kemana?"



"Aku mau pulang. Aku akan berbicara dengan Jay."



Robert berkata sambil memakai sepatunya, "Orang itu, Jay terus memamerkan betapa hebat putranya.



"Jay berbicara tentang anaknya yang membeli mobil, membeli rumah dan mendapatkan istri.



"Aku hampir meledak karena marah !



"Sekarang anak kita telah berhasil mencapai sesuatu, aku harus melawannya!"



"Sudahlah! Apa yang harus di banggakan?"



Brenna menatap suaminya dengan kesal.



Kemudian, Brenna menoleh pada Clarence. "Ayahmu dan aku tidak akan pindah ke kota. Kami sudah terbiasa dengan pedesaan.



"Kami sudah terbiasa tinggal di sini.



"Kami tidak akan punya teman di kota.



"Kami tidak akan terbiasa!"



"Baiklah kalau begitu."



Clarence tidak bisa berbuat apa - apa.



Berhubung orang tuanya tidak mau ikut dengannya, Clarence tidak akan memaksa mereka.



Bagaimana pun, sudah puluhan tahun mereka tinggal di pedesaan. Mereka sudah akrab dengan tetangganya.



Pasti sulit bagi mereka jika harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.



"Aku rasa Ayah sudah bisa pulang sekarang. Aku akan pergi untuk membayar tagihannya dan kemudian kita akan pulang."



Clarence pergi untuk membayar tagihan.



Robert tidak terluka parah. Biaya pengobatannya hanya Rp.135.000.



Ketika Clarence melewati meja informasi di aula ...



Dia melihat perawat itu. Papan namanya bertuliskan Lucy Chowne.



Clarence berpikir sejenak dan berjalan mendekati perawat itu dengan wajah tenang. "Nona Chowne, boleh kah aku bertanya sesuatu?"



"Tentu."



Lucy sedang dalam suasana hati yang baik.


__ADS_1


Namun ...



Ketika Lucy mendengar cara Clarence memanggilnya, dia cemberut. "Panggil aku Lucy. Itu sebutan untuk rekan - rekan kerja ku."



"Lucy, apakah ada seseorang yang terluka dalam tanah longsor pagi ini yang bernama Helen Scarlett? Bagaimana keadaannya?"



Clarence masih penasaran.



Clarence terlibat di dalamnya.



Namun, mengapa Clarence tidak mendapatkan bonus dari System?



Mungkin kah itu karena ...



Itu tidak dihitung jika Clarence tidak terlibat langsung !



Lagi pula, Clarence yang mengirim pesan melalui orang tuanya.



Jika tidak dihitung, itu adalah kerugian besar untuknya !



"Sstt!"



Lucy langsung menutup mulut Clarence.



Lucy melihat sekeliling dan menyadari tidak ada orang yang memperhatikan.



Lucy kemudian merasa lega.



Lucy merendahkan suaranya dan berkata, "Diamlah. Kami akan habis jika orang lain mengetahuinya."



"Memangnya apa yang sudah terjadi?"



Clarence sedikit terpaku.



"Menurutmu apa yang terjadi?"



Lucy berkata dengan sinis, "Helen adalah seorang bintang, memang orang - orang tua di Gunung Feniks ini tidak mengenalnya.



"Namun, ada banyak anak muda di rumah sakit ini.



"Jika Helen ketahuan ...



"Penggemarnya akan memenuhi rumah sakit!"




Clarence tidak menyangka ini akan terjadi.



Ketika Helen di bawa ke rumah sakit ini, banyak dokter dan perawat yang melihatnya.



Melihat raut gugup Lucy ...



Clarence tersenyum samar. Dia tidak berkata apa - apa lagi.



Lucy berusaha merendahkan suaranya, tetapi dia tampak sangat bersemangat. "Mengapa kamu begitu peduli padanya? Kamu pasti penggemar Helen. Sama seperti mu, aku juga penggemarnya."



"Ya."



Clarence mengiyakan, tetapi di dalam hati dia mengeluh.



Lucy adalah penggemar sejati.



Namun Clarence melakukan semuanya untuk mendapatkan lebih banyak Poin System.



"Kamu tidak tahu betapa berbahayanya tanah longsor itu. Syukurlah, Helen berada jauh dari gunung.



"Dia tidak terluka parah. Kakinya patah.



"Direktur kami sedang mengobatinya.



"Dia akan baik - baik saja."



Lucy menepuk - nepuk dadanya. Dia merasa takut saat memikirkan pristiwa itu.



Sebenarnya ...



Di satu sisi, cedera Helen tidak parah karena tanah longsornya juga tidak begitu parah.



Di sisi lain, itu juga karena orang tua Clarence telah mengingatkan orang - orang untuk tidak pergi ke pegunungan itu.



"Syukur lah."



Clarence mengangguk.

__ADS_1



Tidak peduli apakah System akan memberinya bonus ...



Clarence merasa senang bisa menyelamatkan nyawa orang lain.



"Terima kasih. Aku pergi sekarang."



"Apa?"



Lucy tampak kecewa.



Melihat wajah Clarence yang tampan, Lucy ingin meminta nomor teleponnya.



Namun ...



Lucy tidak bisa.



Pada saat yang bersamaan, seorang perawat tiba - tiba bergegas lewat.



"Lucy, apakah Tuan Dane sudah kembali?"



"Belum. Aku pikir Tuan Dane hadir di pertemuan itu."



Melihat tatapan khawatir perawat itu, Lucy berpikir pasti telah terjadi sesuatu yang buruk.



Lucy tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Jangan panik, ada apa?"



"Ada masalah!"



Perawat itu mulai berjalan mondar - mandir. "Keadaan Helen gawat!"



Apa?



Clarence baru hendak pergi ketika mendengar nama Helen di sebut dia mendadak berhenti.



Clarence mendengarkan percakapan kedua orang itu tanpa bicara.



Lucy berhenti sebentar. "Ku pikir Helen hanya terluka ringan. Apa yang terjadi?"



"Luka - lukanya memang tidak apa - apa. Tuan Patch telah merawatnya dengan baik."



Perawat itu berkata dengan tergesa - gesa, "Namun masalahnya sekarang Helen menderita usus buntu akut !



"Kami telah menyuntikkan obat kepadanya, tapi tidak berhasil. Kami harus melakukan operasi."



"Kalau begitu lakukanlah!"



Sekali pun Lucy hanya seorang perawat, dia tahu ini keadaan darurat yang harus segera di tangani.



Rumah sakitnya meski pun tidak terlalu besar ...



Peralatannya kurang lengkap ...



Namun ...



Prosedur operasiny sederhana.



Tuan Patch sendiri bisa melakukannya.



"Namun ..."



Perawat itu menggelengkan kepalanya. "Peralatan kita memang kurang lengkap, tetapi kita masih bisa melakukan operasi.



"Namun situasinya berbeda jika pasiennya adalah Helen !



"Dia seorang bintang. jika kita tidak menangani lukanya dengan baik ...



"Jika ada bekas luka di perutnya, hal itu akan mempengaruhi dirinya."



"Itu betul!"



Lucy tiba - tiba mengerti.



Kalau melihat dari pengalaman medis Tuan Patch, sulit baginya untuk meminimalkan bekas operasi.



Lagi pula ...



Rumah sakit itu hanya pernah menangani orang biasa.



Untuk orang biasa ...



Wajar saja jika operasi meninggalkan bekas luka.

__ADS_1



Perawat tersebut melanjutkan, "Tuan Patch sudah memanggil Tuan Dane. Aku mendengar bahwa Tuan Dane sudah menemukan seorang ahli bedah yang mau datang ke sini.


__ADS_2